
Ceklek.....
pintu ruangan pribadi janda cantik itu terbuka.
Seorang wanita cantik berpenampilan anggun dengan sebuah kacamata berlensa bening nampak mendongak menatap ke arah pintu yang terbuka. Dilihatnya di sana, Diego dan Arini nampak datang. Kedua tangan pria wanita itu terlihat saling bergandengan, membuat Giselle agak sedikit terkejut olehnya. Ya, memang pasca kejadian pemukulan di bandara beberapa waktu lalu, baik Gisellle maupun Diego sudah sangat jarang bertemu. Giselle seolah ingin memberikan pelajaran pada Diego, bahwa selama ini laki-laki itu sudah salah langkah dan salah pemikiran. Ia ingin adiknya itu merenung dan merasakan bagaimana rasanya jika dijauhi banyak orang termasuk keluarga nya karena ulahnya sendiri.
Keduanya hanya saling mengabari melalui telepon. Tapi selama itu Diego sama sekali tidak pernah membahas tentang keputusannya mendatangi rumah Calvin dan Arini lalu meminta maaf kepada sepasang ayah dan anak itu.
Giselle bangkit dari kursinya. Berjalan mendekati sepasang calon pengantin yang kini nampak tersenyum ke arahnya itu.
"Digo, Arini, kalian ke sini?" tanya Gisellle sedikit bingung. Fokus matanya langsung tertuju pada kedua telapak tangan yang saling menggenggam itu. Arini juga terlihat menampilkan senyuman manis. Tidak judes ataupun terlihat sedih. Keduanya sama-sama menunjukkan raut wajah bahagia. Hal itupun membuat Giselle menjadi mulai berpikir keras. Ada apa ini?
"a, em, duduk dulu..." ucap wanita itu sembari mengangkat tangannya mempersilahkan dua manusia itu untuk duduk di sebuah sofa panjang di ruangan itu.
Digo dan Arini pun duduk di tempat yang di maksud, sedangkan Giselle nampak berjalan menuju mejanya. Meraih gagang telepon disana guna menghubungi salah satu karyawan yang ada di lantai bawah untuk membawakan dua cangkir minuman untuk Digo dan Arini. Sepertinya akan ada pembahasan yang tak biasa dari dua manusia itu hari ini.
Giselle pun selesai dengan telepon nya. Janda cantik tiga puluh delapan tahun itu lantas berjalan mendekati Digo dan Arini lalu duduk di salah satu sofa single yang berada disana.
Dilihatnya di sana Diego nampak duduk dengan santai, merebahkan tubuhnya di sandaran sofa dengan satu kaki yang ditekuk di atas kaki lainnya. Sedangkan sebelah tangannya nampak asik memegangi rokok favoritnya sambil sesekali memasukkan nya ke mulut dan menghisapnya. Sangat tenang, tak seperti saat ia meminta izin pada Calvin. Karena ia tahu, tak mungkin jika Giselle sampai tak menurunkan restunya.
Sedangkan disampingnya, Arini nampak duduk diam. Matanya terus bergerak mengamati seisi ruangan yang terlihat begitu elegan khas orang Gisellle Hernandez
"tumben kalian kesini berdua, ada apa?" tanya wanita cantik itu.
Arini tersenyum lembut, baru saja ia hendak berucap, menjawab pertanyaan dari wanita cantik itu, namun tiba tiba....
"gue mau nikah..!" ucap pria disamping Arini tanpa basa basi. Ia berucap dengan santainya sembari menikmati cerutu di tangannya.
Giselle reflek mengernyitkan dahinya. Arini menoleh. Nggak ada basa basi nya sama sekali pria ini? pikir gadis itu.
"nikah?" tanya Giselle setengah kaget.
Digo kembali menghisap rokoknya, ia mengangkat kedua alisnya seolah menjawab 'iya' atas pertanyaan sang kakak. Arini hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang calon suami.
Sedangkan Giselle kini nampak menatap ke arah Arini dan Diego secara bergantian.
__ADS_1
"kalian yakin?" tanya Giselle.
"ya yakin lah, kak" ucap pria itu.
"terus, ayahnya Arini? kamu udah minta ijin sama dia?" tanya Giselle. Digo mengangguk.
"ngizinin?" tanya nya lagi.
Digo mengangguk lagi. Giselle seolah masih tak mampu berkata kata. Padahal baru beberapa hari yang lalu Digo dibuat bonyok oleh Calvin, sekarang pria itu mengatakan akan menikahi putrinya? cepat sekali..!
"gue udah ke rumah Arini, gue udah ketemu sama bapaknya dan minta maaf. Dan gue juga udah minta izin buat nikahin anak kecil ini...." ucap Diego yang duduk dengan kepala tersandar di sandaran sofa. Ia berucap sembari meraih beberapa helai rambut Arini yang duduk tegap di sampingnya itu dari belakang kemudian menggulung nya menggunakan jari telunjuknya seolah memainkan nya.
Giselle masih diam. Ia lantas menatap ke arah Arini.
"Rin..." ucap Giselle.
"iya, kak" jawab Arini.
"ini beneran?" tanya Giselle.
"ini bocah udah dateng ke rumah kamu?" tanya Gisellle lagi.
Arini mengangguk lagi.
"dia udah minta izin sama bapak kamu?" tanya janda itu lagi.
Arini mengangguk lagi.
"bapak kamu setuju?" tanya Giselle lagi.
Lagi lagi, Arini mengangguk.
"terus kamu mau, Rin, nikah sama manusia ini?" tanya nya lagi sambil menunjuk ke arah Digo yang terus mengulum senyum sembari menikmati rokoknya.
Arini lantas menunduk, dengan wajah tersipu malu gadis itu lantas mengangguk. Diego nyengir. Menggemaskan sekali anak kecil ini. Jadi pen gigit🤭😝.
__ADS_1
Giselle nampak menghela nafas panjang. Ia tak menyangka bahwa rupanya hal ini akan terjadi juga. Mengingat betapa kerasnya hati seorang Diego, dan betapa sudah mendarah dagingnya kebencian adik kandungnya itu pada Calvin. Ia tak mengira bahwa kehadiran gadis desa itu rupanya bisa membawa pengaruh yang begitu besar dalam diri Diego. Ah, kenapa jadi kek novel begini..?! eehh....🤭🙈.
Giselle tersenyum ke arah Arini,
"ya udah, kalau emang itu keputusan kalian, kakak cuma bisa dukung. Semoga pernikahan kalian awet maut memisahkan..." ucap Giselle.
"amin.." jawab Arini.
"kamu yang sabar ya, Rin, ngadepin makhluk satu ini. Dia banyak ulah, banyak tingkah, banyak maunya, ngeyelan, susah dikasih tau. Kalau ada apa apa, kamu bilang sama kakak, biar kakak bantu ngetok jidatnya..!" ucap Giselle membuat Arini terkekeh.
"kalau dia udah jadi suami kamu, kamu berhak nasehatin dia, kamu berhak ngarahin dia kalau dia salah. Dia tuh cuma umur doang tua, tapi aslinya manja..! banyak banyakin sabar ya kalau ngadepin dia.." ucap Giselle.
Arini terkekeh lagi.
"iya, kak" jawab gadis itu.
lalu...
plaaaaakkk...
"anj..! sakit..!" ucap Digo reflek mengusap pahanya manakala sang kakak dengan cukup keras memukul kaki bagian atasnya itu.
"kamu juga..! kalau udah nikah jangan kek bocah..! ini anak orang jangan di sia siain mulu..! jangan dibikin nangis mulu..! udah tua, banyak banyak belajar..! belajar dengerin orang, dengerin penjelasan orang, jangan suka ngedepanin emosi, ngedepanin pemikiran kamu sendiri..! kamu bakal jadi imam, jadi pemimpin, jadi pendamping. Jaga istri kamu, sayangin dia, perhatiin dia juga jangan cuma dikasih duit doang tapi nggak disayang. Jangan di sayang doang tapi nggak dikasih duit..! jangan pelit pelit ama bini..! mulai sekarang punya mata dijaga, jangan jelalatan..! punya mulut dijaga, jangan asal jeplak..! punya tangan dijaga, jangan celamitan..! denger nggak kalau dibilangin..?!!" tanya Gisellle setelah nyerocos panjang lebar.
"iya, iya..! berisik lu..!" ucap Digo.
Giselle terkekeh. Tak bisa dipungkiri ia juga bisa merasakan kebahagiaan itu. Di gerakannya tangan berhias sebuah gelas berlian itu. Lalu diacak acaknya rambut sang Diego dengan gemas bak seorang bocah.
...----------------...
Selamat pagi,
up 09:21
yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰
__ADS_1