My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 81


__ADS_3

Hari berganti....


Pria berjambang lebat dengan rambut gondrong itu perlahan membuka matanya. Sinar mentari mulai naik. Cahayanya yang terang menerpa wajahnya melalui kaca jendela, membuat pria dengan rambut gondrong yang tergerai itu kimi perlahan mulai membuka matanya.


Sebuah botol bir tergeletak di sampingnya. Pria yang terkapar dalam kondisi bertelanjang dada di atas ranjang itu perlahan mengubah posisi tubuhnya yang semula tengkurap kini tidur terlentang menatap langit langit kamar yang nampak berantakan itu.


Calvin mengedarkan pandangannya ke segala arah. Dilihatnya jam dinding. Sudah jam sepuluh pagi. Pantas saja sinar matahari sudah begitu terik. Membuatnya merasa silau hingga terbangun dari tidur panjangnya.


Calvin menoleh ke kanan dan ke kiri. Lalu memejamkan matanya, seolah tengah berusaha mengumpulkan niatnya untuk sekedar bangkit dari tempat tidur dan memulai aktifitas. Kepala masih terasa berat. Pengaruh alkohol yang semalam ditenggaknya sepertinya masih bereaksi dalam tubuhnya.


Pria empat puluh tahun itu lantas bangkit dari ranjangnya dengan malas. Dibukanya pintu kamar itu lalu berjalan keluar dari ruangan pribadi miliknya tersebut.


Calvin mengedarkan pandangannya ke segala arah. Rumah yang kondisinya sudah jauh lebih rapi dari dibandingkan beberapa hari yang lalu itu nampak sepi. Tak ada tanda tanda kehidupan disana.


Calvin yang masih sedikit pusing itu kini nampak berjalan mendekati salah satu kamar tamu di lantai dua yang nampak tertutup pintunya.


Itu adalah kamar yang Arini tempati. Semalam seperti nya gadis itu marah padanya. Sampai sampai banyak piring pecah karena dimasukkan ke tong sampah.


Calvin menatap pintu itu, berniat untuk mengetuknya namun ia tahan. Entahlah, ia masih merasa kaku untuk berinteraksi dengan Arini.


Laki laki itu lantas memilih untuk turun ke lantai bawah. Menuju dapur untuk mengambil minum guna membasahi tenggorokan nya yang kering.


Calvin diam.


Meja makan kosong. Tak ada satu makanan pun disana. Arini dan pak Yanto juga tak terlihat. Kemana mereka? Calvin segera mengambil air minum lalu menenggaknya. Ia lantas kembali ke lantai dua dan menuju kamar yang biasa pak Yanto tempati.


tok..tok..tok...


pintu diketuk...


"pak.." ucap Calvin. Namun tak ada sahutan.


Tok..tok..tok...


diketuk lagi...


"pak Yanto.."


masih tak ada sahutan. Ia pun lantas membuka pintu kamar itu.


kosong! tak ada orang! kemana pria itu? pikir Calvin.


Calvin menutup kembali pintu kamar itu. Ia kemudian mendekati kamar Arini yang tertutup.


Tok..tok..tok...


"Arini..." ucap pria itu. Lagi, tak ada sahutan.


Tok..tok..tok...

__ADS_1


Diketuk lagi. Nama Arini disebut lagi. Tapi lagi lagi, tak ada sahutan.


ceklek ...


Calvin membuka pintu kamar itu. Pemandangan yang terlihat pertama kali oleh matanya adalah rapi dan bersih. Semua tertata indah. Ruangan itu juga tercium harum.


Calvin masuk ke dalam ruangan itu. Kosong, tak ada siapapun disana. Calvin melangkah masuk. Diamatinya seluruh penjuru ruangan. Ia lantas mendudukan tubuh nya di sisi ranjang yang tak terlalu luas itu.


drrrt... drrrrt..


suara ponsel bergetar terdengar disana. Calvin celingukan. Sepertinya suara itu dari dalam laci nakas.


Pria berjambang lebat itu lantas membuka satu persatu laci nakas putih itu. Dan benar saja, sebuah benda pipih dengan soft case berwarna hijau tosca nampak menyala, menampilkan sebuah panggilan telepon dari seseorang bernama Sam.


Calvin berniat hendak mengangkat panggilan telepon itu, namun belum sempat ia mengusap tombol hijau disana, panggilan sudah berhenti.


Calvin membuka ponsel tanpa password itu. Fokusnya langsung tertuju pada wallpaper ponsel yang menampilkan wajah Diego. Dibukanya aplikasi WhatsApp. Hanya ada empat kontak ponsel disana dengan nama Fajar, Pak Asep, Om Sam dan Daddy.


Calvin membuka room chat nya dengan kontak bernama Daddy yang ia yakini adalah Diego itu. Lagi lagi, wajah Diego terpampang jelas disana.


Ternyata Arini sudah memblokir nomor itu. Calvin menelisik perpesanan diantara mereka sebelum sebelumnya. Ada ratusan pesan dan panggilan dari Diego yang tak Arini balas. Sepertinya gadis itu benar benar kecewa dengan laki laki itu. Calvin terus menggeser layar makin naik untuk melihat perpesanan mereka.


Hingga, fokus matanya tertuju pada sebuah pesan yang Arini kirim beberapa menit sebelum ia diseret ke kantor polisi dua hari yang lalu.


"daddy, jangan lupa makan siang" tulis Arini.


"oke..." jawab Digo.


"bosen liat kamu" jawab pria itu.


"dih..!"


"ya udah, Arin mau antar pesanan dulu, daddy semangat kerjanya ya..."


"iya, kamu hati hati. Jangan ngebut ngebut kalau bawa motor"


"dan nggak usah ganjen jadi anak kecil..!"


"apaan🙄"


"udah, kerja gih. Sampai ketemu nanti sore" ucap Digo lagi.


"oke, daddy.."


Calvin mengangkat satu sudut bibirnya. Sepertinya gadis ini cukup dekat dengan Diego. Entah apa yang sudah terjadi diantara mereka selama berbulan bulan lamanya.


Calvin kembali mengotak atik ponsel tersebut. Membuka galeri ponsel, tak banyak gambar ataupun vidio. Gambar dan vidio didominasi wajah Diego. Mulai foto saat makan, bekerja, tidur, dan lain-lain. Kebanyakan semua diambil secara diam diam.


Calvin kembali mengotak atik benda itu lagi. Kali ini menuju sebuah aplikasi bernama buku harian.

__ADS_1


Calvin membuka aplikasi itu. Lagi, gambar wajah Diego tertera disana. Namun kini sedikit berbeda. Itu adalah sebuah foto selfie. Antara Arini dan Diego. Menampilkan sebuah senyuman lebar kearah kamera dengan pipi yang saling menempel.


"hai, ibuk,


hai, nenek..


Selamat pagi...


Ibuk, nenek, hari ini Arini ulang tahun. Arini udah sembilan belas tahun sekarang.


Ibuk, terima kasih udah mengandung dan melahirkan Arin ke dunia ini sembilan belas tahun lalu. Terimakasih udah bertahan dan memberikan kesempatan anak ini untuk bisa melihat keindahan dunia, meskipun keadaan waktu itu mungkin sangat berat bagi ibuk.


Ibuk, anak cantik ibuk ini udah bahagia sekarang. Arin udah ketemu sama daddy. Daddy baik banget, buk, sekarang. Daddy sayang banget sama Arin. Walaupun dulu daddy sempet jahat dan judes sama Arin. Tapi sekarang daddy udah mulai berubah.


Ibuk tau nggak,


semenjak aku sakit, daddy jadi perhatian banget sama aku. Daddy jadi lebih lembut sekarang. Nggak kayak dulu lagi.


Semalem aku juga ngelewatin pergantian usia aku sama daddy. Kita makan malam berdua. Trus tidur pas udah hampir jam dua. Kita ngobrol panjang lebar.


Hari ini, daddy janji sama aku, daddy mau beliin kue dan hadiah buat aku sepulang kerja nanti. Aku seneng banget, buk. Ini ulang tahun terindah buat aku.


Seumur hidup aku, aku selalu punya cita cita, pengen ngerasain ngerayain ulang tahun sama orang tua aku. Kayak temen temen aku di kampung. Dan hari ini, daddy mau wujudin keinginan aku itu.


Arin bersyukur banget, buk. Daddy bener bener baik. Dia selalu bisa jadi pelindung aku sekarang.


Udah ya buk, Arin nulis nya subuh subuh loh ini. Nggak bisa tidur soalnya, nggak sabar pengen cepet cepet sore dan ngerayain ulang tahun aku sama daddy. Hehehe...


Udah ya, buk. Arin mau sholat subuh dulu. Mau doain ibuk. Semoga ibuk disana juga bahagia, sama seperti yang Arin rasain sekarang.


Arini sayang ibuk..."


Calvin merasakan sesak saat itu juga.


Sungguh, batinnya kini berkecamuk. Di satu sisi ia merasa bersalah. Betapa gadis itu sangat merindukan figur seorang ayah. Terlihat jelas dari tulisan yang baru saja ia baca. Namun disisi lain, ada rasa tak terima yang laki laki itu rasakan. Entah apa saja yang sudah Digo lakukan pada gadis itu selama hampir tiga bulan mereka tinggal bersama.


Baik baik kah Arini selama bersama laki laki itu..? tidak berlaku kurang ajar kah Diego pada putrinya?


Arini begitu bahagia tinggal bersama Diego. Hal itu justru membuat Calvin merasa tak terima. Kebahagiaan yang Diego berikan hanyalah kepalsuan. Laki laki itu hanya mempermainkan perasaan putrinya. Bersikap baik pada Arini hanya untuk membohongi gadis itu.


Calvin menatap nanar ke arah depan. Diremasnya benda pipih itu. Entah bagaimana perasaan laki laki itu kini. Ada rasa bersalah, namun juga ada rasa tak terima.


Calvin menghela nafas panjang. Ia kembali celingukan. Lalu kemana perginya Arini sekarang? kenapa ia tidak ada dirumah?


...----------------...


Selamat sore


up 17:37

__ADS_1


udah crazy up nih, yuk, banyakin dukungan dulu 🥰😘


__ADS_2