My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 17


__ADS_3

Waktu terus berjalan....


Hari terus berganti,


Semua berjalan seperti biasanya. Satu Minggu sudah Arini tinggal bersama Diego. Selama itu juga berbagai perlakuan tak mengenakan selalu Arini terima dari pria yang mengaku sebagai ayah kandung nya itu.


Digo seolah memperbudak Arini. Memaksa nya bekerja bak seorang pembantu tanpa di gaji dengan alasan kebangkrutan yang kini dialami nya. Apapun yang Arini lakukan selalu banyak salahnya di mata Digo. Selain itu, Digo juga sering mengerjai gadis belia itu. Berbagai ucapan ucapan menyakitkan juga sering Arini terima. Membuat wanita itu makin tak betah tinggal bersama ayahnya sendiri.


Sepeserpun uang tak pernah Digo berikan untuk Arini. Bukan Digo yang menghidupi Arini, melainkan Arini yang kini menghidupi Digo dengan segala keterbatasannya. Beruntung untuk bahan makanan masih ada sisa di lemari es. Membuat Arini sedikit terbantu olehnya. Tapi jika nanti stok bahan makanan dalam kulkas habis, entahlah, apa yang mau dimakan nanti.


Hingga satu minggu berlalu Fajar juga belum menampakkan diri nya. Entah, apa mungkin bos nya tidak mengizinkan Arini bekerja disana? Arini pun tak tahu.


.....


Hari ini hari minggu,


ketika siang telah mengambil alih dunia. Arini nampak masih sibuk dengan seabrek pakaian kering itu. Setelah memungutnya dari jemuran, gadis itupun segera menyetrikanya. Menatanya serapi mungkin sebelum di masukkan ke lemari pakaian ayahnya yang kini nampak asyik main PS di ruang tengah bersama Sam.


Emang bapak nggak ada akhlak. Anak di suruh kerja, lah dia sendiri asyik maen PS..!


Arini menghela nafas panjang. Digerakkan nya kepalanya ke kanan dan ke kiri. Lalu menggerakkan kedua tangannya meninju udara di hadapannya seolah ingin meregangkan otot otot tubuhnya yang terasa begitu lelah.


Sejak pagi setelah solat subuh pekerjaan nya belum selesai. Tumpukan baju masih banyak. Cucian piring bekas makan siang Digo dan Sam belum di sentuh, sedangkan dirinya sendiri baru makan sekali saja pagi tadi.


Lelah...! pengen tidur siang...!!


Arini menghela nafas panjang. Ia lantas kembali melanjutkan aktifitas nya menyetrika kemeja putih milik Digo yang kini berada di hadapannya itu.


Tiba tiba....


suit....suit.....


Siulan itu berhasil membuat Arini menoleh. Dilihatnya disana seorang pria dewasa nampak berdiri di belakang nya, menyandarkan tubuhnya di dinding dengan kedua tangan dilipat di depan dada. Sorot matanya dan senyuman nya terlihat menggelikan menatap ke arah Arini.



Ya, itu Samuel, si duda mata keranjang yang selalu membuat Arini risih sendiri melihatnya. Mulai dari tampilannya, gaya bicaranya, sorot matanya, senyuman nya, semuanya...!


"oh, om. Ada apa?" tanya Arini.


"boleh minta tolong buatkan kopi? untukku dan daddy mu" ucap Sam tanpa mengubah posisinya.


"oh, iya, bisa om. Bentar ya, Arin selesaiin ini dulu" ucap Arini.


"oke...! cepat ya" ucap Sam.


"iya, om" jawab Arini.


Sam pun tersenyum kemudian berlalu pergi. Arini kembali sibuk dengan kemeja dihadapannya. Hingga tiba tiba....


"non...!"


suara itu kembali membuat Arini menoleh. Dilihatnya disana, satpam rumah yang bernama pak Asep kini berdiri di belakangnya.


"ada apa, pak?" tanya Arini.


"ada yang nyariin" ucap Pak Asep.

__ADS_1


"siapa?" tanya Arini lagi.


"nggak tau..! cowok, ganteng, putih, mulus. Ngakunya sih temen SMP non Arini dulu waktu di kampung..." ucap Pak Asep.


Arini berbinar dengan mulut yang terbuka. Itu pasti Fajar. Arini memang memberitahukan alamat rumah daddy nya pada pemuda itu di pertemuan mereka beberapa hari yang lalu. Setelah beberapa hari ditunggu akhirnya Fajar datang juga. Ia pasti datang membawa kabar tentang calon tempatnya bekerja.


Arini terlihat bersemangat.


"Sekarang dia dimana, pak?" tanya Arini.


"saya suruh nunggu di pos satpam. Buruan samperin ya...!" ucap Pak Asep.


"iya, pak" jawab Arini.


Pak Asep pun berlalu pergi. Arini yang berbahagia pun lantas melepaskan jedai rambutnya, merapikan rambutnya yang terlipat asal itu lalu memasangkan jedai itu kembali. Dengan segera ia pun berlari menuju pos satpam. Ia terlihat begitu bersemangat, sampai sampai ia lupa, ada sebuah setrika yang masih menempel di kemeja putih milik daddy nya.


Arini setengah berlari menuju pos satpam. Dari kejauhan dilihatnya seorang pemuda dengan jaket tebal dan helm bertengger di kepala nya nampak duduk di atas motor sport tunggangannya.


Arini berbinar. Fajar nampak melambaikan tangannya ke arah Arini yang tersenyum lebar.


Wanita itu pun mendekat.


"Fajar...!" ucap Arini.


"Rin...!" ucap Fajar sambil melepaskan helm nya.


"kamu kesini?" tanya Arini.


"iya, muter muter aku nyari rumah kamu. Eh, ternyata, ada di komplek perumahan orang kaya...!" ucap Fajar sambil terkekeh.


"widiiiih....kayaknya semangat banget kamu..?!" tanya Fajar.


Arini hanya cengengesan.


"iya nih, ada kabar baik. Kamu di terima..! besok, kamu bisa dateng ke resto." ucap Fajar.


"beneran, Jar?" tanya Arini.


"ya kalik aku jauh jauh kesini cuma buat bohongin kamu, Rin...!" ucap pemuda itu.


"Alhamdulillah....!! makasih ya, Jar. Berkat kamu aku bisa dapet kerja...!!" ucap Arini begitu bersyukur.


"kek ama siapa aja, Rin...! biasa aja kalik...! besok kita berangkat pagi ya. Jam tujuh lah paling nggak. Sebenarnya tadi aku minta kamu biar di kasih shift siang aja. Biar kita pulang pergi bisa bareng. Kamu pasti belum apal jalan. Tapi nggak dikasih sama bos. Kamu harus shift pagi. Besok hari pertama aku akan anterin kamu, sekalian ngapalin jalan..kamu nggak apa apa kan?" tanya Fajar.


"iya, aku nggak apa apa kok, Jar..! makasih banget, ya.. Kamu baik banget...!" ucap Arini.


"makasih aja terus ampe besok, Rin..!" ucap pemuda itu. Keduanya pun lantas tergelak.


Fajar terkekeh. Dilihatnya rumah megah itu.


Arini yang tinggal di rumah semegah ini, kenapa penampilan wanita itu begitu menyedihkan. Ia tidak seperti seorang pemilik rumah. Malah lebih mirip seperti pembantu. Penampilannya terlihat sedikit kumel.


Apa sebegitu buruknya perekonomian ayah kandung Arini, sampai sampai sekedar membelikan baju untuk Arini saja ia tak bisa. Lihatlah penampilan wanita itu. Pakaiannya semua serba kekecilan. Sangat disayangkan.


...****************...


Sementara di dalam rumah.

__ADS_1


Digo bersorak...! ia menang lagi. Ia kembali berhasil mengalahkan Sam dalam sebuah game PS yang mereka mainkan.


Sam berdecak kesal. Digo merasa di atas awan sambil sesekali meledek sahabat sekaligus asistennya itu.


Digo meraih camilan dalam toples. Ia kemudian menoleh ke belakang. Mengedarkan pandangannya ke segala arah.


"kopinya mana sih?" tanya Digo.


"ya mana gue tau..! gue udah minta anak lo buat bikinin tadi..." ucap Samuel.


"ck..! mati apa gimana sih tuh anak..?! bikin kopi aja lelet banget...! nggak pernah bener kalau kerja...!" gerutu Digo sambil bangkit.


Ia berjalan menuruni tangga, menuju dapur tempat dimana seharusnya Arini membuatkan kopi untuk dirinya.


Kosong...! tak ada manusia di dalam dapur. Kemana bocah itu pergi. Digo hendak berbalik badan untuk kembali mencari Arini. Namun tiba tiba...


Digo menghentikan langkahnya. Ia mencium aroma aneh. Seperti bau gosong. Tapi dimana?


Diego berjalan. Mencoba mencari sumber bau yang tercium menyengat itu.


Hingga,


Pria itu menyipitkan matanya. Disalah satu ruangan di bagian belakang rumahnya nampak asap terlihat sedikit mengepul. Digo berjalan mendekat dengan cepat. Masuk ke dalam ruangan itu dan...


"anj*nk...! apa apaan nih...?!" ucap Digo muak. Ruangan itu kosong. Asap mengepul dari sebuah kemeja mahal miliknya yang ditumpangi sebuah setrika panas yang masih menyala. Digo buru buru mendekat. Diangkatnya setrika itu. Dicabutnya kabel tersebut dari colokan. Digo membuka mulutnya. Kemejanya bolong membentuk setrika. Arini tak ada di tempat sedangkan pekerjaan belum beres.


Digo mulai naik darah. Daaan.....


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"ARINI....!!!!!!!!!!!!!!!!”


...----------------...


Selamat pagi


up 04:22


yuk, dukungan dulu 🥰🥰😘🥰

__ADS_1


__ADS_2