My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 113


__ADS_3

Hari demi hari terus berganti...


Semua berjalan seperti yang sudah seharusnya. Arini semakin menikmati hari demi hari dalam hidupnya. Hidup berdua dengan sosok ayah tercinta, rupanya berhasil memberikan kebahagiaan yang tiada tara bagi gadis belia yang sejak kecil sudah ditinggal mati oleh ibu kandungnya tersebut.


Arini kini sudah mulai menjalani aktivitas perkuliahan nya. Kini ia menyandang status sebagai seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi di kota itu. Ia satu kampus dengan Fajar, sesuai dengan permintaan Arini.


Selain menyandang status sebagai seorang mahasiswi, Arini juga masih aktif bekerja di sebuah resto ternama di kota besar itu. Namun lantaran kini ia nyambi kuliah, maka ia memutuskan untuk mengambil kerja paruh waktu. Sama seperti Fajar. Masuk siang, dan pulang malam hari.


Hingga saat ini belum ada masalah yang berarti. Arini masih enjoy enjoy saja menikmati dua peran yang dijalani nya. Gadis itu tidak pernah mengeluh capek. Justru malah bahagia.


Sang ayah juga mendukung mendukung saja. Laki laki itu bahkan kadang rela menjemput putrinya tiap malam menggunakan mogenya. Lalu keduanya kemudian pulang ke rumah bersama sama dengan motor yang berbeda. Tak jarang sebelum pulang keduanya mampir mampir dulu sekedar ke cafe, taman, atau tempat tempat nongkrong lainnya. Menghabiskan waktu berdua disana selayaknya sahabat. Toh darah dan jiwa Calvin seperti nya memang menurun di diri Arini. Membuat keduanya benar benar memiliki hobi dan kesukaan yang sama.


Bukan hanya hobi nongkrong dan motoran, gadis itu kini bahkan mulai minta di ajari bela diri oleh ayahnya.


Ingat kan, Arini memang suka bela diri sejak masih tinggal di kampung. Ya, meskipun kemampuan yang dikuasainya baru kemampuan dasar, tapi setidaknya ia punya kemampuan dalam bidang tersebut.


Dan di saat kini ia sudah tinggal dengan sang ayah yang notabene adalah pemegang sabuk hitam di salah satu cabang bela diri, Arini pun tak mau menyia nyiakan kesempatan itu. Ia mau berlatih dengan sang ayah. Ia mai diwarisi ilmu bela diri milik sang ayah. Ia harus bisa menjadi "Calvin junior versi wanita".


Calvin pun tak pernah menolak apa yang Arini minta. Ia benar benar menjelma menjadi semua sosok yang Arini butuhkan. Orang tua, guru, teman, sahabat, tempat curhat. Semuanya...! membuat Arini selalu merasa nyaman bersama laki laki yang dulu sempat ragu untuk menerima nya itu.


Sementara hubungan nya dengan Diego. Hingga saat ini belum ada perkembangan yang berarti. Diego masih keukeuh dengan pendirian nya yang masih tak mau menemui Calvin. Namun setiap harinya, pria tampan itu selalu datang ke resto tempat Arini bekerja. Kadang laki laki itu menunggu di luar resto sampai gadis itu pulang, kemudian pergi setelah Calvin datang menjemput putrinya. Ia seolah ingin terus selalu ada untuk memastikan Arini aman. Meskipun keduanya tak pernah saling bertegur sapa.


....


Malam menjelang,


Sebuah motor trail berwarna pink hitam nampak berhenti di halaman yang tak terlalu luas kediaman Calvin Alexander. Seorang gadis cantik turun dari kendaraan roda dua itu setelah melepas helm pink nya. Dengan sebuah kantong kresek ditangan, gadis belia sembilan belas tahun itu pun masuk ke dalam rumah.


"assalamualaikum...." ucap Arini lantang.


Tak ada jawaban. Sepi..!


"paaakkk...!!!" ucap gadis itu memanggil manggil bapaknya. Suaranya lantang dan cempreng seperti suara anak SD yang baru pulang dari sekolah.


"paaaaaakkk.......!!!" ucap gadis itu lagi.


Arini nampak menaiki tangga. Membuka pintu kamar sang ayah lalu masuk ke dalam nya. Dilihatnya disana Calvin nampak berada di balkon kamar tersebut. Berdiri membelakangi nya sembari menerima sebuah panggilan telepon dari seseorang.

__ADS_1


Arini mendekati sang ayah pelan pelan. Laki laki itu nampak beberapa kali menghela nafas panjang saat mendengarkan seseorang berbicara dari seberang sana.


"ya, saya paham..." ucap pria itu.


Arini yang sudah berdiri di belakang Calvin pun nampak memiringkan kepalanya. Sepertinya ayah kandungnya itu sedang terlibat pembicaraan serius. Ada apa ya? pikir Arini.


Calvin mengangguk lagi.


"ya, aku mengerti. Aku turut berduka cita. Semoga ayahmu di tempatkan di tempat terbaik di sisiNya. Kau dan adikmu pasti kuat.." ucap Calvin.


Arini terdiam. Ada orang meninggal rupanya. Siapa ya,? batin anak perawan Calvin itu lagi.


"ya, sama sama..." ucap Calvin lagi. Pria itu lantas mematikan sambungan telepon nya lalu membuang nafas panjang.


Calvin lantas berbalik badan. Lalu.....


"anj....!!!!" pekik Calvin reflek saat kaget kala melihat sesosok cantik yang berdiri di belakangnya.


"Astaghfirullah...bapak...!!!" ucap Arini mengingatkan.


Arini nyengir. Calvin mengusap usap dadanya saking kagetnya.


"akhirnya bapak kaget juga..! hehehe..." ucap Arini.


Calvin membuang nafas berat lalu menggerakkan tangannya mengacak acak rambut sang putri.


"kebiasaan..!!" ucap pria itu kemudian.


Arini terkekeh.


"kamu ngapain tiba tiba muncul di kamar bapak..?" tanya Calvin kemudian berjalan menuju sudut balkon, meraih asbak rokok yang berada di sana. Mendudukkan tubuhnya di lantai balkon yang dingin tanpa alas lalu kembali menghisap rokok di tangannya.


Arini mengikuti langkah sang ayah. Ia duduk di samping Calvin lalu menuangkan aneka snack dan jajan yang ia beli dari minimarket tadi.


"ngemil, pak. Biar pules ntar tidurnya" ucap gadis itu.


Calvin terkekeh mendengar ucapan sang putri.

__ADS_1


"sejak kapan ngemil bisa bikin orang tidur pules? ada ada aja kamu..!" ucap Calvin.


Arini hanya cengengesan. Ia lantas mulai membuka sebuah snack kentang yang ia beli dari minimarket itu dan mengunyahnya. Sedangkan Calvin kini membuka minuman kopi di sana, kemudian menenggak nya.


"tadi telfon siapa, pak? siapa yang meninggal?" tanya Arini.


Calvin menutup botol minuman di tangan nya.


"Giselle, ayahnya meninggal...."


deeeeegggghhhh.....


Arini terdiam. Untuk beberapa saat pikiran nya melayang layang entah kemana. Calvin menoleh ke arah sang putri.


"kenapa?" tanya Calvin.


Arini menunduk.


"nggak, nggak apa apa, pak.." ucap Arini.


"besok bapak mau melayat kesana, kamu mau ikut?" tanya Calvin.


Arini mengangguk lagi.


Entah mengapa ia tiba tiba kepikiran Diego. Laki laki itu sedih sekarang. Mengingat ia juga pernah tinggal bersama dengan Digo dulunya. Meskipun laki laki itu jarang pulang ke rumah ayahnya, namun Diego selalu berbagi kabar dengan pria tua itu hampir tiap malam. Menghabiskan waktu dalam panggilan vidio. Berbincang kesana kemari selayaknya seorang ayah dan anak yang erat dan akrab. Arini dapat merasakan, betapa laki laki itu sangat menyayangi ayah kandungnya itu.


Kini Tuan Hernandez telah tiada. Laki laki itu pasti sangat berduka saat ini. Kasihan dia....


...----------------...


Selamat pagi


up 08:56


yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰


Hari ini Author ada kesibukan dikit. Jadi kayaknya cuma bisa up 1x. Nanti kalau bisa up lagi, author akan up. Kalau nggak ya lanjut besok y...

__ADS_1


__ADS_2