My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 19


__ADS_3

02:00 dini hari.


daaaaaaaggggggghhhhh.....


daaaaaaaggggggghhhhh.....


pyyaaaaaaaarrrrrrrrr.....


praaaaanggg..........


daaaaaannngggg.....


daaaaaaaaaaannggggg......


Suara itu terdengar menggema tanpa henti sepanjang malam. Membuat hari gelap yang harusnya tenang kini tak lagi di rasakan oleh pria matang yang kini nampak bertelanjang dada di atas ranjang. Menutupi telinganya dengan bantal saking berisiknya bunyi bunyian yang menggema dari gudang rumah megahnya. Digo yang memang selalu tidur dengan jendela yang terbuka itu tak henti mengumpat hebat. Sudah se larut ini tapi ia belum juga bisa memejamkan matanya. Suara berisik dari dalam gudang itu berhasil masuk ke dalam kamarnya yang tak kedap suara.


Mengurung Arini dalam gudang sepertinya bukanlah solusi yang tepat. Alih alih menangis sepanjang malam meratapi kisah hidupnya, atau diam termenung mencoba introspeksi diri atas semua kesalahan nya kemudian besok saat pagi tiba gadis itu akan mengemis meminta maaf padanya, gadis itu justru membuat onar sejak sore hingga kini lewat tengah malam. Ia memang menangis pada awalnya. Tapi tak lama. Setelah itu gadis tersebut justru bak orang kesurupan.


Arini tak henti membuat bunyi bunyian. Memukuli pintu, meja dan sebagainya dengan kayu yang berserakan di gudang, melempar benda benda hingga pecah, dan kini saat jam menunjukkan pukul dua pagi, wanita itu justru makin menjadi jadi. Ia memukuli tong kosong berukuran cukup besar yang tak terpakai di gudang dengan menggunakan balok kayu.


Tentu saja, bunyi yang di hasilkan berhasil mengusik pendengaran Digo yang kamarnya berada tepat di lantai dua sejajar dengan gudang.


Digo benar benar dibuat frustasi dengan bocah itu. Bukannya kapok di kurung di ruangan dengan pencahayaan remang remang itu, justru kini Digo yang sepertinya kapok mengurung Arini di tempat tersebut. Semalaman ia tak bisa tidur...!


Bunyi bunyian terus terdengar. Digo yang tak bisa tidur pun jadi stres sendiri di buatnya. Ia menggaruk garuk kepalanya yang tak gatal itu dengan kasar.


"dasar anak setan...!!!" umpat Digo kesal.


Dengan langkah cepat dan lebar sembari terus melontarkan makian makiannya, pria itu pun berjalan keluar dari kamarnya menuju gudang tempat dimana Arini di kurung.


Dengan hanya bertelanjang dada menggunakan celana pendek merah miliknya, Digo membuka gembok pintu itu lalu masuk ke dalam ruangan tersebut.


daaaaaaaggggggghhhhh....


pintu terbuka dengan kerasnya.


daaaaaannngggg.....!!


Disambut dengan Arini yang kembali memukul tong kosong itu.


"ARINI....!!!" bentak Digo pada gadis yang kini berdiri membelakangi nya itu.


"ARINI, BERHENTI...!!"


daaaaaaaaaaannggggg.....!!


Arini memukul lagi tanpa berbalik badan.


"Arini...! apa kau........."


Daaaaaaaaaaannggggg.....!!


"Ari..........."


Daaaaaaaaaaannggggg.....!!

__ADS_1


"Arini kau......"


Daaaaaaaaaaannggggg.....!!


"A........"


Daaaaaaaaaaannggggg.....!!


Gadis itu tak menggubris perkataan ayah kandungnya itu. Ia terus berdiri membelakangi Diego sambil terus memukul mukul tong itu dengan balok kayu di tangan kanannya.


Digo murka. Merasa tak di dengarkan omongannya, dengan gerakan cepat dan kasar ia merampas balok kayu itu dan melemparnya asal. Digo meraih tubuh ramping itu, memutarnya hingga kini Arini berbalik badan menatap pria itu.


Digo mencengkeram kedua lengan ramping tersebut. Mendekat kan tubuh itu ke tubuh tegapnya dengan sorot mata tajam penuh amarah.


Arini mendongak. Alih alih takut dan menciut, Arini yang masih kesal dengan perkataan Diego siang tadi pun kini tak kalah menatap tajam pria itu seolah mengajak nya duel satu lawan satu.


Kedua mata itu saling pandang. Sorot mata keduanya menyiratkan kebencian satu sama lain. Cukup lama mereka saling tatap. Digo nampak mengetatkan giginya.


"apa kau tidak bisa diam? apa kau buta? kau tidak melihat ini sudah lewat tengah malam..? apa yang kau lakukan??" tanya Digo dengan emosi.


Arini tak gentar. Dua mata itu masih saling beradu. Lalu......


.


.


.


daaaaaaaaaaannggggg......


Digo memejamkan matanya menahan kesal. Di remasnya kedua lengan itu dengan kencang.


" Jangan membuatku marah, Arini...! sudah cukup kau membuat ulah hari ini...!!" ucap Digo dengan dada naik turun.


Arini tak bergerak. Lalu......


.


.


.


.


daaaaaaaaaaannggggg....!


Tong nya ditendang lagi.


"A..ri..ni...!!!!"


Daaaaaaaaaaannggggg.....!!


"kau....!!"


Daaaaaaaaaaannggggg.....!!

__ADS_1


"ka........"


daaaaaaaaaaannggggg.....!!


"Ar.........."


Daaaaaaaaaaannggggg.....!!


Daaaaaaaaaaannggggg.....!!


Daaaaaaaaaaannggggg.....!!


"OKE...!! OKE....!! MASUK KE KAMARMU SEKARANG...!!!" ucap Digo berteriak sambil melepaskan cengkeraman tangannya pada lengan Arini dan mengangkat lengan itu tinggi menunjuk ke arah kamar.


Sungguh, ia frustasi menghadapi anak perawan nya yang ternyata keras ini.


Dada Digo naik turun. Matanya melotot menatap ke arah Arini yang masih berdiri di hadapannya tanpa gentar.


"MASUK KAMAR, SEKARANG...!!" bentak Digo lagi. Arini menarik nafas panjang. Lalu......


.


.


.


daaaaaaaaaaannggggg......


Di tendang lagi. Untuk yang terakhir kali lalu gadis itupun berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut dengan mimik wajah marah.


Digo mengusap wajahnya hingga ke belakang kepalanya. Ia tak menyangka ternyata anak Calvin Alexander itu selain bodoh juga sangat keras kepala dan susah di atur. Bisa bisa Digo darah tinggi jika terus terusan di bantah ucapannya oleh Arini.


Digo keluar dari gudang. Ia berjalan menjauh dari tempat itu tepat di belakang Arini yang melangkah dengan kesalnya menuju kamarnya yang berada di belakang.


Digo berhenti, diamatinya wanita yang nampak kesal itu berjalan cepat menuju kamarnya. Dibukanya pintu kamar itu, lalu....


daaaaaaaaarrrrrr......


pintu dibanting dengan keras.


"banting terooos....!!!! pecahin semua...! rusak aja semua...!! dasar anak setan...!!" teriak Digo emosi.


Arini menyibikkan mulutnya di balik pintu.


"disir inik sitin...!" ucap gadis itu kesal. Arini menjatuhkan tubuhnya di kasur. Menutup telinga nya dengan bantal seolah tak mau mendengar suara sang ayah yang kini ngomel ngomel di luar sana.


Sungguh, pertengkaran tengah malam yang sengit antara anak dan bapak🤣


Arini memejamkan matanya. Digo terus ngomel ngomel tak jelas namun gadis itu tak peduli. Lebih baik ia segera tidur. Ia tak punya banyak waktu untuk tidur malam ini. Ia harus segera bangun nantinya guna bersih bersih rumah. Sehingga nanti saat daddy nya sudah berangkat ke kantor, pekerjaan nya di rumah sudah selesai. Dan ia bisa berangkat bekerja bersama Fajar dengan tenang nantinya.


...----------------...


Selamat malam,


up 19:06

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2