My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 22


__ADS_3

sore menjelang,


Pria berparas tampan yang merupakan pemimpin perusahaan yang bergerak di bidang jasa itu nampak keluar dari mobil nya bersama seorang pria yang merupakan asisten pribadinya tersebut.


Ya, itu adalah Diego Calvin Hernandez. Pria berjambang tipis itu keluar dari kendaraan pribadinya bersama Sam yang selalu setia menemani nya setiap saat.


Saat ini jam masih menunjukkan pukul 04.00 sore. Harusnya masih satu jam lagi Digo keluar dari kantornya. Tapi karena hari ini ia punya rencana untuk pulang ke rumah ayahnya, maka ia pun memilih untuk pulang satu jam lebih awal dari jadwal biasanya.


Maklumlah, kan ia CEO nya..? jadi bebas mau ngapain aja..! ya kan..?!


Digo dan Sam berjalan menuju parkiran. Sang asisten membukakan pintu untuk si tuan yang selalu terlihat berwibawa dan penuh karisma itu. Duda tiga puluh delapan tahun itu pun lantas masuk ke dalam mobil tersebut. Ia pun lantas mendudukkan tubuhnya di kursi kemudi kendaraan roda empat itu. Mobil pun melaju meninggalkan tempat tersebut. Memecah lengang jalanan ibukota lantaran belum memasuki jam pulang kantor.


Di kursi belakang, Digo sibuk dengan ponselnya. Mengotak atik benda pipih itu, membuka buka beberapa akun media sosial yang membosankan lantaran hanya dipenuhi berita berita tentang bisnis dan saham.


Digo jenuh. Ditutup nya benda itu. Lalu kembali memasukkan nya ke saku jasnya. Ia lantas mengarahkan pandangan matanya ke luar jendela. Hingga tiba-tiba,


Matanya terfokus pada sebuah motor yang tiba-tiba menyalip kendaraannya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Sepasang muda-mudi terlihat berboncengan sepeda motor sport. Menyalipnya dengan kecepatan yang tak main main.


"itu siapa yang dibonceng tadi? dari postur tubuh dan pakaian nya seperti......" gumam Digo seolah menerka nerka. Entah kenapa ia tiba tiba terpikirkan Arini.


Digo menggelengkan kepalanya cepat. Ah, sudahlah..! tak penting..! pikir Digo.


Mobil pun terus melaju menuju kediaman tuan Grey Hernandez.


...****************...


Sepuluh menit perjalanan, Digo pun sampai di kediaman tuan Hernandez. Sam menghentikan kendaraan ini di halaman luas rumah megah bak istana tersebut.


"lu kalau mau pulang, balik duluan aja nggak apa apa. Ntar gampang pulang nya, gue bisa pakai mobil papa" ucap Digo pada sang sahabat sekaligus asisten itu.


"oke.." jawab Sam singkat.


Diego pun segera keluar dari mobil itu. Sedangkan Sam kini nampak melajukan kendaraan roda empatnya itu keluar dari kediaman megah tuan Grey Hernandez.


Digo berjalan menuju pintu utama rumah tersebut. Dengan segera ia pun membuka pintu itu dan masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam.


Ya, Diego Calvin Hernandez memang bukanlah seorang anak yang terlahir dari sebuah keluarga dengan didikan agama yang kental. Meskipun demikian, bukan berarti mereka juga buta akan ajaran-ajaran agama. Mereka paham, hanya saja tak terlalu taat.


Diego berjalan memasuki rumah megah bak istana dengan berbagai ornamen dan perlengkapan serba mahal itu.


Diego berjalan menuju ruang keluarga, dimana riuh suara anak anak nampak terdengar dari sana.


"yuhuuuuu...." ucap Diego saat sampai di ruang keluarga. Dengan jas di tangan, ia merentangkan kedua lengannya, membuat dua orang bocah disana menoleh ke arahnya. Ya, itu adalah keponakan Diego, anak dari Giselle, kakak kandungnya.


Dua bocah berusia sepuluh dan tujuh tahun itu nampak berbinar.


"uncle...!!!" ucap bocah laki laki yang tengah asyik dengan robot robotan nya tersebut. Si bocah laki laki tujuh tahun itu berlari, menabrakkan dirinya ke tubuh tegap Diego. Dipeluknya laki laki itu. Zidane nama bocah itu. Anak kedua dari Giselle sang kakak dan Roy, iparnya. Hari ini mereka pulang ke tanah kelahiran Giselle. Giselle yang hanya datang bersama kedua anaknya tanpa di dampingi suami itu rencananya akan menetap di sini hingga seminggu kedepan. Zidane nampak begitu erat memeluk Digo. Bocah itu memang cukup akrab dengan pria tiga puluh lima tahun tersebut. Berbeda dengan kakaknya, Zoe, yang sudah beranjak remaja. Gadis itu lebih cuek. Lihat saja, saat sang uncle baru saja datang, gadis itu nampak masih saja asyik dengan ponselnya seolah tak menghiraukan kedatangan pria tampan tersebut.


Diego mengangkat tubuh Zidane. Lalu menggendong nya dan membawanya duduk di sofa panjang tepat di samping Zoe yang masih asyik dengan gawai nya.


"hp mulu...!!" ucap Digo sambil menyambar ponsel di tangan remaja putri itu.


"ih, uncle..! apa sih...?!!!"ucap Zoe sambil mencoba merampas kembali ponselnya dari tangan sang uncle.

__ADS_1


Digo terkekeh.


"jangan HP mulu..! masak uncle nya datang dicuekin?!" tanya Digo sambil menyerahkan ponsel Zoe.


"apa sih uncle...?! orang aku lagi main..! udah sana ah..!" Ucap Zoe.


Digo menggerakkan tangannya mengacak acak kepala remaja itu.


"mommy kalian mana?" tanya Digo.


"lagi sama opa di kamarnya.." ucap Zoe.


Digo menatap ke arah lantai dua, dimana kamar sang ayah yang sudah berusia lanjut itu berada.


"opa drop lagi?" tanya Diego. Zoe mengangkat pundaknya.


"tadi emang ada dokter yang datang kesini sih..." ucap Zoe. Digo menurunkan Zidane yang kini berada di pangkuannya.


"kamu main sama kakak dulu, ya. Uncle mau ke atas" ucap Digo.


"oke..! tapi nanti kita main lagi ya, uncle" ucap Zidane.


"iya.." jawab Digo singkat.


Laki laki itupun kemudian bergegas menuju lantai dua untuk melihat kondisi papanya.


ceklek....


pintu terbuka....


"pa...." ucap Digo lalu dengan segera mendekati ayahnya yang kini terbaring di atas ranjang.


Digo mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Diraihnya punggung tangan pria renta itu dan menggenggam nya.


"papa kenapa?" tanya Digo.


"papa nggak apa apa. Papa cuma kecapekan aja" ucap tuan Grey.


Digo menatap iba ke arah sang ayah,


"Go," ucap Giselle membuat Diego menoleh.


"kakak mau bicara sama kamu" ucap wanita berpenampilan sederhana namun terlihat elegan itu.


Digo mengangguk.


"pa, Digo keluar dulu ya" ucap Diego.


Tuan Grey hanya mengangguk. Ia lantas mengikuti langkah sang kakak keluar dari kamar tuan Grey. Meninggalkan laki laki paruh baya itu bersama seorang pembantu yang ditugaskan untuk merawat tuan Grey selama ini.


Giselle menuju ruang keluarga yang berada di lantai dua. Wanita itu nampak berdiri menghadap jendela luas bangunan megah bak istana tersebut, membelakangi Diego yang kini mendudukkan tubuhnya santai di sebuah sofa mahal di ruangan itu.


"ada apa, kak?" tanya Digo.

__ADS_1


Giselle menghela nafas panjang sembari melipat kedua lengannya di depan dada.


"suami kakak nggak ikut?" tanya Digo lagi namun tak di jawab oleh wanita yang usianya dua tahun lebih tua darinya itu.


"apa kamu belum berpikir untuk menikah?" tanya Giselle tiba-tiba.


Digo menatap aneh ke arah sang kakak.


"kenapa kakak tiba-tiba nanya kayak gitu?" tanya Digo.


"apa kamu nggak kasihan sama papa?" tanya Giselle lagi sembari berbalik badan. Di tatapnya sang adik yang kini nampak menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa itu.


"papa udah tua..! dia tinggal di rumah sebesar ini cuma sama pembantu dan pelayan. Apa kamu nggak merasa kasihan sama papa? di hari tuanya dia hidup sendiri di rumah sebesar ini tanpa didampingi anak-anaknya..!" ucap Giselle.


"ayolah, kak..! nggak harus dengan cara nyuruh aku nikah juga kan?!" ucap Digo.


"tapi seenggaknya kalau kamu udah nikah, istri kamu kan bisa jagain papa..! kalian bisa tinggal di sini sama sama...! lah ini papa udah tua kamu malah beli rumah baru..! kamu malah memilih tinggal di sana sendirian jauh dari papa..! kamu nggak kasihan sama papa?" tanya Giselle tak habis pikir dengan sikap sang adik.


"bukannya gitu, kak..! Aku cuma pengen berusaha mandiri aja..! lagian aku kan pembisnis..! aku juga memperhitungkan jarak..! kalau di sini ke perusahaan kita, itu jaraknya jauh banget, kak..! beda sama di rumah aku yang baru...!" ucap Digo memberikan alasannya.


"apapun alasannya, Go! harusnya kamu mempertimbangkan kesehatan papa juga..! kondisi papa itu makin hari makin menurun..! dia butuh didampingi...! siapa lagi kalau bukan anak anaknya...! kamu tahu sendiri kan kondisi aku sama mas Roy..! Aku nggak mungkin bisa lama lama disini karena bisnis mas Roy itu ada di luar negeri. Anak anak juga nggak betah tinggal lama lama disini...!" ucap Giselle.


"ayolah, Go. Buka hati kamu, biarkan wanita lain masuk. Kakak tahu apa yang kamu rasakan. Tapi mau sampai kapan kamu larut dalam masa lalu kamu. Tuan Alexander sudah kamu tumbangkan..! dendam kamu udah terbalas..! Steffi juga udah tenang di sana, apa lagi yang mau kamu kejar?! sekarang saatnya kamu bangkit..! cari pengganti dia. Buka hati kamu..! lanjutkan hidup kamu...! kamu nggak bisa terus terusan kayak gini, Go...!" ucap Giselle mencoba memberikan nasehat untuk sang adik. Ia tahu betul tentang kisah masa lalu laki laki itu.


Digo nampak memasang raut wajah tegang. Entah mengapa ia selalu merasa tak suka jika masa lalu dan kisah percintaannya di ungkit ungkit. Itu terlalu sakit..!


"kakak nggak perlu bahas masalah itu...!" ucap Digo dingin.


"mau sampai kapan kamu kayak gini?!! kamu pikir kamu nggak punya kehidupan lain...?! kamu terlalu sibuk mengejar karir kamu, menumbangkan tuan Calvin dan semua pemikiran kamu yang nggak pernah maju itu..! stop lah...! udah..!! move on..! Steffi itu bukan jodoh kamu...!!!"


"TAPI KEMATIAN STEFFI NGGAK AKAN PERNAH BISA AKU TERIMA...!! LAKI LAKI ITU HARUS MEMBAYAR SEMUANYA..! BAHKAN SAMPAI ANAK CUCUNYA...!!" ucap Digo murka. Laki laki itu bahkan kini bangkit dari duduknya. Dadanya naik turun dengan emosi yang menggebu gebu.


"DIGO...!! cukup ya...!! jangan gila kamu...!! nggak ada satu bukti pun yang mengatakan kalau Steffi itu tewas di bunuh...! polisi juga udah bilang kalau Steffi itu tewas murni karena kecelakaan...!! kenapa malah jadi kamu yang punya pemikiran sendiri..?!" tanya Giselle.


"karena aku tahu yang sebenarnya..! Steffi selalu cerita ke aku tentang semua masalah dia sama suaminya...!"


"tapi itu bukan berarti kamu bisa mengambil kesimpulan sepihak...! boleh kamu cinta sama seseorang, tapi tolong tetap waras...!!" ucap Giselle muak. Ia benar-benar bingung bagaimana caranya untuk menasehati Diego agar mau melanjutkan hidupnya. Agar tidak melulu terpuruk dalam cerita masa lalu yang sudah sangat lama berlalu. Sebagai seorang kakak, ia begitu peduli pada adiknya. Ia seolah begitu iba melihat Digo yang terus-terusan larut dalam kisah percintaannya dengan seorang wanita di masa lalunya. Yang hanya bisa bertepuk sebelah tangan. Dan berakhir tragis dengan sebuah kematian.


"harusnya aku nggak datang ke sini kalau cuma diminta buat bahas masalah ini...!!" ucap Digo dingin.


"bukan gitu, Go............"


brrraaaaaaakkkkkk.........


Digo menendang meja rendah dihadapan nya. Membuat Giselle pun terjingkat kaget dibuatnya. Dengan langkah lebar penuh emosi ia pun pergi menuruni tangga. Giselle mengejar adiknya itu namun Diego tak peduli. Ia menuju halaman luas rumah mewah itu, mendekati seorang sopir dan meminta sebuah kunci mobil. Sang supir yang melihat gelagat tak mengenakan pun dengan cepat memberikan kunci salah satu mobil milik keluarga Grey Hernandez. Digo berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Giselle yang kini menatap nanar ke arah mobil yang dikendarai adik laki lakinya itu.


"andai kamu tahu seperti apa kehidupan berumah tangga itu, Go.." ucap Giselle dengan mata mengembun.


...----------------...


Selamat pagi


up 05:14

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰🥰😘


__ADS_2