My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 172


__ADS_3

"bu Tri..? Agus..?!" ucap Arini yang kini nampak berdiri di depan pintu rumah itu bersama sang suami.


Dilihatnya disana, seorang wanita paruh baya dan anak laki lakinya nampak duduk dengan raut wajah gusar di kursi kayu teras rumah sementara Arini itu.


Dilihatnya disana, wanita paruh baya yang biasanya tampil jumawa dengan kepala terangkat itu kini nampak menunduk seolah tak berani menunjukkan wajahnya. Tubuhnya terlihat lebih kurus. Sepertinya karena efek sakit yang sempat dialaminya.


Arini mendekat. Sedangkan Diego dan Calvin nampak berdiri di depan pintu. Melipat kedua lengan mereka di atas dada dan menatap angkuh ke arah Bu Tri dan putranya.


"Buk, ada perlu apa datang kemari?" tanya Arini.


Bu Tri bangkit. Wajahnya nampak sayu. Ia terlihat menunduk tak berani menatap ke arah wanita yang selalu ia hina dina sejak kecil itu.


"Rin, ndok, maaf..." ucap wanita itu lirih.


Arini diam tak menjawab. Ia menoleh ke arah sang suami dan ayahnya. Keduanya nampak diam tak bergerak. Masih dalam mode angkuhnya menatap tajam penuh intimidasi ke arah wanita berjilbab oren itu.


"saya datang kemari mau minta maaf sama kamu. Atas semua kesalahan yang sudah saya lakukan sama kamu. Saya minta maaf karena sering menghina kamu dan ibu kamu dulu. Saya benar benar menyesal, Rin. Saya mengakui bahwa semua yang saya ucapkan dan saya lakukan sama kamu selama ini itu sudah keterlaluan. Saya minta maaf..! hiks..." ucap Bu Tri menangis.


"saya baru saja keluar dari rumah sakit. Sekarang ayahnya Agus juga masuk rumah sakit. Kemarin dia kecopetan setelah pulang ngambil gaji di bank. Agus mencoba melamar kerja di mana mana juga ndak ada yang nerima. Mungkin ini adalah teguran dari Tuhan untuk saya, Rin..."


"Rin, saya menyesal. Saya minta maaf. Tolong ampuni saya..." ucap Bu Tri menangis setengah tertekan. Wanita itu berucap sambil menjatuhkan tubuhnya hendak bersimpuh di kaki gadis yang selama ini selalu ia hina itu.

__ADS_1


Arini yang mendapati pergerakan tiba-tiba dari Bu Tri pun kaget. Wanita itu setengah memekik kemudian reflek meraih tubuh wanita paruh baya itu, melarangnya untuk bersimpuh di kakinya.


Teriakan spontan dari Arini itu pun berhasil memancing perhatian dari warga sekitar. Beberapa warga nampak menoleh ke arah rumah itu. Menyaksikan wanita yang biasa angkuh itu kini hendak bersimpuh di kaki anak haram tersebut. Bu Tri menangis sesenggukan. Arini memeluk wanita itu seolah menenangkan wanita paruh baya itu.


Diego mengangkat dagunya tanpa berucap.


"Maafkan saya, Rin..! biarkan saya mencium kaki kamu...!!" ucap Bu Tri yang masih bersikeras ingin mencium kaki wanita muda itu. Namun Arini tak mengizinkan.


Bukan tanpa alasan Bu Tri melakukan nya. Batinnya mengatakan, semua yang terjadi pada keluarga nya mungkin ada sangkut pautnya dengan ancaman serta persyaratan yang Diego ajukan pada Agus beberapa hari lalu. Namun sayang, baik Agus maupun Bu Tri sama sekali tak punya bukti. Membuat keduanya mau tak mau harus mengalah dan menggadaikan rasa malu mereka untuk datang ke rumah Arini dan meminta maaf.


Sekarang ayah Agus sedang berada di rumah sakit. Lukanya sebenarnya juga tak begitu parah, hanya lecet lecet saja karena jatuh dari motornya sendiri sehabis kecopetan. Namun hal itu sedikit banyak sukses mengguncang perekonomian keluarga mereka. Gaji satu bulan raib. Dua keluarga mereka masuk rumah sakit bergantian. Ditambah lagi Agus terancam tak bisa bekerja di tempat yang mapan jika terus terusan menolak persyaratan sang Diego.


Ditambah lagi seperti nya laki laki itu akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Makin tak punya pilihan lah Bu Tri dan keluarganya.


Bu Tri terus menangis. Arini mendekap tubuh itu dengan eratnya sambil bersimpuh di lantai teras.


"buk, saya udah maafin ibuk. Jangan seperti ini. Nggak seharusnya ibu bersujud di kaki saya..." ucap Arini.


"tapi ini demi menebus semua dosa dosa saya sama kamu, Rin..." ucap Bu Tri.


"nggak gini caranya, buk. Saya bukan Tuhan. Saya hanya manusia...! saya nggak akan mengizinkan siapapun bersujud di kaki saya"

__ADS_1


"saya sudah memaafkan ibuk. Saya juga minta maaf jika selama ini saya punya salah. Saya juga minta maaf atas nama ayah dan suami saya, jika mungkin tindakan dan perkataan mereka terlalu dalam melukai perasaan ibuk.." ucap Arini.


Bu Tri masih menangis.


"udah, buk. Bangun ya..jangan seperti ini. Saya jadi nggak enak sendiri. Saya dan keluarga saya sudah memaafkan ibuk..." ucap Arini.


Wanita muda yang selalu menjadi bahan hinaan masyarakat kampung itu terus memeluk wanita dewasa yang masih sesenggukan tersebut. Sebagai anak yang selalu disakiti wanita itu kini justru merasa iba melihat Bu Tri yang sepertinya begitu tertekan karena ulah suaminya.


Entahlah, apakah Diego juga adalah aktor dibalik pencopetan suami Bu Tri, Arini belum tahu. Namun setahunya, Diego hanya meminta Sam untuk memasukkan nama Agus dalam daftar hitam calon karyawan di semua perusahaan rekan kerja Hernandez Group. Tidak lebih..!


Tapi entahlah. Mungkin nanti Arini akan menanyakan hal ini pada Diego.




...----------------...


Selamat sore menjelang malam...


up 17:10

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰


__ADS_2