
Pagi menjelang....
Saat jam menunjukkan pukul setengah tujuh pagi,
Di sebuah meja makan....
Seorang pembantu rumah tangga nampak tengah sibuk menata aneka hidangan lezat di atas meja berbentuk persegi panjang itu. Gerakannya sangat sigap dan cekatan.
Maklum, sudah sangat senior dan berpengalaman. Membuatnya tak pernah mengalami kesulitan dalam bekerja.
"pagi, bik Sumi.." ucap seorang gadis belia yang katanya merupakan anak dari majikannya. Ya, itu adalah Arini.
Bik Sumi tersenyum.
"selamat pagi, nona" jawab Bik Sumi pada gadis yang entah bagaimana bisa tiba tiba datang ke rumah ini dan diakui anak oleh majikannya itu. Padahal setahunya Diego belum pernah menikah sama sekali.
Tapi itu tak penting bagi Bik Sumi. Bik Sumi bukanlah orang yang kepo. Yang terpenting baginya hanyalah kerja dan dapat uang. Urusan pribadi majikan itu sama sekali bukan urusannya.
Arini mendekati wanita itu.
"ya ampun, jam segini makanan udah banyak banget, bik. Bibik sampai sini jam berapa?" tanya Arini begitu ramah pada sang ART yang memang sejak kemarin mulai dipekerjakan sejak pagi hingga sore saja. Bik Sumi tidak menginap di tempat itu lantaran ada suami yang sedang sakit di rumah.
"jam tiga, non" ucap Bik Sumi sambil sibuk mencuci beberapa peralatan dapur yang kotor itu.
Arini tersenyum. Ia lantas mendekati sang bibik untuk mengajak nya berbincang. Lumayan lah, ada bik Sumi disini sekarang. Ia jadi punya teman bicara.
"bibik udah lama kerja disini? daddy sampai nyari bibik pertama kali waktu aku sakit" ucap Arini yang kini berdiri disamping Bik Sumi. Menyandarkan tubuhnya di meja dapur itu.
"lama banget, non. Udah belasan tahun." ucap Bik Sumi.
"oh ya, ada sepuluh tahun, bik?" tanya Arini terlihat sumringah.
Bik Sumi nampak berfikir sejenak.
"lebih kayaknya, non" ucap Bik Sumi.
Arini berdecak kagum.
"waaaaahhh..hebat ya bibik..! bisa betah kerja sama daddy yang kayak gitu sampai sepuluh tahun" ucap Arini polos.
Bik Sumi tersenyum.
"ya nggak juga dong, non. Kalau sama tuan Diego kan saya baru.........................."
.
.
__ADS_1
.
"eeeehhhmm...!"
Suara deheman itu berhasil membuat dua wanita beda usia itu menoleh ke arah sumber suara. Dilihatnya disana seorang pria tampan berjambang tipis nampak berdiri dengan gagahnya menatap angkuh ke arah Arini dan Bik Sumi.
Bik Sumi menunduk. Pertanda menghormati atasan. Arini tersenyum ke arah ayah kandungnya itu.
"daddy..." ucap Arini.
"sedang apa kalian?" tanya Digo dengan mode tenang dan sombongnya. Khas seorang Diego Calvin Hernandez.
"emm, nggak ngapa ngapain, dad. Kita ngobrol aja" ucap Arini.
Digo mengangkat satu sudut bibirnya.
"Arini" ucap Diego.
"ya..." jawab gadis itu.
"ambilkan hp daddy di kamar" ucap Digo tenang minim pergerakan.
Arini mengangguk..
"iya, dad..." jawab gadis itu. Wanita muda delapan belas tahun itupun berlalu pergi. Mengayunkan kakinya menapaki anak tangga menuju lantai dua tempat dimana kamar sang ayah kandung berada.
Ditatapnya tajam wanita itu. Lalu dengan segera di raihnya lengan yang mulai mengeriput itu dengan gerakan yang sedikit kasar membuat Bik Sumi pun terlonjak kaget.
"a, ada apa, tuan?" tanya bik Sumi.
...............
.
.
.
.
Sementara itu di lantai atas...
Arini sudah sampai di kamar sang ayah. Wanita itu nampak celingukan mencari letak ponsel Diego yang katanya berada di ruangan itu.
"mana hp nya?!" ucap Arini sambil terus mencari cari keberadaan benda pipih canggih itu.
Kamar itu juga terlihat sedikit berantakan. Jiwa seorang anak rasa pembantu yang sudah hampir sebulan melekat dalam dirinya pun bergejolak. Sembari mencari ponsel, gadis itu nampak sibuk memunguti benda benda berserakan yang tidak pada tempatnya. Mulai dari buku, jam tangan, kolor, dan yang lainnya.
__ADS_1
Arini mendekati nakas. Membuka sebuah laci yang berada disana, berniat untuk memasukkan arloji mahal yang dibiarkan tergeletak begitu saja di lantai oleh Diego.
Arini terdiam saat melihat isi laci. Dilihatnya di dalam laci itu, dua buah foto berbingkai indah terletak disana. Sebuah foto seorang wanita cantik dengan balutan dress indah nampak tersenyum ke arah kamera. Sedangkan satu foto lagi adalah wanita yang sama namun dalam pose merangkul Diego. Sepertinya foto itu diambil di sebuah pantai.
Arini terdiam. Diambilnya satu bingkai foto itu.
Siapa perempuan ini? wanita ini terlihat sangat cantik. Tapi ini bukan foto Dewi, ibunya Arini.
Ingatkan, di kampung, Arini juga punya foto ibunya meskipun sudah usang.
Gadis belia itu nampak terdiam. Diambilnya lagi satu bingkai foto disana. Foto wanita cantik itu yang nampak merangkul pundak Diego. Keduanya tersenyum lebar dan bahagia. Posisi keduanya cukup dekat. Terlihat sekali ekspresi bahagia dalam raut wajah mereka.
Apa ini foto pacar daddy nya? wanita yang katanya akan menikah dengan laki laki itu saat dulu Dewi tengah mengandung Arini? yang membuat Diego tak bisa menikahi Dewi? mungkinkah itu?
Arini tersenyum sinis.
"cantikan ibuk...!" ucap gadis itu kemudian meletakkan kembali bingkai itu serta arloji ditangannya ke dalam laci nakas tersebut.
Tak menemukan ponsel sang ayah, Arini pun akhirnya memilih untuk keluar dari kamar itu.
Ia kembali mengayunkan kakinya menuruni tangga. Ia berjalan menuju meja makan.
Arini nampak memelankan langkahnya. Dilihatnya disana sang ayah terlihat berdiri saling berhadapan dengan bik Sumi. Wanita itu terlihat menunduk takut, tak berani menatap ke arah Diego yang nampak menatapnya tajam dan dingin khas seorang Diego ketika tengah menurunkan titahnya.
"daddy...."
suara itu berhasil membuat Diego menoleh.
Laki laki diam. Mulai mengganti mimik wajah nya yang semula serius kini berganti tenang dan angkuh.
"ya..." jawab laki laki itu.
"hp nya nggak ada" ucap Arini sembari menatap daddy tampannya itu dan bik Sumi bergantian.
Diego mengangkat dagunya, lalu tersenyum tipis.
"oh, ya sudah kalau begitu. Lupakan..! Kita makan saja.." ucap Diego.
Arini hanya mengangguk samar. Diego lantas mendudukkan tubuh tegapnya di sebuah kursi yang biasa menjadi tempat duduknya ketika sarapan. Arini mendekat. Dilihatnya disana bik Sumi yang sejak tadi menunduk itu kini lantas pergi meninggalkan dapur. Meninggalkan sepasang ayah dan anak itu untuk menghabiskan sarapan pagi mereka berdua. Sepertinya bik Sumi baru kena marah oleh Diego. Pikir Arini. Arini mencoba tak menggubris. Ia tak mau tanya tanya. Takut salah. Takut ikut kena marah.
Arini pun memulai aktifitas makan paginya. Seperti biasa, Arini mulai melayani makan pagi sang ayah, menyendok kan nasi dan lauk ke piring Digo lalu memulai santap pagi mereka bersama sama.
...----------------...
Selamat pagi,
up 04:26
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰