
Pagi menjelang,
Gadis cantik itu nampak keluar dari dalam kamar pribadinya. Dengan langkah riang sembari sesekali bersenandung, gadis itu berjalan mendekati sang ayah yang sudah berada di meja makan rumah dua lantai milik mereka.
"pagi, bapak..!!" ucap Arini sembari menarik kursinya.
Calvin yang nampak menikmati kopi paginya itu terlihat diam. Diamatinya penampilan sang putri dari atas sampai bawah.
Calvin menatap sang putri dengan sorot mata menyelidik. Membuat Arini yang kini tengah menyeruput jus jeruknya kini balik menatap sang ayah dengan penuh tanya.
"apasih, bapak? liatnya ampe kayak gitu?" tanya Arini.
"cantik amat." ucap Calvin. Entah memuji atau mengejek. Namun hal itu sukses membuat sang putri canggung dibuatnya.
"agak beda hari ini... mau ke mana?" tanya Calvin.
Arini nampak menetralkan raut wajahnya agar tak terlihat merona.
" mau ke mana gimana? ya mau kuliah dong, Pak. Kan tiap hari emang gitu.." ucap gadis itu mengelak.
"kok tumben pakai dress? biasanya cukup pakai celana ama sweater aja" ucap Calvin penasaran. Lantaran memang penampilan sang putri sangat tak biasa hari ini.
Arini nampak celingukan mencari alasan.
"ya.... lagi pengen aja, Pak. Lagi pengen pakai dress. Kan nggak apa apa sekali sekali" ucap gadis itu.
"terus kamu mau naik motor pakai dress begini? ya terbang ke mana-mana lah, Rin, dress nya.." ucap Calvin.
"enggak, kok. Hari ini Arin mau naik taksi aja" ucap gadis itu.
Calvin kembali menyipitkan matanya. Arini menoleh canggung.
__ADS_1
"udah yuk, pak. Makan..! Arin buru buru. Tadi udah pesen taksi online.." ucap gadis itu.
Calvin hanya mengangguk samar, mengiyakan saja ucapan gadis itu meskipun ia juga agak curiga dengan gelagat Arini yang tak biasa.
Sarapan pun lantas dimulai. Seperti biasa, sepasang ayah dan anak itu nampak asyik menikmati santap pagi mereka di selingi candaan dan obrolan ringan khas keduanya.
Sekitar sepuluh menit berselang makan pagi itu pun selesai. Calvin berangkat ke studio tatonya terlebih dahulu, meninggalkan Arini yang masih menunggu taksi pesanannya tiba. Awalnya pria itu menawarkan pada sang putri untuk mengantarnya ke kampus, namun Arini menolak. Ia lebih memilih untuk naik taksi online saja lantaran sudah terlanjur dipesan. Kasihan jika harus di cancel.
Arini berdiri di depan rumah berlantai dua miliknya. Tak lama, sebuah mobil berwarna hitam pun tiba. Itu adalah taksi online yang ia pesan tadi. Dengan segera Arini pun masuk ke dalam mobil itu. Kendaraan roda empat tersebut lantas melaju pergi menuju kampus Arini. Meninggalkan kediaman sang gadis cantik tersebut.
Saat di perjalanan,
tingg.....
1 pesan masuk.
Arini buru-buru merogoh tas ranselnya. Mengambil sebuah ponsel miliknya di sana. Lalu membuka pesan yang rupanya dari Fajar itu.
Arini reflek memekik sembari meloncat dari duduknya tanpa aba aba. Hal itupun sukses membuat si supir taksi menghentikan laju kendaraan nya, lalu menoleh ke arah anak Calvin Hernandez itu.
"ada apa, mbak?" tanya si supir taksi.
Arini yang baru saja menyadari ketololan nya itu pun buru buru memperbaiki sikapnya.
"oh, maaf, pak..! nggak ada apa apa, lanjut aja.." ucap Arini.
Si supir taksi yang masih menatap aneh kearah Arini pun akhirnya hanya mengangguk. Ia lantas kembali melajukan mobilnya menuju kampus gadis itu.
Arini membuka room chat nya dengan Digo. Dengan senyuman mengembang ia pun lantas mengetikkan sesuatu dalam room chat nya dengan pria itu.
"aku nggak ada kuliah hari ini" tulis nya seolah memberi kode untuk minta segera di jemput.
Tiga menit.
__ADS_1
Arini melihat lagi room chat nya dengan Digo. Belum di balas. Kemana pria itu??! pikir Arini.
Gadis itu nampak mengetik lagi.
"dosen nya nggak dateng" tulis nya lagi.
Ia kemudian menunggu lagi balasan dari laki laki itu. Namun belum juga di buka. Membuat Arini kini mulai berdecak kesal. Berkali kali di bukanya room chat itu namun belum juga ada balasan.
Merasa tak sabar, padahal pesan dikirim belum ada lima menit, Arini pun menyentuh tombol telepon yang berada di sana.
Berdering, namun tak diangkat angkat. Namun baru beberapa detik wanita itu mencoba menghubungi Digo, tiba tiba terbersit sebuah pemikiran dari otak kecil gadis itu. Kok kesannya jadi Arini yang ngebet banget ya??? pikir gadis itu.
Arini pun buru buru mematikan sambungan teleponnya. Ia lantas menghembuskan nafas panjang. Lalu mengarahkan pandangannya ke luar jendela. Ia harus bersabar terlebih dahulu, menunggu Digo membalas pesannya.
Selang beberapa menit kemudian,
tiingg...
1 pesan masuk dari Diego.
Arini buru buru membukanya dengan mata berbinar.
"iya, sayang. Otw ke kampus kamu, maaf ya lama balasnya, baru selesai mandi☺️"
Gadis itu memejamkan matanya. Pipinya merona merah seketika. Hatinya berbunga bunga membaca pesan singkat itu. Mana bahasanya manis banget lagi. Aaaaaahhhhh......... tubuhnya seolah mendadak jadi ringan. Ingin rasanya gadis itu terbang melayang layang ke udara saat itu juga. Senang sekali rasanya. Senyum mengembang terus gadis itu tampakkan, membuat si supir taksi yang sejak tadi mengamati pergerakan nampak mengernyitkan dahinya.
"kek nya gue salah ambil penumpang deh. Kasian, mana masih muda..masak udah setres.." batin si supir.
...----------------...
Selamat sore....
Yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰
__ADS_1