My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 61


__ADS_3

Arini menyentuh satu demi satu kertas yang berada di dalam koper itu. Mengeluarkan nya lalu mengamati nya.


Bermula dari sebuah foto laki laki yang sejak awal menyita perhatiannya. Dari bentuk dan sorot mata serta bentuk bibirnya, sepertinya Arini tak asing dengannya. Tapi sejak tadi ia berusaha mengingat ingat, ia tak menemukan jawabannya.


Arini kembali fokus pada kopernya. Ia kini meraih album foto itu lalu membukanya.


Sebuah album foto berisi foto foto keluarga serta beberapa foto pernikahan yang kondisinya sudah rusak.


Arini mengamati nya satu demi satu. Pengantin wanita dalam foto ini sama persis dengan foto wanita yang ada di kamar Diego.


Apa jangan jangan wanita ini adalah mantan pacar Diego yang kemudian menikah dengan laki laki lain? makanya ayah kandung nya itu sampai saat ini tak kunjung menikah lantaran terlalu sakit hati. Begitukah?


Tapi kenapa foto foto pernikahan laki laki itu ada di rumah ini? pikir Arini mencoba memecahkan teka teki besar itu dengan otaknya yang hanya secuil tersebut.


Tangan putih itu terus bergerak perlahan. Bola mata bulat itu terus memfokuskan pandangannya pada lembar demi lembar foto disana.


Satu album selesai ia lihat lihat. Tak ada yang menarik. Hanya foto keluarga dan pernikahan orang orang yang tidak ia kenali.


Arini kembali menggerakkan tangannya. Menyentuh beberapa lembar kertas disana.


Kertas apa ini? pikir Arini.


Diraihnya satu lembar. Diangkat, lalu mulai dibacanya tulisan cetak kecil kecil itu. Dan...


"bukti transfer bank?" ucap Arini.


Gadis itu mulai mengamati kertas itu dengan teliti. Sebuah bukti transaksi bank yang dicetak ulang. Sebuah transaksi pengiriman uang untuk........


"pak Yanto?" ucap Arini seorang diri.


"ini mah bukti transferan daddy buat aku..!" ucap Arini. Ia kembali memfokuskan pandangannya, hingga bola mata bulat nan indah itu menemukan sebuah nama..


"pengirim........Calvin Alexander?"


deeeeegggghhhh....


Arini diam mematung. Ia mendongak. Memikirkan sesuatu.


Kok Calvin Alexander??


Bukannya ini bukan nama daddy nya?


Nama daddy nya kan Diego Calvin Hernandez?


Arini nampak memasang raut wajah penuh tanya. Dengan cepat ia mengambil lagi kertas demi kertas bukti transaksi bank itu. Semua nama pengirim atas nama Calvin Alexander. Dikirim pada seseorang atas nama Yanto. Jeda pengiriman satu dengan yang lain berkisar tiga sampai empat bulan.


Arini terdiam. Kok begini? Kenapa nama pengirim bukan nama Diego?


Semua kertas bukti transaksi itu ia kumpulkan jadi satu. Dengan gerakan cepat ia lantas kembali menggerakkan tangannya. Meraih sebuah surat kabar bekas yang juga berada di dalam koper itu.


Alexander Group Bangkrut


Ambruknya Kerajaan Bisnis Alexander


dan berbagai tajuk lain terpampang nyata disana. Arini membaca sekilas artikel itu.


"kabar menyebutkan bisnis besar yang kini dipimpin putra tunggal Alexander tengah diambang kebangkrutan. Hal tersebut mencuat pasca ditutupnya salah satu cabang..............................."


"Desas desus tentang konflik internal itu mencuat pasca kematian menantu dari tuan Alexander, Steffi, yang menyeret nama sang putra mahkota, Calvin Alexander......."


Deeeeegggghhhh....


Arini tak bergerak.


Dilihatnya sebuah foto yang berada di surat kabar itu. Foto nya sudah rusak. Robek sana sini.


Entah mengapa dadanya tiba tiba merasa sesak. Yang paling mengganggu pikirannya adalah bukti transaksi bank yang ia temukan. Bukan nama Diego yang berada disana, melainkan nama orang lain. Dan dari surat kabar yang ia baca, Calvin Alexander dan kerajaan bisnis nya sudah bangkrut sejak kurang lebih setahun yang lalu.


Ada apa ini sebenarnya?

__ADS_1


Apa ada yang disembunyikan Diego dari Arini? Siapa Calvin Alexander? kenapa ia yang mengirimkan uang untuk Arini? bukan Diego??


Arini terlihat sangat bingung. Hingga.


tok....tok.....tokk......


"Allahu Akbar...!!!" pekik Arini kaget saat pintu kamarnya tiba tiba diketuk dari luar.


"si, siapa?!" tanya Arini yang kaget itu dengan terbata bata.


Namun tak ada jawaban.


Tok....tok.....tokk......


pintu diketuk lagi.


"i, iya, bentar...!!" ucap Arini.


Dengan gerakan secepat kilat gadis itu memasukkan kembali kertas kertas itu kedalam koper. Lalu menyembunyikan nya di bawah kolong tempat tidur.


Arini mendekati pintu. Lalu dengan segera membukanya.


ceklek...


deeeeegggghhhh....


"da, dad, daddy..." ucap Arini gagap.


Digo menyipitkan matanya mendapati reaksi yang tak biasa dari putri perawan nya.


"kamu kenapa?" tanya Digo.


Arini membuka mulutnya, lalu dengan cepat menggelengkan kepalanya, mengusir rasa gugup yang menderanya.


"a, eng, enggak..! nggak ada apa apa...!" ucap Arini.


"da, daddy ngapain kesini? ada apa?" tanya Arini.


"kau sendiri kenapa belum tidur?" tanya Digo.


"em, nggak bisa tidur, dad..!" ucap Arini bohong.


Digo menelisik gadis itu dari atas sampai bawah dengan menggunakan matanya. Aneh sekali bocah ini.


"daddy lupa, daddy tadi pesan pizza. Pizza nya udah datang. Kita makan dulu.." ucap Digo.


"pizza?" tanya Arini.


"hmm..." jawab Digo sambil mengangguk mengiyakan.


"oh, oke..!" ucap Arini.


Digo meraih gagang pintu kamar itu. Melongok sekali lagi ke dalam kamar sebelum menutupnya


Sepasang pria wanita yang sebenarnya tak mempunyai hubungan darah itu lantas bergegas pergi dari tempat tersebut. Menuju ruang televisi tempat dimana pizza pesanan Digo berada.


Di ruang televisi,


Digo meraih sepotong makanan khas Italia itu, memasukkan nya kedalam mulutnya dengan lahap sambil kembali memfokuskan pandangannya pada layar laptop yang berada di hadapannya.


Sedangkan disamping nya, Arini nampak menggigit sedikit demi sedikit makanan yang baru pertama kali nya ia cicipi itu. Rasanya enak, sangat lezat. Tapi entah mengapa Arini seolah tidak bisa menikmati kelezatan nya. Ada perasaan yang berkecamuk dalam dirinya. Tentang nama pengirim uang itu. Tentang foto wanita itu. Tentang Calvin Alexander.


Entah mengapa kini jalan pikiran Arini bergerak, berfikir apa jangan jangan Calvin Alexander itu ayahnya? sedangkan laki laki yang kini berada di sampingnya ini bukanlah ayah kandungnya melainkan orang lain?


Kalau iya, lalu dimana Calvin Alexander itu? masih hidup kah? atau bagaimana? dan kenapa Diego mengaku ngaku sebagai ayahnya? apa motivasi nya? dan kenapa ia bisa tahu tentang latar belakang Calvin dan Dewi yang hamil diluar nikah??


Arini memejamkan matanya.


Apa mungkin selama hampir dua bulan ia berada di kota ini, ia tinggal dengan orang yang salah?

__ADS_1


Arini memejamkan matanya. Setitik air mata luruh. Entah bagaimana perasaan nya saat ini.


Kemana ia harus mencari fakta tentang kebenaran yang sesungguhnya? Ia ingin bertanya pada Digo tapi ia yakin laki laki itu tidak akan mungkin mengatakan yang sebenarnya. Atau mungkin malah ia akan kena marah dan hukuman.


Tolonglah, batinnya sebagai seorang anak yang haus belaian orang tua itu kini tengah rapuh. Ia butuh sandaran. Ia butuh tempat untuk bercerita dan dimintai pendapat. Ia butuh tempat yang nyaman untuk itu semua.


.


.


.


buuuuuuuuuuggggghhhhh.....


Arini menjatuhkan kepalanya di pundak Digo. Diego yang masih fokus dengan laptopnya pun kini reflek menoleh. Dirasakannya tetesan air membasahi kaos oblongnya, tembus hingga mengenai kulit berharganya.


"kau kenapa?" tanya Digo.


Arini menggelengkan kepalanya tanpa menjawab.


"kau sakit?" tanya Digo mulai khawatir.


Arini menggeleng lagi. Tak ada pundak lain selain pundak laki laki ini. Tak ada telinga lain selain telinga laki laki ini.


Tuhan, semoga laki laki ini adalah laki laki baik. Laki laki yang memang memiliki darah yang sama dengan Arini. Arini terlalu takut jika suatu saat ada fakta yang mengungkapkan bahwa Diego bukan ayahnya. Arini pernah kecewa lantaran sikap angkuh Diego padanya yang seolah tak bahagia akan kehadiran nya. Kini laki laki itu perlahan sudah mulai melunak hatinya. Ia takut jika nanti nya ia akan kecewa lagi, jika mengetahui jika ternyata Diego hanyalah orang asing yang mempermainkan perasaan nya.


Tuhan, tolong jangan lakukan itu. Arini takut..!!


Digo menggerakkan sebelah tangannya, membelai lembut rambut panjang gadis belia itu. Gadis itu lantas memiringkan kepalanya, menatap lekat wajah tampan berjambang tipis itu dengan jarak yang cukup dekat.


"daddy..." ucap Arini.


"apa?" tanya Digo.


"Arin malam ini tidur sama daddy ya..." ucap Arini membuat Digo seketika itu juga melotot.


"a, apa?!!" tanya Digo kaget. Ya kalik mereka tidur berdua di satu kamar bahkan satu ranjang semalaman? ada berapa banyak setan yang nanti akan menggoda mereka?!!


"Arin pengen tidur sama daddy...please...!" ucap Arini dengan mata mengembun.


Digo nampak mematung dengan mulut terbuka.


"kau ini kenapa? kenapa tiba tiba mau tidur bareng sama daddy?" tanya Digo tak mengerti.


"Arin takut.." ucap gadis itu dengan bibir bergetar dan mata mengembun. Ia kembali menggerakkan kepalanya. Menyembunyikan wajahnya pada pundak ayahnya sambil sesenggukan.


Digo terdiam. Entah mengapa ia merasa iba mendengar tangisan gadis polos itu. Digerakkan nya lagi sebelah tangannya. Mengusap usap lembut kepala itu penuh kasih sayang.


"kamu kenapa? kamu takut apa?" tanya Digo.


"pokoknya takut...! hiks...!" ucap Arini kini bahkan menggerakkan kedua lengannya merangkul leher pria itu.


Digo makin tak bisa berbuat apa apa. Arini makin sesenggukan. Entah apa yang terjadi pada gadis ini.


"iya, iya..! nanti tidur ama daddy..! udah, jangan nangis..!" ucap laki laki itu.


Arini tak menjawab. Ia masih sesenggukan. Digo menghentikan kerja lemburnya. Dipeluknya tubuh ramping itu. Diusapnya pucuk kepala dan punggung gadis itu dengan penuh kehangatan bak seorang ayah sungguhan yang tengah menenangkan putri kecilnya.


Tangisan itu perlahan mereda. Keduanya larut dalam suasana malam hening dengan posisi tubuh yang sangat dekat itu.


Arini memutuskan untuk tidur di kamar ayahnya malam ini. Bukan tanpa sebab. Selain ia butuh teman, ia juga butuh bukti dan petunjuk lain. Barangkali di kamar Diego ia bisa menemukan sesuatu yang berhubungan dengan Calvin Alexander dan berbagai fakta yang mungkin tidak ia ketahui selama ini.


...----------------...


Selamat malam


up 18:09


yuk, dukungan dulu 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2