My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 88


__ADS_3

Sementara itu di sebuah kantin rumah sakit....



Pria tampan yang menyandang status sebagai duda muda itu kini nampak asyik menikmati santap siangnya yang tertunda.


Sejak pagi ia belum beranjak dari rumah sakit itu. Masih setia menunggu seorang pria yang tanpa ia ketahui rupanya sudah tersadar dari pingsannya. Sedangkan Giselle, wanita itu sudah pulang sejak siang tadi. Wanita yang sebentar lagi akan resmi menyandang status janda itu memang kini cukup sibuk.


Sebagai calon single parent, wanita itu kini mulai membuka butik sebagai tempat usaha barunya. Selain itu ia juga harus mengurus dua putra putri tanggung jawabnya, sedangkan di rumah juga ada ayahnya yang kondisinya juga sudah tidak lagi sehat. Tentu saja hal ini membuat Giselle begitu sibuk. Terlebih lagi kini Digo juga membuat drama dengan masuk rumah sakit. Membuat wanita itu makin tak punya waktu untuk sekedar istirahat. Namun beruntung, ada Sam yang bersedia menggantikan nya menemani Diego di rumah sakit. Sehingga kini ia bisa pergi sejenak untuk mengurus pekerjaan nya yang lain. Mereka juga sudah membuat janji sebelumnya. Untuk pergi ke masjid tempat dimana Digo ditemukan tergeletak nanti malam. Giselle ingin melihat rekaman cctv yang ada di sana. Agar bisa mengetahui siapa orang yang sudah tega membuat Diego sampai terluka parah dan masuk rumah sakit seperti saat ini.


Sam masih asyik dengan santap siang nya, sambil sebelah tangannya sibuk memainkan ponselnya. Mengirimkan direct message kepada seorang wanita muda yang baru saja dikenalnya melalui aplikasi Instagram.


Yah, begitulah Sam. Ia tidak akan bisa tahan untuk menggoda dan tebar pesona pada wanita wanita cantik yang ia kenal. Duda satu itu memang begitu menggilai daun muda.


Sam nampak tersenyum senyum mengamati ponselnya. Hingga tiba tiba ..


sreeeeetttt.....


Seseorang mendekat. Seorang pria bertato dengan beberapa tindik di tubuhnya datang menyeret kursi di samping Sam lalu duduk di sana.


Sam diam. Diamatinya penampilan pria itu dari atas sampai bawah. Dari tampilannya sih sepertinya ini adalah teman Calvin, batin Sam.


"siang, bang" ucap pria berbadan kurus dengan kulit coklat itu, Ivan.


"siang.." jawab Sam tenang sembari mengamati penampilan laki laki itu dari atas sampai bawah.


"bang, abang temennya laki laki yang tadi pagi masuk IGD kan?" tanya Ivan.


"ya..." jawab Sam sembari meletakkan ponselnya.


"bang, gue mau ngomong empat mata ama lu. Tapi, gue mohon, lu kalau bisa bantu gue ya. Ini soal temen abang" ucap Ivan.


Sam memicingkan matanya dengan kepala yang sedikit miring.

__ADS_1


"maksud lo?" tanya Sam.


Ivan menarik nafas panjang.


"bang Ale yang gebukin temen lo..!" ucap Ivan.


Sam masih diam dengan mata menyipit seolah mencerna ucapan pria itu.


"bang Ale?" tanya Sam.


"iya, bang Ale. Bos gue. Calvin Alexander" ucap Ivan kemudian.


Sam mengangkat dagunya. Sebenarnya Sam memang sudah tahu tentang hal itu. Tentu saja dari Diego. Duda tampan itu lantas menghela nafas panjang...


"terus apa yang mau lo omongin?" tanya laki laki itu lagi.


Ivan melipat kedua lengannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada Sam.


"ini soal anaknya bang Ale yang dulu pernah tinggal ama temen lo" ucap pria itu.


Ivan pun mulai bercerita. Menceritakan tentang kehidupan Calvin sebelum bertemu dengan Arini. Tentang Calvin yang dulu pernah berusaha mencari Arini ke kampung halaman gadis itu setelah meninggal nya nyonya Alexander. Pertemuan Calvin dengan Arini yang kala itu belum saling mengetahui jika keduanya adalah sepasang ayah dan anak. Momen saat rahasia Diego terbongkar dan Arini pulang ke rumah Calvin. Perlakuan Calvin pada Arini setelah mereka tinggal satu atap. Kurangnya kasih sayang yang Calvin berikan. Sampai pada saat dimana Calvin melihat Arini tidur di teras masjid, dimana ada Diego disana yang nampak mondar mandir.


Calvin yang tengah dalam kondisi mabuk pun mendekati Diego hingga terjadilah perkelahian. Sedangkan disisi lain, Arini yang seolah menjadi bahan rebutan dan perdebatan justru pergi menjauhi dua pria itu. Hingga pada akhirnya Arini menjadi korban tabrak lari laly dibawa ke rumah sakit ini.


Ivan menceritakan apa yang ia tahu se detail mungkin pada pria itu. Satu tujuannya. Ia ingin laki laki itu membujuk Diego dan kakaknya agar tak membawa kasus ini ke meja hukum.


Bukan apa apa. Ia lebih ke kasihan pada Arini. Gadis itu sudah terlalu menderita sejak kecil. Setelah kecelakaan yang menimpanya, Calvin seolah mulai terbuka matanya. Laki laki itu sepertinya sangat menyesal. Hal itu membuat Ivan tergugah, untuk mempertahankan hal positif tersebut. Ia tak mau karena niatan Giselle membawa masalah ini ke polisi membuat Arini lagi lagi gagal mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah.


Sudah cukup berjuang dan bertahan yang selama ini Arini lakukan. Gadis itu berhak bahagia sekarang.


Sam menghela nafas panjang. Ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kantin rumah sakit itu.


"jadi, apa tujuan lo nyeritain ini ke gue..? lo mau nyelametin Calvin dari jerat hukum? gitu?" tanya Sam.

__ADS_1


"penjara buat orang yang gebukin orang lain tuh berapa tahun sih? paling juga setahun dua tahun..! penjara segitu nggak akan merubah apapun..! itu bukan hal berarti buat bang Ale..!" ucap Ivan.


Sam masih diam mendengarkan.


"gue ngelakuin ini lebih karena gue kasihan ama Arini." ucap Ivan lagi.


"dia terlalu sayang sama bapaknya. Gue nggak bisa bayangin, gimana sedihnya anak itu kalau sampai saat nanti dia sadar bapaknya udah nggak ada. Dipenjara..! lu bayangin, bang..! gimana sedihnya dia nanti..!" ucap Ivan.


"tapi kan Calvin emang salah..! dia gebukin Digo..! padahal Digo semaleman jagain Arini di masjid itu..!" ucap Sam.


"trus apa kabar sama Digo yang udah bohongin dan menyembunyikan Arini dari bapak nya selam berbulan bulan?! itu bukannya juga bisa dikasusin ya?!" tanya Ivan lagi.


Sam diam.


"nggak ada yang bener di antara dua laki laki itu, bang..! mereka sama sama salah..! mereka menunjukkan cinta dan sayang mereka sama perempuan tapi dengan ego dan pemikiran mereka sendiri. Mereka nggak mikirin nasib Arini kedepannya." ucap Ivan.


"bisa nggak sih, daripada kita main lapor, mending kita ketemuin mereka saat Arini dan temen lo nanti sadar. Kita pertemukan mereka di satu tempat, sama kakak nya Digo sekalian. Kita berdua dampingin mereka, dan kita ajak mereka ngobrol dari hati ke hati. Biar semua jelas, dan nggak ada salah paham dan permusuhan lagi diantara mereka"


"gue tau lu orangnya lebih dewasa dari temen lo itu, bang. Makanya gue mau ngajakin lo. Biar masalah ini bisa cepet selesai. Gue nggak ada maksud lain. Gue cuma mau, Arini bahagia..! udah itu aja..! se bangs*t bangs*t nya gue, gue juga kasihan ama anak itu. Nyesek banget idupnya. Mana polo banget lagi...!" ucap Ivan.


Sam menghela nafas panjang.


"oke..! gue akan coba bantu lo. Gue akan bicara ama Giselle setelah ini" ucap Sam.


Ivan mengangguk.


"oke..! makasih, bang" ucap Ivan. Sam hanya mengangguk sambil tersenyum simpul.


"ya udah, kalau gitu gue mau balik dulu. Gue harus ke studio tato soalnya" ucap laki laki itu. Sam mengangguk. Keduanya pun berpisah.


...----------------...


Selamat siang menjelang sore

__ADS_1


up 15:17


yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰


__ADS_2