
Waktu terus berputar. Hari demi hari pun mulai berganti. Kehidupan para anak manusia itu terus berjalan seperti sebagaimana mestinya.
Satu minggu sudah gadis berparas ayu itu terbangun dari tidur panjangnya. Sejak saat itu, berbagai perhatian dan kasih sayang tal pernah kurang ia dapatkan dari sang ayah. Dua puluh empat jam mereka selalu menghabiskan waktu bersama. Calvin memperlakukan Arini bak putri kecil yang selalu dimanja dan dituruti apapun yang gadis itu inginkan. Namun nyatanya Arini memanglah bukan gadis yang banyak maunya. Ia tak pernah meminta apapun. Ia hanya meminta untuk Calvin tidak pergi meninggalkan nya barang sedetikpun. Membuat Calvin pun mau tak mau hanya bisa mengandalkan teman temannya jika memerlukan sesuatu.
Siang ini, di kamar rawat inap tempat dimana Arini tengah dirawat.
Ceklek....
pintu kamar terbuka. Arini yang tengah tiduran diatas ranjang sambil memainkan ponsel baru pemberian sang ayah pun menoleh kearah sumber suara. Dilihatnya disana, seorang pria bertato dan ber tindik nampak masuk ke dalam ruangan itu.
"halo, dek..!" ucap pria itu, Ivan, sembari menenteng kantong kresek berwarna putih di tangannya.
Arini tersenyum manis. Diletakkannya ponsel baru pengganti ponsel lamanya yang tak tahu entah kemana pasca kecelakaan itu. Gadis belia dengan tangan dan kaki yang masih di gips itu pun nampak menatap ke arah Ivan.
"itu apa, mas?" tanya Arini pada laki laki kawan akrab ayah kandungnya itu.
"banyak! apa aja ada! bapak kamu yang nyuruh gue beli tadi, lu mau apa? semua ada disini" ucap Ivan yang baru saja dari mini market membeli aneka mac camilan untuk Arini dan Calvin itu.
Arini nampak berfikir.
"eemm....lagi nggak pengen ngemil" ucap gadis itu.
"ck, lu mah, banyak makanan gini malah nggak mau" ucap Ivan. Arini hanya terkekeh.
Calvin keluar dari kamar mandi. Arini mengubah posisi tubuhnya yang semula miring kini menjadi terlentang. Ditatapnya sang ayah yang nampak berjalan mendekat ke arahnya.
"kok nggak tidur? kan udah jam tidur siang..!" ucap Calvin sambil mengacak acak lembut pucuk kepala sang putri.
"bapaaak..." ucap Arini manja.
"apa?" tanya Calvin.
"udah boleh pulang belum..! bosen disini..." ucap Arini lagi.
Calvin tersenyum.
"kan harus sembuh dulu. Kamu aja belum bisa jalan, nak. Tunggu sebentar lagi ya. Kalau bener bener udah sembuh, baru kita pulang" ucap Calvin.
Arini nampak memonyongkan bibirnya. Calvin menoleh ke arah Ivan.
"pesenan gue mana?" tanya Calvin.
"oh, ada, bang" ucap Ivan. Arini menatap ke arah Calvin dan Ivan secara bergantian. Sedangkan Ivan kini mulai merogoh kresek putih itu. Lalu mengeluarkan minuman kaleng dengan kadar alkohol rendah disana lalu menyerahkan nya pada Calvin.
Arini hanya diam memperhatikan dua pria itu. Ya, memang akhir akhir ini Calvin sudah banyak berubah. Dia lebih sering menghabiskan waktunya dengan gadis kecil kesayangan nya itu. Tapi nyatanya, walaupun demikian, kebiasaan buruk Calvin yang suka mengkonsumsi minuman beralkohol belum juga bisa dihilangkan. Pria itu selalu meminta Ivan untuk membawakan minuman-minuman dengan kadar alkohol rendah untuknya. Arini pun tak bisa melarang. Ia sudah berjanji tidak akan banyak meminta dan banyak menuntut. Mungkin untuk kali ini selama masih dirumah sakit ia akan membiarkan saja ayahnya mengkonsumsi minuman minuman itu. Tapi nanti saat mereka sudah pulang, mungkin Arini akan berusaha untuk sedikit demi sedikit menjauhkan minuman haram itu dari sang ayah.
__ADS_1
Calvin membuka kaleng itu. Lalu menenggak minuman tersebut guna melepaskan dahaga nya.
Arini hanya tersenyum tipis.
"bapak..." ucap Arini lagi.
Calvin menoleh.
"apa...?" jawab pria tersebut.
"bapak capek nggak?" tanya Arini.
Calvin menyipitkan matanya.
"emangnya kenapa?" tanya pria itu lagi kemudian
"Arin bosen di kamar terus.." ucap gadis itu dengan mimik wajah penuh harap. Ingin sekali ia mengajak ayahnya itu jalan jalan. Ya, minimal jalan jalan keliling rumah sakit melihat orang orang berlalu lalang disana. Dari pada dikamar terus. Tak punya kegiatan apapun.
Calvin tersenyum. Ia menenggak lagi alkoholnya, lalu meletakkan nya diatas nakas. Pria itu lantas membungkukkan badannya, mendekatkan wajahnya pada wajah sang putri.
"mau jalan jalan? bapak ajak kamu keliling rumah sakit" ucap Calvin.
"tapi kalau bapak capek nggak usah, pak" ucap Arini seolah tak mau merepotkan ayahnya.
Calvin tersenyum.
"bapak nggak pernah capek buat kamu" ucap laki laki itu
Arini tersenyum bahagia. Gadis itu kemudian mengangguk mengiyakan ajakan sang ayah.
Calvin tersenyum sembari menyentuh ujung hidung gadis belia tersebut.
"oke..! kita pergi..!" ucapnya lagi
Calvin lantas bergerak. Meraih sebuah kursi roda yang berada di ruangan itu, lalu meletakkan nya di samping ranjang. Pria itu kemudian meraih tubuh gadis cantik yang kini seolah tak mau jauh jauh darinya tersebut. Dibopongnya Arini yang belum bisa menggerakkan kakinya dengan leluasa itu lalu mendudukkan nya di atas kursi roda.
Calvin kemudian meraih beberapa snack dari dalam kantong kresek putih disana, kemudian meletakkan nya di pangkuan Arini.
"hp Arin, pak" ucap gadis itu.
"nggak usah lah" ucap Calvin.
" harus dong. Nanti kita foto foto.." ucap Arini.
"kita tiap hari udah foto foto, sayang" ucap Calvin pada sang putri yang memang tiap hari selalu meminta berfoto dengan dirinya. Udah kek artis aja🤦
Calvin hanya menggelengkan kepalanya. Ia lantas meraih ponsel di atas ranjang itu lalu meletakkannya di pangkuan sang putri.
Kursi roda pun di dorong keluar dari ruangan rawat inap itu. Arini mulai merekam aktifitas nya melalui aplikasi vidio. Sesekali ia tersenyum ke arah kamera, lalu mengarahkan lensa itu ke arah sang ayah sambil meminta pria berpenampilan sangar itu untuk tersenyum.
__ADS_1
Cukup lama. Lebih dari sepuluh menit Arini merekam aktifitas nya. Merasa cukup puas, gadis itupun lantas menyudahinya lalu memposting vidio hasil tangkapannya itu ke media sosial miliknya.
Calvin mengulum senyum.
"kamu kayaknya seneng banget main sosmed. Semua foto kamu upload" ucap Calvin sambil terus mendorong kursi roda itu dengan santai.
"nggak apa apa, pak. Arin pengen upload semua foto Arin sama bapak di sosmed. Biar semua temen temen Arin dan orang orang di kampung yang dulu suka bully Arin tau, kalau Arin sekarang udah bahagia sama bapak. Arin udah ketemu bapak. Arin punya orang tua" ucap Arini begitu bahagia.
Calvin menghentikan langkahnya. Ucapan gadis itu perihal kehidupan kelamnya sejak kecil selalu berhasil menampar batin Calvin. Laki laki itu lantas berjalan mengitari kursi roda. Ia berdiri di hadapan sang putri lalu berjongkok disana menatap putri tersayangnya itu.
"Arini.." ucap Calvin.
Arini diam.
"bapak minta maaf. Sembilan belas tahun kamu hidup di dunia bapak baru bisa membahagiakan kamu sekarang. Bapak minta maaf sudah menelantarkan kamu selama ini. Bapak minta maaf, karena bapak belum bisa menjadi ayah yang baik untuk kamu." ucap Calvin.
Arini tersenyum haru.
"Arin maafin, pak. Arin nggak pernah bisa lama lama benci sama bapak. Karena bisa ketemu sama bapak dan deket sama bapak adalah impian Arin sejak kecil" ucap Arini.
Satu tangan putih yang tak di gips itu tergerak menyentuh wajah berjambang lebat itu dan mengusap usapnya lembut.
"aku dulu pernah nyentuh wajah bapak ya?" tanya Arini sambil tersenyum lebar namun terlihat pilu.
Calvin tersenyum sambil mengangguk.
"iya, pernah..! dulu kamu masih pakai popok. Bapak gendong kamu. Bapak juga cium kamu.." ucap laki laki itu sembari menyentuh punggung tangan sang putri.
Calvin mengangkat tangan itu. Mengecupnya lembut berkali kali dengan sorot mata sendu terarah pada Arini.
"bapak akan menebus semua kesalahan bapak sama kamu selama ini. Bapak akan melakukan apapun demi kebahagiaan kamu. Bapak janji..!" ucap Calvin.
Arini mengangguk. Pria itu bergerak. Di peluknya tubuh sang putri dengan erat. Sepasang ayah dan anak itu lantas berpelukan. Seolah ingin mencurahkan rasa sayang mereka masing masing.
Cukup lama keduanya saling memeluk. Hingga tiba tiba....
.
.
.
.
"eeeehhhmm.. permisi...."
...----------------...
Selamat malam...
__ADS_1
up 18:39
yuk, dukungan dulu 🥰