
Di meja makan...
Gadis belia berambut hitam panjang itu sejak tadi tak berhenti berbicara sembari mengunyah nasi goreng di hadapannya. Wajahnya terlihat begitu berbinar. Ia sepertinya begitu antusias bercerita tentang kehidupan nya yang tumbuh besar di kampung bersama neneknya.
Malam ini, untuk kali pertamanya ia bisa makan malam berdua dengan sang ayah kandung. Membuat Arini begitu bersemangat dan bahagia meskipun sejak tadi sang daddy hanya diam dan terus fokus dengan nasi goreng dan ponsel di tangannya. Ia hanya sesekali melirik malas tanpa ekspresi ke arah Arini yang terus berceloteh panjang lebar itu.
"terus abis itu ya, daddy.. aku nyebur...! basah semua badan aku. Baju, celana, semuanya basah. Untung sampai rumah nenek nggak ada..! jadi aku aman nggak dimarahin...!!" ucap Arini melanjutkan ceritanya membahas tentang masa masa remajanya yang bandel.
Diego tak merespon. Ia hanya sesekali melirik ke arah gadis itu sambil menyantap nasi gorengnya.
"kalo daddy sendiri gimana? ceritain dong, kehidupan daddy disini gimana?" ucap Arini terlihat begitu antusias.
"biasa saja" jawab Diego santai.
Arini nampak memonyongkan bibirnya. Ayahnya itu seperti nya memang suka banyak bicara.
Digo melirik sekilas lagi ke arah gadis itu.
"tapi, kok daddy tinggal disini sendirian sih? kakek sama nenek nggak tinggal disini, dad?" tanya Arini ingin tahu. Rasanya juga bukan hal yang salah bukan, jika ia ingin tahu tentang kehidupan ayah kandungnya?
Diego kembali melirik sinis tanpa mau menjawab pertanyaan gadis manis itu. Arini kembali melahap nasi gorengnya, begitu juga Diego.
"oh ya, kata pak Yanto, daddy dulu udah punya pacar ya waktu ke kampung pas ibuk meninggal..? Sekarang gimana, dad?" tanya Arini begitu polos membuat Diego menghentikan pergerakan nya. Pertanyaan itu seolah kembali mengingatkannya akan sosok wanita cantik pujaan hatinya yang kini sudah pergi untuk selama-lamanya. Bocah itu tidak sadar, bahwa karenanya lah nyawa Steffi terenggut.
"Katanya daddy udah mau nikah dulu? kok nggak ada disini istrinya, dad? foto foto keluarga juga nggak ada...!" ucap Arini polos seolah tak menyadari perubahan mimik wajah laki laki di sampingnya yang kini berubah menjadi garang itu.
"atau, jangan jangan daddy belum nikah ya sampai sekarang?" tanya Arini. Gadis itu nampak mengulum senyum menggoda ke arah pria yang nampak merah padam itu
__ADS_1
"eeemmmm....aku tauuk..! pasti daddy belum bisa move on dari ibuk ya?? makanya belum nikah..?! heemm....daddy, daddy..! kalau belum bisa move on dari ibuk kenapa dulu nggak nikahin ibuk aja. Coba kalau daddy nikahin ibuk, pasti kita nggak akan..................."
braaaaaakkkk....!!!
Arini terlonjak kaget. Ucapan nya terhenti saat itu juga. Laki laki itu menggebrak meja makan membuat sendok dan piring itu melompat rendah lalu kembali terjatuh ke posisi semula.
Arini terdiam. Dilihatnya di sana, pria itu nampak menatapnya tajam dan mengerikan seolah hendak memangsanya hidup hidup.
"d...da..daddy..." ucap Arini gugup dan terbata bata. Diego bangkit. Berjalan ke arah Arini yang nampak menatap pria itu takut.
"da..daddy kenapa?" tanya Arini gemetar. Lalu....
.
.
.
tangan kekar itu tergerak.
Digo mencengkeram dagu Arini dengan kuatnya. Membuat wajah itu terdongak dengan bibir tweety yang terbentuk di sana.
Diego menatap gadis itu dengan sorot mata mengerikan.
"dengar baik baik, anak haram..! kau tidak punya hak untuk mencampuri urusanku..! apa yang terjadi padaku itu tidak ada sangkut pautnya dengan mu...!!" ucap Diego mengerikan. Arini mengembun dengan wajah takut. mendengar ucapan itu. Anak haram katanya ..!!
"kehadiran mu dan ibumu, itu sudah ku anggap seperti aib yang harus ku tutup rapat rapat..! jadi jika kau masih ingin tinggal disini, maka jangan pernah bermimpi untuk bernasib sama seperti anak anak lain di luar sana...! kau, adalah anak yang terlahir dari sebuah perzinahan...! kau, adalah anak yang terlahir dari sebuah perbuatan menjijikkan...! dari rahim yang menjijikkan, dan dari wanita yang menjijikkan..! jadi jangan pernah bermimpi untuk aku menganggap mu sama seperti anak anak lain di luar sana..! karena kehadiran mu di dunia ini, sama sekali tidak pernah ku harapkan...! karena dirimu, ada nyawa berharga yang harus terbuang sia sia..! ada kebahagiaan yang terenggut paksa karena kehadiran mu..! sadar, anak kecil..! kau hanyalah manusia pembawa sial...!! camkan itu...!!" ucap Diego sembari melempar wajah itu kasar.
Arini mematung dengan mulut terbuka. Dadanya seketika itu juga terasa sesak. Hatinya teramat sangat sakit.
Diego menampik piring berisi nasi goreng miliknya hingga jatuh pecah berserakan di lantai. Laki laki itu menatap penuh kebencian ke arah anak kandung Tuan Calvin Alexander itu.
__ADS_1
"buang sampah ini...! aku tidak mau rumah ku kotor oleh makanan murahan yang kau beli...!" ucap Diego begitu angkuh, sombong dan menyakitkan.
Pria yang belum pernah menikah itupun lantas pergi. Menaiki tangga nya menuju lantai dua, meninggalkan Arini yang kini nampak membungkam mulutnya dengan kuat. Seolah menahan suara tangisnya agar tidak pecah.
Sakit..!
Sakit sekali...!
ucapan pria itu begitu mencabik cabik hati anak yang ditinggal mati ibunya sejak bayi itu. Betapa kejamnya pria itu berucap demikian pada seorang anak yang hanya ingin sekedar merasakan kasih sayang seorang ayah.
Arini sesenggukan di meja makan. Ingin rasanya ia menangis sekeras mungkin namun terus berusaha ia tahan menggunakan telapak tangannya yang tak lepas membekap mulutnya.
Sungguh, ia tak akan mau datang ke tempat ini jika tahu ternyata watak ayah kandungnya seperti ini. Baru dua hari ia berada di rumah ini, tapi berbagai perlakuan menyakitkan terus saja ia dapatkan dari ayah kandungnya sendiri.
Tidur di kamar pembantu, bekerja selayaknya babu, tidak di beri makan, tidak diberi uang belanja, dan sekarang ia dan ibunya di rendahkan tanpa ampun. Sungguh, ini tidak seperti perlakuan ayah pada anaknya.
Arini masih menangis sesenggukan di meja makan. Tanpa ia sadari, dari lantai atas, pria itu masih menatap nya tajam penuh kebencian.
Dadanya naik turun menyaksikan tangisan bocah yang sebenarnya tak tahu apa apa itu.
"kau lihat, Steffi. Anak haram suamimu sudah berada di tempat yang seharusnya. Tempat yang pantas untuk seorang manusia yang terlahir dari rahim seorang pembantu...! kau jangan khawatir, sayang. Aku akan membalaskan rasa sakit hati yang kau alami selama hidupmu..! bocah itu akan tetap menderita selama berada di tanganku..! akan ku pastikan, dia tidak akan pernah menemukan kebahagiaan selama berada di bawah kuasaku...!" ucap Diego penuh dendam. Tangan nya mengepal menatap tajam ke arah Arini yang terus menangis.
Laki laki itu lantas melangkah pergi. Meninggalkan tempat tersebut dan masuk ke dalam kamarnya.
...----------------...
selamat pagi
up 02:38
yuk, dukungan dulu 🥰😘😘
__ADS_1