
Ceklek.....
pintu ruang rawat inap itu terbuka. Seorang pria berjambang lebat yang kini telah resmi menjadi seorang kakek itu nampak masuk ke dalam ruangan tempat dimana sang putri baru saja selesai berjuang melahirkan seorang putri cantik ke dunia. Laki laki itu nampak datang membawa sebuah kantong kresek putih berisi beberapa camilan yang ia beli dari salah satu mini market yang berada tak jauh dari rumah sakit.
Arini kelaparan setelah melahirkan. Ia minta dibelikan makanan untuk mengisi kembali tenaganya yang habis pasca melahirkan.
Calvin menoleh ke arah sang putri. Wanita itu nampak duduk di atas ranjang, memberikan ASI pertama nya pada sang buah hati setelah si bayi mungil selesai di mandikan dan di adzani.
"Rin...." ucap Calvin.
Arini tersenyum.
"bapak...." jawab wanita yang kini resmi menjadi ibu muda itu.
"nih, bapak beliin makanan buat kamu. Cuma snack sama roti yang ada. Soalnya tempat makan di sekitar sini udah pada tutup semua.."ucap Calvin yang baru saja keliling area sekitaran rumah sakit guna mencari resto ataupun cafe yang masih buka namun sama sekali tidak ada. Mengingat ini sudah lewat tengah malam. Semua tempat makan di daerah itu sudah tutup.
Calvin mendekat. Meletakkan kreseknya di atas nakas kemudian mengubah arah pandangnya menatap paras rupawan bayi merah dalam pangkuan putrinya itu.
Sejak lahir tadi Calvin baru bertemu cucu nya saat ini. Mengingat ia pergi keluar rumah sakit saat bayi itu masih dimandikan. Atas permintaan menantu tampan tapi sedikit kurang ajar miliknya, Diego.
Calvin menatap dalam wajah bayi yang tengah menyedot ASI eksklusifnya itu. Pria itu nampak mengembun. Ia seolah pernah melihat bayi mungil dengan paras demikian.
Ya, bocah ini sangat mirip dengan putrinya dulu. Yang sempat ia gendong dan ia timang saat usianya masih dua bulan.
"kamu cantik sekali, nak. Mirip ibumu dulu saat pertama kali kakek menggendongnya" ucap laki laki itu.
Arini nampak tersenyum.
"bapak mau gendong?" tanya Arini.
Calvin tersenyum.
"boleh..." ucap pria gondrong itu.
Arini melepaskan tombol kecoklatan yang sejak tadi berada di dalam mulut si bayi cantik. Ibu muda itu lantas menyerahkan gadis kecilnya itu pada sang ayah. Calvin pun menerimanya, lalu mulai menimang nimang nya dengan penuh kasih sayang.
"hai, baby girl..! siapa namamu, nak..? kau cantik sekali. Mirip seperti ibumu dulu..." ucap pria gondrong dengan rambut terikat itu.
"namanya Afra, kek" ucap Arini seolah menjawab pertanyaan sang ayah.
Calvin mengulum senyum. Ditimang timangnya lagi cucu pertamanya itu sambil menyebut nyebut namanya. Pria itu menggerakkan kepalanya, mencium pipi merah sang cucu, membuat kumis dan jambang lebat itu pun bergesekan dengan kulit merah baby kecil nan imut itu.
Bayi itu menggeliat. Calvin kembali menggerakkan tubuhnya menimang nimang sang cucu kesayangan.
ceklek....
pintu kamar mandi ruang rawat inap VVIP itu terbuka. Seorang pria tampan nampak keluar dari kamar mandi sembari menyisir rambutnya kebelakang menggunakan jari jari tangannya.
Ya, itu adalah Diego. Ia mandi tengah malam saking merasa gerah setelah menemani sang istri di ruang bersalin tadi.
Setelah sembilan bulan selalu merasakan kedinginan tiap malam. Sepertinya malam ini untuk pertama kalinya ia kembali ke mode awalnya. Si manusia bumi yang tak bisa berdamai dengan hawa panas.
Diego mendekati sang istri.
"makanan nya mana..?" tanya Digo.
"tuh..." ucap Arini sambil menunjuk ke arah nakas. Digo meraih kresek putih itu. Lalu melongok melihat isi didalamnya.
"nggak ada tempat makan yang buka, dad. Adanya cuma roti" ucap Arini.
"mau aku telfonin bibik, nggak? biar dimasakin trus dibawa kesini" ucap Digo menawarkan.
__ADS_1
"nggak usah, bibik capek. Besok aja.." ucap Arini.
Digo membuka satu buah roti untuk Arini. Lalu menyerahkan nya pada sang istri. Baru saja Arini hendak melahap rotinya, tiba tiba....
"ooooooeeeeekkkkkk........."
Bayi dalam gendongan Calvin menangis. Membuat sepasang orang tua itu pun kini menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya disana Calvin nampak menggerak gerakkan tubuhnya menimang nimang Afra, seolah memintanya untuk berhenti menangis.
"ck...! lu apain sih anak gue..?! kumis lu nyangkut..!" ucap Digo asal jeplak.
Laki laki itu kemudian mendekat. Meraih putri kecilnya yang menangis itu dengan sok taunya seolah ia mampu meredakan tangis sang putri kecil.
"mulai besok cukur tuh kumis ama jenggot..! bikin gatel bayi..! botakin sekalian tuh rambut, biar gantengan dikit" ucap Digo.
"daddy...!!!" ucap Arini seolah meminta sang suami untuk menjaga ucapannya. Namun Digo tak peduli.
Calvin tak menjawab ucapan Digo. Ia kini nampak menyandarkan tubuhnya di samping nakas. Meraih satu bungkus snack disana lalu membukanya. Menatap remeh ke arah Digo yang kini mulai mencoba menenangkan tangis Afra.
Arini hanya menggelengkan kepalanya sambil menikmati rotinya.
Digo nampak menggerak gerakkan tubuhnya. Menimang nimang sang buah hati yang kini masih menangis. Alih alih diam, tangis bayi itu justru makin kencang saja. Membuat Digo kini nampak kebingungan dibuatnya.
"ssssstttt....cup...cup..."
Afra terus menangis. Justru makin kencang saja. Membuat Digo cukup panik dibuatnya.
"takut dia...! aura lu panas...!!" ucap Calvin santai sembari melahap snacknya.
Arini meletakkan rotinya yang masih separuh.
"udah sini, sini..! bawa sini...!" ucap Arini sembari membenarkan posisi duduknya.
Arini pun menerimanya. Dibukanya kembali kancing dada daster busui itu, lalu mulai memasukkan tombol kecil disana kedalam mulut sang bayi.
ceeep...!
Diam...!
Tangis berhenti seketika.
Afra kembali menuntaskan dahaganya di atas pangkuan sang ibunda.
"pinter kamu, nak. Tau aja yang enak" ucap Digo tanpa sensor.
Arini melirik sinis ke arah Digo. Sedangkan Calvin hanya berdecih.
"besok besok gini lagi ya, nak. Jangan mau dipegang sama daddy ataupun kakek kamu. Kalau mereka masih pada suka berantem..! terutama daddy kamu...! ajarin daddy sopan santun kalau ama yang lebih tua...! ngambek aja terus kalau dipegang. Nangis yang kenceng ya...." ucap Arini.
"apasih? nggak boleh ngajarin gitu ama anak sendiri..! dosa.!" ucap Digo.
"ya abisnya, daddy..! udah punya anak juga..! belajar sopan ama orang tua. Semua tingkah laku daddy tuh nantinya bakal di tiru ama anak kita...! kalau daddy nggak sopan ama bapak, ntar Afra juga nggak bakal mau sopan ama daddy...!" ucap Arini.
Digo menghela nafas panjang.
"iya, iya...! sorry...! daddy janji nggak akan kayak gitu lagi...!" ucap Digo.
"minta maaf ama bapak...!" ucap Arini.
"nggak usah minta maaf bapak kamu juga udah maafin kok..! kan dia pemaaf...! iya kan?" ucap Digo pada sang istri sembari meminta persetujuan pada mertuanya di akhir kalimatnya.
Calvin hanya mengulum senyum.
__ADS_1
"serah lu aja..!" ucap Calvin.
Digo berdecih. Ketiga manusia itu nampak terkekeh.
Arini kembali menatap lembut wajah sang putri. Seorang gadis kecil yang terlahir ke dunia hasil buah cinta nya dengan pria yang ia temui berawal dari sebuah kesalahpahaman. Dimana ia mengira pria itu adalah ayah kandungnya yang ia nanti nantikan selama belasan tahun hidupnya.
Berawal dari kebencian. Memanfaatkan Arini si gadis desa nan polos demi sebuah misi balas dendam atas rasa sakit hati yang Diego pendam selama belasan tahun hidupnya. Membuat cinta perlahan tumbuh diantara keduanya.
Pernah tinggal bersama, saling mengenal satu sama lain dalam balutan kebohongan, nyatanya merupakan awal dari perjalanan panjang nan berliku kisah asmara antara sepasang pria wanita yang terpaut usia cukup jauh itu.
Arini yang malang,
Hidup nelangsa sejak awal ia terlahir ke dunia. Dipandang sebelah mata. Dihina dina karena latar belakang ibunya yang dianggap memikul aib sebagai seorang wanita desa yang hamil tanpa adanya pernikahan.
Berbulan bulan tinggal bersama ayah palsu yang selalu berlaku semena-mena terhadapnya. Menghina, merendahkan, memperbudak, tidak menafkahi, dan membohongi nya habis habisan. Namun Arini tetap bertahan.
Bahkan dikala ia sudah bertemu dengan ayah kandung yang sebenarnya pun, nyatanya kebahagiaan juga tak segampang itu hinggap di hidupnya.
Ia diragukan. Diacuhkan, dan diabaikan. Hingga nyawa pun sempat hampir terlepas dari raganya hanya demi sebuah pengakuan dari seorang ayah untuk dirinya, si anak haram yang terlahir di luar pernikahan.
Tuhan Maha Baik. Bahkan sangat baik. Ia tak pernah ingkar janji. Selalu ada pelangi setelah hujan. Selalu ada senyuman dibalik serentetan tangisan.
Kini wanita malang nan polos itu sudah menemukan kebahagiaannya. Tuhan mengangkat derajatnya. Tinggi, bahkan sangat tinggi.
Hidup bersama dengan dua pria yang begitu mencintainya. Kini ditambah lagi dengan kehadiran putri kecil ditengah tengah mereka, membuat hidup si anak haram kini makin berwarna.
Terima kasih, Arini. Kisah mu mengajarkan tentang pentingnya bersabar dalam setiap ujian. Berbuat baik pada setiap insan yang kau temui. Menjaga hormat dan baktimu pada orang tua entah bagaimana pun perlakuan nya dan dimana pun mereka berada.
Tuhan tidak tidur, ia tahu hadiah apa yang pantas diterima oleh anak yang selalu mencintai kedua orang tuanya di mana pun mereke berada.
Terimakasih....
❤️❤️❤️***End.....❤️❤️❤️
...----------------...
Selamat sore.....
Daddy Digo, Bapak Calvin, dan Arini pamit ya....
terima kasih yang sudah mendukung sampai sekarang. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan disana sini. Maaf jika ada kata kata yang menyinggung atau kurang berkenan di hati pembaca..
Kisah kumbang tua dan bunga kuncupnya selesai sampai disini. Kalau ada yang tanya season dua atau kisahnya baby Afra, author belum dapat ide cerita....🙈🙈 nggak tau nanti...
Sekarang kita fokus ke novel baru ya...
kita kembali ke zona mafia"an. Nanti setelah novel itu tamat, kita balik lagi bikin cerita yang lebih santai kayak gini.
Terimakasih sekali lagi...
Sampai ketemu di novel novel author lainnya....
Ini novel bari ganti judul& cover ya, silahkan mampir..👇👇👇***
__ADS_1