My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 168


__ADS_3

Siang menjelang,


Sebuah motor sport berhenti tepat di depan rumah tak bertingkat, tempat tinggal sementara keluarga Calvin Alexander.


Pemuda berkulit putih itu nampak melepas helm hitam miliknya. Menampakkan wajah putih nya yang kini nampak sedikit pucat. Bukan karena sakit, namun karena ia terlalu gugup dan cukup tertekan saat ini.


Ya, tentu saja, tak lain dan tak bukan adalah lantaran sebentar lagi ia akan bertemu dengan ayah kandung Arini. Pria dewasa yang sempat ia sebut sombong kemarin.


Sebenarnya Agus sudah berniat untuk mundur. Ia tak mau datang ke rumah itu. Ia ingin mengurungkan niatnya untuk bekerja di perusahaan Hernandez Group. Namun rupanya sang ibu menolak niatan itu dengan keras.


Ia justru meminta Agus untuk tetap datang ke rumah Arini. Menemui calon bos nya itu dan meminta maaf. Syukur syukur kalau Agus bisa meraih hati ayah Arini yang Bu Tri pikir adalah pemilik Hernandez Group itu dengan menceritakan romansa cinta yang dulu sempat Agus dan Arini rajut. Mungkin ayah Arini akan iba lalu memberi jabatan penting pada pemuda itu.


Ya... katakanlah Bu Tri egois..Ia mengabaikan kebencian nya. Ia mengabaikan rasa malu yang anaknya rasakan saat ini. Ia meminta Agus untuk merendah di hadapan keluarga Arini karena iming iming gaji besar yang Hernandez Group tawarkan. Ia lantas memaksa sang putra untuk datang ke rumah itu dan meminta maaf. Ia sama sekali tak peduli dengan penolakan yang sempat Agus sampaikan karena sudah terlanjur malu dengan ayah kandung Arini itu.


Yang penting adalah uang..! Toh yang kerja anaknya, bukan dia..! pikir bu Tri. Lagipula Arini juga tak akan lama tinggal di kampung ini. Ia pasti akan segera kembali ke kota. Orang orang kampung juga tak akan mungkin tahu jika Agus bekerja di perusahaan bapaknya Arini. Anak Dewi itu mana berani koar koar di kampung itu. Sehingga menurut bu Tri, ia pasti akan untung. Nama baik dan harga diri Bu Tri akan tetap aman. Sedangkan Agus tetap akan mendapatkan pekerjaan yang mapan.


Emang agak laen ibu ibu satu itu..!


Agus mematikan mesin motornya. Pria yang belum mengetahui tentang status Arini yang sudah menikah itu lantas berjalan mendekati pintu utama rumah itu dengan langkah berat dan terlihat begitu bimbang.


Agus berkali kali menarik nafas panjang sembari menenangkan perasaannya sendiri.


"demi ibuk dan keluarga ku..! bismillah..!!" gumam pemuda itu.


Dengan ragu, ia menggerakkan tangannya lalu mengetuk daun pintu berwarna coklat itu beberapa kali.


tok...tok.....tok.....


pintu diketuk.


Tak ada jawaban.


Agus terlihat makin pucat.


Tok...tok.....tok.....


diketuk lagi.


Belum ada sahutan lagi.


Tok...tok.....tok.....


diketuk lagi...


tok..tok........


ceklek.....


pintu itupun terbuka. Agus terperanjat setengah kaget. Pria muda itu reflek mundur selangkah menjauh dari pintu.

__ADS_1


Dilihatnya disana, seorang pria dewasa berjambang lebat dengan rambut gondrong digelung nampak muncul dari balik pintu. Penampilannya sangar. Hanya mengenakan kaos singlet putih dan celana panjang. Memperlihatkan bentuk tubuh tinggi kekar berotot miliknya.


Siapa pria itu? itu bukan ayah Arini yang kemarin. Yang kemarin lebih tampan dan rapi. Badannya juga tak sebesar ini. Siapa laki laki ini? pikir Agus.


Calvin diam. Menatap datar dari bawah sampai atas penampilan pemuda yang ia yakini adalah tamu di tunggu tunggu oleh menantunya sejak pagi.


Ya, ini pasti mantan pacar Arini itu. Anak dari perempuan yang kemarin ia sumpal mulutnya menggunakan daun bayam.


"siang, om.." ucap Agus sopan pada Calvin.


Calvin tak menjawab. Ia hanya mengangkat dagunya sembari mengamati penampilan pemuda itu dengan sorot mata menilai.


"siang" jawabnya tenang tanpa ekspresi.


"e..em, saya mau ketemu sama..yang punya rumah, om..." ucap Agus.


Calvin menyipitkan matanya.


"siapa?" tanya Calvin.


"a..itu, papanya Arini, om. Sama Arini juga. Mereka ada, om..?" tanya Agus.


Calvin diam sejenak. Netra tajamnya tak lepas menatap Agus yang nampak makin gugup.


Pria dewasa itu kemudian mengangkat satu sudut bibirnya.


"saya ayahnya Arini" ucap Calvin tenang yang sukses membuat Agus melotot dibuatnya.


Jadi ini ayah kandung Arini..? Lalu kalau ini ayah Arini, terus yang kemarin itu siapa??! pikir Agus yang nampak mulai bingung dengan silsilah keluarga Arini.


Tapi tak apalah. Kalau ini adalah ayah Arini, itu artinya ia aman. Lantaran kemarin ia berucap tentang bos sombong itu bukan di hadapan orangnya langsung.


Agus nampak diam berfikir. Hingga..


"mau masuk?" tanya Calvin membuyarkan lamunan pemuda itu.


"oh, iya..iya, om..!" ucap Agus.


Calvin pun mempersilahkan pemuda itu untuk masuk ke dalam rumahnya. Agus hanya mengangguk. Ia kemudian melangkahkan kakinya memasuki kediaman mantan kekasihnya itu. Pemuda itu kemudian mendudukkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu itu setelah Calvin mempersilahkannya.


Agus celingukan. Sayup-sayup terdengar suara cekikikan dua manusia dari dalam sana. Yang ia yakini satu diantaranya adalah suara Arini. Wanita itu terdengar tengah tertawa bersama seorang laki-laki di dalam sana.


Calvin kemudian duduk di salah satu sofa di sana.


"jadi, ada perlu apa kau mencariku?" tanya Calvin pura pura tidak tahu. Atau lebih tepatnya ia ingin bermain-main sejenak dengan pemuda yang pernah menyia-nyiakan anak cantiknya itu. Ia suka melihat kepolosan dan kebodohan pemuda di hadapannya tersebut.


"saya datang kemari karena saya mendapat pesan dari pihak perusahaan Hernandez Group. Saya diminta untuk datang ke rumah ini, katanya pemilik perusahaan meminta saya untuk datang guna melakukan interview secara langsung, om" ucap Agus polos.


Calvin diam tal bereaksi. Masih dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"jadi, apa om, adalah pemilik Hernandez Group itu?" tanya Agus.


Calvin mengangkat satu sudut bibirnya.


"bukan" jawabnya.


Agus terdiam.


"aku hanya seorang tukang tato. Hernandez Group adalah perusahaan besar milik menantuku. Namanya Diego Hernandez, suami dari putri semata wayangku, Arini"


.


.


.


deeeeegggghhhh.....


Agus mematung. Bak tersambar petir di siang bolong, pemuda itu benar-benar terkejut dengan penuturan Calvin. Jadi Arini sudah menikah? Dan Hernandez Group tempatnya melamar kerja adalah perusahaan milik suami Arini?? yang benar?? Astaga...!!! batin Agus tak habis pikir.


Calvin mengangkat lagi satu sudut bibirnya.


"jadi kau datang kemari karena ada perlu dengannya?" tanya Calvin lagi.


Agus nampak bingung. Ditengah perasaan nya yang berkecamuk, pemuda itupun mengangguk.


Calvin tersenyum simpul.


"tunggu sebentar, biar saya panggilkan" ucap nya kemudian.


Calvin memutar badannya tanpa berpindah tempat.


"Go..!" ucapnya setengah teriak.


"apa?!" jawab seorang pria dari dalam sana.


"keluar...! ada yang mau ketemu..!" ucap pria itu bak memanggil teman tongkrongan nya.


Tak ada jawaban. Tak berselang lama, sepasang pria dan wanita nampak keluar dari dalam rumah, mendekati meja tamu tempat dimana Agus dan Calvin tengah duduk berdua.


Agus mendongak menatap sepasang pria dan wanita itu. Lalu....


"astaghfirullah haladzim..!"


....


...----------------...


Selamat malam,

__ADS_1


masih suasana lebaran, maaf ya, up nya dikit" dulu. Lanjut besok...🥰


__ADS_2