My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 92


__ADS_3

"Sam..! berhenti..! kamu mau bawa aku kemana?!!" tanya wanita cantik itu pada pria tampan yang kini membawanya menuju halaman rumah sakit.


Giselle menghempaskan lengan kekar pria itu. Membuat Sam kini menghentikan langkahnya dan berbalik badan menatap wanita berpenampilan anggun itu.


"kamu mau ngomong apa?!" tanya Giselle.


Sam berkacak pinggang. Membuang muka dan menatap ke segala arah.


Sungguh, sebuah pilihan yang sulit untuk pria itu. Di satu sisi ia harus mengatakan kejujuran pada Giselle agar wanita itu berubah pikiran dan mencabut laporannya pada Calvin. Ia sudah terlalu kasihan pada Arini. Gadis itu seolah tak pernah menemukan kebahagiaan nya selama tinggal di kota ini.


Tapi disisi lain, jika itu ia lakukan maka sudah pasti ia harus membongkar rahasia Diego yang sudah menyembunyikan Arini selama ini. Karena mau bagaimana pun, semua masalah memanglah bermula dari dendam tanpa alasan dari seorang Diego.


Sungguh, itu adalah pilihan yang berat. Diego pasti akan kena semprot setelah ini. Tapi jika ini tidak dibuka sekarang juga, kapan semua masalah ini akan selesai??


Sam membuang nafas kasar. Lalu mengusap wajahnya hingga ke belakang kepalanya. Kenapa jadi ia yang pusing sih??



Giselle menatap penuh selidik ke arah Sam.


"Sam.." ucap Giselle lagi.


Sam menoleh.


"ini ada apa? ada masalah apa sebenarnya?" tanya Giselle.


Sam menarik nafas lagi.


"ada sesuatu yang harus tau. Gue mau cerita panjang ama lu.." ucap Sam.


"cerita apa?" tanya Giselle.


"kita cari tempat dulu ya.." ucap pria itu lagi.


Giselle nampak berfikir sejenak. Lalu mengangguk.

__ADS_1


Sam kembali meraih punggung tangan wanita itu. Membawanya keluar dari area rumah sakit itu. Menyebrang jalan raya lalu menuju sebuah cafe yang letaknya berseberangan dengan bangunan tinggi rumah sakit tersebut.


Didalam cafe,


Setelah mencari tempat yang dirasa nyaman untuk berbincang, Sam pun segera memesan makanan dan mulai mengajak wanita cantik itu membahas masalah yang sepertinya memang sudah saatnya untuk di jelaskan sejelas jelasnya.


Dan,


Sam pun mulai menceritakan semua yang sebenarnya terjadi pada wanita itu.


Berawal dari kedatangan Arini ke rumah baru Diego guna mencari keberadaan ayah kandungnya. Kemudian tindakan gila yang diambil oleh Diego dengan mengaku ngaku sebagai ayah kandung gadis itu. Segala perlakuan tidak baik dari Digo pada gadis malang itu. Mulai dari memperlakukan nya selayaknya pembantu, tidak memberikan kehidupan yang layak mulai dari tidak memberi uang makan, memaksa Arini membersihkan rumah luasnya seorang diri, menempatkan Arini di kamar pembantu, menghukum Arini dengan hukuman hukuman yang berat jika gadis itu salah, dan sebagainya. Semua Sam ceritakan tanpa ada yang ditutup-tutupi.


Sam kemudian kembali menceritakan bagaimana seiring berjalan nya waktu perasaan benci itu dilihatnya semakin menipis dan perlahan hilang, berganti menjadi perasaan nyaman dan peduli dalam diri Diego. Perlakuan buruk perlahan berubah menjadi perlakuan manis dan penuh kasih sayang. Hingga pada akhirnya Sam menyimpulkan bahwa Diego mulai memiliki perasaan khusus pada Arini meskipun selama ini Diego belum pernah mengatakan itu secara langsung dari mulutnya.


Hingga pada akhirnya Arini mengetahui semua kebenaran yang ada. Arini murka. Ia pergi dari sisi Diego membuat laki laki itu frustasi pada akhirnya. Sam juga menceritakan tentang apa yang Arini alami selama tinggal bersama ayah kandungnya, sesuai dengan yang Ivan ceritakan padanya siang tadi.


Semua Sam ceritakan dengan gamblang tanpa ada yang ditutup tutupi. Semua hanya agar Giselle tahu apa yang sebenarnya terjadi selama ini. Termasuk drama yang terjadi di malam pemukulan itu. Semua Sam ceritakan tanpa terkecuali.


Giselle diam tak bergerak. Entah apa yang wanita itu rasakan kini. Ia nampak menyangga kepalanya menggunakan satu lengannya sambil memijit mijit pelipisnya. Pusing..! ia benar benar dibuat pusing dengan ulah adiknya itu.


Giselle menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"udah, lu jangan ikut ikutan pusing..! mending sekarang kita cari jalan keluarnya sama sama" ucap Sam.


"gimana aku nggak pusing..! Ini si Digo bener bener....astaga Tuhan. Kamu kenapa nggak ngomong dari awal sih, Sam? kalau kamu ngomong dari awal kan aku bisa gerak sebelum semua ini kejadian...!" ucap Giselle lagi kembali menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"napa jadi gue?!" tanya Sam kesal.


"ya kamu ikut nutup nutupin..! malah ngaku ngaku katanya anak kecil itu pacar kamu..! kamu juga terlibat tau nggak..!" ucap Giselle.


"ya makanya gue ngasih tau lu sekarang..! ini semua yang salah dari awal tuh adek lu..! gue juga udah ngasih tau dia dari awal. Emang susah aja tuh orang dibilangin..! sebenarnya hari ini gue mau ngomongin ini dulu ama lu sebelum ke masjid, elu udah nyelonong duluan..!" ucap Sam ikut kesal.


Ia lantas menyeruput minuman dingin yang baru saja dipesan nya itu.


Giselle tak menjawab. Sungguh...! ia benar benar dibuat pusing dengan ulah adik tololnya itu.

__ADS_1


"oke, kita ambil gampangnya aja..! mending sekarang lo balik ke rumah sakit. Digo udah sadar dari siang tadi. Sekarang gue mau pulang, gue capek..! besok gue kesini lagi. Kita bahas masalah ini bareng bareng ama Digo. Karena mau bagaimana pun, yang pertama bikin masalah, itu adek lo. Dan tindakan gegabah lo laporin Calvin ke polisi, itu juga salah. Kalau Calvin nggak terima, bisa aja dia juga ngelaporin balik adik lo. Karena apa yang Digo lakuin ke Arini itu juga bisa dipidanakan."


"jadi saran gue, mending sekarang lo ke rumah sakit. Lu jagain Diego. Sekalian ama anaknya Calvin karena mereka sekamar sekarang. Dan besok gue akan kesini lagi. Lu jangan tanya aneh aneh dulu ama adek lo. Nggak usah bahas masalah ini dulu..! gue takutnya dia ngebohong kalau cuma ngobrol ama lu doang, makin ribet lagi masalah. Lu tungguin gue. Besok gue kesini lagi."


"setelah itu baru kita ke kantor polisi. Lu cabut laporan lo..! main lapor sekarang bukan jalan terbaik tau nggak lo..! dari pada gitu mending lu ketemuin adek lo ama Calvin. Selesaiin masalah mereka yang udah berlarut larut. Biar semua cepet selesai dan nggak ada salah paham lagi diantara mereka..!" ucap Sam panjang lebar.


Giselle tak menjawab. Ia nampak memejamkan matanya sambil memijit mijit pelipisnya.


"lu denger nggak sih?" tanya Sam lagi.


"atur aja lah, Sam. Aku pusing..!" ucap Giselle.


Sam hanya berdecih sembari membuang muka.


"ya udah, gue anterin lu balik ke rumah sakit. Istirahat aja lu disana. Gue mau pulang" ucap Sam kemudian bangkit. Giselle hanya mengangguk. Ia lantas ikut bangkit kemudian berjalan mengikuti langkah pria itu menuju rumah sakit tempat dimana Diego dirawat.


Sesampainya di rumah sakit, Sam pun pamit. Giselle dengan segera masuk ke ruang IGD tempat dimana adiknya tengah terbaring lemah disana. Mengabaikan sorot mata tajam dua anak buah Calvin yang menunggu di depan ruang IGD.


Giselle pun mendekati ranjang IGD. Dilihatnya disana sang adik tengah tertidur pulas di atas ranjang yang berdampingan dengan ranjang seorang gadis cantik disampingnya. Satu tangan Diego bahkan nampak berpegangan dengan tangan gadis yang terlihat menyedihkan itu.


Giselle menghela nafas panjang. Ditariknya satu buah kursi di samping tempat tidur itu lalu mendudukkan tubuhnya disana. Ditatapnya wajah tampan pria yang sangat ia sayangi itu. Tangannya lalu tergerak mengusap usap lembut pucuk kepala Diego bak usapan tangan seorang ibu pada anak laki laki nya.


"kapan dewasanya sih kamu? kenapa kamu selalu mengambil tindakan sepihak, tanpa peduli dengan orang orang disekitar kamu..?" ucap Giselle pelan.


"hmmmmh, Digo, Digo,...!" ucapnya lagi tanpa mengubah pergerakan tangannya.


Giselle lantas mengubah arah pandangnya pada sesosok gadis malang yang terlelap disana. Seutas senyuman tipis terbentuk dari bibirnya.


"maafin om Digo ya ,cantik. Kamu yang kuat ya. Cepet sembuh, cepet bangun, biar kami bisa secepatnya minta maaf sama kamu dan papa kamu" ucap Giselle lagi.


...----------------...


Selamat sore


up 15:08

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰🥰


__ADS_2