My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 38


__ADS_3

"baby......"


suara itu berhasil membuat Arini menoleh ke arah sumber suara.


Dilihatnya disana, seorang pria matang dengan wajah berjambang nampak berdiri menghadap wanita itu. Ia nampak menyunggingkan senyum termanisnya.


"om...." ucap Arini.


Sam menyunggingkan senyuman khasnya. Ia melangkah. Mendekat kan diri ke arah gadis belia berkulit putih itu.


"kamu sudah sembuh, baby?" tanya Sam sambil mencoba menyentuh kening Arini, namun wanita itu mengelak.


"hehe, udah, om.." ucap Arini.


"syukurlah kalau begitu. Aku khawatir banget kemarin denger kamu sakit.." ucap Sam.


Arini hanya tersenyum sambil nyengir.


"oh ya, kamu mau sarapan? ya udah, sini aku temenin. Duduklah..." ucap Sam sambil membimbing Arini untuk duduk kembali di mejanya. Arini sebenarnya ingin menolak. Mengingat ia kini tengah berniat untuk mencari daddy nya lalu melancarkan protesnya atas banyaknya makanan yang kini tersaji di meja makan. Namun seperti biasa, Sam tak mengizinkan. Duda pecinta daun muda itu membimbing Arini untuk duduk. Lalu menuangkan nasi dan lauk ke piring gadis belia itu.


"om, tadi disuruh nungguin daddy kalau mau makan" ucap Arini.


"ck..! udah, baby..! daddy kamu lama..!" ucap Sam.


"ntar daddy marah.." ucap Arini.


"aku yang tanggung..!" ucap Sam.


Arini hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Sam terus melanjutkan aksinya mengisi piring itu dengan nasi dan lauk, mengabaikan Diego yang belum turun dari kamarnya.


"kamu harus banyak makan makanan kayak gini, baby. Biar kamu cepet sehat. Biar tenaga kamu cepet kembali pulih. Aku kasihan banget loh liat kamu kemarin. Lemes, pucet kayak gitu" ucap Sam tanpa menghentikan pergerakan nya.


Hingga tiba tiba......


"eeeehhhmm...!"


suara itu berhasil membuat Sam dan Arini menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"daddy..." ucap Arini.


Dilihatnya disana Diego berdiri dengan sorot mata tajam. Menatap ke arah Arini dan Sam bergantian.


"Go..! sarapan, Go...! lu nggak ngantor?" tanya Sam sambil mendudukkan tubuhnya di samping kursi yang Arini tempati.


Diego tak menjawab. Wajahnya terlihat dingin dengan sorot mata tajam dan bibir tanpa senyuman. Laki laki itu mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi yang biasa ia tempati. Ditatapnya Arini yang nampak menunduk di samping Sam itu dengan wajah dingin. Ia tak suka bawahannya itu dekat dekat dengan putrinya. Dasar duda mesum...! batin Digo berucap.


Sam tak menggubris keberadaan Diego. Laki laki itu kini bahkan mulai meraih sendok yang berada di atas piring Arini.


"kamu harus banyak makan, baby. Sini biar aku suapin..." ucap Sam sambil mulai menyendok makanan di atas piring Arini. Gadis itupun secepatnya menolak.


"enggak, nggak usah, om. Arin makan sendiri aja..." ucap Arini sambil sedikit menjauh dari laki laki disampingnya itu.


"nggak apa apa. Makan dulu. Biar aku suapin. Kamu harus makan yang banyak. Yuk..aaaaa'....!" ucap Sam sambil mengarahkan sendok berisi nasi dan lauk itu ke mulut gadis belia tersebut.


Digo makin bersungut di kursinya. Arini menolak. Sam tetap memaksa. Hingga....


"eeeehhhmm....!!" ucap Diego kembali berdehem.


Arini nampak gugup. Mungkin dia akan salah lagi.


"daddy mu mau makan, sayang" ucap Diego dingin tanpa bergerak.


Arini menatap piring di hadapan sang ayah. Masih kosong...!


"o...i, i, iya, dad" ucap Arini gugup. Wanita itupun lantas bangkit. Sam menyipitkan matanya melihat adegan itu.


Arini mendekati sang ayah. Mulai melayani laki laki itu dengan menyendok kan nasi dan lauk pauknya ke atas piring yang berada tepat di hadapan pria itu.


Mata tajam sang Diego tak lepas menatap wajah cantik di hadapannya. Wajah yang kemarin hampir saja di cumbuunya tanpa permisi. Wajah cantik alami yang kian hari justru terlihat kian menggoda di mata Diego. Seutas senyuman pun kembali terbentuk dari bibir pria itu. Sesuatu yang dapat ditangkap oleh mata tajam Samuel.


Arini selesai dengan aksi melayani sang ayah. Gadis itu lantas kembali duduk di kursinya. Sam kembali mengangkat sendok itu.


"A, Arin makan sendiri aja, om. Arin masih bisa makan sendiri kok. Beneran....." ucap Arini.


Sam tersenyum.

__ADS_1


"oke. Baiklah kalau begitu. Tapi kamu harus makan yang banyak ya..." ucap Sam perhatian.


Arini mengangguk sambil tersenyum. Membuat Diego lagi lagi menatap tajam ke arah dua manusia itu.


Gadis itu pun mulai melahap makanannya. Sam yang berada di sampingnya tak henti menikmati pemandangan indah itu dengan jarak yang cukup dekat dibarengi sebuah senyuman khas seorang Samuel. Membuat Diego yang sedikit berjarak dari Arini pun dibuat ingin muntah olehnya.


"lu mau sampe kapan kayak orang bego nungguin anak gue makan?" tanya Digo tak suka membuat Arini dan Sam pun menoleh.


"apasih? ini belum jam masuk kantor..! lu juga belum siap siap..!" ucap Sam.


"gue nggak ngantor hari ini..!" ucap Diego.


"kenapa?!" tanya Sam.


"ya suka suka gue lah...! lu handle semua kerjaan gue..! berangkat sekarang...!" ucap Digo kesal.


"ini belum jam kantor...! ntar gue berangkat..! disini gue bukan bawahan lo ya, gue bawahan lo cuma kalau di kantor dan tempat tempat dan waktu yang masih berhubungan ama kerjaan...! di sini gue tamu, lu diem...! " ucap Sam tak mau kalah membuat Digo makin kesal dibuatnya.


Arini pun kembali sibuk melahap makanannya dengan tenang. Sam kembali memfokuskan matanya pada Arini. Digo kembali menahan emosinya.


"apa kau tidak bisa makan lebih cepat, Arini..?! cepat habiskan makanan mu dan kembali ke kamar..!!" ucap Diego tegas dengan raut wajah berang.


"iya, iya .." jawab Arini.


Arini mendengus kesal. Sepertinya Diego tak suka ia dekat dekat dengan om seram ini. Lagian nih om om juga mepet mepet mulu dari tadi...! nggak tahu apa kalau bapaknya Arin galak..??!! batin Arini


Arini pun mempercepat sarapan nya. Makanan makanan enak ini terasa hambar sekarang. Lantaran kini dua pasang mata laki laki dewasa semua mengarah ke arahnya. Sam dengan sorot mata nakalnya, dan Diego dengan mata tajam membunuhnya. Seolah ingin memangsa wanita itu saat itu juga.


Arini makin tak nyaman. Akan sangat lebih baik jika ia segera menghabiskan santap paginya saja. Daripada terus menerus jadi objek penglihatan Diego dan Sam. Ia harus segera kembali ke kamarnya. Meninggalkan dua pria dewasa itu. Kalau pada mau baku hantam biar mereka berdua aja lah, Arin nggak ikut ikutan, pikir gadis itu.


...----------------...


Selamat sore menjelang malam...


up 18:22


yuk, dukungan dulu 🥰😘

__ADS_1


__ADS_2