My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 36


__ADS_3

Kembali ke kediaman Diego Calvin Hernandez....


Setelah kedatangan bik Sumi yang perintah kan untuk datang ke rumahnya dan menjalankan kewajiban yang biasa Arini lakukan. Kini Digo baru saja selesai dengan aktivitas sarapan paginya.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas siang. Biasanya jam segini perutnya sudah kenyang, bahkan sudah lapar lagi. Ia pasti sudah di kantor, menyibukkan diri dengan seabrek pekerjaan nya yang seolah tak ada habisnya.


Namun lantaran sang putri tengah sakit, mau tak mau Digo pun harus bersedia untuk tidak bekerja hari ini. Semua pekerjaan nya ia limpahkan pada Sam. Laki laki itu sejak pagi hanya rebahan di atas ranjang di samping sang putri. Menemani gadis cantik itu tidur sambil memainkan ponselnya tanpa melakukan aktifitas yang berarti.


Sarapan yang tertunda pun selesai. Digo yang sudah mengganti setelan kemejanya dengan kaos oblong dan celana pendek itu lantas kembali ke kamar tamu sambil membawa ponselnya.


Ceklek ....


pintu terbuka....


Dilihatnya disana Arini masih tertidur lelap di atas ranjang dengan selimut tebal menutupi tubuhnya.


Ia sudah lebih tenang setelah meminum obat tadi. Tidurnya sudah lebih pulas. Tak ada lagi suara suara tak jelas yang ia perdengarkan seperti tadi saat suhu badannya masih tinggi.


Diego mendekat. Didudukkan nya tubuh tegap itu di sisi ranjang king size ber seprei putih itu. Dilihatnya disana Arini nampak memejamkan matanya.


Keringatnya bercucuran. Mungkin efek obat yang tengah bekerja dalam tubuh gadis belia itu.


Digo bangkit. Mendekati lemari besar di sana lalu membukanya. Dikeluarkan nya sebuah handuk kecil yang terlipat rapi di kotak besar itu.


Diego kembali mendudukkan tubuhnya. Sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya pada wajah Arini yang basah penuh keringat. Digo menggerakkan tangannya. Mengusap lelehan cairan bening itu dengan lembut, dari dahi, turun ke pelipis, bergerak ke pipi, berputar putar di sana sejenak dengan lembutnya. Mata tajam itu tak lepas menatap intens pemandangan indah yang cukup dekat jaraknya itu.


Putih, mulus tanpa setitik pun noda dan jerawat. Pori pori nya lembut. Makin indah dengan setitik dua titik kecil cairan keringat disana.


Digo menggigit bibir bawahnya.


Ada sesuatu yang bergejolak disana.


"eeeehhhmm..."


Suara itu lolos dari bibir Arini yang masih dalam kondisi terlelap kurang sehat. Gadis itu bergerak sedikit. Begitu juga benda merah muda tempat keluarnya suara tadi. Digo memfokuskan matanya pada benda itu. Terlihat tipis menggoda.


Tangan itu kembali bergerak. Di usapnya area sekitar bibir yang juga basah itu menggunakan kain handuk di tangannya.

__ADS_1


Ibu jari sang Diego tak bisa dikendalikan. Dalam posisi tubuh yang cukup dekat, jari itu mulai bergerak tanpa izin menyentuh bibir bawah gadis itu.


Digo membuka mulutnya. Menggerakkan lidahnya menyapu area dalam mulut itu sambil tak lepas menatap bibir tipis yang makin menggoda tersebut.


Diusapnya bibir itu. Membuat darah Diego seolah mengalir lebih cepat. Laki laki itu kembali menggerakkan tangan dan matanya. Dari bibir ia kini mulai mengusap keringat di leher jenjang gadis itu.


Basah, putih, mulus dengan sebuah tahi lalat kecil berwarna coklat di bagian dada atas, di bawah area leher yang tak tertutup piyama.


Diego menelan ludahnya kasar.


Astaga, kenapa tahi lalat saja terlihat sangat indah..?


Digo kembali menggerakkan lidahnya, kini mengusap kedua belah bibirnya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Nafas nya tanpa ia sadari mulai memburu. Hawa panas tiba tiba menyeruak. Membuat Diego makin tak terkendali.


Setan lakn*t si penghasut hati dan pikiran umat manusia mendekat. Bisikan nya membuat Diego seolah buta dan tuli.


Diego melepas kain handuk itu. Makin di dekatkan nya tubuhnya pada tubuh Arini hingga hampir menempel. Disejajarkan nya wajah itu dengan wajah Arini yang masih terlelap.


hhhhhhmmmmmmm......


Arini membuang nafas panjang di sela sela tidur cantiknya. Hembusan nafas yang berhasil menerpa wajah Diego yang sudah mulai gelap mata.


Wajah berjambang itu bergerak. Digesek gesekkan nya ujung hidung itu pada ujung hidung si wanita, seolah menikmati aroma nafas sang putri yang masih terjaga dalam tidur nya.


Diego makin tak terkendali. Tangannya bergerak membelai wajah Arini dengan gerakan yang tak terlalu lembut. Diego memejamkan matanya, nafasnya kian berat, gerakan kepalanya mulai brutal, membuat Arini yang terlelap pun kini mulai terusik. Bibir merah itu meracuni pikirannya. Menjadi fokus matanya sejak tadi. Membuat laki laki yang belum pernah menjamah gadis belia sebelumnya itu makin liar dibuatnya. Diego makin bergerak buas menggesek gesekkan hidungnya. Hinggaaa........


ceklek....


"Go....!!!!"


Suara itu berhasil membuat Diego terjingkat kaget..!


Laki laki yang sudah panas itu reflek menjauhkan tubuhnya dari putri perawan nya yang tertidur pulas. Nafasnya memburu. Sam datang tanpa permisi. Membuka pintu kamar itu tanpa diketuk saat kedua bibir manusia yang tak sedarah itu sudah hampir menempel.


Digo ngos ngosan. Ia mengusap wajahnya kasar. Astaga..! setan apa yang baru saja berbisik padanya. Ia hampir saja bertindak di luar batas pada gadis itu.


Sebejaat bejaat nya Diego ia tak pernah mau merusak wanita. Apalagi bocah polos seperti Arini. Semua wanita yang dekat dengannya hanyalah para wanita dewasa yang memang dengan suka rela memberikan apa yang ia punya untuk laki laki itu. Dan apa yang ia lakukan pada Arini selama ini, hanyalah untuk membalaskan rasa sakit hatinya pada Arini atas kematian Steffi. Karena bagi Diego, Steffi meninggal secara tidak langsung adalah karena kehadiran Arini. Karena Calvin yang masih peduli pada Arini lah yang membuat Steffi dan Calvin tidak akur dan membuat rumah tangga keduanya retak.

__ADS_1


Namun meskipun demikian, meskipun ia sangat ingin menghancurkan Calvin, ia tidak pernah punya niat untuk merusak Arini. Apa yang ia lakukan pada Arini selama ini, hanyalah untuk menakut nakuti gadis itu. Untuk mengerjainya. Agar wanita itu menderita selama hidup dengannya. Ia tak pernah mau menjamah wanita tanpa izin. Berhubungan seperti itu haruslah atas dasar suka sama suka. Tanpa paksaan. Bukan hanya kemauan satu belah pihak saja. Ia tak suka hal demikian.


Digo menarik nafas panjang. Mencoba menetralkan detak jantungnya yang memburu akibat godaan setan laaknat yang baru saja hampir berhasil mengusik otaknya itu.


Sam mendekat.


"lu ngapain..?!" tanya Sam pada sang sahabat. Ia yang sekilas melihat Digo terjingkat pun nampak menatap laki laki itu dengan sorot mata menyelidik.


"nggak, nggak apa apa..!" ucap Digo.


Sam menatap Arini yang terlelap dan Digo yang ngos ngosan secara bergantian.


"lu nggak punya niat buat ngapa ngapain dia kan?" tanya Sam memastikan.


"apa sih lu, anj*nk..! gue nggak ngapa-ngapain...!" ucap Digo mengelak.


Sam menatap ke arah Arini yang terlelap dengan wajah yang mulai tak terlihat pucat. Ia mendekat menggerakkan tangannya hendak menyentuh kepala wanita itu.


"dia kena............... "


"ck ah, udah...! kita ngomong di luar..!" ucap Digo sambil menghalangi tangan Sam yang hendak menyentuh putrinya. Membuat Sam setengah kaget dan menatap Digo dengan penuh tanda tanya.


"apa sih lu..?!" ucap Sam mengelak.


"dia butuh istirahat ..! udah ..! lu keluar ama gue...!" ucap Digo.


"tapi, itu...!"


"udah, ayo...! kita harus bahas masalah kerjaan..! anak gue mau tidur..!" ucap Digo sambil mendorong tubuh Sam keluar dari kamar itu.


Up 21:30


Alurnya agak pelan ya, karena sebagian bab emang sudah ditulis sejak jauh jauh hari. Semoga tidak membosankan.


Buat pembaca baru, author punya rekomendasi bacaan tamat lagi. Sambil nunggu ini up, mampir sini dulu boleh


❄️ ISTRI KEDUA TUAN LEON❄️

__ADS_1



jangan lupa mampir🥰


__ADS_2