My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 140


__ADS_3

Waktu terus berjalan,


Setelah hari dimana Diego menjawab tantangan Arini yang memintanya datang ke kediamannya dan menemui sang ayah, sepasang calon pengantin itu kini mulai disibukkan dengan berbagai persiapan persiapan jelang pernikahan mereka.


Walaupun keduanya sepakat untuk membuat pesta pernikahan yang sederhana saja, namun keduanya tetap saja di buat sibuk dengan, mengurus surat surat guna mendaftar kan pernikahan mereka agar tercatat sah secara hukum dan negara. Terlebih lagi surat surat untuk Arini yang memang berdomisili di luar kota dan tidak memiliki identitas apapun saat ini, lantaran semua dokumen tentangnya sudah hangus terbakar.


Untungnya calon suaminya orang kaya. Dibantu pak Yanto di kampung, Diego dan Arini meminta tolong pria itu untuk bisa membantu mereka mengurus dokumen dokumen penting yang akan menjadi syarat bagi pernikahan mereka nantinya. Semua berjalan cukup mulus dan cepat. Tak ada kendala yang berarti, mengingat uang memang bisa memuluskan masalah apapun.


Siang ini,


Sebuah motor besar milik Diego Calvin Hernandez sudah terparkir di depan gerbang kampus tempat di mana sang kekasih menuntut ilmu. Tak seperti biasanya, dimana laki laki itu selalu menggunakan mobil mewah sebagai tunggangan nya, kini Digo lebih memilih untuk membawa motor guna menjemput Arini dan mengajaknya ke butik milik Giselle, untuk meminta restu.



"hai..!" ucap pria dengan sebatang rokok ditangannya itu saat melihat sang kekasih datang mendekati nya.


Arini diam. Tadi pagi saat mengantarnya kuliah, Digo masih pakai mobil. Kenapa sekarang saat menjemputnya sudah berganti dengan motor? pikir Arini.


"kenapa?" tanya Digo sembari membuang puntung rokoknya.


"kok tumben, pake motor?" tanya Arini.


"yaaa, lagi pengen pakai motor aja. Biar nggak macet.." ucap pria itu sembari mengulum senyum.


Arini diam. Ia kemudian mengangguk samar mempercayai saja ucapan laki-laki itu.


"Ya udah, yuk..! kita harus ke butiknya kak Giselle.." ucap Digo sembari menyerahkan sebuah helm hitam untuk gadis manis itu.


Arini hanya mengangguk. Diraihnya helm bogo berwarna hitam itu lalu mengenakannya sebagai pelindung kepala.


Dengan segera Ia pun naik ke atas motor trail dengan dua roda yang cukup besar itu. Membonceng dibelakang laki-laki tampan dengan kaos jeans berwarna biru tua tersebut.


Mesin motor dinyalakan. Diego nampak meng geber-geber motor itu hingga menimbulkan suara yang cukup bising.


Arini yang sudah duduk di belakang Digo nampak sibuk mengancingkan helm nya. Diego terlihat mengulum senyum dari balik helm full face berwarna hitam itu. Laki laki itu lantas menatap lurus kedepan. Motor siap untuk melaju. Kemudian......


.

__ADS_1


.


.


breeeeeemmmm......!!


Diego tancap gas. Tanpa aba-aba, pria itu melajukan motornya melesat bak angin topan. Menembus padatnya jalan raya ibukota, berbaur dengan kendaraan lain disana.


Arini yang belum sepenuhnya siap pun reflek menjerit lalu memeluk tubuh laki-laki itu dari belakang.


plaaaaakkkk....!


Arini menepuk pundak Digo kesal.


"pelan pelan dong..!!!" ucap Arini kesal dengan suara cemprengnya.


Digo terkekeh.


"katanya anak motor..! gitu aja kaget..!" ucap Digo.


"ya kamu nggak ngomong kalau mau jalan..! helm ku belum ke pake..! Ngancing nya susah..!!" ucap Arini mengomel yang justru terdengar begitu merdu di telinga Digo.


"jangan dilepas...".ucap Digo.


"ini di kancing dulu helm nya..!" ucap Arini.


"udah, pegangan aja. Aman kok.." jawab laki laki itu lembut.


Arini tak menjawab. Diam-diam wanita itu nampak mengulum senyum. Berbaur dengan angin yang menerpa tubuh keduanya, Arini menggerakkan tangannya, mengeratkan pelukannya atas pinggang pria dewasa itu lalu tanpa sadar ia merebahkan kepalanya di punggung kokoh milik laki-laki berjambang tipis itu.


Diego tersenyum lebar di balik helm full face nya. Kek gini mau pake acara ogah bikin anak ampe dua puluh satu tahun? yakin?? batin Diego sembari menggelengkan kepalanya lucu.


Motor terus melaju membawa sepasang kekasih yang sebentar lagi akan menjadi sepasang suami istri itu menuju sebuah butik mewah memiliki Gisellle Hernandez. Sepanjang perjalanan, Digo melajukan motor tersebut bak sebuah kendaraan yang kehabisan bensin. Sesekali ngerem mendadak membuat Arini maju mundur di buatnya. Tentu saja, hal itu membuat Arini ngomel ngomel di sepanjang perjalanan.


Tak lama,


Kendaraan roda dua itu sampai di sebuah bangunan yang terlihat elegan, baik dari dalam maupun dari luarnya itu. Didominasi dengan cat berwarna putih, memiliki beberapa sisi dinding dan jendela kaca bening transparan menampilkan koleksi-koleksi gaun dan pakaian berharga fantastis di dalamnya.

__ADS_1


Arini turun dari motor itu. Hendak melepas helmnya, namun dengan sigap tangan Digo bergerak, membantu wanita nya untuk melepaskan pelindung kepala itu dari sana lalu mengantungkan helm bogo tersebut di salah satu spion disana.


Digo pun melepaskan helm full face nya. Kemudian di letakkan nya benda tersebut di atas tank kendaraan yang identik dengan kaum pria itu.


Digo turun dari kendaraan nya sembari merapikan rambutnya. Arini nampak diam, matanya bergerak mengamati bangunan berlantai dua yang nampak megah itu. Lalu.....


.


.


.


seeeeetttt....


Digo meraih punggung tangan Arini. Membuat gadis itu menoleh ke arah pria yang kini menampakkan senyuman manis ke arahnya tersebut.


"yuk, masuk.." ucap Digo.


Arini mengulum senyum. Dalam hatinya memuja, betapa tampan dan sempurna nya paras pria itu.


Gadis belia itu kemudian mengangguk. Keduanya lantas berjalan bersama menuju ke dalam butik, untuk menemui Giselle yang berada di sana.


krriiiieettt....


pintu kaca itu terbuka...


"selamat siang, tuan Diego..." ucap seorang wanita yang merupakan satu pegawai butik tersebut. Wanita itu nampak tersenyum manis sembari mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Digi memang sudah cukup dikenal di tempat itu. Mengingat ia adalah adik kandung dari si pemilik butik.


"kak Giselle ada?" tanya Digo.


"ada, tuan. Ada di ruangannya..." ucap wanita itu.


Digo mengangguk. Laki laki itu lantas kembali menarik lembut tangan Arini, mengajak gadis yang nampak mengedarkan pandangannya ke tiap sudut butik itu untuk naik ke lantai dua dimana ruangan sang kakak berada.


...----------------...


Selamat malam,

__ADS_1


up 20:22


yuk, dukungan dulu 🥰😘


__ADS_2