
Malam menjelang,
Disebuah kamar bernuansa biru milik Arini. Gadis belia sembilan belas tahun itu nampak asik mendengar kan musik dari ponselnya menggunakan sebuah headphone baru yang ayahnya sediakan di kamar itu. Dari perbincangan dan obrolan yang sering keduanya lakukan selama di rumah sakit, Calvin pun jadi sedikit banyak tahu mengenai hal hal yang disukai dan tidak disukai oleh putrinya. Laki laki itupun sebisa mungkin untuk menghadirkan apa apa saja yang mungkin bisa membuat Arini suka, salah satunya gitar sebagai alat musik kesukaan Arini dan headphone serta beberapa benda lain yang bisa Arini gunakan sebagai hiburan di kamarnya.
Ceklek...
pintu kamar terbuka. Calvin datang mendekati sang putri yang nampak mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti alunan musik yang ia dengarkan dari dalam headphone baru itu.
Calvin tersenyum. Ia menoleh ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Calvin lantas mendekati sang putri, mendudukkan tubuhnya di samping Arini yang kini baru menyadari kehadiran laki laki berpostur tinggi besar itu.
"bapak.." ucap Arini yang kemudian melepaskan headphone nya. Gadis itu pun meringsut. Mengubah posisi tubuhnya yang semula tiduran kini menjadi duduk.
"ini udah malem. Tidur gih. Besok lagi dengerin musiknya" ucap Calvin.
"iya, pak" ucap Arini patuh. Calvin pun tersenyum. Diraihnya head phone serta ponsel milik sang putri. Lalu meletakkan nya diatas nakas.
"kamu tidur sendiri. Bapak mau keluar. Jangan lupa kunci pintu dari dalam ya. Temen temen bapak mau kesini" ucap Calvin.
Arini terdiam. Ayahnya pasti mau pesta miras lagi.
Arini hanya bisa mengangguk samar mengiyakan ucapan laki laki itu. Calvin mengacak acak lembut pucuk kepala gadis itu. Lalu mengecup keningnya sebagai bentuk ungkapan rasa sayangnya pada sang putri. Calvin pun bangkit, ia lantas keluar dari kamar itu dan menutup pintu kamar tersebut.
Arini diam di dalam kamar. Bagaimana caranya ia menghentikan kebiasaan buruk laki laki itu. Ia tak mau ayah kandungnya itu terus terusan berkutat dengan minuman minuman haram itu.
Gadis itu nampak berfikir sejenak. Lalu...
Arini menjentikkan jarinya. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Gadis itupun nampak tersenyum. Dengan segera ia menarik selimut nya. Lalu merebahkan tubuhnya di sana tanpa mengunci pintunya, lalu bergegas untuk tidur.
...****************...
00:30
Sebuah mobil nampak memasuki halaman rumah yang tak terlalu luas milik Calvin. Lima anak punk dengan tato dan tindik di sekujur tubuhnya nampak turun dari kendaraan roda empat tersebut. Satu diantara mereka, membawa sebuah kresek hitam berukuran cukup besar, berisi beberapa botol alkohol yang siap mereka tenggak malam ini bersama sang pemilik rumah, Calvin Alexander.
Para anak punk itupun masuk ke dalam rumah itu tanpa permisi. Hal yang sudah sangat biasa mereka lakukan jika bertamu ke rumah Calvin. Didalam rumah, Calvin Alexander sudah menunggu mereka. Duduk di ruang tamu sembari menghisap cerutu berwarna coklat di tangannya.
"bang..!!" ucap Miko, salah satu rekan Calvin yang tak pernah ketinggalan untuk berpesta miras tiap malam rumah itu.
"hmm..." ucap Calvin sembari menghisap cerutunya.
Para manusia manusia pemuja kebebasan itu duduk disana. Di sofa ruang tamu mengelilingi sebuah bangku rendah dengan beberapa gelas sloki yang sudah disiapkan oleh Calvin. Kantong plastik hitam dibuka. Beberapa botol miras pun dikeluarkan. Diletakkannya di atas meja dan siap untuk di nikmati.
Ivan membuka tutup botol itu. Mengisi gelas gelas kecil itu dengan minuman beralkohol tersebut lalu bersiap untuk bersulang dan meminumnya bersama sama.
Enam sloki terisi. Kelima anak punk serta Calvin sebagai 'bos' mereka pun mengangkat gelas itu tinggi. Mereka menggerak kan tangannya lagi, berniat untuk membentur kan ringan antar permukaan gelas kecil itu sebagai simbol bahwa pesta akan dimulai.
__ADS_1
ting...
gelas saling berbenturan dengan sempurna. Calvin pun menarik gelas itu. Bersiap untuk menenggak nya. Namun tiba tiba.....
.
.
.
"bapak..!!"
Suara itu berhasil menghentikan pergerakan sebagian anak punk itu. Termasuk Calvin yang belum sempat menenggak alkoholnya.
Dilihatnya di sana Arini berdiri di samping tangga dengan sebuah tongkat sebagai alat bantunya untuk berjalan.
"Arini..?!" ucap Calvin saat menyadari keberadaan anak gadis nya itu.
Ngapain anak itu keluar kamar jam segini? kan sudah dibilang tadi, tidur, kunci pintu dari dalam..! lalau kenapa anak itu malah disini?!
Calvin meletakkan sloki nya. Ia bangkit lalu berjalan mendekati Arini yang nampak menguap.
"kamu ngapain disini?! kan bapak tadi udah bilang, tidur, kunci kamar dari dalam..!" ucap Calvin.
Arini nampak memonyongkan bibirnya sembari menggaruk garuk kepala bagian belakangnya yang tak gatal.
"Arin pengen minta bantuan bapak" imbuhnya.
"minta bantuan apa?" tanya Calvin.
"Arin pengen tahajud. Temenin ke kamar mandi buat ambil wudhu dong, pak. Arin takut kepleset" ucap gadis itu polos.
gleeeekkk....
Calvin menelan ludahnya kasar. Bisa bisanya gadis ini terbangun tengah malam untuk beribadah. Sedangkan dirinya baru saja hendak memulai aktifitas haramnya.
Calvin nampak celingukan.
"ya, pak..." ucap Arini lagi memohon.
Laki laki itu lantas menghela nafas panjang. Ia kemudian mengangguk mengiyakan permintaan sang putri.
Calvin pun lantas menemani Arini untuk kembali masuk ke dalam kamar mandi. Keduanya lantas menuju kamar mandi. Calvin membantu memegangi tongkat sang putri, sedangkan Arini kini mulai berwudhu pada sebuah kran yang berada di sana sembari satu tangannya bertumpu pada dinding kamar mandi. Cukup kesulitan, sesekali gadis itu nampak oleng hendak terjatuh, namun akhirnya ia bisa juga menyelesaikan wudhu nya.
Selesai dengan wudhu, Arini lantas kembali ke kamarnya, di ikuti Calvin di belakangnya.
__ADS_1
"duduk aja, biar bapak yang gelarin sajadahnya" ucap Calvin. Arini mengangguk. Ia lantas mendudukkan tubuhnya di samping ranjang itu.
Calvin mulai bergerak menggelar sajadah itu. Lalu meraih mukena disana dan membantu sang putri untuk memakainya.
Calvin tersenyum melihat wajah polos itu terlihat makin imut dengan mukena biru yang menutupi aurat nya.
Selesai ..
Arini lantas meringsut. Turun dari ranjang dengan susah payah lalu duduk di atas sajadah berwarna merah itu. Terpaksa ia harus sholat dengan posisi duduk lantaran kondisi nya tidak memungkinkan untuk berdiri.
Arini mendongak.
"makasih ya, pak" ucap gadis itu.
Calvin tersenyum. Lalu mengangguk.
"ya udah, bapak keluar ya.." ucap Calvin.
Arini mengangguk. Laki laki itu lantas berjalan menuju pintu untuk segera keluar dari ruangan itu dan kembali bergabung dengan teman temannya. Namun baru saja ia menyentuh gagang pintu itu dan hendak membukanya. Tiba tiba......
"Allahu Akbar...."
Deeeeegggghhhh...
Calvin terdiam. Arini memulai ritual ibadah malamnya. Laki laki menoleh. Ditatapnya punggung gadis cantik yang nampak duduk di atas sajadah itu. Padahal kondisinya sedang sakit, tapi ia masih saja taat untuk menjalankan ibadah sunah nya. Lalu apa kabat dengan dirinya yang sehat wal Afiat tapi tak pernah sekalipun tersentuh air wudhu..?
Calvin diam tak bergerak. Hatinya bergetar karena ulah anak gadisnya itu. Entah mengapa ia menjadi merasa kotor dan berdosa. Padahal Arini tidak melakukan apapun. Mengajaknya beribadah tidak, melarangnya pesta miras malam ini juga tidak. Ia hanya minta di temani wudhu, setelah itu ia beribadah sendiri tanpa mencampuri urusan Calvin yang sibuk dengan maksiat nya. Tapi kenapa sekarang seolah Calvin yang tertampar dengan apa yang ia lihat saat ini?
Mungkin benar kata pak Yanto, mengajak menuju kebaikan tidak melulu harus dengan lisan, menggurui nya, ataupun men-judge perbuatan dosanya. Tapi bisa juga dengan mencontohkan di depan matanya. Masalah terketuk atau tidaknya hati manusia itu, biar itu menjadi urusan Tuhan, karena Dia lah yang Maha Membolak-balik kan hati manusia.
Calvin memalingkan wajahnya. Dengan perasaan yang tak menentu ia lantas keluar dari kamar itu lalu menutup pintunya. Ia kembali ke ruang tamu. Berbaur dengan teman temannya yang lain yang kini sebagian nampak sudah meracau tak jelas akibat pengaruh alkohol yang ditenggaknya.
Calvin meraih gelas sloki yang semula ia tinggalkan. Di angkatnya gelas itu. Diamatinya cairan yang berada di dalamnya.
Kenapa tiba tiba ia jadi tak bersemangat seperti ini..? Padahal ia bisa dikatakan yang paling kuat meminum semua minuman haram itu dibandingkan yang lainnya. Tapi entah kenapa tiba tiba semua menjadi terasa aneh. Ia jadi malas untuk menenggak alkohol yang sudah berada di tangannya itu.
Pikirannya kurang bersahabat. Didalam kamar sana ada bocah kecil yang tengah khusyuk beribadah dan mungkin mendoakan keselamatan nya. Sedangkan Di tempat ini, orang yang sedang didoakan justru asyik berbuat maksiat dengan menenggak minuman haram ini. Dunia macam apa ini??
Calvin menggelengkan kepalanya. Ia lantas meletakkan kembali gelas slokinya. Ia lalu berjalan menuju dapur. Membuka kulkas, meraih sebuah botol minum berisi air putih disana lalu menenggaknya.
Entahlah, untuk malam ini seperti nya ia sedang tidak bersemangat untuk berpesta..!
...----------------...
Selamat pagi,
__ADS_1
up 07:06
yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰