My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 174


__ADS_3

Hari berganti hari, semua berjalan seperti biasanya.


Lebih dari dua minggu Arini, Calvin, dan Diego berada di kampung halaman wanita muda itu. Sudah banyak hal yang ketiga manusia itu lewati disana. Mulai dari bernostalgia tentang masa kecil Arini, menumbangkan keangkuhan pada penduduk desa yang selalu merendahkan anak Dewi itu, hingga membangun kembali rumah masa kecil wanita muda yang penuh dengan kenangan itu.


Ini sudah hari ke tujuh belas Calvin bersama anak dan menantunya tinggal di kampung itu. Rumah peninggalan nenek Ratmi juga sudah selesai dibangun. Rencananya, besok Calvin akan pulang terlebih dahulu ke kota. Meninggalkan Diego dan Arini yang mungkin masih ingin menghabiskan waktu berdua di kampung itu. Sebenarnya sudah sejak tiga hari ia tinggal di kampung ini, pria gondrong itu sudah ingin pulang. Tapi entahlah, kenapa bisa molor sampai tujuh belas hari.


Siang ini, mobil mewah tunggangan sementara Diego beserta istri dan mertuanya itu sampai di depan rumah sederhana yang baru selesai di bangun itu.


Wanita muda berkulit putih itu sudah nampak mengembun saat melihat rumah penuh kenangan itu kembali berdiri tegak dengan kondisi yang sembilan puluh persen mirip dengan rumah aslinya yang sudah hangus terbakar lebih dari satu tahun yang lalu.


Mobil berhenti tepat di depan rumah berdinding kayu dengan lantai pelur itu. Sebuah pagar yang terbuat bambu seolah menjadi sebuah pintu gerbang terindah yang menyambut kedatangan Arini beserta dua pria pengawal setianya itu.


Arini melangkahkan kakinya memasuki halaman rumah. Tak luas, ditumbuhi rumput hijau yang belum tumbuh sempurna. Terdapat sebuah kendil besar lengkap dengan tumpuannya. Dulu, kendil ini biasa nenek Ratmi dan Arini gunakan sebagai tempat wudhu, ataupun mencuci tangan dan kaki setelah bepergian sebelum masuk ke dalam rumah.


Setitik air mata menetes dari pelupuk mata wanita cantik itu. Kenangan masa kecilnya seketika melintas, menari nari dengan indah di pelupuk matanya.


Ketiga manusia itu kemudian berjalan menuju teras. Sepasang kursi anyaman rotan lengkap dengan sebuah meja bundar terpampang nyata disana. Disampingnya, beberapa pot bunga nampak berjajar rapi. Ada pula sebagian yang menggantung.


Arini makin sesenggukan. Ia begitu terharu melihat rumah yang dulu sempat hilang dari pandangan kini kembali berdiri dengan gagahnya. Calvin mengusap pundak Arini dari samping kanan. Sedangkan Diego nampak menggenggam tangan wanita itu di sebelah kiri.


"kita masuk?" tanya Calvin.


Arini mengangguk. Ia kemudian membuka pintu rumah bercat putih itu menggunakan sebuah kunci yang bahkan gantungannya pun mirip dengan gantungan kunci yang dulu Arini punya.


Entahlah, dari mana Digo bisa mendapatkan barang barang itu yang ia ketahui hanya bermodalkan dari cerita dan lukisan tangan istrinya.


ceklek....


pintu utama terbuka.


Arini memejamkan matanya.


Sebuah sofa dengan model dan warna sama seperti miliknya dulu. Meja rendah dengan nampak plastik berisi teko tua dan dua buah gelas beling, lemari televisi lengkap dengan tv tabung berukuran empat belas inchi. Beberapa bingkai foto yang dulu berisi foto foto Dewi, Arini kecil dan neneknya. Namun kini berubah menjadi foto foto pernikahan Arini dan Diego. Foto keluarga editan berisi wajah Calvin, Arini dan Dewi, sama seperti yang ada di kamar Arini di kota. Dan beberapa foto usang Dewi dan nenek Ratmi yang Digo dan Calvin kumpulkan dari tetangga sampai petugas perintahan desa.

__ADS_1


Arini berjalan lagi, mendekati sebuah ruangan dengan tirai kain bercorak jadul sebagai penutupnya. Itu adalah kamar Arini dulu. Meja belajar, cermin kaca tergantung di dinding kayu, ras plastik merah muda, ranjang tak terlalu luas dengan sprei bermotif bunga, mirip, bahkan sangat mirip dengan kamar Arini di masa lalu.


Wanita itu makin sesenggukan. Ia kemudian berjalan lagi menuju satu kamar yang merupakan kamar almarhumah neneknya.


Lagi lagi, sama persis. Ranjang berkelambu merah muda, meja kayu rendah, lemari kayu jaman dulu dengan kaca oval, semua mirip.


Arini sesenggukan lagi.


Wanita itu ambruk. Ia bersimpuh di samping ranjang. Dipeluknya sebuah guling yang berada di tepi ranjang sempit itu sambil menangis.


Andai neneknya masih ada. Ia pasti sangat bahagia melihat Arini yang sekarang.


Calvin bersimpuh di samping sang putri. Dibelainya dengan lembut pucuk kepala wanita dengan pundak nampak bergerak naik turun itu.


"nenek sudah tenang di alam sana, nak.." ucap pria berjambang lebat itu.


Diego ikut bersimpuh di samping Arini.


"udah, jangan nangis. Sekarang yang lebih penting, kamu doain nenek sama ibuk. Biar mereka tenang disana. Mereka juga ikut bahagia melihat kamu yang sekarang..." ucap Digo lembut sembari membelai rambut panjang wanita itu.


Arini mengangkat kepalanya. Kemudian mengusap kelelahan air mata di pipinya.


"aku bahagia kok, dad. Bahagia banget. Ini bener bener pemberian paling indah yang pernah daddy kasih buat aku..." ucap Arini.


Diego tersenyum. Di acak acaknya pucuk kepala itu dengan lembut.


"kita lihat lihat lagi rumah nya ya...." ucap Digo.


Arini mengangguk. Wanita itu kemudian berjalan lagi menyusuri seisi rumah. Calvin dan Diego berjalan berdampingan mengikuti wanita itu dari belakang.


"thanks..." ucap Calvin tanpa menoleh ke arah pria di sampingnya. Ia menatap lurus ke depan, ke punggung sang putri yang berdiri tak jauh dari tempatnya dan Diego.


Diego menoleh. Ia kemudian celingukan. Mungkin laki laki itu bukan tengah berbicara padanya.

__ADS_1


"gua?" tanyanya sembari menunjuk ke arah dirinya sendiri.


Calvin menoleh.


"menurut lu?" tanyanya kemudian.


"ciiihh..." Diego berdecih sembari memalingkan wajahnya.


"makasih udah mewujudkan satu persatu mimpi anak gue.." ucap Calvin lagi kini kembali memfokuskan matanya pada Arini.


"PD banget lu? gue ngelakuin ini demi istri gue..!" ucap Digo yang juga memfokuskan matanya pada Arini.


"tapi istri lu itu anak gue..! inget, gue bapak lu sekarang...!" ucap Calvin.


Diego tertawa sumbang.


"gue nggak nyangka bakal punya bapak mertua yang nggak banget kayak lu..!" ucap Digo.


"gue juga nggak nyangka kalau bakal punya mantu se tengil lu..! tapi nggak apa apa, seenggaknya lu sekarang ada di bawah gue." ucap Calvin.


Ia kemudian menoleh ke arah Digo.


"oh ya, jangan lupa, besok pagi gue balik. Tradisi antara gue sama anak gue, kalau gue pergi, anak gue selalu cium tangan gue.." ucap Calvin sembari menunjuk kan punggung tangan kanannya.


Diego nampak melotot.


"besok bangun pagi ya, nak. Jangan lupa mandi yang bersih, biar daki nya nggak nempel di tangan bapak" ucapnya sembari mengulum senyum kemudian berlalu pergi mendekati sang putri.


"ta* lu..!!" ucap Diego kesal.


...----------------...


Selamat sore

__ADS_1


up 16:51


yuk, dukungan dulu 🥰😘


__ADS_2