
Pagi menjelang.
Didalam sebuah kamar milik Arini dan Diego, sepasang suami istri itu masih nampak berpelukan di atas ranjang mereka. Dengan sebuah selimut tebal menutupi tubuh keduanya, Diego nampak memeluk hangat wanita kesayangannya yang kini terlihat sama sama tak berbusana tersebut.
Arini masih asik dalam buaian mimpi-mimpi indahnya. Dalam posisi membelakangi sang Diego, wanita bersuami itu nampak tidur miring dengan selimut tebal membungkus tubuh polos nya.
Sedangkan laki-laki di belakangnya, ia terlihat memeluk posesif wanita dengan bercak merah di beberapa bagian tubuhnya itu.
Ayam jantan mulai berkokok. Suaranya saling sahut menyahut membuat suasana pagi khas pedesaan terasa begitu kental disana.
Laki laki berjambang tipis yang hanya mengenakan sebuah celana d*lam hitam sebagai penutup tubuhnya itu nampak menggeliat. Digo mengerjab ngerjabkan matanya, Mencoba mengumpulkan kesadaran nya yang seolah masih belum kembali sempurna.
Netra yang masih setengah terbuka itu nampak menatap ke arah jam dinding. Dilihatnya disana, jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi.
Ah, cepat sekali waktu berjalan..! Padahal semalam ia dan sang istri baru tidur pukul 01.00 malam. Setelah sempat kesal dengan sang istri gara-gara kedatangan Agus, Digo lantas memakan istri kecilnya itu tanpa ampun hingga hari hampir pagi. Membuat keduanya baru bisa terlelap setelah lewat tengah malam.
Diego mengubah posisi tubuhnya menjadi terlentang. Seutas senyuman terbentuk dari bibir pria yang baru saja bangun dari tidurnya itu mengingat kejadian semalam. Mengingat bagaimana sang istri terlihat lebih menggoda dan nakal dibanding hari hari biasa. Rasanya puas sekali malam tadi..!๐
Digo menoleh ke arah Arini. Wanita itu masih tertidur dalam posisi meringkuk memeluk guling dengan tubuh polos tertutup selimut tebal di sana. Digo tersenyum lagi. Ia kembali mengubah posisi tubuhnya. Dipeluknya lagi wanita cantik itu. Kepalanya bergerak memberi kecupan kecupan singkat nan intens di punggung putih mulus dengan beberapa bercak merah di sana.
Digo kembali mendusel di ceruk leher wanita yang masih memejamkan matanya itu. Dikecupnya lagi telinga wanita yang semalam ia buat merintih itu. Sesekali ia nampak menggigit dan menyesap daun telinga wanita cantik kesayangan nya tersebut. Seolah ingin membangunkan istrinya itu dengan cinta tanpa mengagetkannya.
"sayang, bangun..." bisik Diego tepat di telinga Arini.
"hmmh..." gumam wanita itu singkat.
Diego mengulum senyum. Pelukan itu makin erat ia berikan.
"bangun, baby. Udah siang loh ini" ucap Digo lagi lembut sembari memberikan kecupan manis di seluruh penjuru wajah wanita itu. Arini menggeliat. Suara malas itu lolos lagi dari bibir merah muda yang sedikit bengkak itu.
Diego mengulum senyum lagi. Dikecupnya bibir itu lagi beberapa kali. Sedangkan kedua tangannya kini nampak asyik memainkan kedua belah pipi yang sedikit cubby itu dengaj gemasnya.
"sayang, bangun, dong..! ini udah siang loh..!" ucap Diego.
Arini mulai mengerjab ngerjabkan matanya.
"hmm..?" ucap nya.
"bangun.." jawab Digo.
"udah malem?" tanya Arini ngawur.
"pagi, dong. Masa malem lagi..! lucu deh, kamu. Jadi pen banting lagi" ucap Digo membuat Arini terkekeh sembari menggeliat.
"dah, yuk bangun..!" ucap Digo.
Arini mengangguk. Ia menggeliat lagi, lalu bangkit dengan wajah malas dan rambut acak acakannya.
Arini celingukan,
"cari apa?" tanya Digo.
"B* ku ndek endi? (b* ku dimana?) "tanya wanita itu.
Digo terkekeh. Ia kemudian meraih dua kain istimewa milik sang istri. Pembungkus dua benda sensitif milik wanita cantik itu dan melemparkan nya ringan ke arah sang wanita itu.
__ADS_1
Diego pun meraih celana nya, lalu mengenakannya sebelum keluar dari kamar meraka.
Arini selesai dengan setelan piyama nya. Wanita muda itu lantas berniat untuk keluar dari ruangan itu. Namun belum sempat ia meraih handle pintu itu, Digo sudah keburu meraih lengan putihnya dan menariknya, membuat tubuh itu kembali menempel pada badan kekar laki-laki dewasa yang baru mengenakan celana saja tersebut.
Arini mendongak. Digo nampak mengulum senyum nakal.
"apa?" tanya Arini.
"daddy punya satu permintaan" ucap Digo.
"permintaan apa?" tanya Arini.
"bikinin tato buat daddy, dong" ucap Digo.
Arini nampak menyipitkan matanya.
"tato? tato apa?" tanya Arini.
Diego mengulum senyum lucu. Ia mengangkat dagunya seolah menunjuk ke arah leher berhias bercak merah milik sang istri.
Arini membuka mulutnya, seolah mulai mengerti maksud tatapan nakal pria dihadapannya itu.
"maksudnya tato ini?" tanya Arini sembari menunjuk lehernya sendiri.
Digo mengangguk.
"ya ampun, daddy. Kalau sampai ada bercak kayak gini ntar gimana nutupinnya?" tanya Arini tak habis pikir dengan permintaan sang suami yang dirasa aneh aneh itu.
"ya nggak usah ditutupin..! biar semua orang tahu kalau daddy itu milik kamu" ucap Digo seolah ingin menunjukkan siapa ia bagi Arini.
"nggak usah gitu, dad..!" ucap Arini lagi.
Diego berdecak kesal. Ia tak peduli dengan penolakan sang istri. Laki laki itu lantas sedikit membungkuk kan tubuhnya sembari menyentuh salah satu sisi lehernya kan cerita lucu suara meminta wanita itu untuk membuatkan tato khusus dari bibirnya di sana.
"daddy, Arin malu dong, nanti..! ntar dikiranya Arin yang gigit"
"lah, kan emang kamu yang gigit..! masa bapakmu..!" ucap Digo.
Arini nampak memonyongkan bibirnya. Sungguh, ia sanksi untuk melakukan nya. Orang orang mungkin akan berfikiran, betapa ganasnya permainan anak Calvin ini, sampai sampai leher suaminya di bikin belang begitu๐๐
Arini tak kunjung membuatkan tato yang Digo maksud, membuat laki laki itupun berdecak kesal dibuatnya.
"ck..! lama banget..! buruan..!!" ucap Digo.
"tapi satu aja..!" ucap Arini.
"kok satu sih? yang banyak dong..!" ucap Digo.
"malu, dad..!! satu aja..!" rengek wanita itu.
"ck..! iya, iya..! udah buruan...!" ucap Diego akhirnya.
Arini pun mulai membuatkan tato khusus untuk sang suami. Dikecupnya leher itu, digigit sedikit, lalu dihisapnya lembut. Sebuah bercak merah samar-samar terlihat di sana.
Arini menjauhkan wajahnya dari Diego.
__ADS_1
"dah..!" ucap Arini.
Diego lantas bergerak menuju kaca.
"oke..! lumayan..!" ucapnya cukup puas.
Digo menoleh kearah sang istri.
"thanks, baby" ucap pria itu.
Arini hanya menggelengkan kepalanya. Ia lantas berlalu keluar dari kamar itu untuk segera memulai aktifitas paginya.
Sedangkan Diego,
Ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk ke dalam benda pipih miliknya yang berada di atas nakas itu.
Masih dalam kondisi bertelanjang dada, pria itu meraih benda canggih itu dan membuka sebuah pesan yang ternyata dari asisten, orang kepercayaan, sekaligus sahabatnya itu. Sam...!
"Si Agus pagi ini ke rumah lo" tulis Sam.
Digo mengulum senyum. Ia tak menjawab pesan tersebut. Laki laki itu kembali melihat pantulan tubuh nya di cermin. Diamatinya bercak merah karya bibir Arini.
"perfect..!" ucapnya dengan senyuman penuh kepuasan.
...----------------...
Selamat sore
up 15:48
mohon maaf, baru up. Maklum, otw lebaran...!
Untuk beberapa hari kedepan "kalau sempat" author akan ttp up ya. Walaupun cuma 1 kali entah itu malam atau subuh.
Tapi kalau misalkan nggak bisa up, ya mohon maaf. Namanya juga lebaran๐๐๐
...****************...
Selamat hari raya Idul Fitri semuanya.. baik yang merayakan hari ini ataupun besok. Tetap saling menghargai walaupun berbeda hari perayaan...
Mohon maaf jika ada salah-salah kata dan penulisan selama author membuat novel acak-acakan ini. Terima kasih yang masih setia. Terimakasih yang sudah mendukung sampai sekarang. Mohon maaf jika ada beberapa kata yang kurang berkenan atau menyinggung.
Novel ini hanya sebuah cerita fiksi dan tidak berniat untuk menyindir ataupun menyinggung pihak manapun.
Sekali lagi, selamat lebaran, semuanya...
*Taqabbalallaahu minnaa wa minkum....
Taqabbal Ya Karim...
Minal aidzin wal Faidzin...
Mohon maaf lahir dan batin...
โบ๏ธ๐ฅฐ๐ฅฐ
__ADS_1
Aldiantt*....