
Beberapa jam kemudian...
"Sam...!!" suara itu menggema. Seorang wanita cantik berambut panjang nampak mendekati para pria itu dengan terburu buru dengan mimik wajah panik. Semua menoleh ke arah sumber suara.
"Giselle .." ucap Sam.
"Digo mana? dia kenapa?" tanya Giselle sambil celingukan. Ia juga nampak menatap sekilas ke arah beberapa anak punk disana. Sedangkan Calvin kini sudah berada di ruang IGD menemani Arini setelah mendonorkan darahnya untuk gadis malang itu.
"Digo pingsan" ucap Sam.
Beberapa anak punk itu nampak saling lempar pandangan dengan kepala tertunduk.
"Digo berantem? kamu bilang tadi di telfon dia bonyok kan?" tanya Giselle.
"gue nggak tau.." ucap Sam.
Giselle kembali melirik ke arah para anak punk yang kimi menunduk. Entah mengapa wanita itu kini seolah memiliki pemikiran buruk terhadap pria pria itu.
Giselle yang terlihat khawatir kini melempar pandangan nya ke segala arah. Ia mengusap rambutnya ke belakang. Wanita itu nampak diam sejenak. Lalu...
"aku tahu..!" ucap Giselle tiba tiba membuat semua menoleh ke arah nya.
"tau apa?" tanya Sam.
"di masjid itu pasti ada cctv kan? aku mau cek..! aku mau tau siapa orang yang udah bikin adikku kayak gini..!" ucap Giselle.
Sam terdiam. Para anak punk kawan Calvin pun nampak panik namun sebisa mungkin untuk tetap terlihat tenang.
"lu mau apa?" tanya Sam.
"ya aku mau tau siapa pelakunya..! Digo dipukulin ampe masuk rumah sakit loh...! aku pengen tau siapa orang yang udah melakukan itu..! dia harus bertanggung jawab, kalau perlu aku akan bawa kasus ini ke polisi..! ini kriminal...!!"
degggghhhh.....
mampus..!
Batin para anak punk yang mendengar ucapan wanita itu.
Lagi, Sam diam. Ia tak terlalu banyak omong. Giselle melipat lengannya di depan dada. Semua yang berada di sana diam. Wanita itu menatap lurus kedepan. Sebagai seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya, ia tak terima Digo diperlakukan seperti itu. Ia harus mencari siapa manusia yang sudah membuat adik tersayang nya itu masuk rumah sakit.
...****************...
Sore menjelang di ruang IGD. Setelah mendonorkan darah untuk sang putri siang tadi. Kini di dalam ruang
Seorang pria gondrong nampak mendekati sebuah ranjang pasien yang berada di sana. Tempat dimana seorang gadis belia nampak terbaring tak bergerak dengan beberapa perban di kepala, tangan, dan kakinya.
Ya, itu adalah Arini. Gadis malang dengan sejuta lika liku kehidupan nya.
Calvin mendekat dengan langkah gontai. Di dekatinya ranjang itu, lalu mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi yang berada di samping ranjang.
Calvin terdiam. Diamatinya paras manis yang nampak tenang itu. Ingatannya kini kembali melayang layang mengingat saat pertama kali ia bertemu dengan gadis itu.
Di studio tato miliknya. Arini dengan segala kepolosan nya datang mengantarkan makan siang pesanannya. Gadis itu terlihat sangat bodoh ketika menyadari jika ia lupa tidak membawa nota harga kala itu.
Entah mengapa gadis itu terlihat lucu di mata Calvin kala itu. Pertemuan mereka berikut berikut nya juga selalu berkesan. Calvin mengantar Arini yang terlambat datang ke tempat kerja. Membela gadis itu di hadapan bos nya, dan masih banyak lagi. Tuhan seolah mempertemukan mereka dalam situasi situasi yang tidak biasa. Seolah ingin mengukir sebuah kenangan indah di masa depan.
Calvin menggerakkan tangannya. Mengusap lembut pucuk kepala sang putri yang selama ini lalai untuk ia jaga. Diamatinya wajah cantik itu. Sangat mirip dengan ibunya. Wanita yang dulu tanpa sengaja pernah ia jamah ketika laki laki itu tengah mabuk. Wanita kampung yang kepolosan nya seperti nya juga mirip dengan Arini.
__ADS_1
Calvin mengulum senyum tipis. Gadis ini dulu pernah ia gendong saat masih bayi. Ketika popok masih membungkus tubuh bagian bawahnya. Ketika gerakan tangannya masih sangat lemah menyentuh rahang berbulu lebat miliknya. Diciumnya gadis ini kala itu. Sembari mengucap doa dalam hati semoga kelak gadis itu tumbuh menjadi gadis yang kuat. Yang selalu bisa berdiri tegak walaupun badai cobaan datang menghantam kehidupan nya yang sederhana bersama sang nenek.
Doa yang di amin kan malaikat. Doa yang didengarkan oleh Ia Yang Maha Mendengar. Gadis itu benar benar gadis yang kuat baik fisik maupun mentalnya. Digempur masalah yang bertubi tubi sejak dini namun ia tetap bisa berjalan tegap meskipun sesekali terseok, namun ia tak pernah jatuh dan menyerah.
Calvin mengusap pipi mulus Arini. Setitik penyesalan menghinggapi hati pemabuk berat itu. Tentang perlakuan nya selama ini pada sang putri yang terkesan abai dan lalai.
Calvin yang terbiasa hidup sendiri dengan kebebasan dan pergaulan nya yang keras seolah lupa, bahwa ada sesosok anak yang butuh pelukan nya. Sesosok anak yang sejak kecil hidup penuh dengan cibiran dan pandangan sebelah mata dari orang orang disekitarnya. Sosok anak yang hanya minta untuk diakui, di lihat, disayang, dan diperlakukan sama seperti anak anak halal lainnya.
Hanya itu, tidak lebih...!
Tapi Calvin Alexander si pencinta kebebasan seolah tak pernah bisa menyadari dan memberikan apa yang gadis kecil itu mau.
Ia terlalu menikmati kehidupan bebasnya. Sampai sampai ia tak tahu, bagaimana caranya bersikap sebagai seorang ayah yang baik untuk Arini. Ia pikir materi saja cukup. Yang penting mereka sudah bertemu. Mereka sudah seatap sebagai sepasang ayah dan anak. Arini sudah lepas dari Diego yang selama ini membohongi nya. Arini sudah punya tempat tinggal yang layak. Makan dan minum ada, tersedia, dan tidak kekurangan..!
Hei, orang tua...!! seorang anak bukan hanya butuh makan..! anak bukan hanya butuh uang..! anak bukan hanya butuh tempat tinggal..!! anda salah...!!
Lebih dari itu anak juga butuh perhatian. Ia butuh sentuhan. Ia butuh dekapan. Ia butuh di tanya. Ia butuh di dengar. Ia butuh di hargai. Ia butuh di puji. Ia butuh di nasehati. Ia butuh di arahkan. Ia butuh di sanjung. Ia butuh dibimbing. Ia butuh untuk anda menjadi teman, sahabat, guru, orang tua, saudara, dan partner nya dalam berbagai hal. Itu sudah kewajiban orang tua untuk anaknya berapa pun usianya kini. Terlepas dari masa lalu yang terjadi antara kedua orang tuanya. Anak tidak pernah tahu itu. Bukan ia yang meminta untuk terlahir dari rahim siapa dan bagaimana caranya. Semua adalah kehendak Tuhan. Ia hanyalah makhluk titipan yang harusnya dijaga. Bukan di sia siakan. ...!!
Calvin menunduk. Meneteskan setitik air mata di pipinya. Tiba tiba ia teringat dengan ucapan Diego semalam. Benar, tak ada wanita yang bisa ia bahagiakan. Dewi, Steffi, Arini, semua hanya ia sakiti.
Calvin menghela nafas panjang.
"Nak, bangun" ucap pria itu lirih.
"ini papa. Papa pengen kamu menyentuh wajah papa seperti saat kamu bayi dulu. Bangun, nak" ucap Calvin pedih.
Diraihnya punggung tangan gadis itu. Dikecupnya, lalu dihirup aromanya dalam dalam. Betapa ia mulai merasakan ketakutan kini. Ia pernah mengenal dua wanita. Namun semua tewas secara tidak langsung karena perbuatannya. Ia takut, ia takut jika hal serupa terulang kembali pada gadis itu. Ia tak bisa membayangkan, betapa akan hancur dan remuknya ia. Betapa akan menyesalnya ia jika hal itu benar benar terjadi.
Sungguh, Calvin tak bisa membayangkan nya.
Pria itu terus berucap lirih. Mengucap maaf dan meminta gadis itu untuk bangun dari tidur panjangnya. Hingga tiba tiba....
"waktu besuk sudah habis. Silahkan keluar agar putri anda dan pasien lain bisa beristirahat" ucap perawat wanita itu.
Calvin menghela nafas panjang. Ia menatap sendu ke arah Arini seolah enggan untuk meninggalkan tempat itu.
"silahkan, tuan" ucap perawat itu lagi dengan sopan.
Calvin pun hanya bisa menurut. Ia bangkit, kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah berat.
Tanpa laki laki itu sadari. Tepat di samping nya, di sebuah ranjang pasien yang hanya terpisah sebuah tirai hijau disana,
seorang pria tampan sejak tadi nampak diam mendengarkan tangisan laki laki gondrong di sebelah nya.
Ya, itu adalah Diego..! pria itu rupanya sudah sadar dari pingsannya. Dengan kaki dan tangan di perban, pria itu sejak tadi hanya diam, menguping pembicaraan yang dilakukan seorang diri oleh Calvin yang berada di ruangan di sampingnya.
sreeeekkk....
tirai hijau itu terbuka. Seorang perawat datang mendekati Diego yang masih lemah.
"tuan, tuan sudah sadar?" tanya si perawat.
Digo hanya memejamkan matanya sejenak.
"kalau begitu saya panggilkan keluarga anda dulu ya, tuan.." ucap si perawat. Namun Diego menggelengkan kepalanya seolah melarang wanita itu melakukannya.
Sang perawat nampak diam.
"sus..." ucap Digo lemah.
__ADS_1
"iya, tuan"
"yang ada di samping saya siapa?" tanya Digo.
"korban tabrak lari, tuan. Semalam dilarikan ke rumah sakit ini satu jam sebelum tuan masuk IGD. Putri dari tuan yang rambutnya gondrong itu.." ucap si perawat.
Diego memejamkan matanya kala merasakan nyeri di dadanya.
"ada yang sakit, tuan?" tanya si perawat. Digo menggelengkan kepalanya.
"boleh saya lihat pasien itu, sus?" tanya Digo.
"untuk apa, tuan? dia belum sadar. Lukanya cukup parah di beberapa bagian. Dia juga kehilangan banyak darah. Tadi pagi baru saja menerima donor darah dari ayahnya..." ucap si perawat.
"saya cuma pengen lihat, sus. Biar saya juga ngerasa ada temennya" ucap Digo lemah.
Si perawat nampak berfikir sejenak.
"sus, tolong" ucap Digo memohon.
Sang suster pun hanya bisa menghela nafas panjang.
"baiklah kalau begitu. Saya akan membuka tirainya untuk anda" ucap wanita berseragam putih-putih tersebut.
Digo memejamkan matanya. Sang perawat pun menggerakkan tangannya membuka tirai hijau itu.
Deeeeegggghhhh....
Diego terdiam. Ia memejamkan matanya lagi. Dadanya terasa sesak. Seorang gadis terbaring lemah di atas ranjang pasien dengan beberapa perban membalut tubuhnya. Berbagai alat bantu kesehatan pun juga tertempel di badannya
Membuat Digo meneteskan air matanya.
Itu Arini..!
Sebenarnya apa yang terjadi pada gadis yang semalaman ia jaga itu? kenapa ia sampai terbaring di tempat ini?
"baby..." ucap Digo lemah. Ingin sekali rasanya ia berlari mendekati wanita itu lalu memeluknya erat. Namun tidak bisa. Tubuhnya masih sangat lemah. Terlalu sulit untuk bergerak. Mau menyentuh pun juga tak bisa. Ada nakas yang menjadi penghalang di antara ranjang mereka.
Digo memejamkan matanya lagi.
"jangan ditutup tirainya, sus. Saya mau nemenin dia" ucap Digo lemah.
"tapi, tuan.."
"saya mohon..! dia calon istri saya..." ucap Diego lagi dengan sisa sisa tenaga yang ia punya.
Lagi, si perawat hanya bisa menurut. Ia lantas keluar dari ruangan itu setelah melakukan pemeriksaan pada kedua pasien nya tersebut.
Seperginya sang perawat, Digo menoleh ke arah Arini. Menatap nanar ke arahnya dengan lemah.
"baby, kamu kenapa, sayang? maaf daddy lalai menjaga kamu semalam. Daddy minta maaf" ucap pria itu.
"daddy jaga kamu disini sekarang" ucap pria itu lagi.
...----------------...
Salam sepertiga malam..
up 02:42
__ADS_1
yukz dukungan duluš„°