
seeeeetttt.....
.
.
.
buuuuuuuuuuggggghhhhh.. !!
Sebuah tangan besar tiba tiba saja menarik kerah jaket pria berkacamata hitam itu dari belakang, membuat pria itu pun reflek memutar badan nya.
Tanpa aba aba, sebuah kepalan tangan besar menghantam wajah tampan sang Diego. Pria itu terpelanting. Jatuh tersungkur ke lantai marmer bandara yang sudah mulai ramai dipadati calon penumpang pesawat terbang itu. Tentu saja, hal itu membuat semua mata pengunjung kini tertuju pada pria tersebut.
Digo mengusap ujung bibirnya. Darah mengucur dari sana. Membuat pria itupun nampak meringis dibuatnya.
"bangun kau , pahlawan..!"
Suara itu menggema. Diego mendongak. Dilihatnya disana seorang pria dewasa dengan pakaian serba hitam lengkap dengan jaket kulit nya nampak menatap tajam ke arah Diego yang terduduk di lantai bandara.
Ya, itu Calvin Alexander. Di belakang Calvin, nampak tiga orang berdiri menatap ke arah Diego tanpa ada yang bersedia menolong nya.
Ya, itu adalah Sam, Giselle, dan Ivan. Mereka datang bersama Calvin.
Sebenarnya ke empat manusia itu sudah berada di area bandara itu sejak subuh. Mereka yang mencari cari keberadaan Diego namun tak kunjung ketemu akhirnya memutuskan untuk menunggu laki laki itu di bandara. Toh Digo juga sudah mengatakan bahwa ia akan ke luar negeri.
Alhasil, di sinilah mereka sekarang. Mereka berhasil bertemu dengan sang Diego saat laki-laki itu hendak terbang ke negara tujuannya. Calvin yang sudah diliputi amarah sejak semalam pun tak bisa mengontrol emosinya manakala melihat sosok Diego yang berjalan tenang menyusuri bandar udara itu.
Ayah kandung Arini itu pun dengan langkah penuh emosi mendekati sang Diego. Tanpa basa-basi, ditariknya kerah jaket laki-laki itu lalu menghantam di pipi kanan pria tersebut dengan kepalan tangan besarnya.
Digo diam sambil memegangi ujung bibirnya yang mengeluarkan darah. Seorang petugas bandara yang hendak menolong justru di larang oleh Giselle. Ia seolah ingin melihat bagaimana cara Calvin memberi pelajaran pada adiknya itu. Karena jujur saja, sebagai seorang kakak ia juga sudah cukup lelah dengan segala ulah kekanak-kanakan yang Digo buat. Mungkin ini memang saatnya pria itu mendapatkan pembelajaran.
"bangun kau, membela kebenaran..!" ucap Calvin lagi dengan nada mengerikan.
Giselle, Sam, dan Ivan yang berada di belakang Calvin hanya diam menyaksikan kemarahan laki-laki berambut gondrong itu.
Diego bangkit. Dia mengangkat dagunya, menegakkan posisi berdirinya. Memasang mode angkuh seperti yang biasa ia tampilkan di depan sosok Calvin.
"Ada apa ini?" tanya laki-laki berkulit putih itu.
"mau ke mana kau, bed*bah..?!" tanya Calvin.
"apa urusan lu?! mau apa lu tiba-tiba datang dan memukul gue?! gue udah nggak punya urusan lagi ama lu..! lebih baik lu pergi sekarang..!!" ucap Diego seolah begitu malas berdebat dengan pria dewasa itu.
Calvin tak mau tinggal diam. Diayunkannya kaki kekar itu dua langkah maju mendekati Diego Membuat jarak diantara kedua pria itu kini nyaris tak bersisa. Lengan besar itu kembali meraih kerah jaket Diego. Ditariknya kain jeans itu, mendekatkan tubuh pria yang usianya lima tahun lebih muda daripadanya itu hingga menempel ke tubuhnya.
"lepasin gua b******..!" ucap Diego dengan gigi mengetat dan suara pelan penuh kemarahan. Diego menggerak kan tangan yang mendorong tubuh Calvin. Namun laki-laki itu tak bisa semudah itu untuk melepaskan cengkramannya atas jaket Digo.
"urusan di antara kita belum selesai, anj*ng..!" jawab Digo tak kalah mengerikan.
"mau apa lagi lu..?! mau apa lagi dari gua..?!!" tanya Diego.
"Aku butuh penjelasan mu atas air mata putriku..!" jawab Calvin.
Digo diam, lalu tersenyum sumbang.
"Gue udah bilang sama Arini. Gue akan menjauh dari dia...! gue akan mundur, demi lo, anak lo, dan calon istri lo..!!" ucap Diego tegas dan dingin dengan dada naik turun antara menahan sakit dan emosi.
Calvin diam. Ditatapnya wajah pria tampan itu dengan sorot mata penuh kekesalan. Ia benar-benar muak..! Laki-laki itu merasa bahwa dirinya paling benar tanpa mau mendengarkan penjelasan dari orang lain. Laki-laki itu seolah tidak sadar, betapa tolol dan bodohnya ia sebenarnya.
Calvin tersenyum sumbang. Dilepaskannya kerah jaket laki-laki itu dengan sedikit kasar. Dua pria dewasa beda usia itu lantas saling pandang dengan sorot mata tajam membunuh. Seolah ingin mengajak duel satu lawan satu.
Calvin menggerakkan tangan kekarnya lagi. Dirapikan nya jaket sang Diego yang sebenarnya tak berantakan itu. Diego pun menepis tangan tersebut dengan gerakan kasar. Seolah tak sudi bajunya disentuh oleh laki-laki berjambang lebat itu.
__ADS_1
"baik sekali ternyata kau, anak muda..!" ucap Calvin sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"kau sampai rela pergi menjauh ke luar negeri demi kebahagiaanku dan putriku.." tambah Calvin.
"hati mu sangat mulia, tapi sayang otakmu sangat bodoh..!" ucap Calvin kemudian.
Diego tak bergerak. Sorot matanya masih tajam membunuh ke arah Calvin.
"apa seumur hidupmu kau tidak pernah diajari bagaimana cara bertanya yang baik dan benar kepada orang lain? apa seumur hidupmu kau tidak pernah diajari bagaimana caranya berbicara baik baik dengan orang lain? apa seumur hidupmu kau tidak pernah tahu apa gunanya mulut yang berada di wajahmu itu?!!" tanya Calvin mulai menumpahkan segala emosinya.
"bukankah kau juga punya telinga? apakah kau juga tidak tahu bagaimana cara menggunakan telinga yang baik dan benar untuk mendengarkan penjelasan dari orang lain?" tanya Calvin lagi. Diego tak menjawab.
"aku sudah muak dengan segala kebodohan dan keangkuhan mu, Diego..! Aku ingin menyelesaikan semuanya sekarang juga..!" ucap Calvin.
"gue nggak ada waktu..! toh bagi gue diantara kita juga udah nggak ada masalah apa-apa lagi..! gue udah melupakan kesalahan lu di masa lalu. Dan gua udah nggak peduli lagi ama lu..! Terserah..! Jadi tolong, jangan halangi jalan gua..! Gua harus segera pergi. Pesawat gue udah mau berangkat sebentar lagi" jawab dia itu datar dan dingin. Diego berbalik. Namun Calvin tak tinggal diam.
Tangan Calvin tergerak menyentuh pundak Diego, berusaha menghalangi pergerakan laki-laki itu, namun Digo dengan segera menggerakkan pundaknya seolah menampik lengan kekar itu menyentuh tubuhnya.
Sorot matanya kembali menajam. Seorang ingin mengatakan 'jangan sentuh gue'...! Ia lantas kembali berbalik badan hendak maju satu langkah menjauhi Calvin. Namun....
seeeeetttt....
buuuuuuuuuuggggghhhhh....!!
Calvin kembali meraih pundak Diego. Dengan segera laki-laki itu pun menghantam kembali wajah sebelah kiri Diego menggunakan satu kepalan tangan kekarnya. Digo pun jatuh tersungkur.
Giselle memejamkan matanya. Sungguh, sebenarnya ia tidak tega melihat adiknya dipukuli seperti itu di depan banyak orang. Tapi mungkin menurutnya sesekali Digo perlu mendapatkan pelajaran demikian. Agar ia tahu bagaimana cara bersikap yang baik pada orang lain setelah ini. Sam yang menyadari raut wajah sedih dari Giselle itu pun dengan lembut meraih kepala janda cantik tersebut. Giselle membenamkan wajahnya di dada bidang Sam, seolah tidak tega melihat adiknya dipukul tepat di hadapannya.
Calvin mengangkat satu sudut bibirnya. Diraihnya lagi tubuh Diego yang tergambar itu dengan gerakan kasar lalu membenturkannya ke dinding.
"sebelum lu pergi, ada beberapa hal yang harus lu tahu...."
"gua datang ke sini juga bukan buat menghalangi kepergian lu. Mau lu pergi atau atau nggak, itu nggak ada pengaruh apapun buat kehidupan gua" ucap Calvin dingin.
"lepasin gue, bang**t...!" ucap Digo meronta. Namun Calvin seolah enggan melepaskan pria itu.
Digo nampak menahan emosi. Wajahnya merah padam. Sorot matanya menajam dengan dada naik turun.
"lu salah kalau lu bilang lu udah melupakan kesalahanku di masa lalu..! karena yang sebenarnya terjadi, itu tidak sama seperti apa yang lu pikirkan selama ini..! gua nggak salah..! gue nggak pernah membunuh istri gue sendiri...........!"
"justru yang terjadi adalah Steffi yang berusaha membunuh gua sebelum kejadian saat di kamar tidur kami..!" ucap Calvin.
Digo meradang..!
"ta* lu...! Steffy udah mati masih lu fitnah, anj*ng..!" ucap Diego.
Calvin terkekeh, namun terdengar sumbang.
"Lu terlalu polos, Go..! lu nggak tahu siapa perempuan yang lo cintai selama ini...! Kalau lu mau bukti, gua ada buktinya, di rumah gua..! Steffi selingkuh dengan banyak pria di belakang gua sebagai pelampiasan atas kekesalannya karena gua menafkahi Arini..! Anak kecil yang sekarang lu bikin nangis karena ulah lo...!" ucap Calvin.
"Apa gue salah kalau gue berniat untuk bertanggung jawab atas kesalahan gua sama ibunya Arini? memberikan nafkah gua sebagai seorang ayah kepada anak kandungnya? salah, Go?" tanya Calvin.
Digo diam tak menjawab.
"Gue tahu lu nggak akan secepat itu percaya sama gua..! lu pasti masih beranggapan kalau gua mengada mengada..! terserah...! yang pasti gue udah berusaha jujur ama lo..! gue cuma mau bilang, gak semua pemikiran lo itu yang paling benar..! lu juga perlu mendengarkan penjelasan orang lain untuk mendapatkan kepastian dan kebenaran yang sebenar benarnya.!" ucap Calvin tanpa merubah posisinya.
"bukan hanya tentang Steffi, tapi juga tentang Arini, gua, dan kakak lo...!" ucap Calvin.
"kalau bilang lu suka sama anak gue, gue nggak masalah..!"
".... asal lo tahu, sejak lu bilang lu suka sama anak gua, Arini nungguin lo di rumah kami..! harapannya besar untuk bisa melihat lu berdiri di depan pintu rumah kami, datang menemui gua dan dia dan meminta maaf secara langsung ke gua..! itu harapan anak gua...!"
".... gua terlalu sayang sama anak gua. Apapun yang bisa membuat dia bahagia gua akan dukung. Termasuk nungguin lu sekalipun..!" ucap Calvin pada Diego yang diam masih dengan dada naik turun.
__ADS_1
"gua pikir Setelah semua yang kejadian yang terjadi antara lu, gua, dan Arini, lu udah bisa berpikir sedikit dewasa..! Gua pikir lu akan datang ke rumah dan meminta maaf ke gue dengan cara baik baik..! dan semua akan kembali baik seperti yang seharusnya...!"
".... tapi ternyata gua salah..! lu ngilang...! anak gua bingung..! dia putus asa..! sampai pada akhirnya tadi malam dia nangis sejadi jadinya karena ulah lu
...!"
"..... Dia nangis bukan karena lu nggak nerima tantangan dia atau karena dia nggak bisa dapetin cinta lu...! bukan...! dia nangis karena dia merasa lu selalu mempermainkan perasaan dia...! dari awal dia datang ke kota ini lu udah mainin dia..! lu bohongin dia..! lu jauhin dia dari gua, bapak kandungnya..! setelah semua ketahuan, dia mencoba menata hatinya berdamai dengan keadaan tapi lu datang lagi..! ngemis-ngemis minta maaf..! setelah dimaafkan, lu deketin dia. Lu kasih dia harapan...! dia udah berharap...! dan sekarang lu mau ninggalin dia dengan kata-kata mutiara lo yang ta* anj*ng itu...! berlagak mau sok jadi pahlawan buat kakak dan keponakan lu..! Lu sadar nggak kalau lu udah nyakitin orang yang katanya lu sayang??!"
"emang bangs*t lu ya...!!!" ucap Calvin.
"lu merasa pemikiran lu yang paling benar..! lu merasa semua yang lu lakukan itu adalah sebuah pengorbanan..! lu merasa diri lu yang paling menderita..! yang paling sakit...! kont*l lu...!" umpat Calvin tak terkendali.
"gua nggak pernah ada hubungan apapun dengan Gisellle..! Karena semenjak kematian istri gua yang lu bilang gua yang bunuh, sejak saat itu gua nggak pernah punya niat untuk menikah lagi..! dengan siapapun dan dengan alasan apapun...!" ucap Calvin.
"karena apa? karena gua merasa gagal sebagai seorang laki-laki...! dua wanita menderita karena gua, itu udah cukup...! gua nggak mau ada wanita lain yang menderita karena gua...!"
"..... sekarang fokus gue adalah kebahagiaan Arini..! gue akan melakukan apapun demi anak gue..! agar dia bisa bahagia..!" ucap Calvin dengan sorot mata nanar memancarkan kesungguhan.
" jadi buat lu, berani lu macam-macam lagi ama anak gua... gue patahin leher lo...! gue nggak pernah main main ama ucapan gue...! inget itu..!" ucap Calvin.
Laki-laki itu lantas melepaskan cengkeramannya atas tubuh Diego dengan kasarnya. Pria empat puluh tahun itu lantas mundur setelah puas meluapkan emosi nya. Menjauh dari Diego yang kini nampak menunduk. Calvin berlalu pergi diikuti Ivan di belakangnya.
Seperginya Calvin,
Giselle mendekati sang adik. Diego yang mengalami luka memar di sisi kanan dan kiri bibirnya itu nampak mengangkat kepalanya.
"kak...." ucap Digo lirih.
Lalu.....
.
.
.
.
.
plaaaaakkkk.....!!
Giselle menampar pipi adik kesayangannya itu.
Sam mendekat. Menyentuh pundak Gisellle seolah berusaha untuk menenangkan janda cantik itu.
"mau sampai kapan kamu kayak gini, Go? kakak capek ngadepin kamu tau nggak..!" ucap wanita itu dengan mata mengembun.
Digo tak berani menjawab. Mereka masih menjadi pusat perhatian banyak pengunjung bandara itu.
"maaf..." ucap Digo lirih.
Giselle menggelengkan kepalanya. Ia sudah terlalu lelah ...!
"udah..! kakak capek..! terserah..! terserah kamu mau ngapain sekarang..! kayaknya kakak udah nggak bisa ngasih tau kamu..!" ucap wanita itu. Ia kemudian berbalik badan, dan selalu pergi meninggalkan tempat itu. Sam yang semula bingung ingin meninggalkan Digo atau membiarkan Giselle pergi sendiri itu akhirnya memilih untuk berlari mengikuti Giselle.
Giselle adalah seorang wanita, dia butuh ditenangkan. Biarkan saja Diego mengambil keputusannya sendiri.
...----------------...
Selamat sore,
up 14:16
__ADS_1
maaf ya, si bapak omongannya tanpa filter😁😁
yuk, kasih dukungan dulu 🥰🥰