
Malam menjelang
Disebuah rumah sederhana yang kini di tempati sepasang suami istri baru itu.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sebagian lampu di rumah itu sudah dimatikan. Pintu pintu sudah di kunci. Gorden gorden penutup jendela juga sudah di tutup rapat.
Malam ini, di depan televisi empat belas inchi yang menyala, sebuah kasur busa tertata rapi disana. Lengkap dengan dua bantal, satu buah guling serta satu buah selimut yang tak terlalu tebal.
Ya, Arini memutuskan untuk membawa kasur yang semula dipakai oleh ayahnya itu ke ruang tamu. Meletakkan nya di sana sebagai tempat tidurnya dengan sang suami tiap malam.
Arini tidak mau tidur terpisah dengan Digo. Ia kesepian. Ia mau tidur dipeluk laki laki itu. Tapi Diego seperti cukup tersiksa jika harus tidur di dalam kamar Arini yang sempit.
Alhasil, beginilah sekarang. Sebuah kasur tertata rapi di depan TV. Keduanya nampak asyik rebahan di sana sambil menyaksikan acara televisi dari kotak bergambar yang sepertinya terlalu kecil bagi seorang Diego itu.
"ck...! Sakit mata gue lama lama..!" ucap Digo sembari menggerakkan tubuhnya memeluk tubuh ramping wanita di sampingnya.
Arini hanya terkekeh. Wanita itu kembali menggerakkan tangannya. Mengubah channel televisi itu, mencari cari tontonan yang sekiranya cocok untuk ia saksikan.
Diego mengubah posisi tubuhnya. Tidur miring menghadap sang istri, menggunakan satu tangan kanannya sebagai penyangga kepalanya. Sedangkan tangan kirinya kini nampak bergerak menarik lembut tali outer lingerie milik sang istri.
"baby..." ucap Diego.
"hmmm..." ucap Arini.
"daddy boleh tanya sesuatu..?" tanya laki laki itu lagi.
Arini menoleh.
"apa?" tanya wanita cantik itu.
Diego tak langsung menjawab. Pria itu justru nampak terkekeh.
"nggak pake B* lagi..." ucapnya sembari menggerakkan jari telunjuknya, berputar putar lembut di atas sebuah tombol yang terlihat coklat yang samar samar terlihat dari balik kain tipis berwarna hijau itu.
Arini tergelak sambil menggeliat.
"jangan digituin, geli..!!" ucap wanita itu. Diego ikut terkekeh.
"lagian kamu iseng banget...!" ucap Digo.
Keduanya pun tertawa.
"udah ah, daddy mau nanya apa tadi?!" tanya Arini lagi sembari menyentuh rahang berjambang tipis itu dan mengusap usapnya lembut.
"eemm....daddy mau tanya...kamu masih punya sesuatu yang kamu pengen? selain ke kampung ini dan bangun lagi rumah nenek?" tanya Digo sembari menggerakkan tangannya masuk ke dalam daster tipis itu dan mengusap usap dua gundukan dada menonjol milik sang istri.
Arini menarik nafas panjang. Merasakan sesuatu yang mulai merangs*ng tubuhnya. Ia nampak menggeliat samar, suatu pergerakan yang berhasil membuat Digo makin bersemangat untuk melakukan lebih.
"eeemm.. sebenarnya ada sih, dad. Tapi aku nggak yakin daddy bisa wujudin permintaan aku yang satu ini.." ucap Arini.
Digo reflek menghentikan pergerakan nya.
"kamu ngeremehin daddy?" tanya Digo.
Arini menatap sang suami. Ia nampak tersenyum lembut.
__ADS_1
"apa yang daddy nggak bisa kasih buat kamu..?!" ucap pria itu lagi begitu yakin dengan kemampuan nya.
Arini memiringkan kepalanya. Tangannya kembali tergerak menyentuh bulu bulu halus dagu Digo.
"dulu, aku pernah suka sama cowok. Itu setelah aku putus sama Agus. Aku cuma suka, tapi nggak berani bilang."
"Aku pernah punya angan angan. Pengen deh, suatu saat nanti, aku nikah, terus punya anak. Lalu di suatu malam, aku akan berjalan sama anakku. Aku gandeng tangan dia di sebelah kanan, lalu suami aku gandeng tangan dia di sebelah kiri. Aku pakai mukena, lalu anak dan suami aku pakai koko dan sarung, kita pergi ke masjid sama sama" ucapnya sembari tersenyum ke arah sang suami di akhir kalimat nya.
Digo diam tak bergerak. Ditatapnya dalam wajah wanita yang kini nampak tersenyum manis itu.
Arini mengusap pipi sang pria tersayang.
"gimana? bisa?" tanya Arini kemudian.
Diego diam sejenak. Lalu....
.
.
.
Tangan itu kembali tergerak. Membelai pipi hingga bibir wanita itu serasa berucap lembut..
"mukena bisa beli. Sarung sama baju koko juga bisa beli. Masjid deket tinggal jalan. Yang belum ada.......anaknya...." ucap Diego.
Arini mengulum senyum lucu.
"dibikin dulu anaknya baru mikirin itu..." ucap Diego.
Arini terkekeh.
Arini hanya mengangguk lucu.
"bikin, yuk.." ajak Digo.
Arini terkekeh lagi.
"terserah daddy aja..." jawabnya kemudian dengan malu malu.
Diego mengulum senyum. Dikecupnya bibir itu singkat lalu bangkit dari kasur itu.
"bentar..." ucapnya sembari mematikan tv tabung itu lalu berjalan menjauh dari sang istri.
Teekk.....
Lampu ruang tamu padam.
Rumah itu gelap gulita. Hanya lampu teras dan halaman yang cahayanya samar samar masuk menjadi penerang sepasang pria wanita yang sudah sah di mata hukum dan agama itu.
"daddy, gelap..!" ucap wanita itu.
Tak ada sahutan. Hanya ada bayangan seorang pria yang kini perlahan nampak mendekat sembari melucuti seluruh pakaiannya.
Arini yang rebahan di atas kasur diam tak bergerak menyaksikan pergerakan bayangan itu.
__ADS_1
"daddy...." ucap Arini.
Tak ada jawaban.
"dad...."
"daa.......ssshhh...aah..."
suara itu lolos dari bibir Arini. Seonggok kepala pria merayap menyusuri kaki jenjang itu. Mengusap usapkan kepala berjambang itu sembari memberi kecupan kecupan lembut di setiap area yang dilewatinya.
Arini meremas kedua sisi kasur itu.
"dad...hmmmmhh...."
Nafas itu makin memburu. Namun suara Diego sama sekali tak terdengar.
Laki laki itu membuka paha Arini lebar lebar. Dalam sekali gerakan ia menarik kain pembungkus lipatan indah di antara kedua pangkal pahanya.
Lagi, kepala itu bergerak gerak disana. Seolah menikmati sebuah organ penting yang paling ia suka dari istri tercintanya.
Sentuhan jari jari tangan dan sapuan lidah terasa bersentuhan dengan kulit sensitif itu.
Arini makin meremas erat tepian kasur itu. Ia menggigit bibir bawahnya. Merasakan sesuatu yang seolah bisa membuatnya melayang layang karena nya.
Cukup lama kepala itu bermain main disana. Membuat sesuatu yang semula kering kini menjadi basah. Suara suara indah juga sesekali terdengar dari bibir Arini.
Kepala itu kembali merayap. Makin naik. Menyusuri perut rata itu sembari kembali menghujaninya dengan kecupan kecupan lembut yang menggairahkan. Sedangkan kedua tangan pria itu kini nampak membimbing Arini untuk menanggalkan semua pakaiannya.
Arini makin tak keruan. Kepala itu kini sampai di dua benda menyembul di sana. Lagi, kepala itu berkutat disana. Bibir dan tangan sama sama bekerja. Melakukan apapun yang ingin ia lakukan pada tubuh ramping itu.
Selesai dari sana, kepala tak bersuara itu makin naik lagi. Setelah puas menyesap leher dan benda menyembul itu. Kini si kepala berjambang itu mulai menikmati wajah cantik itu.
Memberi kecupan kecupan lembut di seluruh area wajah wanita cantik itu. Mulai dari pipi, mata, pilipis, kening, hidung, lalu berhenti pada bibir.
"dadh...." ucap Arini lirih dan mendes*h.
"jangan berisik. Nanti ada yang denger.." ucap Digo lembut dan pelan.
"gelap.." ucap wanita itu lagi.
"nggak apa apa. Biar nggak ada yang ngintip" ucap Digo.
"nggak keliatan daddy nya..." ucap Arini.
"yang penting berasa..." jawab pria itu.
Arini terkekeh. Diego pun menyergap bibir merah muda itu.
Pergulatan itupun terjadi lagi. Sepasang suami istri itu kembali larut dalam suasana malam panas mereka. Tanpa penerangan, namun penuh perasaan...
...----------------...
Selamat malam
up 19:05
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰😘😘