
Hari berganti,
Semua berjalan seperti biasanya. Di sebuah bangunan tinggi, perusahaan milik keluarga Alexander yang kini di pimpin oleh seorang Diego Calvin Hernandez, aktivitas perkantoran berjalan dengan semestinya.
Kesibukan dan lalu lalang para manusia baik karyawan maupun tamu perusahaan nampak sudah mulai berkurang. Sebagian karyawan sudah kembali ke rumah masing masing lantaran kini jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Hanya ada beberapa orang saja yang masih berada di dalam bangunan itu guna menyelesaikan beberapa pekerjaan mereka yang belum selesai.
Ting...
pintu lift terbuka.
Seorang pria tampan berpostur tinggi keluar dari dalam kotak besi raksasa itu. Ya, itu adalah Diego..! Laki laki yang beberapa hari ini terlihat lebih banyak diam itu baru saja menyelesaikan pekerjaan nya di bangunan tinggi itu.
Berjalan seorang diri, pria matang itu nampak mengayunkan kakinya menuju lahan parkir tempat dimana mobil mewah miliknya berada. Laki laki mapan itu lantas masuk kedalam nya, menyalakan mesin, lalu melajukan kendaraan roda empat itu menembus jalan raya yang sudah mulai terlihat lengang dan basah akibat rintik hujan yang mengguyur bumi sejak sore hingga kini.
Diego menggerakkan tangan nya, memutar musik di sana untuk memecah suasana sunyi yang kini ia rasakan didalam tunggangan berharga fantastis miliknya.
Mobil melaju dengan kecepatan yang cukup sedang. Meskipun musik mengalun memanjakan telinga namun nyatanya hati dan bibir pria itu tetap saja tak menampakkan kegembiraan.
Diego dengan sejuta masalah dan pikiran rumit yang berkecamuk di otaknya itu hanya diam dengan wajah datar. Seolah raganya berada di sana, namun tidak dengan pikirannya. Mobil itu terus melaju dengan pria galau itu sebagai pengemudi nya. Hingga tiba tiba....
tiiiiiiiinnnnn......
ciiiiiiiiiiiiitttttttt.......
Diego tersentak. Dengan gerakan cepat ia menginjak rem, menghentikan laju mobilnya dengan gerakan spontan. Sebuah motor trail membunyikan klaksonnya, lalu menyalip mobil miliknya dengan tiba tiba dari arah belakang kemudian berhenti mendadak tepat di depan kendaraan roda empat nya itu, seolah menghadang nya.
Diego kaget. Ia nampak melotot..!
Sebuah motor trail berwarna pink kombinasi hitam berhenti dalam posisi melintang jalan tepat di depan mobil itu.
Laki laki itu diam. Ia hafal betul motor itu. Itu adalah motor milik gadis cantik yang telah berhasil membuatnya gila dan galau selama beberapa waktu terakhir semenjak kepergian nya dari istana megah sang Diego.
Ya, itu Arini..! Anak Calvin Alexander...!
Gadis itu nampak mematikan mesin motor tersebut. Melepas helm full face pink nya lalu turun dari sana. Berdiri dengan berani menatap ke arah sang Diego yang masih duduk di dalam mobilnya. Sorot matanya tajam, raut wajahnya tak bersahabat, sembari tangannya menenteng helm pink nya dan punggung menggendong ransel hitamnya.
"turun..!!!" ucap gadis itu berani seolah menantang laki laki yang hanya diam tak bergerak di dalam sana.
Diego menatap datar gadis itu. Laki laki itu kemudian turun, menutup pintu mobilnya lalu berdiri dengan kedua tangan di masukkan kedalam saku celananya.
Jangan tanya bagaimana perasaan pria itu.
Menjauh untuk berfikir selama berhari hari sudah pasti membuat rindu di hatinya tak terbendung lagi. Ingin rasanya ia merentangkan kedua tangannya, berlari dan memeluk gadis manis kesayangan nya itu. Namun lagi lagi ia urungkan.
Ingatkan, Arini adalah calon keponakannya. Maka mungkin dari sekarang, ia harus berusaha untuk belajar melupakan dan menjauhi gadis cantik itu. Ia harus belajar memupus rasa cintanya pada gadis itu. Karena mungkin cepat atau lambat, takdir juga akan bergerak memisahkan keduanya.
Sementara Arini, gadis itu nampak menatap jengkel ke arah kumbang tua yang labil itu. Berhari hari tak ada kabar. Ditunggu datang ke rumah juga tak muncul muncul. Kalau memang tidak mau berjuang untuknya kenapa harus bilang sayang segala?!! khaann syebeeeelll....!! pikir Arini
"kemana aja?" tanya gadis itu dengan wajah kesal.
Diego diam. Lalu mengangkat dagunya dan mengedipkan matanya beberapa kali seolah ingin menyembunyikan kesedihannya.
"maaf, aku sibuk.." ucapnya.
Arini tertawa sumbang.
"nyerah?" tanya gadis itu kesal namun mata nampak mengembun.
Diego tak menjawab.
__ADS_1
"cemen..!" ucap Arini lagi. Rintik hujan turun makin intens. Membasahi pipi mulus itu, bersamaan dengan tetesan setitik air mata yang jatuh tanpa permisi.
"punya mata kan..?! tau kan kalau aku anak orang yang kamu benci..? kalau emang dari awal kamu nggak mau nerima bapakku kenapa harus deketin aku lagi?!!" tanya Arini meluapkan kekesalannya.
Diego tak bergerak.
"kalau emang nggak bisa nurunin ego kamu kenapa harus bilang sayang sama aku..?!" imbuh gadis itu lagi.
Diego masih mematung.
"sakit tau nggak dibohongin terus..!!!" Gadis itu mulai menangis. Sungguh, ia lelah. Ia merasa Diego seolah mempermainkan perasaan nya. Bahkan sejak dulu, saat mereka masih tinggal bersama.
"aku juga punya perasaan..!!!" ucap gadis itu sembari melempar helm nya tepat mengenai tubuh Diego lalu jatuh membentur aspal.
"aku udah jauh dari kamu, kamu cari cari..! giliran sekarang aku mulai berharap sama kamu, kamu nya ngilang..?!!"
"aku nungguin..!! hiks...! capeeekk...!!!" rengek Arini sembari mengusap air matanya yang bercampur air hujan.
Laki laki itu nampak sesak mendengarnya.
"maaf.." Diego berucap lirih.
buuuuuuuuuuggggghhhhh...
"NGGAK USAH MINTA MAAF...!!" teriak gadis itu sembari dengan cepat melepas ranselnya dan kembali melemparkannya ke arah Diego seolah ingin melampiaskan kekesalannya.
"dari dulu juga kamu sama aja..!! kamu emang nggak pernah bisa serius..! omongan kamu nggak ada yang bisa dipegang..!! kalau emang kamu nggak mau berjuang buat aku ngapain ngasih harapan buat aku..! udah bener bener dulu kamu jauh..! ngapain dateng lagi kalau cuma buat dipermainin..!!" ucap gadis itu seolah benar benar muak.
Arini melepaskan sneaker putihnya, lalu melemparkannya ke arah Diego secara bergantian.
"dasar orang tua..!! plin plan..! nggak punya pendirian..!! nggak tau diri..! nyebelin..! sintingg..!!!" teriak gadis itu frustasi sembari menghentak hentakkan kakinya yang sudah tanpa alas itu ke tanah.
Arini menangis sesenggukan. Ia benar benar kesal dengan pria itu.
Diego berdiri di samping Arini. Menatap lurus kedepan, sedangkan Arini yang berada di sampingnya kini juga berdiri namun menatap ke arah yang berlawanan.
"mungkin memang kita bukan jodoh, baby" ucap laki laki itu.
Arini reflek menoleh.
Diego mengubah posisi tubuhnya, kini saling berhadapan dengan gadis belia itu.
"ada orang lain yang sedang berusaha masuk dalam kehidupan kamu dan ayahmu" ucap laki laki itu.
Arini memiringkan kepalanya.
"kebahagiaan dia lebih penting." tambah pria itu.
Arini membuka mulutnya sembari menggerakkan kepalanya samar, seolah tak mengerti dengan apa yang laki laki itu katakan.
Diego menggerakkan tangannya. Menangkup kepala sang gadis, lalu mengusap usap lembut pipi mulus itu menggunakan ibu jarinya.
"maaf, aku terlalu lemah sebagai seorang laki laki. Beberapa hari aku sedang berfikir, tapi saat aku mencoba memantapkan hati ku untuk menemui kamu, rupanya Tuhan menjawab dengan sebuah pemandangan yang cukup membuat ku sadar" ucap Diego.
"aku terlalu pengecut untuk kamu. Meskipun aku selalu berusaha untuk melindungi kamu, tapi sepertinya aku belum cukup mampu membuat kamu bahagia"
"aku minta maaf, sudah hadir dalam kehidupan kamu. Yang hanya bisa membuat kamu menangis dan sakit hati.." ucap Diego.
"ada orang yang lebih bisa membahagiakan kamu meskipun bukan sebagai pasangan."
"Aku minta maaf, sayang. Aku nggak bisa melanjutkan ini. Aku memilih untuk mundur.." ucap laki laki itu.
__ADS_1
Arini banjir lagi. Sungguh, ia tak mengerti dengan apa yang laki laki itu bicarakan.
Siapa yang dia maksud? kenapa? ada apa? mengapa ia harus mundur??
"kita akan bertemu lagi, tapi mungkin dalam hubungan yang berbeda. Aku sayang kamu, Arini" ucap Diego tulus yang justru membuat gadis itu makin muak.
"ta*..!" ucap gadis itu pelan namun penuh amarah.
"ngomong apa sih kamu?! maksudnya apa..?!" tanya Arini. Setitik air mata Diego turun ditengah derasnya tetesan air hujan.
"kamu emang lemah..! kamu emang pengecut..! kamu cuma bikin alesan yang nggak masuk akal..! kamu emang dari awal cuma mau mempermainkan aku, kan?! karena dendam kamu?! iya?! kamu sengaja bikin aku kayak gini biar kamu puas?! iya, kan?!! ini semua emang udah rencana kamu dari awal, udah..! sok baik, sok nyesel, sok minta maaf..! trus abis itu ya kaya gini..! kamu cuma mau mainin aku doang...!" .
Diego menggelengkan kepalanya samar sembari tangannya mencoba menenangkan sang gadis.
"nggak, nggak gitu, baby...."
"jahat kamu..!" ucap Arini pilu sembari menepis tangan Diego.
Diego menggerakkan tangannya lagi, berniat menyentuh pundak gadis itu.
"baby..........."
"Jangan pegang pegang..!!!" pekik Arini sembari memundurkan tubuhnya. Air matanya tak terbendung.
Kedua anak manusia itu saling pandang satu sama lain. Air mata keduanya menetes di tengah hujan. Matanya merah. Dadanya bergetar hebat dengan rasa sesak didalamnya.
Sungguh, keduanya sama sama sakit. Keduanya sama-sama terluka. Digo tak pernah menginginkan perpisahan ini. Apalagi Arini. Ia benci dengan sikap Diego yang seolah-olah hanya mempermainkan perasaannya. Jahat sekali..!
Arini mengusap lelehan air mata nya. Menarik nafas panjang mencoba menetralkan emosinya yang menggebu-gebu.
"oke...! kalau itu mau kamu..!" ucap gadis itu.
"pergi.. pergi yang jauh..!! nggak usah muncul lagi di depan muka aku..!" ucap gadis itu pelan namun memilukan.
"terimakasih, sudah memberi warna yang begitu kelam dalam kehidupan aku. Nggak usah ngomong suatu saat kita akan ketemu lagi,nggak usah..! karena mulai hari ini, aku akan melupakan semua tentang kamu..! aku nggak akan mau lagi ketemu sama kamu...!! sampai kapanpun..!!" ucap gadis itu dengan dada yang seolah terasa begitu sakit.
Arini meraih tas dan helmnya, lalu mengenakannya. Sedangkan sepatunya ia ikat di dua ujung tali ranselnya, kiri dan kanan.
Gadis itu sesekali mengusap lelehan air matanya. Dengan cepat ia pun naik ke atas motornya. Menyalakan mesin motor itu lalu berlalu pergi dari tempat tersebut. Menembus hujan. Dengan kecepatan tinggi bak angin topan sambil menangis tersedu sedu sepanjang perjalanan.
Diego diam tak bergerak. Ia menatap nanar kepergian gadis itu dengan air mata.
"pergi, sayang. Aku juga akan pergi. Aku juga berdoa semoga Tuhan tidak mempertemukan kita lagi. Karena jika sampai kita bertemu, tapi dengan status kita yang baru sebagai satu keluarga, itu akan sangat jauh lebih menyakitkan daripada pertemuan kita yang sekarang" ucap Diego.
"maaf atas semuanya. Aku sayang kamu" ucap pria itu pilu.
Diego memejamkan matanya ditengah hujan yang makin lebat mengguyur bumi. Pria itu hancur sehancurnya. Dua kali ia mengenal cinta yang benar benar cinta, namun semuanya berujung pilu.
Dulu cintanya dipisahkan oleh pernikahan lalu kematian. Dan kini, cintanya terpisah oleh kebahagiaan yang harus rela ia berikan untuk Giselle sang kakak tersayang dan dua keponakan nya.
Sakit. Tapi mungkin memang itu pilihan terbaik. Ia lebih memilih untuk mengalah. Ia lebih memilih untuk melihat kakak dan dua keponakan nya bahagia daripada mementingkan egonya.
Toh Gisellle juga sosok ibu yang baik bagi Arini. Digo yakin kakaknya itu bisa memberikan kebahagiaan untuk gadis kesayangannya walaupun bukan sebagai pasangan. Tak seperti dirinya, jangankan untuk membahagiakan, bertemu dengan ayah kandung Arini saja ia masih ragu-ragu.
Semenjak Arini bertemu dengannya yang ada hanya sakit hati dan air mata yang wanita yang didapatkan. Diego sadar, ia tak bisa membahagiakan gadis kecilnya itu.
...----------------...
Selamat pagi menjelang siang
up 10:40
__ADS_1
yukz dukungan dulu 🥰😘