
Siang menjelang jam makan siang...
"Arini..!!" panggil seorang pelayan senior sebuah resto ternama itu. Gadis belia yang baru saja selesai mengantar makanan ke meja pelanggan itu pun menoleh, manakala mendengar namanya dipanggil.
"iya, mbak.." ucap Arini.
"deliv..!" ucap si pelayan senior.
"oke, mbak..!" ucap Arini langsung paham. Gadis belia itu pun bergegas meletakkan nampan di tempatnya, lalu menuju dapur restoran untuk mengambil beberapa pesanan makanan yang harus ia antar saat itu juga.
Ada tiga alamat yang harus ia datangi. Salah satunya adalah kantor depan resto yang merupakan perusahaan milik Diego. Pesanannya paling banyak. Masing masing dua porsi mulai dari paket makan siang hingga desert.
Arini tahu, pasti daddy nya beli dua porsi untuk dimakan dengan dirinya. Maka Arini pun berinisiatif untuk mengantar nya paling akhir, setelah mengantar ke dua alamat yang lainnya.
Gadis periang itupun dengan segera tancap gas setelah menata semua pesanan makan siang itu ke dalam box delivery nya. Kemudian mulai melajukan kendaraan roda duanya menyusuri jalanan ibu kota yang tak terlalu padat itu.
...****************...
Sementara itu,
selang beberapa waktu, di tempat terpisah,
Disebuah rumah berlantai dua yang nampak berantakan disana sini,
Seorang pria dewasa terlihat keluar dari kamar nya. Dengan mata malas, penampilan yang sama sekali tak menunjukkan kesan rapi dengan rambut gondrong yang tergerai dan bertelanjang dada, laki laki itu nampak berjalan menuju dapur. Mengambil sebotol air putih dari dalam kulkas lalu menenggaknya.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Laki laki itu baru keluar dari kamarnya setelah terbangun dari tidurnya kurang lebih setengah jam yang lalu.
Semalam ia baru tidur jam dua pagi. Setelah pesta miras di rumahnya usai digelar dan teman temannya pulang. Ruang tamu rumah yang semalam menjadi tempat di selenggarakan nya pesta pun juga masih nampak berantakan. Botol botol kosong masih berserakan dimana mana. Sampah kulit kacang, puntung rokok dan sejenisnya juga masih bertebaran di sembarang tempat.
Namanya juga duda. Tak punya anak, tak punya istri, tak punya saudara. Bebas lah, mau sekotor apapun hunian itu.
Pria itu, Calvin Alexander, kembali menenggak air putih ditangannya.
Ting....
ponsel di tangan kirinya berbunyi pertanda ada pesan masuk.
Calvin membuka ponsel itu. Sebuah pesan dari anak buah sekaligus rekannya yang sejak tadi mengirim kan pesan padanya menanyakan keberadaan nya.
*Anya...
"bang? udah sarapan belum? gue beliin ya? gue anter ke rumah lu...!" tulis wanita dua puluh tujuh tahun itu*.
Calvin menuliskan pesan balasan pada wanita bertato dan bertindik tersebut.
"nggak usah..! gue udah pesen makan." tulis Calvin atau yang sering dipanggil Ale oleh rekan rekannya itu.
Ya, Calvin sudah memesan makanan via online tadi. Kurir pasti juga sedang dalam perjalanan menuju rumahnya.
Pesan WhatsApp tidak dibuka oleh Anya. Laki laki itu lantas meletakkan botol dan ponsel ditangannya. Berniat untuk pergi ke kamar mandi guna membersihkan diri lalu pergi ke studio tato, tempat usahanya.
Baru saja Calvin hendak menaiki tangga, kembali ke kamar nya untuk mandi di kamar mandi pribadi nya. Tiba tiba....
ting...tong...
bel rumah berbunyi. Ada tamu berkunjung. Calvin menghentikan langkahnya. Ia berhenti sejenak lalu berbalik badan dan berjalan menuju pintu utama, melewati ruang tamunya yang bak kapal pecah.
__ADS_1
ceklek...
pintu terbuka...
"delivery...!" ucap seorang gadis berseragam oren sambil menenteng sebuah keresek putih berisi paket makan yang ia pesan.
Itu gadis lugu dan polos yang beberapa hari lalu ia cari restoran..! dia sudah kembali bekerja.
"lho, om? ini rumah om?" tanya Arini setengah kaget.
Calvin tersenyum simpul. Ia lantas mengangguk.
Arini menampakkan senyuman manisnya bertemu laki laki itu. Seketika itu juga ia lupa dengan pesan daddy nya yang melarang dirinya untuk dekat dekat dengan laki laki berpenampilan brandalan itu.
"paket makan siang nya, om" ucap Arini sambil mengangkat keresek di tangan nya.
Calvin meraih benda itu.
"masuk dulu, gue ambilin duitnya" ucap laki laki itu.
Arini pun mengangguk. Calvin pun masuk ke dalam rumah diikuti Arini di belakang nya.
Degggghhhh....
Arini terperangah.
Dilihatnya disana ruangan itu nampak kotor dan berantakan. Botol botol alkohol kosong tergeletak dimana mana. Sampah sampah plastik, bungkus makanan, kulit kacang, puntung dan bungkus rokok, beberapa potong baju, kaos dan sebagainya berserakan tak terurus.
Astaga, berantakan sekali tempat ini?! sangat kotor...!! pikir Arini.
Calvin mengambil beberapa potong baju nya yang tercecer di lantai dan sofa ruangan itu.
"i, iya, om" ucap Arini.
Calvin pun pergi. Menaiki tangga sambil membawa beberapa potong pakaian itu.
Arini mengedarkan pandangannya ke segala arah. Rumah yang sebenarnya sangat nyaman jika dirawat dengan benar. Namun kini terlihat sangat kotor dan berantakan.
Dinding bercat abu abu yang kosong tanpa ada hiasan dinding satupun. Meja yang dipenuhi sampah dengan beberapa gelas kecil yang terguling. Sendal berserakan dimana mana. Sofa dipenuhi kulit kacang. Lantai kotor dengan beberapa botol alkohol kosong yang tergeletak.
Laki laki ini seperti nya memang pemabuk berat.
Apa ia tidak punya anak atau istri..? pikir Arini.
Tak lama berselang, Calvin kembali turun dengan rambut gondrong yang sudah terikat dan wajah yang terlihat lebih segar. Mungkin baru cuci muka.
Didekatinya anak gadis itu lalu menyerahkan beberapa lembar uang tunai.
"kembaliannya ambil aja" ucap Calvin sembari mendudukkan tubuhnya di samping Arini.
Gadis itu nampak berbinar. Baik sekali om om ini. Ia selalu memberikan tip untuk Arini jika mengantar kan makanan padanya.
"makasih banyak, om..! setiap antar makanan Arin selalu dikasih tip." ucap Arini.
Calvin tidak menjawab. Ia yang memang sudah sangat lapar itu lantas membuka paket makanan nya, meraih minuman gelasan itu terlebih dahulu kemudian menusuk plastik penutupnya dengan sedotan yang berada disana.
Diam diam Arini mengulum senyum mengamati wajah dengan berewok lebat itu dari samping. Entah mengapa ia suka saja berdekatan dengan laki laki ini. Kesan sangar dari laki laki itu sama sekali tak Arini rasakan. Ia mengagumi laki laki tersebut walaupun baru beberapa hari bertemu.
__ADS_1
Bukan karena paras ataupun fisik. Tapi karena memang ada sesuatu yang membuat arini seolah merasa aman dan kagum pada laki laki itu. Berbeda dengan ketika ia bersama Diego. Sama sama bahagia namun dalam konteks yang berbeda. Ah, entah lah, susah menjelaskan nya..!!
Arini sibuk dengan pemikirannya. Tiba tiba...
klik....
Calvin menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Arini. Membuat gadis itupun seketika tersadar dari lamunannya.
"liat apa? lu nggak balik?" tanya Calvin.
Arini celingukan.
"oh, iya, om" ucap Arini sedikit gugup. Takut jika Calvin berpikiran yang aneh aneh padanya. Dengan buru buru ia pun memasukkan uang pemberian Calvin itu ke dalam waist bag nya.
"Arin permisi ya, om. Mau lanjut antar pesanan.." ucap Arini.
Calvin hanya diam tak menjawab. Menatap datar kearah gadis bodoh nan polos itu. Arini bangkit. Dengan gerakan buru buru ia pun bergegas pergi dari tempat itu.
Namun...
seeeeetttt....
"aaaaaaakkkhhhhh...!"
karena terlalu tergesa gesa dan tak hati hati, gadis itu pun tak sengaja menginjak sebuah plastik yang entah bekas apa itu. Licin, membuat Arini pun terpeleset karena nya.
Calvin yang berada disamping Arini pun kaget. Ia reflek menarik lengan putih mulus itu. Membuat tubuh ramping gadis belia delapan belas tahun tersebut pun terpelanting. Jatuh tepat di tubuh Calvin dalam posisi tengkurap. Membuat dua manusia yang sebenarnya sedarah itu kini dalam posisi yang sangat dekat. Arini berada di pangkuan Calvin dalam posisi tubuh menindih laki laki itu dan saling berhadapan wajah.
Degggghhhh....
Mata itu saling bertemu. Arini mematung. Ia memiringkan kepalanya. Mata itu? sepertinya ia pernah melihat. Tapi dimana ya...? seperti tidak asing.
Calvin tak bergerak. Sepertinya ia pernah melihat wajah ini dalam posisi yang juga sedekat ini. Tapi dimana? wajah siapa? ia tak pernah sedekat ini sebelum nya dengan gadis ini kan? pikir Calvin.
Kedua anak manusia itu nampak larut dalam pemikiran mereka masing masing. Seolah waktu berhenti untuk sementara. Memberikan waktu untuk satu darah yang terpisah itu saling mencerna keadaan barang sejenak. Hingga.....
.
.
.
.
.
.
"apa apaan ini?!!!"
...----------------...
Selamat pagi
up 07:50
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰😘