My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 28


__ADS_3

Beberapa menit berselang...


Tak butuh waktu lama, dua pria matang beda usia itupun sampai di sebuah bangunan tinggi yang merupakan perusahaan warisan milik keluarga Hernandez.


Diego, sang pemimpin perusahaan saat ini keluar dari mobilnya. Di ikuti Sam dibelakang nya. Kedua pria itupun melangkahkan kakinya hendak masuk ke dalam area perusahaan. Seperti biasa, bungkukkan kepala menyambut kedatangan dua pria yang memiliki jabatan penting di perusahaan itu.


Diego cuek dan terkesan angkuh. Sedangkan Sam nampak berjalan santai sambil sesekali mengedipkan sebelah matanya kala berpapasan dengan sejumlah karyawati muda nan cantik disana.


Sam tetaplah Sam. Matanya tak bisa diam jika sudah melihat daun muda cantik.


Kedua pria dewasa itu terus berjalan. Kini memasuki lift yang berada di sana untuk segera menuju ke lantai atas dimana ruangan Digo berada.


Tak lama, kotak besi raksasa itu pun sampai di lantai yang di tuju. Digo dan Sam pun berjalan menuju ruangan Digo. Dari kejauhan, Carissa sang sekretaris sudah berdiri, bersiap menyambut kedatangan bos besarnya itu.


"selamat pagi, tuan" ucap Carissa.


Digo tak menjawab dan terkesan angkuh. Laki laki itu lantas menuju ruangan nya. Hendak membuka pintu disana, namun tiba tiba....


"eem, tuan Diego..." ucap Carissa.


Digo menghentikan pergerakan nya. Ia menoleh ke arah wanita itu tanpa berucap sepatah katapun.


"maaf, tuan. Saya baru dapat kabar, nyonya besar Alexander meninggal dunia tadi malam" ucap wanita itu.


deeeeggghhhh....


Digo terdiam. Begitu pula Sam. Duda satu anak itu nampak menatap ke arah Digo yang tak bergerak seolah tengah memikirkan sesuatu.


Hening sejenak. Lalu.....


"kirimkan karangan bunga, sebagai ucapan duka citaku" ucap Diego tenang.


"baik, tuan" jawab Carissa


Digo lantas masuk ke dalam ruangannya. Sam yang sejak tadi berada di belakang Digo pun ikut masuk ke dalam ruangan itu mengikuti sang atasan sekaligus kawannya itu.


"Go...!" ucap Sam pada Digo yang kini mendekati meja kerjanya lalu duduk di sebuah kursi kerja yang begitu nyaman disana.


Digo bahkan tak menjawab ucapan Sam. Pria itu kini tampak melonggarkan dasinya.


"Go, lu nggak dateng ke rumah keluarga Alexander?" tanya Sam.


"gue sibuk" ucap Digo.

__ADS_1


Sam duduk di sebuah kursi di depan meja Digo. Diletakkannya salah satu lengannya di atas meja. Lalu sedikit mencondongkan wajahnya ke arah Digo yang kini mulai membuka laptopnya.


"dan lu nggak punya niatan untuk mempertemukan Arini dengan keluarga aslinya?" tanya Sam membuat Digo menghentikan pergerakan dan melirik ke arah Sam.


"untuk apa?" tanya Digo.


"Kimmy Alexander, itu ibunya Calvin. Sekarang dia meninggal. Calvin sendirian sekarang. Lu masih mau menyembunyikan identitas Arini?! lu nggak punya niat mempertemukan dia sama bapak kandungnya? dia punya hak buat ketemu bapaknya, Go..!" ucap Sam.


Digo menatap kesal ke arah Sam.


"lu kenapa sih ikut campur banget urusan gue..?! Arini akan selamanya ada di tangan gue..! dan lu nggak perlu ikut campur..! lu ngapain sih dari kemarin ngrecokin urusan gue ama Arini mulu..?! kemarin lu bawa dia nggak ijin ama gue, sekarang lu ikut campur lagi urusan gue..! Lu suka ama tuh bocah?!! haaah..?!!" tanya Digo kesal.


Sam nampak kesal.


"kenapa jadi masalah suka?! bukan gitu..! gue cuma kasihan ama Arini..! dia terlalu polos..!" ucap Sam.


"kalau memang niat awal lo ngakuin Arini anak lo itu untuk balas dendam ama Calvin atas kematian Steffi. Kurang pembalasan yang kayak apa lagi sih si Calvin? dia udah lo bikin bangkrut..! bisa lah Lo lepasin Arini..! dari pada lo perbudak mulu dia...! kasihan..! lu kalo nyiksa dia nggak tanggung tanggung..! lu jadiin babu, lu kurung di gudang...! lu suruh malem malem bersihin kolam..! nggak ngotak tau nggak lu...!" ucap Sam.


"itu urusan gue..! nggak usah rese' deh lu ikut campur urusan gue..!mendingan sekarang lu pergi..! lu nggak perlu bahas masalah Arini lagi di kantor..! lu bawahan gue disini, jadi harusnya lu nggak perlu ikut campur urusan gue..! dan satu lagi, gue nggak suka lu bawa Arini pergi tanpa ijin dari gue..! selama dia masih di samping gue itu artinya gue berhak atas dia...!!" ucap Diego tegas. Ia tak suka dengan sikap Sam yang dianggap nya terlalu ikut campur tentang kehidupan nya dan Arini.


Sam menggelengkan kepalanya.


"sinting lu...! kek bocah tau nggak lu..!" ucap Sam kesal.


"gue bilang keluar..!!!!" ucap Digo lagi kini dengan suara yang lebih tegas.


Sam nampak kesal. Dengan sorot mata tajam ia lantas berlalu pergi meninggalkan ruangan bos sekaligus sahabatnya yang keras kepala itu. Sungguh, sebagai seorang kawan ia paling tak suka dengan sikap Digo yang satu ini. Ia terlalu terpuruk dengan dendam masa lalunya. Seolah motivasi hidupnya hanya berkutat untuk menghancurkan Calvin Alexander. Dan kini di tambah lagi dengan menyiksa Arini yang hingga kini belum tahu tentang siapa ia dan siapa ayah kandungnya.


Cari jodoh kek tuh si Digo..! biar ada yang nemenin..! biar nggak sibuk ngerjain anak orang terus...! udah tua juga..🤦


Di dalam ruangan, Digo mulai sibuk dengan laptopnya. Dengan perasaan dongkol setelah berdebat kecil dengan Sam, pria itu berusaha untuk kembali fokus dengan seabrek pekerjaan nya yang sudah menunggu.


Hingga,


tingg.....


Ponselnya berbunyi. Diraihnya benda pipih yang masih berada di saku jasnya itu.


1 pesan masuk


Kak Giselle....


"Go, nyonya Kimmy meninggal, kita ngelayat ke rumah mereka ya, papa yang minta. Kakak jemput kamu ke kantor" tulis wanita yang belum kembali ke luar negeri itu.

__ADS_1


Digo berdecak kesal. Malas sekali..! tapi kenapa orang orang disekitar nya malah sibuk memintanya untuk pergi ke rumah Alexander...!


...****************...


Sementara itu beberapa menit kemudian di tempat terpisah....


Seorang wanita belia berlari tunggang langgang. Jam sudah menunjukkan pukul delapan. Wanita itu kini masih berada di jalan. Menuju sebuah restoran yang menjadi tempatnya bekerja sejak kemarin.


Arini nampak ngos ngosan. Keringatnya bercucuran. Ia tak menemukan ojek sejak tadi sedangkan kini ia sudah telat berangkat kerja.


Wanita itu berlari sekencang yang ia bisa. Dengan sisa sisa tenaganya. Dengan raga lelah yang sejak kemarin seolah kurang istirahat. Arini terus berlari dengan segala kecepatan yang ia miliki.


Hingga,


Lima belas menit berlari. Keringat bercucuran dan nafas terengah-engah, wanita itu akhirnya sampai di depan resto tempatnya mengais rejeki.


Arini dengan segera membuka pintu restoran tanpa permisi...


prok....prok...prok......


Sebuah tepuk tangan sumbang dari sepasang telapak tangan wanita dewasa menyambutnya.


Itu adalah Glenca. Bos nya...!


"bagus ya, kamu...! baru dua hari kerja udah berani datang telat...!" ucap Glenca


"ma, maaf, mbak. Tadi saya.............."


"udah, udah, udah....! nggak ada alesan ya....! karena kamu masih baru disini, saya anggap ini peringatan pertama kamu ya, jangan pernah ulangi lagi..! saya nggak mau setelah ini kamu buat kesalahan lagi.! dan sebagai hukumannya, hari ini kamu yang bertugas mengantar semua pesanan delivery..! tanpa terkecuali...!" ucap Glenca tegas.


Arini mengangguk.


"iya, mbak" jawab gadis itu.


"ya udah, sekarang kamu masuk..! ganti seragam...!" titah Glenca.


Arini hanya mengangguk. Ia lantas berlalu pergi dari tempat itu, menuju lokernya untuk mengganti baju yang ia kenakan itu dengan seragam.


...----------------...


Selamat pagi


up 04:49

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰🥰


__ADS_2