
Waktu terus berjalan. Saat gema adzan maghrib mulai berkumandang,
Didalam sebuah ruangan IGD rumah sakit besar di kota itu. Di atas dua buah ranjang yang saling berdampingan. Seorang pria babak belur dengan perban menutupi beberapa bagian tubuhnya nampak tak lepas menatap paras cantik seorang gadis yang kini masih belum sadarkan diri itu.
Sejak ia sadar hingga kini waktu Maghrib mulai mengambil alih bumi, belum ada satu orang pun yang datang menjenguk kedua pasien itu. Baik Diego maupun Arini.
Diego menggerakkan tangan kanannya yang tak diperban. Coba di sentuhnya tangan gadis cantik dengan berbagai alat kesehatan yang menempel di tubuhnya itu.
Kini posisi ranjang mereka saling berdekatan. Diego yang memang di kenal ribet jika sedang sakit itu ngotot meminta nakas yang semula menjadi penghalang antara ranjangnya dan ranjang Arini itu untuk dipindahkan. Sehingga kini kedua ranjang pasien itupun saling berdekatan, membuat Diego kini menjadi lebih dekat dengan Arini. Ia bahkan bisa menggerakkan tangannya menyentuh jari jemari gadis muda sembilan belas tahun tersebut.
"baby, nyenyak banget tidurnya? belum pengen bangun?" tanya pria itu lemah sembari mengusap usap lembut punggung tangan gadis manis yang ia tahu adalah gadis periang itu.
Digo sesekali memejamkan matanya kala merasakan nyeri di beberapa bagian tubuhnya yang memang masih sangat lemah itu.
"daddy disini, sayang. Kita cuma berdua loh disini. Kamu nggak mau bangun. Daddy kangen ocehan kamu sebelum tidur, sayang. Bangun...." ucap Digo lagi tanpa melepaskan genggaman tangannya.
Laki laki itu terus menatap sendu ke arah wanita cantik tersebut. Hingga tiba tiba....
ceklek.....
pintu IGD terbuka. Seorang pria tampan yang sejak siang menunggu Diego nampak masuk ke dalam ruangan itu.
Ya, itu Sam. Pria itu masuk ke dalam ruangan itu setelah seorang perawat mengabarkan bahwa rupanya Diego sudah sadar sejak siang tadi, namun permintaan Diego mengatakan untuk tidak buru buru memberitahu kan pada keluarga nya, ia masih ingin menghabiskan waktu berdua dengan gadis cantik di sampingnya.
Hal itupun tentu saja membuat Sam yang malam ini ada janji pergi ke masjid bersama Giselle pun buru buru masuk ke dalam ruangan itu untuk melihat kondisi sang sahabat.
"kampret lu ya...! lu napa nggak ngomong kalau udah sadar..?!" ucap Sam.
Digo menatap malas ke arah sahabatnya itu.
"apasih..?" ucap pria itu lemah.
Sam menatap jengkel ke arah Digo, lalu mengalihkan pandangannya pada wanita cantik dengan berbagai alat kesehatan yang menempel di tubuhnya itu. Sam nampak iba.
"dia belum sadar?" tanya Sam.
Digo menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Sam menghela nafas panjang. Lalu menarik sebuah kursi di samping ranjang dan mendudukkan tubuhnya di sana.
"emang bangs*t tuh bapaknya..! gara gara dia Arini jadi kayak gini!" ucap Digo lemah sambil memejamkan matanya.
Sam menatap sinis ke arah sahabat nya itu.
"bukan cuma bapaknya doang yang bangs*t..! lu juga sama aja, anj*nk..!" ucap Sam kesal.
Digo menoleh ke arah Sam. Menatap pria itu dengan sorot mata tidak suka.
"gue ngapain? gue jagain dia semaleman..!! aaaaakkkhh, ta* lu, dada gue sakit..!" ucap Digo yang semula sedikit ngegas kini nampak melemah sambil memejamkan matanya kala merasakan nyeri di dadanya.
"hhmmmm....!! kata katain aja terus tuh si Calvin..! bengek lu sekarang..! udah bonyok nggak ada kapok kapoknya..! Kalau lu nggak bikin gara gara nyembunyiin dia di rumah lu dulu semua ini nggak akan kejadian..!" ucap Sam.
"berisik lu...!" ucap Diego.
Sam diam sembari menghela nafas panjang. Ia kembali menatap gadis manis berparas ayu yang kini nampak terlelap itu.
"Go.." ucap Sam lagi.
"hmmmm..." jawab Digo.
Digo terdiam.
"dia nggak terima lu dibikin bonyok. Dia mau ngajak gue ke masjid malam ini buat cek rekaman cctv disana" ucap Sam lagi.
"terus ..?" ucap Digo santai.
"ya kalau sampai itu kejadian Arini bakal makin jauh lagi dari bapaknya, Go. Lu nggak kasihan apa ama Arini? dia tuh sayang banget ama bapaknya..!" ucap Sam.
Diego diam tak menjawab.
"kapan kakak gue masjid?" tanya Diego kemudian.
"rencananya malam ini" ucap Sam.
"gue cuma kasihan aja ama Arini kalau sampai itu kejadian. Dia pasti akan sedih banget. Dan akan benar benar sendiri setelah itu" ucap Sam.
__ADS_1
"gue yang akan nemenin dia" sahut Diego.
Sam berdecih.
"ya kalau dia mau..! kalau enggak?? dia masih benci ama lu sekarang..!" ucap Sam.
"trus mau lo gimana?" tanya Digo sedikit kesal.
"ya lu bantu gue lah, bantu buat gue ngomong ama kakak lo, biar dia batalin niatnya buat lapor polisi. Kasihan Arini.." ucap Sam.
Diego tak menjawab.
"gue bukannya mau belain Calvin, Go. Tapi disini lu juga salah. Kalau lu nggak bikin gara gara nyembunyiin dia di rumah lu dulu semua ini nggak akan kejadian..!”
"Please lah, gue tau lu mau Arini ama lu sekarang. Gue tau lu sekarang mulai suka ama dia. Lu pengen bahagiain dia dan jaga dia. Tapi cara lu buat bahagiain dia itu salah..! Arini juga butuh sosok bapak kandungnya..!"
"tapi bapaknya nggak pernah peduli ama dia..! Arini tuh nggak pulang dari sore, dan Calvin baru nyariin dia jam tiga pagi..! lu bayangin....!" ucap Diego sambil kembali menyentuh dadanya kala lagi lagi ia merasakan nyeri disana.
Sam menghela nafas panjang. Baru saja ia membuka mulutnya hendak menjawab ucapan Diego. Tiba tiba...
tak ..tak ..tak ...
Suara langkah sepatu seseorang terdengar mendekat. Sam menghentikan ucapannya.
"siapa? dokter?" tanya Sam pelan.
"kek nya bukan..! dokter baru aja kesini tadi..! tutup deh tirainya. Mungkin si bangs*t itu yang dateng..!" ucap Diego.
Sam dengan segera menarik tirai panjang berwarna hijau yang menjadi pembatas antara ranjang Diego dan Arini. Sam duduk lagi di kursinya. Suara langkah kaki itu makin mendekat.
Sam dan Diego tak bersuara manakala pintu ruang IGD itu terdengar terbuka. Seorang pria gagah masuk. Mendekati ranjang Arini yang nampak sepi.
Digo meletakkan satu jari telunjuknya di bibir, seolah meminta Sam untuk diam tak berbicara. Ia ingin mendengar perbincangan yang Calvin lakukan dengan Arini.
...----------------...
Selamat siang
__ADS_1
.up 11:22
yuk, dukungan dulu 🥰😘