My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 46


__ADS_3

Adegan di dalam ruangan CEO terus berlanjut ..


Di sebuah set sofa yang tertata rapi di ruangan CEO perusahaan milik keluarga Hernandez...


Gadis itu nampak duduk di atas sofa. Melipat kedua kakinya di atas sofa mahal itu. Menghadap ke arah sang ayah yang kini nampak duduk dihadapan nya sambil tak lepas menikmati pemandangan wajah cemberut yang Arini tampilkan.


Arini dengan wajah di tekuk terus berkali kali menyodorkan sendok berisi makanan itu ke arah mulut sang ayah. Menyuapinya dengan telaten namun sangat terpaksa.


Tolonglah, jam makan siangnya sudah hampir habis. Tapi ia masih berkutat di tempat itu dengan kegiatan yang sangat jauh melenceng dari pekerjaannya. Menyuapi orang tua...!! kan kampreeet...!! batin Arini.


Arini terus cemberut. Diego memasang mode angkuh dan dingin meskipun dalam hatinya menikmati wajah manyun itu.


"apa kau tidak bisa senyum sedikit jika sedang bekerja?!" tanya Diego dengan nada kesal.


Arini menatap sinis ke arah sang ayah. Menarik nafas panjang. Diam sejenak. Lalu.....


"hiiiiiiii....." ucap gadis itu sembari memiringkan kepalanya menarik kedua ujung bibirnya ke atas. Menampilkan senyuman lebar namun terpaksa bahkan hingga menampakkan barisan gigi gigi putihnya.


Digo berusaha menahan tawanya agar tak pecah. Ia harus tetap terlihat angkuh dan garang di hadapan gadis bodoh yang justru terlihat lucu dengan ekspresi kesalnya ini.


"gigimu kuning..!" ucap Digo sesantai mungkin. Arini dengan cepat menetralkan ekspresi nya dan menegakkan posisi duduknya.


Gadis itu kembali bersungut.


Diego mengangkat satu sudut bibirnya.


Makan siang di suapi anak pun terus berlanjut. Selesai dengan satu box nasi. Digo pun menyudahi makan siang nya. Diseruputnya minuman yang ia pesan dari resto itu. Dilihatnya disana, diatas meja makanan masih sangat banyak. Baru berkurang satu kotak nasi serta sebuah minuman dingin saja yang Digo makan.


Masih tersisa burger, French fries, satu minuman dingin, satu porsi nasi makan siang, salad buah, dan masih banyak lagi makanan mahal di atas meja.


Arini menatap nanar ke arah banyaknya makanan di atas meja itu. Sayang sekali makanan sebanyak ini tak dimakan. Apa ayah kandungnya ini akan memakannya nanti? pikir Arini

__ADS_1


Gadis itu nampak berkacak pinggang. Ia lantas menoleh ke arah sang ayah yang asyik menyeruput minuman dinginnya.


"apa?!" tanya Digo.


"daddy, ini semua makanan nggak dimakan? kan sayang..! enak enak, masih fresh..!" ucap Arini sambil menatap iba kearah banyaknya hidangan yang terjejer di atas meja itu. Sebagai pelayan resto saja ia belum pernah mencicipi makanan makanan lezat itu. Jatah makan siangnya tak semewah itu. Lah, ini, ada makanan enak malah dianggurin. Pikir Arini.


Digo tak menjawab. Arini menoleh kearah pria itu lagi.


"daddy, lain kali kalau pesen makanan nggak usah banyak banyak napa sih, dad?" ucap Arini.


"memangnya kenapa?" tanya Digo tak suka.


"daddy nggak lihat apa?! nih makanan sisa banyak banget ..! mubazir tau nggak..! sayang duitnya...! katanya harus hemat..! kesulitan ekonomi...! ini daddy pesen makan nggak tanggung-tanggung cuma buat di buang buang...! Arin aja mati matian ngirit duit, daddy malah buang buang duit...!!"


"kalau udah mati matian kenapa nggak mati beneran aja sekalian..?!!" ucap Digo ngegas. Perdebatan pun kembali dimulai...!


"astaghfirullah haladzim, daddy...!! nyumpahin anak sendiri mati...! kalo Arin mati beneran gimana?!!" tanya Arini tak kalah kesal.


"gimana Arin nggak protes kalau daddy nggak bisa diajak ngirit...! atau jangan jangan selama ini daddy bohong ya..?! keuangan daddy sebenarnya baik baik aja...! daddy bilang kayak gitu biar aku nggak minta aneh aneh sama daddy...?!! iya kan?! ngaku...!!" ucap Arini sambil melotot penuh kecurigaan kearah sang ayah. Namun lagi lagi, justru terlihat lucu dimata Diego.


"oh...atau jangan jangan aku bukan anak daddy? iya..? daddy bukan bapak aku, makanya pelit..! daddy cuma ngaku ngaku jadi bapak aku biar bisa deket deket ama aku?! iya kan? ngaku...!!" ucap Arini sekenanya namun sukses membuat Digo melotot dibuatnya. Dengan gerakan cepat di jitaknya kepala anak gadisnya itu.


"aduh...!!sakiiiiittt....!!!" ucap Arini protes.


" yang sopan kau sama orang tua...!! bicara aneh aneh lagi ku masukkan lagi kau ke perut ibumu..! ku cetak ulang biar bagusan dikit" ucap Digo kesal.


"abisnya daddy mencurigakan...!!" ucap Arini sembari mengusap usap bekas jitakan daddy nya.


"daddy beli itu buat kamu..!! biar kamu bisa makan enak sama daddy...!! kalau kamu makan jatah makan siang di resto itu, paling cuma dikasih makanan sisa dari pelanggan...!! makanya kau tolol..! otakmu lemot..! makanan sampah kau makan" ucap Diego.


Arini nampak diam sejenak.

__ADS_1


"ya mau gimana lagi...orang adanya cuma itu" cicit Arini.


Digo menatap jengkel ke arah Arini. Ia tahu, apa yang diucapkan Arini barusan itu hanyalah ucapan sekenanya saja. Gadis itu tak betul betul punya pemikiran seperti yang ia ucapkan tadi. Digo tahu betul, Arini terlalu bodoh untuk menyadari semua rahasia yang Digo sembunyikan.


"sudah, jangan banyak bicara lagi. Lebih baik sekarang kau makan...! keburu bos mu ngomel ngomel nanti..!" ucap Digo.


Arini nampak mengangguk sambil mengulum senyum. Sakitnya kemarin rupanya benar benar membawa berkah untuk Arini. Ayahnya jadi sedikit melunak hatinya. Laki laki itu jadi lebih perhatian padanya meskipun masih dengan sikap angkuh dan galaknya.


Arini yang memang sudah lapar pun lantas menatap aneka hidangan di atas meja rendah itu.


Wajahnya seketika itu juga nampak berbinar. Baru saja ia dapat rejeki nomplok lebihan uang dari pelanggan. Sekarang dapat makanan enak dari daddy nya. Wah, hari ini memang hari keberuntungan Arini..!


"nggak usah senyum senyum! buruan makan...!!" ucap Diego galak.


Arini menoleh kearah sang ayah. Digo nampak menatapnya datar. Arini tersenyum imut sambil memiringkan kepalanya.


"maacih daddy nya akoooohhh...." ucap Arini sok imut. Membuat Digo nampak mengernyitkan dahinya. Lalu tersenyum lucu ke arah wanita belia itu.


Arini kembali mengarahkan pandangannya ke arah meja rendah. Ia mengatupkan kedua telapak tangannya, lalu menggosok gosokkannya sambil mulutnya nampak memainkan lidahnya menyapu area bibir merah mudanya. Seolah ingin menggambarkan betapa ia sudah tidak sabar untuk memangsa habis semua makanan di atas meja itu.


Ah, Arini..! emang ya, rejeki anak solehah tak akan tertukar.


Digo nampak mengangkat dagunya sambil mengulum senyum khasnya. Ia suka pemandangan di hadapannya. Terlebih lagi kini gadis itu nampak memangsa satu paket menu makan siang itu dengan lahapnya.


Digo tak mau kehilangan momen ini. Di ambilnya ponsel miliknya dari dalam saku jas nya lalu secara diam diam, di rekam nya aksi lucu bocah cantik itu menggunakan kamera ponsel tersebut.


...----------------...


Selamat pagi...


up 05:05

__ADS_1


yuk, dukungan dulu...🥰


__ADS_2