
Saat sore menjelang...
Seorang gadis cantik nampak sibuk dengan aktivitas bersih bersih rumahnya. Setelah pulang dari bekerja, Arini segera mandi untuk membersihkan badannya. Setelah itu ia pun kembali bergulat dengan alat bersih bersih itu. Lagi lagi ia sedikit menghiraukan kondisi tubuhnya yang beberapa hari ini kurang fit. Ia tak boleh tumbang karena penyakit.
Saat ini, Arini sedang berada di lantai dua, membersihkan lantai itu dengan berbagai alat kebersihan ditangannya, sembari menunggu sang ayah pulang dari kantornya.
Pikiran Arini sejak tadi mengembara. Ia benar benar kepikiran tentang niatan Diego untuk melarangnya bekerja di resto itu. Kalau sampai Digo benar benar melarang Arini. Bisa gawat..!
Ingat kan, tujuan utama Arini mencari kerja adalah agar punya pegangan dan modal untuk hidup mandiri.
Jika sampai ia kehilangan pekerjaan nya, habis sudah rencananya...! ia tak akan bisa keluar dari rumah ini selamanya...!
tak....tak....tak.....
Suara hentakan kaki itu berhasil membuat Arini menoleh. Dilihatnya disana, Diego pulang dari kantor. Pria itu nampak menaiki tangga ke lantai dua. Dengan pakaian kerja yang masih rapi laki laki itu melangkah dengan tenang sembari menggerakkan tangannya melonggarkan dasi di lehernya.
Arini diam. Pria berparas tampan yang baru saja mengetahui tentang pekerjaan baru Arini itu nampak menatap datar sekilas ke arah wanita yang tak bergerak.
"apa?!!" tanya Digo seolah menantang.
Arini mengangkat satu sudut bibirnya sinis.
Emang dia ngapain? pikir Arini.
Digo acuh. Ia berjalan menuju kamar pribadinya lalu membuka pintunya. Arini kembali melanjutkan aktifitas nya. Namun tiba-tiba...
praaaaanggg......!!
sebuah benda pecah terdengar dari kamar Digo. Arini terlonjak kaget. Ngapain lagi itu bapak bapak..! tolong deh...!!
"Arini...!!!" ucap Digo yang tiba tiba keluar dari kamarnya.
Arini dengan cepat menoleh menatap sang ayah.
"iya, dad.." jawab Arini.
"bersihkan kamar daddy..!" ucap laki laki itu.
"udah bersih kok,.." ucap Arini.
"asbak ku jatuh, bodoh..! bersihkan lagi...!!" ucap Digo.
Arini menghela nafas panjang.
"iya, iya" jawab wanita itu sewot.
Arini bergerak. Dengan segera ia pun masuk ke dalam kamar itu. Kamar luas dan mewah itu sudah sangat rapi. Lantaran Arini memang sudah membersihkan nya pagi tadi sebelum berangkat kerja. Arini lantas mendekat ke arah meja rendah yang dikelilingi beberapa sofa itu. Dimana di sana, di bawah mejanya sebuah asbak nampak remuk.
Arini dengan hati hati memunguti satu demi satu potongan beling asbak yang tercecer disana. Tiba tiba...
buuuuuggghhhh....
Sebuah jas terlempar mengenai tepat di kepala Arini. Wanita itu lantas meraih kain itu.
buuuuuuuuuuggggghhhhh.....
sekali lagi...! kini sebuah kemeja hitam mendarat tepat di atas kepala nya. Digo yang kini bertelanjang dada itu tak peduli, menoleh pun tidak.
Arini mendengus kesal.
Pria itu lantas berjalan menuju kamar mandi. Berniat untuk membersihkan diri, meninggalkan Arini yang nampak menghela nafas menyaksikan ulah ayah gila nya itu.
Gini amat jadi anak Digo. Punya bapak nggak ada dewasa dewasa nya. Sama sekali tidak menunjukkan sisi kebapakan selayaknya seorang laki laki dewasa pada umumnya.
__ADS_1
Arini hanya bisa menghela nafas panjang. Wanita itu kembali menjalankan aktivitas nya, sedangkan Digo yang kini sudah berada di dalam kamar mandi pun mulai membersihkan dirinya. Terlihat dari suara gemericik air yang terdengar dari dalam ruangan sana.
Arini masih sibuk dengan aktivitasnya. Setelah membuang serpihan beling dan menyapu lantainya, wanita itu kini lantas menuju ruang ganti tempat dimana keranjang baju baju kotor milik sang ayah berada sembari membawa jas dan kemeja yang tadi Digo lemparkan.
Arini terlihat begitu telaten. Hidup berdua dengan Digo rupanya sedikit banyak sudah berhasil membuat seorang Arini Nindya Putri menjadi pribadi yang lebih rajin sekarang. Sangat jauh berbeda dengan Arini yang dulu yang pemalas.
Ditata nya tumpukan baju yang terlipat itu. Sebagian nampak berantakan lantaran Digo sering menariknya asal.
Selesai,
Arini meraih keranjang kotor itu. Kemudian bergegas untuk keluar dari tempat itu dan membawa baju baju kotor tersebut untuk di bawa ke mesin cuci. Namun tiba tiba.....
Arin menatap ke kolong meja yang berada di samping pintu. Sebuah kaos kaki tergeletak disana. Arini menghela nafas panjang. Wanita itu lantas berjongkok. Diraihnya kaos kaki yang hanya sebelah itu. Ia berniat untuk segera bangkit dan keluar. Namun tiba tiba....
deeeeegggghhhh.....
Digo masuk...! Laki laki itu berdiri tepat di hadapan Arini yang berjongkok.
Wanita itu lantas mendongak.
Arini nampak mematung sembari membuka mulutnya. Dilihatnya di hadapannya kini pria itu nampak berdiri dengan gagahnya. Hanya mengenakan handuk putih membungkus tubuh bagian bawahnya.
Arini menelan ludah kasar. Dada bidang berhias tato itu nampak basah dengan bulir bulir air menetes di permukaan nya. Terlihat tak biasa di mata polos Arini yang kini berjongkok tepat di hadapan laki laki itu.
Arini buru buru bangkit. Jantung Arini berdetak lebih cepat. Sebuah dada bidang terpampang nyata di hadapannya. Untuk kali pertamanya ia melihat dada pria matang tanpa penghalang kain dengan jarak yang cukup dekat. Mana basah lagi🙈😝
Eiiitsss....! tapi ini punya bapaknya...!!
Jaga matamu, Rin...! nggak boleh aneh aneh...!!
Arini mendongak menatap laki laki itu.
deeeeegggghhhh.....
"apa?" tanya Digo dengan mimik wajah di buat angkuh.
"aa...emm... enggak , dad..aku mau keluar, bawa ini..." ucap Arini gugup.
Digo mengangkat satu sudut bibirnya.
"kau tidak mau membawa handuk ini sekalian? ini juga kotor..! aku tidak pernah memakai handuk untuk kedua kalinya sebelum dicuci lagi" ucap Digo tanpa mengubah posisinya. Menghalangi pintu membuat Arini tak bisa keluar dari ruangan yang tak terlalu luas itu.
"bukankah kau juga masih punya hutang penjelasan pada daddy?"
"penjelasan apa?!" tanya Arini.
"obrolan kita di kantor tadi belum selesai, Arini" ucap Digo sembari terus menikmati pemandangan wajah polos dari anak Calvin Hernandez itu.
"iya.. Ntar Arin balik lagi bawa keranjang yang baru kalau daddy udah selesai. Ntar kita ngobrol di luar, tapi sekarang Arin mau keluar dulu, mau bawa ini...!!" ucap Arini makin gugup seolah tak sedang berbicara dengan ayah kandungnya.
"nggak usah..! kau tunggu disini saja..! Daddy cepet kok ganti bajunya" ucap Digo sembari menyunggingkan senyuman nakal tanpa di sadari oleh Arini yang menunduk. Entah mengapa moodnya hari ini sedang ingin saja melihat raut wajah bodoh yang selalu wanita itu tampilkan jika sedang panik.
Digo seperti ketagihan. Ia selalu menikmati jika Arini dalam mode bodohnya.
Arini makin gugup dibuatnya. Ia mendongak, menatap pria itu sambil membuka mulutnya seolah ingin berbicara sesuatu namun tak bisa.
Digo mengeluarkan senyuman mautnya. Tangannya tergerak menyentuh lilitan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya itu seraya berkata
"tunggu sebentar"
Netra Arini mengikuti gerak tangan itu.
__ADS_1
"da....daddy mau ngapain..!" tanya Arini sambil memundurkan tubuhnya.
"ya ganti baju lah, ngapain lagi...?!" ucap Digo santai.
"ya tapi kan Arin masih disini?! jangan dibuka dulu handuknya...!!" ucap Arini gugup.
"kenapa?! kau kan anakku?! kau mau lihat alat yang ku gunakan untuk membuatmu?!" tanya Digo sambil melepas lilitan handuknya. Membuat wanita itu seketika melotot dengan mulut yang terbuka saat melihat samar samar bulu hitam di area bagian bawah perut ayahnya. Membuat Digo makin bersemangat melakukan aksi jahilnya.
Arini berbalik badan masih dengan keranjang baju kotor ditangannya. Ia sedikit maju menjauh dari laki laki itu. Diremasnya tepi keranjang itu guna menyalurkan kegugupan nya. Kini posisinya berdiri membelakangi laki laki itu. Menghadap sebuah lemari dengan kaca cermin sebagai pintunya. Membuat pantulan dirinya dan sang ayah terlihat jelas disana.
Digo mengulum senyum jahil melihat raut wajah tegang Arini dari pantulan cermin.
Arini menunduk takut.
"daddy...." ucap Arini.
"apa, baby?" ucap Digo lembut.
"minggir, jangan ngalangin pintu...!"
"memang nya kenapa?"
"mau keluar" ucap Arini.
"tunggu sebentar. Belum ada lima menit, masak udah keluar...." ucap Digo sambil merentangkan handuknya lebar dengan kedua tangannya tepat dibelakang Arini. Laki laki itu bahkan terdengar bersiul santai. Sedangkan matanya tak lepas dari wajah manis di pantulan cermin itu.
Arini melirik ke arah kaca, ia makin tak karuan. Ia hanya bisa melihat bagian kepala dan dada serta dua tangan Digo yang memegang handuk dari pantulan cermin. Namun tak bisa melihat bagian depan tubuh si pria yang sepertinya tak berbusana itu lantaran tertutup tubuhnya sendiri juga keranjang yang di bawanya.
Digo makin menjadi jadi. Dilemparnya handuk putih itu asal. Ia berjalan mendekati sang putri. Merasa ayah nya makin mendekat padanya wanita itupun mulai mengambil ancang ancang. Digo tak henti mengulum senyum. Ia makin mendekat. Arini makin waspada.
"daddy aku anakmu...!!" ucap Arini.
"iya, memangnya kenapa?"
"kok daddy serem sih..?"
"daddy ganteng"
"bodo amat ..!!" ucap Arini ngegas.
Digo mengulum senyum. Di gerakan nya tangan kekar itu menyentuh pundak Arini. Namun tiba tiba....
seeeeetttt.......
buuuuuggghhhh.....
"daddy mesuum..! daddy streeess...!!!"
Gadis itu mendorong tubuh tegap Digo. Hingga membentur lemari besar. Ia lantas lari keluar dari kamar itu tanpa memperdulikan keranjang nya yang terjatuh.
"hooooeee....!!! mau kemana?!!!" teriak Digo yang nyaris terjerembab di lantai.
Diego tertawa lebar. Pria yang sebenarnya masih menggunakan boxer hitam itu nampak begitu terhibur. Entahlah, tingkah laku polos bocah itu benar benar bisa membuatnya tertawa lepas. Membuatnya kini menjadi lebih tertarik untuk mengerjai wanita itu saja daripada menyiksanya dan membuatnya menangis.
Sedangkan di luar kamar, Arini nampak menyentuh dadanya berdebar hebat. Antara takut, gugup, geli, dan entah lah....
"kok bapakku serem, ya?" ucap Arini.
Wanita itu lantas bergidik ngeri. Ia pun segera turun ke lantai bawah untuk mengerjakan pekerjaannya yang lain dulu sebelum nanti ia kembali ke kamar daddy nya setelah laki laki itu pergi.
...----------------...
Selamat pagi,
__ADS_1
up 05:29
yuk, dukungan dulu 🥰🥰