
Hari berganti hari, semua berjalan seperti biasanya.
Digo dan Arini masih menikmati peran mereka sebagai sepasang suami istri yang tengah menantikan kelahiran anak pertama mereka. Begitu juga dengan Calvin yang cukup antusias menunggu kehadiran cucu pertamanya meskipun dengan gaya tenang nya yang khas.
Tiga bulan sudah usia kandungan Arini. Selama itu juga gejala ngidam, morning sickness, dan gejala gejala lain yang umumnya di alami ibu hamil terus di rasakan oleh pria tampan berwatak angkuh itu.
Beberapa bagian tubuh Digo masih eror. Tidak ada hari tanpa mual dan muntah. Perut masih tidak bersahabat dengan nasi dan kroninya. Mulut masih terlalu banyak memproduksi air liur. Dan hidung masih begitu mencintai aroma tubuh mertuanya.
Tiap pagi laki laki itu selalu menunggu pria gondrong mantan musuhnya itu di ujung anak tangga. Melakukan ritual mengendus badan guna menghilangkan rasa mual pada dirinya.
Biasanya Digo akan berada dalam posisi itu kurang lebih setengah jam, setelah itu ia akan mengakhiri ritualnya lalu berangkat kerja seperti biasanya.
Seperti pagi ini,
Di ujung anak tangga yang sama, Digo yang kembali berniat tak masuk kantor itu nampak menyandarkan kepalanya di tiang pinggiran tangga itu. Tubuhnya lemas. Rasanya malas. Perutnya mual sambil sesekali meludah di atas beberapa lembar tisu di tangannya.
Arini dengan perut buncit yang masih belum terlalu terlihat itu nampak berjalan mendekati sang suami.
"nih, minum dulu..! biar enakan perutnya..".ucap Arini sembari menyerahkan secangkir teh hangat untuk pria tampan kesayangannya itu.
Digo tak menjawab. Ia menerima cangkir bening itu lalu menyeruput teh tawar hangat di dalamnya guna meredakan rasa mual yang menyerangnya.
Arini mendudukkan tubuhnya di samping sang suami.
"ck...! kemana sih tuh si gondrong?! sengaja tuh pasti, dilama lamain di dalem kamar. Mau ngerjain gue tuh pasti..!" ucap Digo kesal.
Arini menghela nafas panjang. Tangan putih mulus itu bergerak, mengusap usap lembut perut yang masih belum terlalu terlihat buncit lalu berucap...
"nak, nanti kalau udah gede, sifat daddy yang satu ini jangan ditiru ya. Sukanya marah marah, suka negatif thinking sama orang, suka narik kesimpulan sendiri..! jangan ya....! kalau udah gede, jangan ngeyelan kalau di bilangin..." ucap Arini yang dapat di dengar jelas oleh sang Diego.
Digo berdecih.
"apaan sih...!" ucap pria itu kemudian memalingkan wajahnya dan memejamkan matanya merasakan mual kembali menyerang nya.
Tak berselang lama, pria berjambang lebat yang sejak tadi di tunggu tunggu kedatangan nya itu kini nampak berjalan menuruni tangga rumahnya. Penampilan nya sudah rapi khas seorang Calvin Alexander.
Arini bangkit dari posisi dari posisi duduknya.
"udah lama nungguin bapak, nak?" tanya pria itu tanpa dosa.
Digo menatap sinis ke arah pria itu. Calvin lantas mendudukan tubuh kekarnya di samping sang Diego yang nampak lemah.
Senyumannya mengembang. Rutinitas pagi bersama Diego adalah aktivitas yang paling ditunggu tunggu oleh Calvin. Entahlah, suka saja melihat pria angkuh itu tak berkutik di bawah ketiaknya.
"sini...sini...peluk bapak, sini..!" ucap Calvin.
Digo nampak kesal. Namun tidak ada penolakan. Ia menurut saja kala tangan kekar berbulu halus milik pria dewasa itu mulai meraih kepalanya dan mengarahkan nya masuk dalam pelukan hangat Calvin Alexander.
__ADS_1
Calvin mengulum senyum. Digo mulai memejamkan matanya. Menghirup dalam dalam aroma tubuh pria matang yang seolah memberikan ketenangan baginya itu.
"ini lama lama kenapa gue jadi kayak homo gini, anj*r..!" ucap Digo sambil terus memejamkan matanya.
Arini dan Calvin tergelak.
"awas lu, bocah. Kalau sampe lahir nggak mirip gue, gue bikinin adek lagi lu..!" tambahnya.
Arini menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar. Ia lantas berjalan meninggalkan kedua pria itu lalu menuju meja makannya. Menyiapkan santap pagi untuk dirinya juga sang ayah.
...****************...
Setengah jam lebih sudah berlalu.
Sepasang ayah dan anak itu kini mulai menikmati santap pagi mereka. Sedangkan si pria ngidam yang sudah lebih baik itu kini sudah kembali ke kamarnya. Kembali bermalas malasan di sana tanpa melakukan aktifitas berarti.
Ya, semenjak ngidam, Digo memang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Terlebih lagi jika sang istri sedang tidak ada kuliah seperti hari ini. Maka ia akan memilih untuk tetap berada di menghabiskan waktunya bersama Arini sepanjang hari.
Di meja makan....
"Rin..." ucap Calvin.
"iya, pak.." jawab wanita hamil itu.
"nanti bapak pulang agak malem, ya. Bapak ada urusan bentar" ucap pria yang kini nampak menyudahi sarapannya itu.
Arini menatap sang ayah dengan sorot mata menyelidik.
"apasih? cuma sama mas Ivan, sama Miko. Ada urusan bentar, ketemu ama orang.." ucap Calvin.
"awas ya, bapak, kalau sampai macem macem..! Arin nggak bukain pintu loh kalau sampai mabok lagi...!" ucap Arini.
"enggak...!! paling setengah botol doang nggak ampe mabok..!" ucap Calvin santai sembari bangkit dari duduknya.
"bapak....!!!!!" ucap Arini setengah teriak.
Calvin terkekeh.
"udah, ah. Bapak berangkat...!" ucap pria itu sembari berjalan mendekati sang putri. Ia mengulurkan tangan kanannya. Arini pun menyambutnya, meraih punggung tangan kemudian mencium nya sebagai tanda bakti.
Calvin menggerakkan tangannya, mengusap usap lembut perut sang putri tempat dimana calon cucu pertamanya itu tengah bersemayam.
"baik baik sama ibu kamu ya. Jangan nakal...!" ucap Calvin seolah berbicara dengan sang cucu.
Arini terkekeh. Calvin pun berpamitan. Pria itu lantas pergi meninggalkan meja makan, dan keluar dari rumah itu untuk memulai bekerja.
Seperginya Calvin,
Arini bangkit. Berniat untuk membantu sang ART untuk merapikan meja makan. Namun..
__ADS_1
"biar bibik aja, non. Nona istirahat aja. Jangan capek capek kalau lagi hamil" ucap si ART.
"nggak apa apa, bik" ucap Arini.
"nggak usah, non. Biar bibik aja. Mending non Arin istirahat.." ucap si bibik sembari meraih beberapa piring yang berada di tangan Arini.
Wanita itu mengulum senyum.
"ya udah, kalau gitu. Arin ke kamar aja ya...." ucap Arini.
"silahkan, non..." ucap si bibik.
Rini pun pergi meninggalkan meja makan itu menuju kamarnya.
ceklek...
pintu kamar bernuansa biru yang kini nampak penuh pernak pernik itu pun terbuka.
Dilihatnya disana, seorang pria tampan nampak tiduran dalam posisi tengkurap, menatap sebuah layar laptop yang menyala sambil menggunakan sebuah boneka beruang jumbo berwarna pink sebagai bantalnya.
Arini tersenyum. Ia berjalan mendekati pria itu lalu merebahkan tubuhnya dalam posisi miring di samping laki laki kesayangannya tersebut.
Digo menghentikan aktivitas nya. Ia menoleh ke arah sang istri. Meletakkan kepalanya di atas boneka berbulu halus itu.
"baby..." ucap Digo.
"hmmmm...." jawab Arini.
"ikut bapak kamu ke studio tato yuk....."
"hahh???!!"
...----------------...
Selamat pagi
up 07:34
yuk, dukungan dulu π₯°π₯°
....
Author kasih rekomendasi novel dari temen author...
jangan lupa mampir disiniπππ, tapi jangan tinggalin akuππππ
__ADS_1
.