My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 26


__ADS_3

Malam makin larut...


Saat ini jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


Wanita cantik dengan gaun berwarna pink itu masih sibuk dengan kolam renang luas itu. Ia sudah sangat lelah. Harus nya malam ini ia sudah tidur nyenyak dengan kenyang setelah makan enak bersama Sam.


Tapi sekarang, gara gara ia telat pulang ia harus rela di hukum oleh sang ayah, membersihkan kolam renang luas itu malam malam seorang diri.


"Ya Allah, capeekkk....!!!" keluh Arini sembari melempar sebuah sikat di tangannya.


"tau gini aku tadi minta satu porsi lagi makanan buat di bawa pulang...!! jam segini bukannya tidur malah di suruh bersihin kolam..! untung bapakku..! coba kalau bukan, udah aku santet tuh orang...! " gerutu Arini kesal.


"ibuuuukkk....ibuk kok khilafnya ya kebangetan sih buuuk..! punya bapak satu aja modelan kayak begitu...!! anakmu lelah ibuuuuukkk....!!" rengek Arini sembari menggerakkan kakinya menendang nendang udara.


Sungguh, andai Digo bukanlah ayahnya yang wajib untuk ia hormati, maka sudah pasti akan dia ajak duel tuh manusia satu..!


Arini membuang nafas kasar. Diraihnya lagi sikat yang tadi di lemparkan nya. Wanita itu kembali membersihkan dasar kolam yang sudah di kuras itu.


"sabar, Rin. Ngerawat orang tua. Balesan nya surga..! Siapa tau ntar dapet warisan. Umur umur segitu kan emang lagi lucu lucunya. Paling juga bentar lagi kalau nggak kena kolesterol ya diabetes...! haduuuhh....nggak bisa ngebayangin deh...! sehat aja nyusahin apalagi penyakitan...!" ucap Arini menggerutu seorang diri seolah tengah menghibur dirinya sendiri.


"Ariniiii...e'ek ku...! Ariniii...pijitin...!! Arinii...tempelin koyo'...!! Arinii...Arinii...Arinii.... Ya Allah....!!!" ucap Arini seolah sambil membayangkan andai Diego penyakitan.


Tangannya terus bergerak menyikati dasar kolam yang luas itu.


Seutas senyuman getir lantas tersungging dari bibirnya.


"lama lama bukannya dapet pahala malah jadi banyak dosa aku disini...! tiap hari nyumpahin bapak ku mulu...! maap, ya, pak. Lain kali jangan ngeselin biar nggak di sumpahin anak...!" ucap Arini lagi.


Wanita itu terus bekerja. Agar secepatnya ia bisa beristirahat. Waktu tidurnya benar benar terganggu malam ini. Harusnya sekarang ia sudah terlelap. Untuk nanti kemudian bangun jam tiga pagi guna membersihkan rumah seluas istana ini sebelum berangkat bekerja.


Sungguh, Arini harus memperkuat fisik dan mentalnya selama tinggal bersama Digo.


Sementara Arini sibuk bermandikan keringat di dasar kolam renang yang cukup luas itu. Di sana, di sebuah ruangan televisi yang bersebelahan langsung dengan kolam renang luas itu.


Digo nampak begitu santainya merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang di depan televisi itu. Laki laki tiga puluh lima tahun itu nampak mengulum senyum kemenangan menyaksikan Arini yang begitu kelelahan karena hukuman yang ia berikan menjelang tengah malam ini.


Sembari menikmati sebatang rokok ditangan, Digo sibuk berbalas pesan dengan sang bawahan sekaligus sahabatnya, Samuel, menggunakan ponsel milik Arini pemberian dari duda satu anak itu.


"bangs*t, lu ngapain pake nomor Arini..! balikin buruan..!! gue beliin buat dia, tolol..!" tulis Sam dalam chat WhatsApp nya.

__ADS_1


"lu apain anak gue?! jangan macem macem lu...!" balas Diego.


"anak lu dari mana?!" balas Sam.


"dia anak gue..! buktinya dia nurut ama gue..!" jawab Digo.


"emang dasar setan lu ya..! awas aja lu ampe besok nih hp nggak lu balikin ama Arini. Gue bunuh lo..!" ucap Sam.


"pedo*il lo doyan ama bocah...!" tulis Digo.


"mata lu..!" balas Sam.


Digo terkekeh. Aksi berbalas pesan selesai. Digo dengan segera menghapus pesan pesan di ponsel baru Arini itu agar tak terbaca oleh gadis belia tersebut. Digo mengetuk ngetuk batang rokok ditangan nya dengan menggunakan salah satu jarinya guna merontokkan bagian ujung benda bernikotin yang telah terbakar itu.


Digo bangkit. Ia berjalan dengan tenang mendekati kolam renang. Laki laki itu lantas melongok, dilihatnya di sana si gadis kampung itu masih sibuk dengan kolam berukuran cukup luas tersebut sambil sesekali menggerutu.


Digo mengulum senyum kemenangan. Ia kemudian kembali ke dalam rumah. Merebahkan kembali tubuh tegapnya itu di atas sofa panjang di sana lalu mulai menyalakan televisi. Pertandingan gulat dan tinju adalah tontonan favoritnya. Laki laki itu nampak membiarkan televisi itu menyala. Namun tangannya masih sibuk dengan ponsel milik Arini. Mengotak atik ponsel itu namun tak ada yang menarik, lantaran memang masih baru.


Jam mulai bergerak, malam pun semakin larut. Tanpa sadar pria itu perlahan mulai memejamkan matanya di atas sofa panjang ruangan itu.


Tepat pukul sebelas malam,


Arini selesai dengan kolam renang. Kolam itu sudah bersih. Arini pun segera mengembalikan alat bersih bersih nya ke tempat yang seharusnya. Wanita itu kemudian masuk ke dalam rumah. Menutup pintu kaca yang menghubungkan ruang televisi dengan kolam renang do belakang rumah itu.


Arini pun hendak mendekati sang ayah yang berada di atas sofa panjang itu.


"daddy, Arin udah selesai" ucap wanita itu. Namun tak ada sahutan. Arini sedikit membungkuk mendekat kan wajahnya ke wajah sang ayah.


"yah, malah tidur disini..!" ucap Arini.


Arini menyentuh paha pria itu lalu menggoyang goyangkannya pelan.


"dad, daddy..! bangun, jangan tidur disini, dingin..!" ucap Arini.


Digo tak bergerak. Arini tak berani lagi membangunkan laki laki itu. Takut salah lagi. Takut kena marah lagi. Padahal saat ini udara cukup dingin.


Arini lantas memilih untuk pergi ke kamarnya. Mengganti bajunya dengan pakaian yang lebih kering serta mengambilkan selimut untuk ayahnya.


...****************...

__ADS_1


Tak berapa lama, putri kandung almarhumah Dewi itu sudah berganti pakaian. Dengan piyama daster berbahan satin setinggi lutut, Arini kembali masuk ke dalam rumah megah itu sambil membawa sebuah selimut yang tak terlalu tebal dari dalam kamarnya. Itu selimut satu satunya yang berada di kamarnya. Ia sengaja membawakan itu untuk menyelimuti tubuh sang ayah yang terlelap di atas sofa.


Ia tak berani untuk masuk ke dalam kamar sang ayah. Ia terlalu takut. Takut salah lagi. Takut kena marah lagi.


Arini kembali sampai di ruang TV. Digo masih terlelap disana. Sesekali dengkuran halus terdengar dari mulutnya.


Arini menoleh ke arah tv yang masih menyala. Benda canggih itu kini terlihat menampakkan sebuah siaran berita dengan tajuk "BREAKING NEWS: Kimmy Alexander Wafat"


Arini mengamati siaran berita itu sesaat. Seorang tokoh pembisnis berusia lanjut di beritakan meninggal malam ini. Tampak di layar kaca suasana duka di kediaman sang pembisnis yang kini di sorot awak media.


"innalilahi wa ilaihi Raji'un. Husnul khatimah ya, buk..." ucap Arini pelan. Meskipun ia tak tahu siapa yang meninggal itu.


Wanita itu kemudian meraih remote tv. Lalu mematikan kotak besar bergambar dan bersuara yang masih menyala itu.


Arini lantas membentangkan selimut nya. Menutupi tubuh tegap berbalut kaos oblong putih dan celana kolor hitam tersebut.


Wanita itu kemudian duduk di lantai. Melipat satu lengannya di sisi kosong sofa tepat di samping tubuh sang ayah yang terlelap tidur itu dan menggunakan nya sebagai penyangga kepalanya.


Arini tersenyum lembut. Ditatapnya wajah tampan yang terlihat begitu tenang itu.


Jika sedang tidur begini, ketampanan laki laki itu makin terpancar jelas. Tak terlihat wajah angkuh yang biasa ia tampilkan. Membuat Arini merasa nyaman memandangi wajah itu. Pantas saja dulu ibunya bisa terpikat pada laki laki ini. Orang gantengnya aja kek begini.


Arini menggerakkan satu tangannya yang bebas. Di sentuhnya ujung hidung laki laki itu. Lalu diusap usapnya lembut. Di tatapnya wajah itu seolah tak ingin menyia nyiakan kesempatan yang langka ini. Jika tidak dalam kondisi tidur begini, Digo pasti tak akan mau berdekat dekatan dengan Arini. Padahal Arini sangat merindukan sosok ini. Sosok yang sejak kecil sangat ingin ia temui. Lalu memeluknya dengan erat selayaknya seorang anak pada ayahnya.


Namun rupanya tak semudah itu. Ia baru bisa bertemu sang ayah saat usianya sudah delapan belas tahun. Saat sudah bertemu pun, ayahnya seolah begitu anti pati terhadap nya. Tak mau berdekatan dengannya apalagi sampai menyentuhnya.


Arini makin nyaman. Ia meringsut makin merapatkan tubuhnya pada sofa panjang itu. Ia lantas merebahkan kepalanya di salah satu sisi dada bidang Digo. Merasakan detak jantung laki laki yang ia kira sudah turut andil dalam membawanya melihat dunia itu. Sedangkan satu tangannya kini memeluk tubuh tegap yang terlelap itu.


Arini begitu menikmati momen ini. Sudah sangat lama ia merindukan saat saat seperti ini. Saat saat dimana ia bisa sedekat ini dengan sang ayah. Ia sangat ingin memeluk ayahnya, namun Digo seolah tak pernah sudi menyentuh Arini.


Arini masih nyaman tiduran dengan kepala di atas dada bidang Digo. Sedangkan tubuhnya terduduk di lantai. Jari jari sebelah tangan itu juga masih sibuk berkeliling wajah laki laki itu. Tanpa sadar, lambat laun, rasa kantuk pun mulai mendera.


Arini tertidur..!


Ia terlelap dalam posisi kepala di atas dada Digo. Satu tangannya memeluk tubuh pria itu sedangkan tubuhnya terduduk di atas lantai yang dingin.


...----------------...


Selamat pagi,

__ADS_1


up 02:47


yuk, dukungan dulu 🥰🥰


__ADS_2