
Malam menjelang,
saat jam menunjukkan pukul sebelas malam.
Di depan sebuah televisi berukuran besar. Sepasang anak dan ayah itu nampak ayik dengan stik game di tangan masing masing.
Ini adalah jam jam istimewa. Waktu waktu khusus untuk sepasang ayah dan anak itu menghabiskan waktu bersama setelah seharian berpisah karena kesibukan masing masing.
Ditemani sejumlah camilan dan minuman yang mereka beli tadi di jalan saat menjemput pulang Arini, kedua manusia sedarah namun beda generasi itu nampak begitu heboh. Arini dan Calvin sesekali nampak tergeletak, melompat, saling dorong, seolah begitu menikmati permainan yang kini tengah meraka mainkan.
"iiiyyyyyuuuuuuuhhhuuuuuuuu.........!! menang lagi...!!!!" pekik Arini sembari membanting stik game di tangan nya dan menggulingkan tubuhnya menabrak tubuh sang ayah. Gadis itu menang lagi. Berhasil mengalahkan sang ayah untuk yang entah keberapa kalinya.
Calvin hanya terkekeh. Diraihnya minuman dalam botol di sampingnya itu dengan satu tangannya, lalu menenggaknya. Sedangkan tangan lain nampak memainkan dagu sang putri yang berada di pangkuannya hingga membentuk bibir tweety.
"bapakku kalah...!! bapak kalah lagiiiiiiiiii.....!!!" sorak gadis itu sembari mengangkat kedua lengannya bak melakukan selebrasi. Tangan itu bahkan mengenai wajah Calvin. Membuat Arini begitu iseng sesekali menarik jenggot pria tersebut.
Calvin hanya bisa terkekeh. Ia seolah begitu pasrah atas perlakuan sang anak.
"berisik banget.." ucap pria berjambang lebat itu sembari mencubit hidung sang putri dengan gemas.
Arini tergelak.
"dah, tidur sana. Udah malem..." ucap Calvin.
"bentar lagi..! sekali lagi...!" ucap Arini sembari kembali meraih stik game yang semula dilempar nya.
"udah malem, nak. Udah, sana tidur..! besok kamu kesiangan loh berangkat kuliahnya." ucap Calvin sembari meletakkan stik game di tangan nya.
Arini nampak mengerucut kan bibirnya. Padahal ia masih ingin main game bareng ayah nya.
Arini pun dengan berat hati menurut. Diletakkannya stik game itu lalu mulai merapikan tempat tersebut. Memunguti sampah bungkus bekas snack yang tadi dimakannya dan memasukkan nya ke dalam keranjang sampah, sedangkan yang masih utuh ia masukkan ke dalam kresek putih lalu ia letakkan diatas meja.
Dalam waktu singkat, tempat itupun sudah bersih lagi.
"dah, kamu tidur, gih. Udah malem" ucap Calvin.
Arini mengangguk.
"sini peluk bapak dulu" ucap pria gondrong itu lagi.
Arini tersenyum. Dengan segera ia pun mendekati sang ayah. Memeluk erat tubuh tegap itu dan disambut dengan pelukan yang tak kalah hangat dari laki laki berbadan tegap tersebut.
Calvin mencium pucuk kepala sang putri beberapa kali. Seolah ingin menunjukkan betapa ia sangat menyayangi gadis kecilnya itu.
"dah, bobok.." ucap Calvin sembari merapikan rambut panjang sang putri.
"selamat malam, anak bapak" imbuhnya.
"malam, bapak" jawab Arini.
Keduanya pun lantas berpisah. Arini turun menuju lantai bawah. Kemudian dengan segera menuju kamar bernuansa biru miliknya.. Sedangkan Calvin, laki laki itu pun kini juga mengayunkan kakinya menuju kamar pribadinya yang berada di lantai atas.
Ceklek...
pintu kamar sang duda beranak satu itu terbuka. Sebuah kamar yang cukup berantakan meskipun setiap hari sudah di rapikan oleh sang pembantu.
Calvin mendekati meja. Melepas aksesoris kalung yang menghiasi lehernya lalu melepaskan kaos tanpa lengan yang menutupi tubuh tegapnya, bersiap untuk istirahat malam ini.
ting....
Ponsel di atas meja berbunyi, pertanda pesan masuk.
Calvin menatap sejenak benda pipih canggih itu lalu meraihnya kemudian membukanya.
1 pesan masuk..
Giselle...
"hai, malam..." tulis wanita itu.
Calvin diam. Tak ada ekspresi yang di tunjukkan. Dengan ponsel di tangan, pria itu lantas menuju ranjang ber sprei abu abu miliknya. Merebahkan tubuhnya di sana sembari mengetikkan sesuatu pada room chat nya dengan janda cantik beranak dua itu.
"ya..." jawab nya.
"lagi apa?" sambung Giselle lagi.
"tidak ada. Sedang bersiap untuk tidur..." jawab duda itu.
__ADS_1
"oh, ya. Besok ada waktu?" tanya Giselle.
"ada apa memangnya?" jawab Calvin.
"nggak, sebenarnya besok aku sama diundang sama salah satu rekan bisnis almarhum papa, buat menghadiri pesta ulang tahun pernikahan nya. Tapi Digo nggak bisa dateng, dia lagi sibuk sibuknya sekarang. Sedangkan aku nggak tahu tempatnya dimana." ketik Giselle.
"maklum lah, aku kan belum lama balik ke negara ini. Jadi belum terlalu hafal tempat tempat disini" tambah janda itu.
"lalu?" tanya Calvin singkat.
"boleh, minta tolong temenin, nggak?" tulis wanita itu lagi.
"ya, maksudnya biar aku ada temennya. Soalnya juga aku nggak kalau kenal. Tapi kalau nggak datang kan ya gimana, kan rekan bisnisnya almarhum papa. Nggak enak.." tulis wanita itu.
Calvin diam sejenak. Jujur saja sebenarnya ia tak terlalu tertarik dengan hal-hal demikian. Tahu sendiri kan, Calvin bukan laki-laki yang menyukai hal-hal yang berbau formal.
Ia juga sebenarnya tak begitu tertarik menanggapi pesan dan basa-basi dari Gisellle. Tapi mengingat wanita itu juga cukup baik pada dirinya dan Arini, membuatnya mau tak mau harus baik pula pada wanita itu. Ya, sekedar menanggapi basa-basinya yang tak penting itu.
"tapi kalau kamu sibuk nggak apa apa sih" tulis Giselle lagi kala Calvin tak segera menjawab pesan darinya.
Calvin menghela nafas panjang.
"akan aku usahakan" tulis pria itu.
Giselle kembali mengirimkan pesan. Hanya sekedar obrolan basa basi yang tak terlalu penting. Hal yang sering wanita itu kirimkan pada Calvin tiap malamnya sebelum tidur. Calvin hanya membalas seperlunya, selayaknya seseorang menanggapi obrolan remeh temeh dari seseorang yang ia kenal.
Sementara di lantai bawah, tepatnya di sebuah kamar bernuansa biru milik Arini Nindya Putri.
ceklek...
Pintu kamar itu terbuka. Gadis cantik itu nampak menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang cukup kaku setelah berjam jam main game dengan sang ayah.
Arini menguap. Ia mulai mengantuk. Diraihnya sebuah ponsel yang berada di atas nakas.Ia lalu menjatuhkan tubuh ramping itu di atas ranjang ber sprei biru miliknya.
Dibukanya ponsel itu. Arini nampak melotot. Ada banyak notifikasi masuk di sana. Mulai dari notifikasi pesan dari WhatsApp, dan ada beberapa juga dari akun Instagramnya.
Kok tumben? Arini tidak memiliki banyak kontak ponsel yang ia simpan. Instagramnya juga bukan akun yang ramai dengan ribuan pengikut.
Hal itu pun membuatnya penasaran. Dibukanya notifikasi itu. Ada banyak like dari sebuah akun yang baru saja mengikuti dirinya di aplikasi yang identik dengan warna ungu dan pink itu. Puluhan like ia dapat dari satu akun yang sama. Membuatnya jadi penasaran. Akun siapa ini.
Dan...
deeeeegggghhhh.....
"daddy? eh, Digo..!?" ucap Arini saat melihat sebuah foto nyeleneh yang terpampang disana.
Arini melongo. Lalu terkekeh kemudian.
"ganteng ganteng rodo pekok" (ganteng ganteng rada stres) ucap Arini kala melihat sebuah foto yang sepertinya merupakan sisi random dari seorang Diego.
Arini jadi kepo, dibukanya satu persatu foto yang Digo yang hanya ada beberapa biji itu.
Arini diam mengulum senyum. Deretan wajah tampan sang Diego dalam berbagai pose terpampang nyata disana.
Tanpa sengaja, tombol hati pun tersentuh disalah satu postingan pria itu.
Arini masih asyik dengan aktifitasnya menggerak gerakan jarinya mengamati satu persatu foto pria dewasa berparas tampan itu.
Hingga tiba tiba.....
ting....
1 pesan masuk.
Dari nomor yang tak Arini kenal.
Tapi jika dilihat dari foto profilnya....
"Daddy?" ucap Arini lagi.
Gadis itu dengan cepat membuka pesan dari laki laki yang entah darimana bisa mendapatkan nomor ponsel serta akun Instagram miliknya itu.
"haiii..." tulis pria itu.
Arini membuka mulutnya. Gadis itu kelimpungan. Bergerak ke sana kemari seolah bingung sendiri. Padahal tak ada satupun manusia di dalam kamar itu. Tak ada Diego juga disana. Ia hanya membaca pesan dari pria itu. Namun hal itu sukses membuatnya jadi salah tingkah.
__ADS_1
Nih anak pak gondrong kenapa sih??
Arini dengan segera mengetik pesan balasannya di sana.
"apa?" tulisnya. Lalu dengan cepat melempar ponsel itu ke atas ranjang sambil loncat loncat tak jelas. a gadis itu jadi seperti manusia yang tengah kerasukan setan disco, aktif banget🤣🤣
ting ..
ponsel berbunyi lagi. Pertanda Digo membalas pesan gadis itu. Arini dengan segera meraih benda tersebut lalu membukanya dan membacanya dengan senyuman lebar.
"galak amat" jawab Digo.
Arini menggeliat. Lalu menulis lagi disana.
"dapet dari nama nomor WA aku?" tanya gadis itu.
"malaikat" jawab Digo.
"nggak lucuk..!"
"☺️☺️" jawab Digo singkat
"dih, nyengir..!!" tulis Arini.
"besok pulang kuliah jam berapa?" tanya Digo lagi.
"kenapa?" tanya Arini.
"aku besok ada meeting di sekitar kampus kamu, kalau udah selesai kuliah, jalan yuk" tulis pria itu lagi.
"kemana?"
"naik gunung mau nggak?" ucap Digo meledek
"KEJAUHAN...!!!"
"canda..!!" ucap pria itu.
"nggak usah jauh jauh. Yang penting pergi berdua. Kan katanya kemarin kita udah temenan sekarang..” tulis pria itu.
"terserah" tulis Arini.
"oke, kalau gitu besok kasih kabar ya kalau udah pulang kuliah.."
"iya..." jawab Arini.
"siap..." jawab pria itu.
"kok tumben jam segini belum tidur? biasanya udah ngorok" tulis Digo.
"dih, aku nggak pernah ngorok ya..." tulis Arini menyangkal.
"iya, karena kamu nggak pernah denger aja pas kamu ngorok.." balas Digo
"ya iyalah, kan tidur..!" jawab anak Calvin.
"nah, tuh tau..!" tulis pria itu.
"masih suka ngigau nggak kalau pas tidur..?" tanya Digo.
"nggak tau, kan tidur..!🙄🙄" tulis Arini lagi.
"oh, iya..🤣"
Dan obrolan pun terus berlanjut. Sepasang pria wanita yang dulu pernah tinggal seatap itu lantas saling berbalas pesan hingga malam. Arini sesekali cekikikan sambil berguling guling bebas di atas ranjangnya. Entah mengapa ia jadi begitu girang mendapat pesan dari pria itu. Sesuatu yang tak di duga duga sebelumnya. Padahal sebelum ini ia pernah sangat membenci pria itu. Tapi setelah melihat perhatian sang Diego yang seolah selalu ada untuknya, kemudian berlanjut dengan permintaan maaf yang bertubi tubi, serta duka yang Digo alami, lalu hilangnya laki laki itu selama kurang lebih sepuluh hari, membuat Arini entah mengapa tiba tiba mulai merasakan perasaan yang berbeda.
Ia rindu saat Digo tak memperhatikan nya. Ia rindu saat Digo tak menampakkan wajahnya. Ia kemudian merasa lega, senang namun juga bercampur gugup ketika Digo tiba tiba muncul di hadapan nya.
Dan kini, saat tiba tiba Digo menghubungi nya, entah mengapa ia merasa bak terbang di atas awan. Arini begitu bahagia. Sebuah perasaan yang entah apa itu namanya.
...----------------...
Selamat pagi...
up 08:34
yuk, dukungan dulu....😍
__ADS_1