
02:30 dini hari...
Pria itu masih setia duduk di samping gadis manis berparas imut itu. Sambil memainkan game di ponsel, ditemani beberapa buah snack, roti, serta minuman botolan yang sempat ia beli tadi, pria itu masih konsisten, tidak mau memejamkan matanya barang sedetik pun malam ini.
Ya, ia ingin memastikan Arini aman. Selain itu ia juga menghormati tempat ini. Tempat ibadah. Ia dan Arini tidak terikat hubungan apapun. Sejak tadi ia juga cukup menjaga jarak dengan wanita itu. Ia tak mau terlalu berdekatan. Ia juga tak menyentuh gadis itu. Takut menimbulkan salah sangka jika dilihat orang.
"eeeehhhmm...!"
Suara itu lolos dari bibir merah gadis sembilan belas tahun tersebut. Digo menoleh. Ia tersenyum. Arini menggeliat beralih posisi tanpa membuka matanya.
Bisa bisanya ia tidur se pulas itu di tempat dingin dan terbuka seperti ini.
"ssssssttttt....." desis pria itu seolah mengantar Arini makin dalam menyelami alam mimpinya.
Dengkuran halus terdengar. Digo mengulum senyum lagi.
"power ranger pink lagi bobok. Capek seharian muter muter nganterin makanan" ucap pria itu lirih sambil mengulum senyum lucu.
Digo kembali menegakkan posisi duduknya. Kembali memainkan game online dalam ponselnya sambil sesekali menenggak minuman dalam botol miliknya guna mengusir rasa kantuknya.
hooooaaaammm......!!
Digo menguap lagi. Sebenarnya ia juga lelah. Tapi ia tak mau memejamkan matanya. Ia ingin menjaga gadis itu dan memastikan Arini tetap aman tidur di tempat terbuka seperti ini.
Digo bangkit. Mondar mandir sambil terus mengunyah snack guna mengusir rasa kantuknya. Hingga.....
breeeeeeemmmmm.......breeeeeemmmm......
Sebuah motor besar serta sebuah mobil berukuran besar nampak datang memasuki area masjid dengan pelataran yang luas itu.
Digo menghentikan langkahnya. Dilihatnya disana seorang pria turun dari kendaraan roda dua itu di susul sejumlah pria bertato dari dalam mobil di belakangnya. Penampilan nya sangar. Dengan kaos dan rompi tanpa lengan pria itu turun dari motornya. Mendekati Diego yang kini nampak menatap ke arah pria itu angkuh.
Ya, itu Calvin..!
Pria yang tak kunjung melihat anak gadisnya pulang itu rupanya mulai mencari keberadaan Arini sejak kurang lebih satu jam yang lalu. Awalnya ia dan para anak punk yang baru saja melakukan pesta miras itu menuju restoran tempat kerja Arini, namun saat mendapati resto itu sudah tutup, mereka lantas mencari k sekitar area restoran, hingga Calvin melihat mobil Diego terparkir di pinggir jalan tepat di depan masjid besar itu.
Dan benar saja, mereka menemukan Diego disana bersama Arini yang terlelap di teras masjid.
Diego menatap tajam ke arah pria dengan mata merah akibat pengaruh alkohol yang baru saja ia tenggak bersama teman temannya itu.
Arini tak pulang sejak sore, dan ia baru mencarinya saat hari hampir subuh? kemana saja pria gila ini? pikir Diego.
Calvin mendekati laki laki itu.
"ngapain lo kesini?" tanya Digo angkuh dan tenang.
"harusnya gue yang nanya ama lu?! ngapain lu disini ama anak gue?" tanya Calvin.
Digo memalingkan wajahnya sambil berdecih. Bau alkohol yang menyengat tercium jelas dari mulut Calvin.
Digo kembali menatap pria itu.
"lu jadi laki laki punya otak nggak sih? anak lo perempuan, dari sore ampe semalem ini dia belum pulang, dan lu baru nyariin? bapak macam apa lo?!" tanya Digo.
"lu nggak tau apa apa..!" ucap Calvin.
__ADS_1
Digo berdecih lagi.
"lu nggak tau apa apa..! cuma itu yang bisa lu ucapin buat nutupin borok lo?! dari dulu cuma itu yang bisa lu ucapin..!" ucap Digo.
"gue rasa emang ada yang salah dari lu..! gue heran, udah ada berapa perempuan yang deket ama lu, kenapa semua ending nya sengsara..! Stevi, mati..! ibunya Arini, hamil, lalu mati..! dan sekarang anak kecil itu, gue nggak ngelihat kebahagiaan di mata dia setelah ketemu ama lo..! lu apain dia?!" tanya Diego mempertanyakan kebahagiaan gadis kecil itu.
Memang benar kan..? dalam pikiran Diego, setelah Arini bertemu dengan ayah kandungnya, gadis itu pasti akan sangat bahagia. Penuh cinta. Dimanjakan. Dituruti apapun yang ia mau. Lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan Calvin. Mungkin juga Calvin akan meminta Arini untuk berhenti bekerja karena semua kebutuhan gadis itu sudah pasti ditanggung oleh sang ayah. Lalu Calvin akan membiayai pendidikan Arini. Gadis itu akan mulai kuliah dan menggapai mimpinya. Dan masih banyak hal baik lagi yang akan Arini dapatkan selama di sisi Calvin.
Diego hanya akan bisa bertemu Arini saat gadis itu sudah bahagia. Ia hanya akan bisa melihat Arini tertawa lepas dengan ayah kandungnya itu dari kejauhan tanpa mungkin mampu menyentuh nya. Itu dalam pikiran Diego.
Tapi nyatanya...
Lihatlah..!
Gadis itu meringkuk di teras masjid..! tak ada teman, kawan, orang tua, ataupun saudara.
Gadis itu nampak rapuh. Matanya bengkak. Wajahnya murung tanpa senyuman. Keceriaan nya hilang. Ia terlihat menyedihkan. Mirip seperti saat awal awal ia bertemu Diego dan diperlakukan kurang baik oleh laki laki itu.
Diego yang sudah cukup mengenal Arini bahkan mungkin lebih mengenalnya dari ayahnya sendiri itupun langsung bisa menyimpulkan, Arini belum mendapatkan kebahagiaan nya..! Entah apa yang terjadi pada gadis itu. Tapi berbekal kebencian yang memang sudah ia rasakan pada ayah kandung gadis itu sejak lama, laki laki itupun langsung berani menarik kesimpulan sepihak, pasti Calvin tidak bisa menjaga Arini dengan baik. Ia pasti menelantarkan anak kandung nya sendiri itu. Calvin pasti memperlakukan Arini dengan cara yang tidak baik..!
Ya, pasti begitu...!
Calvin mengangkat dagunya.
"kenapa lo selalu pengen tau dan ikut campur urusan gue?! entah dari masalah gue ama istri gue dulu, sampai sekarang masalah gue ama anak gue?! lu nggak punya kerjaan..?!" tanya pria yang tengah dalam pengaruh alkohol itu dengan mimik wajah tak suka.
"bac*t lu..! kalau emang lu nggak bisa bahagiain perempuan nggak usah berhubungan ama perempuan..! lu tuh punya masalah...! makanya nggak ada perempuan yang bahagia deket deket ama lu..!"
"sekarang lu liat aja, ini udah jam berapa? anak lu udah di sini dari sore dan lu baru dateng jam segini buat nyari dia..?!! otak lu pake..!! ini malem..! masih untung nggak terjadi apa apa ama dia..! kalau sampai ada orang jahat yang berniat macem macem ama dia gimana?! lu mau dia dibuntingin orang abis itu nggak tanggung jawab, sama kayak yang lo lakuin ama ibunya dia dulu..??! hah?!! mikir...!!" ucap Diego dengan suara mulai meninggi membuat Arini yang terlelap pun kini mulai terbangun dari tidurnya.
"lu pikir lu lebih baik dari gue?! apa yang udah lo lakuin ama anak gue sebelum dia ketemu ama gue?! lu apain aja dia?!! heh?! lu nggak lebih baik dari gue..! kalau lu lebih baik, harusnya Steffi dulu akan lebih milih lo dibanding nikah ama gue! dan Arini, dia pasti nggak akan se benci itu ama lo kalau lu emang bisa bikin dia bahagia..!" ucap Calvin seolah tak terima dengan perkataan pria itu.
Digo geram. Dengan cepat dicengkeram nya
"nggak usah bawa bawa Steffi..!" ucap Digo.
"bukannya lo yang selalu bawa bawa dia di setiap masalah?! itu juga kan, yang membuat lo rela pura pura jadi ayah anak gue..? biar lo bisa balas rasa sakit hati gue melalui anak gue..?!! iya kan..??" tanya Calvin yang seolah bisa menebak isi pikiran Diego.
Diego tak berkutik karena memang itu benar adanya.
"bac*t...!'
buuuuuuuuuuggggghhhhh......
Sebuah hantaman keras mengarah ke wajah Calvin.
Laki laki itu terpelanting. Darah keluar dari ujung bibir nya. Para teman Calvin hendak mendekat membantu laki laki itu namun Calvin menahannya. Sedangkan Arini, wanita itu kini sudah terbangun..! ia yang terkejut melihat banyak orang di depan masjid itu kini nampak bangkit. Menatap ke arah dua pria itu secara bergantian. Entah apa yang baru saja terjadi. Kenapa sekarang ada ribut ribut disini..!
Calvin bangkit. Digo mengambil ancang ancang.
"lu bilang lu ngincer nyawa gue kan?! bangun lo..! kita selesaiin sekarang..! kita lihat, siapa yang mati duluan..!!" ucap Digo menantang.
Calvin menyeringai.
"oke..! lu yang minta..! kita selesaikan sekarang..! kita lihat, siapa yang duluan menemui Steffi di neraka..!!" ucap Calvin.
__ADS_1
Dan...
pertarungan pun terjadi. Kedua pria itu saling baku pukul satu lawan satu. Keduanya sama nama kuat. Tak ada yang mau mengalah. Seolah ingin menumbangkan musuh masing-masing dengan semua kekuatan yang mereka punya.
Arini menatap kedua pria itu bergantian. Ia nampak kesal. Tolonglah, ia lelah...!
Kenapa di manapun tempat ia berpijak, tak pernah bisa tenang. Bahkan saat ia berniat untuk pergi dari rumah pun kedua pria itu masih saja mengikutinya. Berbuat semau mereka tanpa memikirkan perasaannya yang hanya ingin sekedar mengistirahatkan pikiran.
Bahkan saat ia tidur pun masih diganggu juga..! Tolong...Arini lelah..! sangat lelah..!
Ivan yang menyadari Arini sudah bangun dan menyaksikan perkelahian itu nampak menatap gadis tersebut dari kejauhan bersama teman temannya.
Diego dan Calvin masih terus baku hantam di pelataran masjid besar itu. Diego terpelanting. Jatuh tengkurap ke halaman berpaving. Wajahnya bonyok lagi. Darah bercucuran. Calvin yang mabuk dan dikuasai amarah itu lantas mendekat.
Dijambaknya rambut pria itu dari belakang. Lalu ditarik dan dilempar lagi di halaman berpaving tersebut. Diego tak berdaya. Calvin meraih sebuah batu besar yang berada di sana. Bersiap untuk menghantamkannya kepala Diego. Arini nampak menggelengkan kepalanya.
"Mati aja kalian berdua..! terus aja berantem..! nggak usah peduliin aku...! sibuk aja kalian dengan urusan kalian sendiri..! aku capek..!!" batin Arini yang sudah terlanjur lelah dan muak dengan keadaan. Gadis itu berlari pergi dari tempat itu.
"Arini.." ucap Ivan pelan lalu mengikuti gadis itu dari belakang.
Calvin mengangkat batu itu ke udara. Mengayunkan nya. Dan.......
.
.
.
.
.
.
daaaaaaaggggggghhhhh......!!
.
.
.
.
.
.
"ARINI...!!!!"
...----------------...
Selamat siang
up 12:06
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰🥰