My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 39


__ADS_3

Sementara itu ketika hari berganti,


saat siang menjelang di tempat yang berbeda...


Di sebuah bangunan yang merupakan studio pembuatan tatto dan piercing (tindik tubuh)...


Sebuah motor Harley Davidson hitam nampak berhenti di depan sebuah bangunan bernuansa putih kombinasi abu abu yang merupakan tempat usaha milik seorang pria dewasa keturunan salah satu keluarga konglomerat di kota itu. Sebuah motor besar yang dikendarai oleh seorang laki laki dewasa dengan jaket kulit, celana hitam robek di bagian lutut serta sebuah kacamata hitam yang membingkai netra tajamnya.


Pria dengan jambang lebat dan rambut gondrong nya itu nampak turun dari tunggangan besar beroda dua berharga fantastis itu. Berjalan memasuki tempat usaha miliknya yang ia tinggal sejak beberapa hari yang lalu dan ia titipkan pada seorang anak buah kepercayaannya..


Krriiiieeeeettt......


Pintu kaca bangunan itu terbuka.


"bang Ale...!" ucap seorang pria muda ber tindik bernama Ivan itu saat menyadari kedatangan sang atasan.


Pria itu, Calvin Alexander atau lebih sering di panggil Bang Ale oleh pelanggan dan teman teman serta anak buahnya itu nampak menatap datar ke arah Ivan tanpa menjawab. Ivan adalah satu dari tiga pekerjanya di studio tato itu. Selain Ivan ada Miko dan Anya yang juga merupakan pekerja disana.


"abang kok kesini? katanya ke kampung?" tanya Ivan.


"lu mau gue nginep di kampung berapa lama, Van?" tanya Calvin sambil melepas jaket kulitnya.


Ivan hanya cengengesan.


"gue cuma sehari di sana. Nggak dapet apa apa, ya udah gue pulang..!" ucap laki laki yang sudah meraih sabuk hitam dalam salah satu cabang bela diri kegemaran nya, taekwondo.


Ivan yang tengah sibuk menata beberapa tindik dalam etalase itu lantas menoleh ke arah sang bos.


"nggak dapet apa apa gimana, bang?" tanya Ivan.


Calvin meraih sebuah minuman kaleng berkadar alkohol rendah dari sebuah showcase yang berada di samping kursi tunggu tempat tersebut. Di bukanya minuman itu lalu di tenggak nya sambil mendudukkan tubuh tegap miliknya pada sebuah sofa panjang yang berada di sana.


"anak gue udah nggak ada di kampung..!" ucap Calvin.


"hah? kemana?" tanya Ivan.


"rumahnya kebakaran. Neneknya mati. Anak gue pergi ke kota nyariin gue hampir sebulan yang lalu. Dan sampai sekarang nggak ada kabar..!" ucap Calvin.


Ivan masih mendengar kan.


"terus?" tanya Ivan.


"ya sekarang gue nggak tau anak gue dimana...!" ucap Calvin.


"mati?" tanya Ivan.


"nggak tau..!" jawab Calvin sambil menenggak alkoholnya.


"tapi orang yang dulu gue percaya buat mantau anak gue bilang, katanya dia ngasih alamat rumah lama gue ke anak gue. Besar kemungkinan anak gue nyariin gue ke rumah itu..!" ucap Calvin lagi sambil kembali menenggak minuman beralkohol itu.


"terus kenapa Abang nggak nyari dia ke sana?" tanya Ivan.


Calvin diam.

__ADS_1


"rumah itu udah dibeli sama orang yang nggak suka ama gue" ucap Calvin.


Ivan diam.


"terus?" tanya pemuda dua puluh sembilan tahun bertubuh kurus dengan banyak tato di badannya itu.


Calvin menggelengkan kepalanya.


"nggak tahu gue..! mungkin nanti gue akan kesana. Toh dia juga udah dewasa. Kalau nggak nemuin gue disana dia pasti akan pergi dari situ.." ucap Calvin.


"Tapi kan anak lu cewek, bang. Ini ibukota. Kehidupan nya kejam. Bahaya, apa lagi kalau dia cantik..! wah, parah itu...! cari bang..! kasihan tuh anak lo..! lagian lu juga udah nggak punya siapa siapa..! dia anak lu juga walaupun sebenarnya lu nggak ngarepin..! bisa tuh lu tinggal berdua ama anak lo..! biar ada temennya lu, bang..!" ucap Ivan pada pria kaya mantan pengusaha yang kini lebih memilih menjadi tukang tatto itu.


Calvin menghela nafas panjang. Jujur saja ia malas jika harus ke rumah lamanya itu. Ia malas bertemu Diego si anak ingusan itu.


"namanya siapa sih, bang? umurnya berapa?" tanya Ivan lagi.


"namanya....siapa ya? gue lupa nama anak gue sendiri...! umurnya sih, kayaknya lulus SMA berapa sih.. tujuh belasan mungkin...!" ucap Calvin.


"lah, itu...! lagi mekar mekarnya itu...! cari, bang..! anak prawan..!" ucap Ivan.


Calvin tak menjawab. Ia hanya diam menatap lurus ke depan.


Ya, Calvin Alexander dengan sejuta lika-liku di kehidupan nya.


Terlahir dari keluarga kaya raya dan berada membuat Calvin tumbuh menjadi anak dengan segudang kemewahan dalam dirinya.


Ia tumbuh tanpa kekurangan suatu apapun dalam hal finansial. Namun tidak dengan kebebasan. Sebagai anak tunggal, ia di didik dan diarahkan oleh ayah dan ibunya sejak dini untuk menjadi penerus dan pemimpin perusahaan keluarga. Tuan Alexander dan istrinya selalu mendoktrin sang anak bahwa ia lah generasi penerus keluarga besar Alexander. Pewaris kerajaan bisnis yang sudah lama berdiri itu. Masa depan Calvin, mulai dari sekolah, pekerjaan hingga jodoh pun sudah di tentukan oleh kedua orang tuanya. Sebuah langkah yang tuan dan nyonya Alexander pikir akan membawakan kebahagiaan dan kesejahteraan bagi sang putra semata wayang.


Namun, rupanya itu tak sepenuhnya benar.


Calvin tidak sejalan dengan ayah dan ibunya. Ia tak suka jadi pengusaha. Ia lebih suka kebebasan. Hidup lepas dan bebas tanpa adanya embel embel nama besar yang harus ia jaga.


Calvin remaja bisa dibilang cukup keras dan pembangkang. Mabuk mabukan, bolos sekolah dan berbagai kenakalan yang lainnya sangat sering ia lakukan. Membuatnya begitu sering mendapatkan hukuman dari sang ayah. Hukumannya pun bukan main main. Tuan Alexander yang memang di kenal keras pun tak jarang memberikan hukuman fisik pada anak laki laki nya itu. Hal itu membuat Calvin pun harus berfikir ulang jika ingin melakukan kesalahan.


Singkatnya, saat dewasa Calvin di jodohkan dengan seorang wanita anak rekan bisnis ayahnya. Sebuah perjodohan yang berlatar belakang bisnis. Tanpa cinta baik dari Calvin maupun calon istrinya. Wanita itu cantik. Steffi namanya.


Sebuah hubungan yang sebenarnya tidak sehat pun terjalin. Calvin tidak sepenuhnya mencintai Steffi. Namun demi keluarga dan kebahagiaan orang tua, Calvin pun mencoba sebisa mungkin untuk mencintai wanita itu. Toh semua wanita rasanya sama, pikir Calvin kala itu. Terlebih lagi wanita itu juga ternyata perlahan mulai tergila gila dengan pesona Calvin Alexander yang dingin dan misterius.


Sebagai seorang laki laki, sebejaat bejaat nya Calvin sebagai pria brandalan, ia tetap memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Ia tak pernah bermain api dengan wanita lain selama menjalin hubungan dengan Steffi, mulai dari pacaran hingga menikah. Hanya wanita itu yang menjadi satu satunya pemilik sang Calvin Alexander. Walaupun hatinya masih 'setengah setengah' dalam mencintai Steffi. Namun laki laki itu sangat bertanggung jawab.


Hingga, pada suatu ketika musibah pun datang.


Calvin yang mabuk tanpa sengaja menjamah dengan paksa seorang pembantu rumah tangga hingga hamil.


Tak ada yang tahu hal itu selain ia dan sang pembantu.


Merasa kalut, takut ketahuan, dan tak mau hal ini menjadi masalah dikemudian hari, Calvin pun mengajak sang pembantu, Dewi, untuk bekerja sama.


Ia meminta Dewi untuk pulang. Ia memberikan uang dalam jumlah yang tak main main, lalu berjanji akan menafkahi wanita itu dan anak mereka nanti hingga dewasa. Ia tahu, keluarga wanita itu sedang terlilit hutang pada saat itu. Calvin menyatakan, mau seperti apapun kondisi Dewi, ia tak mungkin bisa menikahi wanita itu. Karena jodohnya sudah ditentukan oleh kedua orang tua Calvin. Dan apa yang Calvin tawarkan pada Dewi adalah sebagai bentuk tanggung jawabnya untuk Dewi dan calon buah hatinya.


Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya Dewi pun menyetujui nya. Dewi pun pulang ke kampung halaman dalam keadaan hamil dengan membawa sejumlah uang.


Calvin pikir semua masalah selesai. Dewi pergi. Ia tetap menafkahi wanita itu dan anak mereka. Bahkan saat Dewi sudah meninggal pun Calvin tetap tak lalai akan tanggung jawabnya.

__ADS_1


Semua berjalan dengan baik. Hingga pada suatu ketika, Steffi sang istri pun mengetahui semuanya.


Calvin sering mengirimkan uang untuk seorang pria bernama Yanto tiap tiga hingga empat bulan sekali. Selain itu ia juga memergoki beberapa pesan yang ia kirimkan untuk laki laki itu. Menanyakan kabar dari seorang bocah dengan menyebut nama Dewi.


Dan sialnya, dari beberapa pesan itu Steffi juga mengetahui bahwa rupanya Calvin pernah menghamili seorang perempuan bernama Dewi itu hingga hamil dan melahirkan seorang putri. Dan putri itulah yang rupanya selama ini menerima kucuran dana segar dari sang suami.


Steffi murka...!


ia tak terima. Tanggung jawab yang memang sudah seharusnya Calvin lakukan untuk putri kandungnya itu rupanya tak mendapat restu dari sang istri yang perlahan mulai dicintai oleh Calvin itu.


Pertikaian pun terjadi. Rumah tangga yang semula mulai berjalan harmonis meskipun belum di karuniai momongan itu kini menjadi carut marut. Konflik, pertengkaran dan percekcokan menjadi hal yang selalu terjadi dalam kehidupan rumah tangga mereka.


Hingga, pada suatu ketika Steffi di temukan tewas dalam kamar mandi.


Suatu hal yang sempat membuat gempar banyak orang. Semua terkejut. Tuan Alexander bahkan sampai mengalami serangan jantung dan tewas akibat kejadian itu. Lantaran karena kejadian itu, seorang pemuda diluar keluarga Alexander bernama Diego Calvin Hernandez murka. Mengambil kesimpulan bahwa Steffi mati di tangan Calvin. Ia juga membeberkan fakta tentang Calvin yang sudah menghamili seorang pembantu. Membuat semua terkejut oleh borok yang rupanya sudah bertahun tahun Calvin simpan rapat rapat itu.


Kematian itupun di usut polisi. Calvin bahkan sempat di tahan beberapa hari namun kembali dibebaskan lantaran tak ada bukti yang mengarah pada pembunuhan.


Semua kacau...!


Hubungan keluarga Alexander dan keluarga Steffi renggang. Tuan Alexander tewas. Nyonya Kimmy terus menyalahkan Calvin atas semua yang terjadi.


Calvin frustasi. Tatanan hidup yang sudah mulai baik tertata sebagai seorang tuan muda pewaris bisnis keluarga Alexander pun hancur berantakan.


Calvin kembali menjadi Calvin yang dulu. Urakan, suka kebebasan..!


Kinerjanya sebagai CEO muda terbengkalai. Disisi lain ada anak muda yang mengincar kehancurannya.


Singkatnya, Alexander bangkrut...! Kimmy stress..! Calvin mulai kehabisan uang. Sebagian aset dijual.


Laki laki itu lantas mendirikan sebuah tempat usaha studio tato dan piercing. Sebuah usaha yang identik dengan markas para brandalan namun lebih ia minati dari pada duduk dengan jas dan kemeja mewah sebagai seorang CEO.


Hingga kini, usaha itu masih kokoh berdiri sebagai ladangnya mencari rezeki. Hingga kini laki laki itu juga masih betah menduda. Ia sama sekali tak berfikir untuk menikah lagi.


Setelah kematian ibunda beberapa hari yang lalu, ia lantas terbang ke sebuah desa kecil di kota berhawa sejuk dan dingin, tempat kelahiran Dewi, pembantu yang pernah ia jamah. Niatnya ingin mencari keberadaan sang putri yang sudah lama tak ia nafkahi dan melihat kondisinya.


Namun sayang, rupanya gadis itu sudah satu bulan tak berada di kampung halamannya. Ia sudah pergi ke kota ini untuk mencari dirinya pasca musibah yang menimpa gadis malang itu.


Kini, sang putri berada satu kota dengannya. Namun ia tak tahu dimana bocah itu sekarang. Besar kemungkinan ia pernah menyambangi rumah lamanya. Rumah yang kini ditempati oleh bocah ingusan pembenci nya, Diego.


Calvin tak tau, apakah ia harus kerumah itu? karena jujur saja, ia sangat malas bertemu bocah ingusan yang bodoh dan labil itu.


.


Calvin Alexander 👇



...----------------...


Selamat pagi,


up 03:55

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰


__ADS_2