My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 43


__ADS_3

Deeeeggghhhh....


Arini terdiam saat itu juga. Seorang pria paruh baya berkulit putih dengan jambang dan kumis lebat serta rambut panjang yang terikat nampak berada di sana. Menatap dingin dan datat ke arah gadis belia delapan belas tahun itu.


Entah mengapa Arini terdiam dibuatnya. Bukan takut, bukan kagum. Tapi sebuah perasaan yang sepertinya terlalu sulit untuk dijabarkan. Laki laki itu kini sedikit memiringkan kepalanya. Menatap penuh tanya kearah Arini yang diam tak bergerak.


"Ada apa?" Tanya pria itu. Arini terbangun dari lamunannya. Ia nampak gugup.


"A..oh, maaf..!" Ucap Arini.


Wanita dengan empat paper bag berisi paket makan siang lengkap dengan minumnya itupun lantas mendekat ke arah pria paruh baya itu, laki laki yang sering di sapa bang Ale, alias Calvin Alexander.


"Permisi, om. Saya mau antar paket makan siang, atas nama...Ivan, pak Ivan..!" ucap Arini.


Calvin mengangkat dagunya.


"Oh, bentar" ucap pria yang nampak duduk dengan santainya sambil menekuk sebelah kakinya di atas kaki yang lain itu.


"Van...! Ivan...!!" teriak pria berjambang lebat itu tanpa mengubah posisi duduknya. Arini hanya diam mengamati pria itu juga tempat tersebut. Sebuah tempat yang cukup luas dengan hiasan beberapa lukisan manusia manusia bertato dan bertindik.


"Ivan lagi bok*r, bang. Ada apa?" ucap seorang wanita yang tiba tiba datang dari bagian belakang bangunan itu. Penampilannya nyentrik. Dengan rambut panjang namun botak sebelah. Beberapa tindik nampak menghiasi wajahnya. Seperti di bagian hidung, bibir bawah serta ujung alis bagian kanan. Tato juga menghiasi sekujur tubuh berbalut kaos crop tanpa lengan berwarna putih serta celana pendek yang seolah hanya menutupi bagian ****** nya saja itu. Mulai dari kedua lengan, dada atas hingga pahanya. Mungkin juga di bagian lainnya. Semua nampak bertato.


Arini jadi sedikit merinding masuk ke tempat demikian.


"nih, ada yang nganter makan siang..! Ivan yang pesen katanya..!" ucap Calvin tanpa menoleh. Ia masih sibuk dengan buku ditangannya.


Wanita itu, Anya, salah satu pegawai Calvin di studio tato itu pun menoleh ke arah gadis kecil nan polos itu.


"oh, berapa semuanya? udah dibayar belum?" tanya Anya.


"em, belum, mbak" ucap Arini sedikit gugup.


"berapa semuanya?" tanya Anya.


"oh, bentar.." ucap Arini sambil celingukan mencari kertas notanya. Ia lupa, dimana ia meletakkan kertas nota pesanan ini. Arini terus bergerak dengan empat paper bag ditangannya. Meraba kantong celana serta baju seragamnya, lalu membuka dan mengobok obok waist bag nya. Gerakannya cukup menyita perhatian Calvin yang tengah asyik membaca. Membuat laki laki itu kini nampak melirik dengan sorot mata datar ke arah gadis belia tersebut.


Arini meletakkan empat paper bag berisi makanan itu di atas meja. Ia lantas kembali mengobok obok waist bag nya.


Arini lantas menghentikan pergerakan nya.


"dimana, ya, notanya? kok nggak ada?!" ucap Arini pelan sambil berfikir.


"berapa?!" tanya Anya lagi.


Arini nampak diam berfikir. Lalu....


plaaaakk...

__ADS_1


"astaghfirullah haladzim...! Arini goblok..! notane ketinggalan, a*uu..!!" cicit gadis itu sepelan mungkin namun masih dapat didengar dengan jelas oleh Calvin. Satu sudut bibir pria itu pun terangkat. Bodoh sekali pegawai restoran yang satu ini..! batin Calvin.


Anya mengernyitkan dahinya. Arini nampak menatap dua pria wanita di hadapannya itu secara bergantian dengan canggung.


"ma, maaf, mbak, om. Nota nya lupa saya bawa.." ucap wanita itu membuat Calvin berdecih sambil terkekeh.


Arini menggaruk kepala bagian belakangnya yang tak gatal. Ia nampak celingukan. Bagaimana pelanggan ini akan membayar jika nota harganya saja tidak ada..! Arini hanya membawa secarik kertas berisi alamat bangunan ini. Tapi lupa tak membawa nota harga yang harusnya ia ambil dari meja kasir. Dasar Arini tolol...!! batin wanita muda itu.


Arini kembali menatap Anya dan Calvin dengan sorot mata penuh rasa bersalah.


"em, mbak, om. Ini paket makan siangnya. Om sama mbaknya makan aja dulu. Saya mau hubungin temen saya dulu, mau nanyain harganya" ucap Arini.


Anya menghela nafas panjang.


"gimana sih, nggak profesional banget...!" ucap Anya sambil meraih paper bag di atas meja itu.


"sekali lagi saya minta maaf, mbak." ucap Arini.


"buruan tanyain, nggak gue bayar lo kelamaan..! lain kali kalau nggak bisa kerja dirumah aja mimik susu...! dasar bocah...! bego...!" imbuh wanita bertato itu lagi.


"nih, bang. Makan siang lo..!" ucap Anya kemudian melangkah pergi meninggalkan tempat itu, masuk lebih dalam lagi ke dalam bangunan itu untuk mencari dua rekannya dan menyerahkan makan siang mereka. Wanita itu terus mengomel. Membuat Arini kini nampak menunduk.


Gadis itu nampak mengembun mendengar komplain yang Anya layangkan. Ia merasa gagal sebagai pekerja. Gadis itu lantas keluar dari bangunan itu. Duduk di sebuah bangku di depan tempat tersebut sambil berusaha menghubungi Fajar yang kini sudah berada di restoran. Ia ingin meminta tolong pemuda itu untuk mengirimkan foto nota pembayaran yang tak sengaja ia tinggal itu.


Calvin diam diam mengamati pergerakan gadis muda yang malang itu. Gadis itu nampak duduk di sebuah bangku di depan bangunan itu sesekali mengusap lelehan air matanya sambil terus berusaha menghubungi seseorang, namun sepertinya tak membuahkan hasil.


"biasanya satu paket harganya berapa?" tanya Calvin sambil mengeluarkan menu makan siangnya dari dalam paper bag.


Arini diam. Jujur saja, ia tidak hafal daftar harga dari banyaknya menu yang tersedia di resto itu.


Calvin mengamati wajah cantik nan imut itu. Ia lantas menghela nafas panjang. Lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah dompet tebal disana. Diambilnya beberapa lembar uang seratus ribuan lalu menyerahkan nya pada gadis belia yang kini nampak menunduk bingung itu.


Arini mendongak.


"ambil. Kembaliannya buat lo" ucap Calvin.


Arini membuka mulutnya.


"ini kebanyakan kayaknya, om" ucap Arini.


Calvin mengangkat satu sudut bibirnya lagi.


"sekarang lu pulang. Cari notanya. Liat harganya. Abis itu lu kasih duitnya ke bos lo sesuai harga. Sisanya buat lo..! anggap aja itu tip dari gue buat lo..!" ucap Calvin.


Arini nampak berbinar.


"tapi ini banyak banget, om" ucap Arini.

__ADS_1


"rejeki" jawab Calvin sambil tersenyum. Matanya tak lepas menatap gadis cantik itu.


"Ya Allah, om baik banget...! padahal saya teledor..! makasih ya, om..." ucap Arini.


Calvin hanya mengangguk.


Arini bangkit.


"kalau begitu saya permisi, om. Mau balik lagi ke resto..." ucap Arini sembari memasukkan uang nya ke dalam saku celananya.


Calvin hanya tersenyum.


Arini mendekat. Ia nampak mengulurkan tangannya. Membuat pria itu kini diam menatap tangan itu.


Dengan ragu ragu, pria yang sudah belasan tahun menduda itu lantas menyambut uluran tangan gadis belia itu.


Arini lantas meraih punggung tangan itu kemudian menciumnya. Tak ada maksud lain. Hanya wujud salam hormatnya terhadap seseorang yang lebih tua. Namun Calvin yang mendapati perlakuan semacam itu, kini justru nampak diam tak bergerak.


"assalamualaikum, om. Sekali lagi makasih. Jangan kapok ya order makanan di resto kami..." ucap Arini riang kemudian setengah berlari menuju motornya yang terparkir tak jauh dari tempat nya semula duduk. Arini pun berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.


Calvin tak bergerak. Entah mengapa ada perasaan berbeda yang ia rasakan.


Gadis cantik yang periang. Semoga harinya selalu bahagia..! batin Calvin berucap.


...----------------...


Selamat pagi,


up 03:45


yuk, dukungan dulu πŸ₯°πŸ˜˜


yuk, yang suka kasih penilaian bintang 5. Dan untuk yang kurang suka pliss cukup skip saja ya😁


sambil nunggu up, aq kasih rekomendasi bacaan tamat lagi..


πŸ‘‡


πŸ”₯Gadis Tawanan Sang Psychopath πŸ”₯


Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik,sebesar apapun dosanya di masa lalu.


Berawal dari pertemuan yang tak pernah diharapkan,dinamika gadis polos bertauhid melunakkan hati pria keji berlumur dosa.Setia berdiri di samping sang pria membimbingnya menjadi pribadi yang bijaksana.


Kisah sepasang anak manusia berbeda latar belakang melewati terjalnya jalan menuju keluarga utuh nan bahagia yang berpedoman pada ajaran tauhid Sang Maha Kuasa.Penuh konflik,berderai peluh,keringat,tetesan darah dan air mata menghiasi jalan hidup keduanya hingga tercipta sebuah keluarga yang begitu indah penuh inspirasi.


__ADS_1


__ADS_2