My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 144


__ADS_3

Malam menjelang,


setelah berlangsung nya akad nikah yang terjadi pagi tadi, kini saat hari mulai gelap, suasana kebersamaan di rumah Calvin Alexander masih begitu terasa.


Tentu saja, hal itu lantaran masih ada keluarga pak Yanto yang semua berada di rumah itu. Lima anak pak Yanto yang semuanya ikut ke kota itu nampak asyik bermain di ruang televisi rumah dua lantai itu. Sedangkan beberapa teman Calvin yang merupakan para anak punk terlihat asyik nongkrong di ruang tamu hingga teras. Namun bedanya, hanya ada kopi dan beberapa minuman botol di antara mereka. Tak seperti dulu, dimana ada perkumpulan anak punk dan Calvin, maka sudah pasti di situ ada alkohol. Semenjak kedatangan Arini, perlahan minuman tersebut di haram kan masuk ke dalam rumah itu. Bahkan pernah suatu ketika, saat salah seorang anak punk datang membawa miras dan mengajak Calvin untuk minum minum, Arini dengan isengnya mengambil botol botol miras itu lalu mencampurkan air alkohol itu ke dalam air akuarium yang berada di rumah tersebut. Alhasil, ikan ikan mahal milik sang ayah tewas semuanya.


Sejak saat itu Calvin sudah tidak pernah minum minuman keras jika didepan putrinya. Paling cuma nyolong nyolong dikit kalau lagi di studio tato πŸ™ˆ.


Di ruang tamu dan di teras rumah masih dipenuhi banyak tamu. Sedangkan di ruang televisi yang berada di lantai bawah, pak Yanto dan istri tengah duduk berdampingan, menyaksikan acara televisi tersebut. Disampingnya ada dua gadis remaja berusia enam belas tahun dan empat belas tahun, putri pertama dan kedua pak Yanto yang nampak asyik bermain gadget.


Sedangkan putra ketiga dan ke empat laki laki itu kini terlihat begitu nyaman di pangkuan Diego, memainkan sebuah game online dari dalam ponsel pria itu. Baru tadi siang mereka berkenalan dengan pengantin baru itu, tapi kini mereka sudah sangat akrab.


Tahu sendiri kan, Diego memang sangat menyukai anak anak. Terbukti dari putra kedua Giselle yang selalu nemplok pada pria itu tiap kali bertemu.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam, anak kelima pak Yanto yang baru berusia satu setengah tahun nampak mulai rewel pertanda sudah mulai mengantuk.


Bu Yati bangkit,


"udah yuk, bobok yuk, sama ibuk" ucap wanita itu sambil meraih sang putri yang sejak tadi di pangku oleh Arini.


Si bocah kecil itu terus menangis. Bu Yati pun mulai menggendong batita itu dan mencoba menenangkan tangisannya.


"dah, masuk kamar sana, bobok sama ibuk, mbak Arin juga mau istirahat, capek sibuk dari pagi..." ucap pak Yanto dari tempat duduknya.


Si bocah terus menangis. Bu Yati mulai menimang nikahnya, menjauh dari ruang televisi itu, naik ke lantai dua tempat di mana sebuah kamar kosong di tempatinya sebagai kamar tidur bersama suami dan anak anaknya.

__ADS_1


"Dah Rin, kamu juga tidur sana. Kamu pasti capek seharian nggak istirahat..." ucap pak Yanto.


Arini tersenyum.


"iya, pak. Ini Arin juga mau ke kamar kok" ucap wanita cantik itu yang sukses membuat pria tampan di sampingnya melirik sedikit ke arahnya sembari mengulum senyuman yang begitu tipis nyaris tak terlihat.


Gadis itu pun akhirnya bangkit, ia berpamitan untuk masuk ke dalam kamarnya yang letaknya tak jauh dari ruang televisi itu.


Seperginya Arini,


"Hafidz, Hanif, udah om Diego nya mau bobok, mau istirahat, main game nya besok lagi. Kalian ikut ibuk ke kamar sana, tidur, udah malem" ucap Pak Yanto pada kedua putranya yang berada di dua sisi paha sang Diego.


"bentar, pak. Masih seru..!" ucap Hafidz si anak ketiga. Diego hanya tersenyum lembut.


"besok lagi, ini udah malem. Kasihan om Diego.." ucap Pak Yanto lagi.


Hafidz dan Hanif yang sedikit kecewa akhirnya hanya bisa mengangguk.


"tapi besok main lagi ya, om.." ucap Hanif, si putra ke empat.


"iya..! udah, tidur..." jawab Diego.


Kedua bocah pria itupun lantas mengangguk. Keduanya kemudian ikut naik ke lantai dua bersama pak Yanto dan dua kakak perempuan mereka, menyusul ibu dan adik mereka yang sudah terlebih dulu masuk ke dalam kamar tamu.


Ruang televisi pun kini nampak sepi. Diego yang kini hanya seorang diri di ruangan ity kemudian bangkit, menuju dapur rumah itu, membuka lemari es, kemudian membuat segelas jus jeruk dingin disana.

__ADS_1


Tak lama, laki laki berparas tampan itu pun membawa segelas jus jeruk dingin itu menuju kamar Arini yang berada di lantai bawah.


Didekatinya pintu kusen itu, meraih gagangnya lalu membukanya. Namun,


kleekk...


kleekk....


Diego mengernyitkan dahi nya.


klekk...


kleekk....


"kok nggak bisa dibuka..??"


...----------------...


Selamat pagi,


up 05:28


up kedua nanti magrib isya Allah 😁😁


mau dilanjut kepanjangan soalnya😁😁

__ADS_1


yuk, dukungan dulu πŸ₯°πŸ₯°


__ADS_2