
Malam menjelang. Saat jam menunjukkan pukul delapan malam.
Di sebuah rumah megah milik sang Diego...
Sebuah motor besar berwarna merah nampak berhenti di depan gerbang sebuah rumah megah milik laki laki tampan yang mengaku sebagai ayah kandung Arini Nindya Putri itu.
Seorang pemuda tampan berkulit putih nampak turun dari kendaraan roda dua nya itu. Melepas helm nya lalu mendekat ke arah pos satpam tempat di mana pak Asep sang security berjaga disana.
"permisi" ucap pemuda itu, Fajar.
Pak Asep yang tengah asyik ngopi malam di tengah tengah rintik hujan yang samar samar mengguyur bumi itupun menoleh kala mendengar suara dari bibir tipis pemuda tersebut.
"ya, dek..." ucap pak Asep.
Diamatinya pemuda tampan itu dari atas sampai bawah. Sepertinya ia pernah melihat pemuda ini, pikir pak Asep.
"saya Fajar, pak. Temennya Arini" ucap pemuda itu membuat pak Asep pun mengangkat dagunya seolah sudah berhasil kembali mengingat laki laki itu.
"oh, iya...! saya ingat sekarang..! kamu yang kesini dulu itu ya...?!" ucap Pak Asep.
"bener, pak" jawab Fajar sambil tersenyum.
"kamu ngapain malem malem datang kesini?" tanya pak Asep.
"saya mau cari Arini, pak. Arini nya ada nggak? soalnya dari kemarin dia nggak masuk kerja..." ucap anak muda itu.
"oh, non Arini. Ada, dek. Tapi dia lagi sakit. Dari kemarin" ucap pak Asep.
"oh, pantes dia nggak masuk kerja. Saya boleh ketemu nggak, pak. Saya pengen lihat kondisi dia" ucap Fajar.
Pak Asep nampak berfikir. Kalau saya sih boleh boleh aja, dek. Ya cuman, saya kan bukan bapaknya non Arini. Tanya sama tuan aja" ucap Pak Asep.
"ya udah, kalau gitu bukain, pak..." ucap Fajar.
"eem, gimana ya..." jawab pak Asep.
"lho, katanya saya disuruh tanya langsung sama bapaknya Arini, la kalau bapak nggak bukain gimana saya mau ngomongnya? masa iya saya di suruh teriak teriak kayak orang gila, pak?" ucap Fajar.
"iya juga sih..! ya udah kalau gitu, ayo masuk.." ucap Pak Asep sembari keluar dari posnya dan membukakan pintu untuk Fajar.
"kamu, malem malem, hujan hujan, dibelain datang kesini..! pacarnya Arini ya" ucap Pak Asep sembari membuka pintu gerbang.
"bukan, pak. Saya cuma temen SMP nya aja" ucap Fajar.
"affaah iyaaaahh...." ucap pak Asep meledek.
Fajar terkekeh.
"bapak bisa aja" ucap Fajar.
"bawa masuk aja motornya." ucap pak Asep.
"iya, pak"
pemuda itupun menyalakan mesin motornya. Membawa kendaraan roda dua itu mendekat ke arah teras rumah megah yang lebih tinggi kurang lebih empat anak tangga dari halaman luasnya.
Fajar melepas helmnya. Dengan jaket tebal membungkus tubuhnya, pemuda delapan belas tahun itu lantas berjalan menuju teras dan menekan bel rumah yang berada di sana.
ting...tong....ting...tong.....
ceklak.....
pintu terbuka.
Seorang pria berjambang tipis dengan balutan sweater biru dan celana panjang putih tulang nampak muncul dari balik pintu rumah ber cat putih itu.
Itu adalah ayah kandung Arini. Pria yang beberapa waktu lalu ia lihat begitu murka saat ia tengah berkunjung menemui Arini untuk mengajaknya bekerja.
Ya, itu ayahnya Arini yang super galak. Fajar jadi agak gugup berhadapan dengan laki laki itu.
Sedangkan Diego yang berdiri tepat di hadapan Fajar pun kini nampak menatap angkuh pemuda ingusan dihadapan nya.
Ia ingat betul siapa pemuda ini. Pemuda yang beberapa waktu lalu pernah datang kerumahnya menemui putri perawan nya. Pemuda ini juga yang Arini sebut sebagai teman SMP nya yang mengajak Arini bekerja.
Digo mengangkat dagunya angkuh. Mau apa bocah ingusan ini datang kemari malam malam? pikir Diego.
"malam, om" ucap Fajar mencoba ramah.
__ADS_1
Digo menatap datar dan terkesan angkuh ke arah pemuda itu.
"malam" jawab laki laki tiga puluh lima tahun itu sembari melipat kedua lengannya di depan dada.
"saya Fajar, om. Saya temennya Arini. " ucap pemuda itu se ramah mungkin. Namun Digo masih diam tak menjawab. Membuat Fajar sedikit kikuk dibuatnya.
"em, Arini nya ada, om? saya denger Arini sakit" ucap Fajar.
Digo mengangkat dagunya.
"ada, dia sedang istirahat" ucap Digo tenang dan terkesan dingin.
"boleh saya ketemu, om?" tanya Fajar.
"kau sudah tahu Arini sakit. Ini sudah malam. Dan kau minta bertemu dia? kau mau mengganggu istirahat nya?!" tanya Digo seolah mengisyaratkan ketidaksetujuan nya atas permintaan Fajar yang ingin menemui putrinya.
Fajar gelagapan. Nih bapak bapak satu galak amat ya? batin Fajar.
"em, bukan gitu, om. Mak, maksud saya..." ucap Fajar gugup.
"Arini sedang kurang sehat..! dia sedang istirahat..! lebih baik kau pulang..! ini sudah malam, karena aku juga mau istirahat..!" ucap Diego.
Fajar nampak menunduk.
Digo menatap angkuh ke arah pemuda itu.
"ada lagi yang ingin kau sampaikan?" tanya Diego.
Fajar gugup.
"oo, eng, nggak ada, om. Nanti saya titip salam aja sama Arin. Bilangin sama Arin kalau saya kesini gitu aja. Soalnya dari kemarin saya WhatsApp nggak masuk pesannya.." ucap Fajar.
"hmmm..." jawab pria itu tanpa ekspresi.
Fajar makin celingukan. Gini amat orang bertamu.
"ya udah, om. Kalau gitu, saya pamit dulu. Udah malem" ucap Fajar.
"hmmm.." jawab Diego lagi.
"em, assalamualaikum, om"
Fajar pun berlalu pergi dari tempat itu. Niatannya bertemu Arini gagal karena ayah kandung yang super mengerikan itu. Diego menatap datar kepergian pemuda itu. Gini amat rasanya punya anak perawan..! banyak sekali laki laki yang coba mendekati anak gadisnya itu..!
Diego pun menutup pintu utama dan menguncinya. Ia lantas berjalan menuju ruang televisi dimana sang putri tengah berada di sana menikmati aneka buah buahan segar yang ia belikan tadi.
Arini menoleh kearah sang ayah yang kini mendudukkan tubuhnya di atas sofa panjang yang Arini duduki itu. Laki laki itu lantas meraih remote tv. Mengganti acara komedi yang sedang ditonton Arini itu dengan acara gulat favoritnya.
"siapa, dad?" tanya Arini.
Digo menoleh.
"banyak tanya...!" jawab laki laki itu ketus.
Arini menghela nafas panjang. Gadis itu kembali melahap sebutir anggur di tangan nya.
Digo melirik ke arah piring tempat dimana aneka buah tersaji itu. Semula piring itu penuh buah buahan. Kini hanya tersisa beberapa potong apel saja. Semua sudah ludes dilahap Arini.
"makan mu banyak sekali?" tanya Diego.
"mumpung sakit, dad. Kalau aku sakit daddy jadi baik. Makanan nya banyak, enak enak, dibeliin buah, di ijinin tidur di kamar tamu...." ucap Arini.
Digo menatap malas ke arah gadis itu.
"sakit aja terus..!" ucap Digo.
Arini mengangkat satu sudut bibirnya sembari menatap kesal ke arah sang ayah.
"boleh kayak gitu, dad..! masak anaknya di suruh sakit terus...!" ucap Arini.
Digo hanya mengangkat satu sudut bibirnya sambil kembali fokus pada siaran televisi yang kini di tonton nya.
Arini melirik ke arah sang ayah.
"em, daddy....." ucap Arini ragu ragu.
"hmmm..." jawab laki laki itu.
"Arin kan udah sembuh, jadi besok Arin boleh ya kerja lagi..." ucap Arini meminta izin.
Digo terdiam. Ia lantas menoleh kearah sang putri dengan raut wajah garang dan sorot mata tajam.
__ADS_1
"kau itu sakit karena kelelahan...! baru juga sembuh, kau sudah minta izin mau kerja lagi?! apa kau tidak bisa diam di rumah sebentar saja...?!!" tanya Digo.
"Arin udah sehat kok. Kalau kelamaan kerja Arin bisa dipecat..!" ucap Arini.
"itu lebih baik..!"
"ih, kok gitu sih?! daddy........" rengek Arini. Gadis itu kini bahkan meringsut kan tubuhnya ke tubuh daddy nya sambil meraih lengan pria itu dan menggoyang goyangkan nya.
Digo pin menoleh.
"dengar ya, Arini. Daddy sudah pernah bilang, daddy nggak suka kamu kerja di resto itu..! kamu harus tetap di rumah..! bantuin bik Sumi..! titik...!!" ucap Digo tegas.
"Arin juga butuh pegangan, dad" ucap Arini.
"pegang aja pak Asep...!" ucap Digo santai.
"ih, daddy....! nggak lucu...!!" rengek Arini bak anak kecil.
Gadis itu memasang mode memelas nya. Bibirnya mengerucut. Kakinya sesekali di hentakkan ke lantai. Wanita itu kini bahkan menggerakkan tangannya menarik narik ujung sweater Diego, membuat laki laki itu seketika menoleh ke arah nya.
"apasih?!!" tanya Digo kesal.
"kerja..." cicit Arini.
Diego hanya berdecak kesal.
"nggak...!!!" jawab Diego tegas.
Arini mengerucut lagi. Sweater pun di tarik lagi.
"Arini..!!!!" ucap Digo dengan suara meninggi.
Arini tak peduli. Ia makin mengerucut, bahkan matanya nampak mengembun dengan cairan bening melapisi netra bulatnya. Makin terlihat indah di mata laki laki yang tengah berusaha memasang mode galak itu.
Tolonglah, makhluk di hadapannya ini terlalu menggemaskan. Ingin sekali rasanya ia menerkam habis gadis lucu, eh menyebalkan ini...!!
"pengen kerja.." rengek Arini lagi dengan suara lirih seolah ingin menangis.
Digo mencoba tak menggubris.
"kerja..." rengek Arini.
Digo masih tak bereaksi.
"hiks...daddyyyyy........" rengek wanita itu lagi. Sweater itu seolah sudah molor saking terus ditarik tarik oleh gadis belia itu.
Digo tetap tak bergerak.
"daaaaaaaaaaaaaddddd..........."
"ck..!" ucap Digo berdecak kesal sembari menarik sweater nya menjauh dari tangan Arini. Gadis itu kembali mengembun dengan bibir mengerucut.
"menyusahkan...! terserah...! kerja aja sana..! tapi awas kalau kau sampai sakit lagi..! ku lempar kau ke dukun beranak...!" ancam Diego dengan raut wajah kesal
Arini pun mulai berbinar. Ia mengusap setitik lelehan cairan air mata di pipinya itu. Sebuah senyuman lebar terbentuk dari bibirnya. Wanita itu lantas dengan gerakan cepat menabrakkan tubuhnya pada tubuh ayah kandungnya itu. Memeluknya erat tanpa izin saking bahagianya.
Diego yang kaget dengan aksi tiba tiba Arini itupun nampak mematung. Wanita itu memeluknya begitu erat. Membuat jantung Diego seolah berhenti berdetak untuk beberapa saat.
"makasih, daddy...!!" ucap Arini sambil terus mengeratkan pelukannya.
Diego mematung. Ia tak bergerak bak orang bodoh yang tiba tiba kaku tak bisa berkata kata. Makin mematung lagi manakala dengan tanpa dosa gadis itu menangkup wajah pria yang katanya ayah kandungnya itu. Mendekat kan wajah keduanya sambil menyunggingkan senyum semanis mungkin.
"makasih daddy, Ya Allah ganteng banget bapak ku..!!" ucap Arini kegirangan. Saking senangnya, andai bisa ia ingin sekali memutar kepala pria itu 180 derajat 🤭😁
Digo makin terlihat bodoh. Diam tak bergerak. Seolah tak menyangka betapa brutal nya anak perawan nya ini jika sedang bahagia.
"ya udah, kalau gitu Arin ke kamar dulu, ya. Arin mau istirahat biar besok pagi Arin bisa bangun cepet buat bantuin bik Sumi. Oke, daddy??!!" tanya Arini dengan wajah cantik yang terlihat begitu menggemaskan. Diego hanya mengangguk tak berucap.
Arini menggerakkan kedua tangannya. Mencubit kedua belah pipi pria itu dengan gemas lalu bangkit dari sofa itu.
Arini pun berlalu pergi. Ia mengayunkan kakinya menuju kamar tamu meninggalkan Diego masih mematung.
...----------------...
Selamat sore...
up 16:02
yuk, dukungan dulu 🥰🥰
__ADS_1