My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 171


__ADS_3

Hari kembali berganti, semua berjalan seperti yang seharusnya.


Pembangunan kembali rumah sederhana milik Arini sudah mulai di lakukan. Arini, Calvin dan Diego pun tiap hari mendatangi lokasi bekas rumah itu guna memantau pekerjaan para pekerja yang semua adalah warga sekitar.


Calvin, ayah kandung Arini pun bahkan tak jarang ikut membantu para warga untuk mendirikan kembali rumah yang sempat rata dengan tanah itu. Berbeda dengan Diego yang lebih menyerahkan semuanya ke warga. Ia tak mau repot repot ikut membantu orang orang itu.


Sore ini, setelah pulang dari menengok perkembangan pembangunan rumah almarhumah nenek Ratmi. Calvin, Diego, dan Arini nampak kembali ke rumah mereka dengan berjalan kaki.


Ya, mereka memang selalu jalan kaki tiap kali ke rumah nenek. Lantaran pemandangan, udara serta suasana desa itu terlalu asri. Teramat sayang jika hanya dilewati dengan naik kendaraan bermotor.


Sepanjang perjalanan, tangan mulus wanita cantik itu tak lepas di genggam pria tampan berjambang tipis, suami tercintanya itu. Keduanya tak henti bercanda sambil bercerita ke sana kemari.


Sedangkan Calvin yang berada di belakang sepasang pengantin baru itu nampak berjalan dengan tenang. Sesekali ia nampak tersenyum, saat para warga sekitar terlihat menyapa ketiga manusia itu dengan ramah.


Ya, pandangan warga terhadap Arini kini bisa dikatakan sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Tak ada lagi kata kata merendahkan yang terdengar dari bibir mereka. Semua orang mulai segan pada wanita yang dulu selalu dipandang sebelah mata itu. Tentu saja, kehadiran dua pria mapan di samping Arini lah yang menjadi penyebabnya.


Apalagi suaminya. Pria itu rupanya mempunyai kuasa yang tak main main. Membuat para warga pun makin segan kepada keluarga itu.


Ketiga anak manusia itu sampai di rumah mereka. Arini berjalan terlebih dahulu. Membuka pintu rumah utama itu lalu masuk ke dalam nya.


"assalamualaikum...." ucap wanita itu saat memasuki rumah tak bertingkat tersebut.


Diego dan Calvin berjalan dibelakangnya. Calvin lantas mendudukkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu. Sedangkan Diego memilih untuk mengikuti langkah sang istri masuk ke dalam kamarnya.


Arini duduk di tepian ranjang sembari mengisi daya ponselnya disana. Sedangkan Diego, pria itu nampak menjatuhkan tubuhnya di samping sang istri. Dipeluknya pinggang ramping itu, lalu membenamkan wajahnya di pangkal pinggang wanita cantik berkulit putih tersebut.


Tak lupa, ia menggerak gerakkan kepalanya di sana. mendusel dusel dengan gerakan yang sedikit kasar saking gemasnya.


Arini menggeliat.


"daddy, ih..! kebiasaan...!" ucap Arini.

__ADS_1


Diego tak menjawab. Ia hanya terkekeh mendengar ucapan wanita cantik itu.


Diego menggerakkan tangannya. Mengusap usap lembut perut rata sang istri.


"baby...." ucap Digo.


"hmmm...." jawab Arini sembari memainkan ponselnya.


"kira kira dedek nya lagi apa ya?" tanya Digo.


Arini reflek menoleh ke arah sang suami. Lalu mundur, menjauhkan tubuhnya dari pria yang kini nampak mengulum senyum lucu itu.


"dedek, dedek..!! dedek siapa? nggak ada dedek dedek...!!" ucap Arini melotot.


"loh, kok gitu??" tanya Diego memancing perdebatan. Ingat kan, bahwa Arini belum siap punya anak jika belum berusia dua puluh satu tahun?


Itu masih berlaku hingga saat ini...!


"perjanjian apa? kan surat perjanjian nya udah jadi jus jeruk..!" ucap Digo menggoda.


"daddyyyy....!!!" Arini merengek sembari menghentak hentakkan kakinya ke lantai.


Diego tergelak.


"iya, iya, bercanda..! udah, sini...!" ucap laki laki itu lagi sembari merentangkan kedua tangannya, seolah meminta wanita itu untuk mendekat ke arahnya.


Arini pun kembali mendekat. Diego kembali memeluk tubuh mulus istrinya itu dengan hangat. Sesekali ia nampak menciumi pinggang ramping wanita cantik itu dengan lembut. Hingga tiba tiba...


ceklek....


pintu kamar terbuka tanpa diketuk. Membuat Diego dan Arini pun mendongak menatap ke arah pintu yang terbuka. Dilihatnya disana, Calvin sudah berdiri di balik pintu dengan mimik wajah datar khas seorang Calvin Alexander.

__ADS_1


"ck..! lu bisa nggak sih kalau mau masuk ketuk pintu dulu..?!" ucap Diego kesal.


"ada tamu nyari kalian.." ucap Calvin tanpa memperdulikan protes yang dilayangkan oleh menantu laki laki nya itu.


"siapa, pak?" tanya Arini.


Calvin tersenyum.


"lihat aja sendiri" ucap pria itu kemudian.


Diego dan Arini saling pandang untuk sejenak. Keduanya kemudian bangkit dari ranjang mereka, lalu berjalan menuju ruang tamu mengikuti langkah Callvin.


Arini terdiam


"mana orangnya?" tanya Arini saat melihat ruang tamu nampak kosong. Tak ada orang.


"mereka ada di luar" ucap Calvin.


"kenapa nggak disuruh masuk, pak?" tanya Arini yang kemudian berjalan keluar rumah diikuti sang suami di belakangnya.


Lalu.....


"Bu Tri.....??!"


...----------------...


Selamat pagi


up 05:35


yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰

__ADS_1


__ADS_2