My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 59


__ADS_3

17:30


Seorang pria tampan berjambang tipis nampak berdiri di teras rumahnya. Menatap kedatangan sebuah mobil jeep hitam kombinasi merah milik asisten sekaligus sahabat nya, Samuel.


Entah kemana saja laki laki mes*m membawa Arini jalan jalan. Sampai sampai keduanya baru pulang saat jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore.


daaaggghh...


Arini turun dari kendaraan roda empat itu. Dengan beberapa paper bag di tangan wanita itu menutup pintu mobil lalu setengah berlari menghampiri pria tampan yang ia ketahui adalah daddy nya itu. Mobil mewah milik Giselle sudah tak ada. Menandakan wanita itu kini sudah pulang kembali ke kediaman tuan Hernandez.


"daddy....!!" ucap Arini riang. Akhirnya ia bertemu ayahnya lagi. Didekatinya pria itu, meraih punggung tangan pria itu lalu menciumnya sebagai tanda bakti.


Sam yang menyaksikan adegan itu dari dalam mobil yang terbuka kacanya itu hanya berdecih.


"dari mana aja?" tanya Digo pada sang putri.


Arini mengangkat paper bag nya seolah ingin menunjukkan kemana Sam membawanya pergi.


Digo menghela nafas panjang. Kebiasaan banget tuh duda mes*m, sok perhatian..! batin Digo.


Laki laki itu lantas meraih lengan Arini, menariknya kemudian merangkul pundaknya seolah tak mengizinkan wanita itu untuk terlalu jauh dari dirinya. Arini mendongak. Seutas senyuman terbentuk dari bibirnya. Ia dirangkul ayahnya lagi. Ah, senangnya....! batin Arini berucap.


Sam lagi lagi mengulum senyum menyaksikan pemandangan itu. Sepertinya ada sesuatu yang mulai tumbuh di diri Digo.


"ngapain lu senyam senyum..?! udah buruan sana pulang...!" ucap Digo mengusir.


Alih alih segera tancap gas dan pergi dari tempat itu, Sam justru turun dari mobilnya. Membuat Digo yang masih setia dengan posisinya kini nampak melotot menatap Sam.


"ban gue satu kempes. Gue mau ganti ban serep dulu...! pinjem dongkrak, Go..!" ucap Sam santai sambil membuka pintu belakang mobil jeep nya. Mengeluarkan sebuah ban serep dari dalam mobil itu.


Digo berdecak kesal. Ribet amat nih duda mau pulang doang...! batin Diego.


"Arini, ambilin dongkrak di gudang" ucap laki laki itu pelan kepada sang putri. Arini mengangguk. Dengan segera ia pun meletakkan paper bag disana lalu berjalan cepat menuju gudang belakang tempat di mana dongkrak mobil berada.


ceklek.....


pintu gudang yang tak terkunci itu terbuka. Arini masuk ke dalam ruangan yang dulu pernah menjadi tempatnya di kurung oleh sang ayah.


Arini celingukan mencari dongkrak mobil. Hingga fokus matanya tertuju pada sebuah benda di atas sebuah koper yang terletak di atas meja.


Itu dongkrak mobil yang ia cari...!

__ADS_1


Arini dengan segera mendekati meja itu. Meraih dongkrak yang berada di sana dengan gerakan yang tak begitu pelan. Hal itu membuat koper berukuran sedang yang berada di bawah dongkrak pun tergeser. Dan.....


braaaaakkk.......


Koper jatuh...!


Rupanya benda itu tidak tertutup. Membuat semua benda yang berada di dalam nya pun jatuh berhamburan di lantai.


"Yah...! Arini...!! matane...!!" ucap gadis itu mengumpat dirinya sendiri.


Gadis belia itu lantas berjongkok. Membuka koper itu dan memasukkan semua benda benda yang berserakan itu ke dalamnya. Namun.....


Pergerakan nya terhenti...


Dilihatnya disana, ada beberapa foto berbingkai yang sebagian sudah nampak rusak seperti di sayat sayat pisau. Ada yang nampak terbakar sebagian, namun ada juga yang masih utuh.


Sebuah buku album foto, dan beberapa kertas dan koran surat kabar nampak berserakan disana.


Arini meraih sebuah foto yang masih utuh disana. Foto seorang laki laki tampan dengan beberapa coretan spidol berwarna merah dibelakang nya.



i kill you..!


anj*nk..!


pembunuh...!


Dan berbagai tulisan bernada umpatan kasar tertulis dibelakang foto itu.


Arini membalik foto itu lagi. Diamatinya foto laki laki itu dalam dalam.


satu detik..


dua detik...


tiga detik...


"kayak kenal?" gumam Arini. Sepertinya ia tak asing dengan laki laki dalam foto itu, tapi siapa ya?


Gadis itu nampak berfikir dengan keras. Berusaha mengingat ingat, sosok yang sepertinya mirip mirip dengan laki laki di foto itu. Tapi sepertinya sangat susah.

__ADS_1


Arini makin penasaran. Ia lantas meraih album foto disana. Sebuah album foto yang berisi foto foto keluarga serta beberapa foto pernikahan. Lagi lagi, sebagian foto nampak sudah rusak disayat sayat. Dan dari semua foto yang rusak, selalu foto bagian tubuh dan wajah pengantin pria yang di sayat sayat hingga tak berbentuk.


Sebelum foto foto siapa ini?


Fokus mata Arini kini juga tertuju pada mempelai wanita. Sangat cantik.


Arini memejamkan mata nya. Lagi lagi, ia seperti pernah melihat sosok wanita itu. Tapi dimana??


Gadis itu terlihat diam tak bergerak. Lalu.....


oh iya ...!!


ini mirip seperti foto wanita yang pernah ia temukan di laci nakas kamar daddy nya. Foto wanita yang merangkul mesra daddy nya di sebuah pantai.


Iya..! ini foto wanita itu. Tapi kenapa disini wanita itu menikah dengan pria lain?? Lalu dimana wanita itu sekarang? pikir Arini.


Gadis belia itu makin penasaran. Jiwa kepo warisan neneknya meronta ronta. Dengan segera ia merapikan semua kertas dan foto foto itu. Memasukkan nya ke dalam koper berukuran sedang itu dan membawanya ke kamarnya. Ia akan melihat lihat ini lagi nanti. Ia penasaran foto foto siapa itu. Siapa laki laki dalam foto itu. Dan kenapa semua di buat rusak. Serta, ada hubungan apa antara daddy nya, serta pria dan wanita dalam foto itu. Ia ingin tahu.


Arini pun keluar dari gudang itu menjinjing koper di tangan kiri sambil membawa dongkrak di tangan kanan.


Arini membawa koper itu terlebih dahulu ke kamarnya. Lalu keluar dari rumah itu, menemui daddy nya dan Sam sambil membawa dongkrak di tangannya.


"daddy..! ini dongkraknya," ucap gadis belia itu sambil menyerahkan benda berbobot itu pada sang ayah.


"thanks, baby..." ucap Sam yang langsung menyerobot benda itu.


Digo menarik lengan ramping itu mendekat kepadanya. Lalu merengkuh pinggang gadis belia itu dengan posesif.


"lama banget ambil dongkrak doang..!" ucap Digo.


Arini mendongak lalu tersenyum manis dan menggemaskan.


"kan Arin harus nyari dulu, dad. Nggak tau dimana tempatnya" ucap Arini pada sang ayah yang kini mulai bersikap manis padanya itu.


Digo berdecih. Diacak acak nya lembut pucuk kepala itu. Arini tersenyum. Senangnya, pasca insiden di omeli bos tempatnya bekerja, ayahnya kini kian hari makin menunjukkan perhatiannya. Semoga saja hubungan nya dan Digo akan semakin membaik setelah ini.


...----------------...


Selamat sore


up 15:36

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰


__ADS_2