My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 51


__ADS_3

Kriieeet......


daaaaaaaggggggghhhhh.....


Glenca dan Arini kaget. Keduanya nampak menoleh ke arah sumber suara. Begitu pula dengan para pengunjung dan karyawan restoran itu. Semua terlonjak kaget, bahkan ada yang reflek berteriak dan latah. Seorang pria berpakaian preman tiba tiba masuk ke dalam resto. Membuka pintu kaca itu, menghampiri dua wanita yang kini tengah menjadi pusat perhatian tersebut dengan langkah lebar dan cepat lalu menendang meja kayu yang berada di samping mereka dengan cukup keras.


Tentu saja hal itu menyita perhatian semua makhluk yang berada disana. Semua kaget. Tak terkecuali dua pria beda usia yang sejak tadi hanya duduk mengamati Arini yang dimaki maki.


"itu kan................. Calvin?!" ucap Sam terperangah. Ia lantas menoleh ke arah Diego. Laki laki itu nampak menatap tajam ke arah dua manusia yang sebenarnya sedarah itu. Sorot mata Digo terlihat mengerikan.


Calvin berdiri di samping Arini.


"om..." ucap gadis belia itu sembari menatap penuh tanya ke arah pria yang baru saja mengantar nya ke restoran ini.


Calvin tak menjawab. Ia meraih pundak Arini, lalu merangkulnya. Sesuatu yang membuat Arini terdiam. Ia mendongak, menatap wajah laki laki yang postur tubuhnya jauh lebih tinggi dan besar di banding dirinya itu dengan mulut yang terbuka.


"siapa anda?" tanya Glenca tak suka.


"apa maki maki karyawan didepan banyak orang termasuk hiburan yang lo sajikan di restoran lo?!" tanya laki laki itu.


Glenca menyipitkan matanya. Ia terlihat tidak suka.


Arini tak bergerak. Ia terus mendongak menatap wajah pria berewokan itu dengan sorot mata yang, entahlah...sulit untuk dijabarkan.


"maksud anda apa?! saya nggak ada urusan sama anda..!" ucap Glenca.


"sebagai seorang yang berharta dan terpelajar, nggak seharusnya lu maki maki karyawan lu di depan banyak orang. Mempermalukan dia di muka umum. Lu pikir apa yang lu lakuin itu bagus banget? keren banget...?? gue rasa sebagian pengunjung resto ini pun nggak akan setuju dengan apa yang lu lakuin...!! karena mereka datang kesini buat makan, bukan buat denger bac*tan lu...!!" ucap Calvin.


"anda sebaik nya nggak perlu ikut campur..! dia karyawan saya...! dia salah...! dan saya menegur dia...!!" ucap Glenca.

__ADS_1


"apa di resto ini nggak ada istilah memanusiakan manusia?! kalaupun dia salah, apa perlu lu maki maki di depan pengunjung lo..?! jadi tontonan banyak orang kayak gini...! apa nggak ada istilah privasi di tempat ini?!! lu nggak punya ruangan pribadi?! lu tolol apa emang polos..?!! lu liat, dia anak kecil, penampilan nya aja udah awut awutan...! dia lari larian dari pagi, dari rumahnya buat sampai sini karena nggak ada kendaraan...!! salah ya salah, tapi cara lu negur dia, itu lebih salah...!!! pake ngata ngatain ta* anj*nk segala...!" ucap Calvin lantang membuat Glenca terdiam.


Laki laki itu terlihat tegas. Suaranya menggelegar. Terlebih lagi penampilan nya yang terlihat begitu sangar, membuat Glenca pun menciut dibuatnya.


Arini tak bergerak. Ia yang dirangkul pundaknya oleh Calvin sejak tadi hanya fokus pada wajah laki laki itu. Ia bahkan tak mendengar perdebatan yang terjadi antara Calvin dan Glenca. Ia hanya fokus pada laki laki itu.


Arini mendongak, memiringkan kepalanya. Ada sesuatu yang teramat sangat berbeda. Entah seperti apa itu, seolah begitu sulit untuk di jelaskan dengan kata kata.


Arini terlihat kagum.Ia sejak tadi tak bergerak. Bahkan kini satu tangannya tanpa sadar bergerak menyentuh dada bidang dengan bongkahan besar yang tertutup kaos abu abu itu. Ada sebuah kenyamanan dan ketenangan yang ia rasakan saat ia berdekatan dengan laki laki itu. Terlebih lagi saat posisi seperti ini. Arini seolah memiliki tembok yang begitu kokoh untuk berlindung.


Diego mengepalkan tangannya di mejanya. Dadanya bergemuruh. Ini teramat sangat bahaya bagi dirinya. Ia sudah berusaha sebisa mungkin menjauhkan Arini dari Calvin. Mulai dari menyembunyikan nya, menutup mulut bik Sumi agar tak menceritakan tentang masa lalu penghuni terdahulu rumah tempat tinggal nya, serta meminta pak Asep untuk berjaga jaga dan mengatur jawaban satpam rumah itu jika suatu saat Calvin datang ke rumah nya dan menanyakan perihal gadis yang datang ke tempat itu kurang lebih satu bulan yang lalu.


Semua sudah Digo setting sedemikian rupa agar Calvin tak bisa mengendus keberadaan Arini.


Tapi kenapa sekarang kedua manusia itu malah saling bertemu?!


Calvin bahkan mendekap erat tubuh anak perawan nya itu. Dan lebih menyebalkan lagi, Arini terlihat begitu menikmati posisi itu. Membuat Digo makin bergemuruh. Andai tak ada rahasia yang harus ia tutupi rapat rapat, ia pasti sudah bangkit dan menarik tubuh Arini menjauh dari laki laki musuh bebuyutan nya itu.


Glenca terlihat mengedarkan pandangannya. ke seluruh pengunjung resto. Kini ia dan dua manusia di hadapannya itu tengah jadi pusat perhatian banyak khalayak. Caranya menegur Arini memang salah, meskipun itu semua memang berawal dari keteledoran Arini. Tapi ya sudahlah. Ada manusia mengerikan di hadapan Glenca. Ia tak mau kalau sampai laki laki berpenampilan brandalan itu nekat dan berbuat yang aneh aneh di restonya.


Wanita bermata sipit dan kulit putih itu lantas menetralkan ekspresi nya.


"baik, saya minta maaf. Saya kelepasan..!" ucap Glenca kemudian.


Calvin mengangkat dagunya.


"Arini, masuk, ganti baju kamu...! abis ini antar pesanan...!" ucap Glenca membuat Arini seketika itu juga tersadar dari lamunannya.


Calvin melepaskan dekapannya pada Arini. Gadis itu pun nampak menetralkan ekspresi nya.

__ADS_1


"oh, iya, mbak..." jawab Arini sopan.


Arini mendongak, melirik lagi kearah Calvin yang masih terlihat garang.


"om, makasih ya.." ucap Arini pelan setengah berbisik.


Calvin menatap gadis itu. Lalu tersenyum tenang. Arini mengulum senyum manisnya. Lalu mengangkat tangannya rendah di depan dada dan melambaikan tangannya samar samar.


Lucu sekali gadis ini, batin Calvin.


Arini kemudian berlalu. Setengah berlari menuju loker karyawan untuk mengambil seragam dan mengganti baju.


Calvin yang sudah memastikan Arini selamat dari amukan bosnya itupun lantas menatap angkuh ke arah wanita bermata sipit itu. Ia lantas berbalik badan sembari mengedarkan pandangannya mengamati para tamu disana. Seolah ingin memastikan, bahwa tidak ada satu manusia pun yang menggunjing gadis lucu itu. Semua pengunjung terlihat menunduk takut. Laki laki itu sangat menyeramkan.


Hingga,


fokus mata Calvin tertuju pada satu sosok disana. Seorang pria matang dengan jas mahal membalut tubuh tegapnya. Ia nampak duduk di salah satu bangku di restoran itu dengan sorot mata tajam membunuh.


Kedua netra itu saling bertemu.


Keduanya bak dua singa jantan yang seolah ingin saling menerkam satu sama lain.


Cukup lama aksi saling pandang itu terjadi. Hingga kemudian Calvin berbalik badan, meninggalkan tempat itu, menuju motor besar tunggangan nya dan berlalu pergi dari tempat tersebut.


...----------------...


Selamat pagi,


up 06:30

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰🥰


__ADS_2