
Buuuuuggghhhh....
Pria itu menjatuhkan tubuhnya di atas sebuah kursi di meja makan itu. Membuat Calvin yang sudah berada di meja makan itu nampak menoleh ke arah sang menantu yang terlihat pucat dan lemas itu.
Arini dengan secangkir teh hangat di tangannya pun mendekati sang suami.
"kok bajunya ganti? kan yang tadi Arin siapin bukan yang ini, dad?" tanya Arini sembari menyodorkan segelas teh hangat untuk suami tampannya itu.
"ck..! bauk, Rin..! kamu kasih apasih tadi?" tanya Digo.
"kasih apa? bau apa?" tanya Arini tak mengerti.
"bajunya bauk banget, baby. Perut daddy makin mual tau nggak..!" ucap Digo kesal.
"Arin cuma nyemprotin parfum doang, dad. Itupun parfum nya daddy, yang biasa daddy pakai.." ucap Arini.
"ck...! buang aja deh itu parfumnya. Baunya nyiksa orang...!" ucap Digo kesal.
"nyiksa gimana? perasaan tiap hari juga daddy pakai itu..!" ucap Arini lagi.
"nggak enak, Rin..! udah sih, buang aja..." ucap Digo kesal sembari meraih teh buatan sang istri.
"sayang banget..." gumam Arini.
Calvin yang sejak tadi berada di tempat itu nampak menatap ke arah Digo dan Arini secara bergantian.
"kalian kenapa? lu sakit?" tanya Calvin pada sang menantu yang nampak sedang tidak baik baik saja itu.
"dari kemarin aneh, pak. Nggak mau makan, malem kedinginan, paginya muntah muntah. Arin takutnya kalau masalah lambungnya kumat. Di suruh libur ngantor dulu nggak mau..!" ucap Arini curhat pada. sang ayah tentang suaminya yang memang selalu ribet jika sedang sakit itu.
Arini menyendok kan nasi beserta lauknya ke piring Sang Diego. Lalu menyodorkan nya ke hadapan pria itu.
Digo diam. Diamatinya nasi putih dengan segala lauk pauk diatasnya. Masakan si ART itu terlihat begitu menggugah selera bagi Arini dan Calvin.
Namun sepertinya tidak dengan Digo. Seonggok nasi putih, dengan lauk pauk yang menimbulkan bau menyengat menusuk lubang hidungnya.
Sesuatu bergejolak di dalam sana. Perutnya bak diobok obok oleh bau makanan yang dirasa menjijikkan itu.
"hhhmmmmmggg..."
Arini dan Calvin menoleh. Suara itu lolos dari bibir Digo. Berusaha menahan sesuatu yang seolah memaksa untuk keluar dari perutnya itu.
"hmmmmggg...."
Suara itu terdengar lagi.
"dad..! daddy mual lagi?" tanya Arini.
"hmmmmggg...."
__ADS_1
"dad..."
seeeeetttt....
Digo berlari menuju wastafel.
hoooeeeekkkk....
hoooeeeekkkk....
hooooeeeeekkkk.....
Digo kembali memuntahkan isi perutnya. Nyaris tak ada yang keluar lantaran memang perut itu tengah dalam kondisi kosong sejak kemarin.
Arini menghela nafas panjang. Ia menghentikan sarapan paginya lalu berjalan mendekati sang suami. Dipijat pijatnya pundak pria itu, seolah ingin membantu laki-laki itu. Cukup lama Digo berjuang di sana. Lalu....
buuuuuggghhhh....
Digo ambruk. Tubuhnya benar-benar lemas. Pria itu meringis merasakan raga yang seolah sudah tak memiliki tenaga sama sekali itu untuk sekedar berdiri itu.
"lemes, sayang...." rengek Digo.
Arini menghela nafas panjang.
"ya udah, makanya ayo bangun. Kita ke kamar aja ya, daddy istirahat. Kondisi daddy aja kayak gini, mana bisa fokus kerja..." ucap Arini.
Digo tak menjawab.
"panggilin dokter aja..! kalau sakit nggak usah dipaksa kerja..! cek sana ke dokter biar jelas. siapa tahu suami kamu lagi hamil..!" ucap Calvin begitu santai yang berhasil membuat sepasang suami istri itu menoleh ke arah pria berambut gondrong itu.
"bapak jangan sembarangan deh kalau ngomong..! mana ada laki-laki hamil..!" ucap Arini begitu polos.
"maksudnya kamu yang hamil, tapi suami kamu yang ngidam..! kan ada tuh beberapa kasus kayak gitu..!" ucap Calvin santai.
Digo diam. Arini membuang nafas kasar.
"nggak mungkin, pak..! Arin sama daddy itu udah bikin perjanjian kemarin, nggak akan hamil sampai Arin berusia dua puluh satu tahun. Kita bikin surat perjanjian, kok..! iya kan, dad?!" ucap Arini sembari menoleh ke arah sang suami di akhir kalimat nya, seolah meminta pendapat dari pria yang nampak lemah itu.
Digo hanya mengangguk. Mengiyakan saja ucapan wanita polos setengah oon tersebut.
Calvin berdecih.
"surat perjanjian itu nggak akan bisa menjaga kehamilan...! yang bisa menjaga kehamilan itu KB..!" ucap Calvin dengan entengnya.
Arini terdiam. Wanita itu nampak ragu dengan pendiriannya. Namun secepatnya ia mencoba menepis perasaan nya itu.
"nggak...! nggak mungkin, pak..! Arin nggak mungkin hamil. Orang Arin nggak ngerasain apa apa, kok..!" ucap Arini ngeyel.
"ya kalau gitu mungkin suami kamu di santet kalik sama emaknya si Agus.."ucap Calvin lagi tanpa filter sembari bangkit dari posisi duduknya.
__ADS_1
"astaghfirullah haladzim, bapak...!! kalau ngomong...!!" ucap Arini sedikit ngegas.
"ya siapa tau, mungkin mereka kesel sama suami kamu...! cek aja ke dokter, siapa tau di dalem perut ada pakunya..!" ucap Calvin sekenanya.
Arini nampak bersungut. Calvin mendekati sepasang anak dan menantunya itu.
"udah, bapak mau berangkat dulu..!" ucap pria itu kemudian mengulurkan tangannya ke arah sang putri. Seperti biasa, Arini pun meraih punggung tangan pria itu kemudian menciumnya sebagai tanda hormat.
"hati hati, pak.." ucap Arini.
"iya, kamu dirumah aja, jagain suami kamu..!" ucap Calvin.
Arini mengangguk.
Calvin kemudian mengarahkan punggung tangannya ke arah Diego yang masih bersimpuh di lantai. Digo menggerakkan tangannya dengan malas, meraih punggung tangan mantan musuhnya itu lalu menciumnya seperti biasa. Namun tiba-tiba....
"woee...! udah woee....!!" ucap Calvin kala mendapati Diego tak kunjung melepaskan punggung tangannya. Pria itu justru nampak menghirup aroma punggung tangan pria gondrong itu dalam dalam, seolah menemukan aroma ternikmat di dunia.
"anjir, lu ngapain sih? lepasin tangan gua..!" ucap Calvin sembari menghempaskan tangan Sang Diego dari punggung tangannya
"enggak ini baunya enak nih..! baunya seger..!" ucap sang Diego sembari bangkit, mencoba meraih lagi punggung tangan Calvin Alexander. Calvin diam. Membiarkan Digo yang kini mulai mengedus-endus kaosnya.
Diego menatap sang mertua.
"lu pake parfum apasih?!" tanya Digo.
Calvin hanya mengangkat satu sudut bibirnya mendengar ucapan dari menantu sombongnya itu.
Digo menoleh ke arah sang istri.
"baby. aku mau kamu beliin aku parfum sama kayak parfum nya dia..! baunya enak...! aku mau...!!" ucap Digo kemudian kembali menghirup dalam dalam aroma baju Calvin.
Laki laki gondrong itu nampak menggelengkan kepalanya.
"kalau lo mau, ambil tuh di kamar..! masih banyak..! gua baru beli kemarin..! pakai aja..!" ucap Calvin.
Digo yang masih lemas itupun berdecih.
"lu pikir gue nggak bisa beli ampe harus make sisa lo..?! sorry ye, gue bisa beli sendiri..!" ucap Digo.
Callvin berdecih.
" Ya udah, kalau nggak mau..! tapi kalau feeling gue sih mengatakan, kayaknya lu cocok pakai parfum yang ada di kamar gue..! gue yakin, besok lo pasti bakal datang kamar gue dan minta parfum gue yang ada di sana..!" ucap Calvin yakin kemudian berbalik badan dan pergi dari tempat itu.
...----------------...
Selamat malam
up 19:05
__ADS_1
Yuk, yang belum mampir, mampir dulu....