My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 151


__ADS_3

Malam menjelang,


ceklek...


pintu kamar biru itu terbuka. Arini masuk ke dalam kamar yang kini ia tempati bersama suaminya itu sambil membawa satu kelas penuh jus jeruk dingin pesanan Diego.


"minum nya, dad" ucap Arini sembari meletakkan minuman dingin itu di atas nakas tepat di samping Diego yang nampak sibuk dengan laptopnya.


Ya, walaupun belum masuk kerja, tapi hari ini Digo kembali mulai sibuk dengan pekerjaan perkantoran nya meskipun hanya di handle dari rumah. Sedangkan selebihnya ia serahkan pada Sam yang ia tunjuk sebagai orang kepercayaan nya di kantor.


"taruh itu aja, baby" ucap laki-laki itu. Arini mendudukkan tubuhnya di samping sang suami.


"belum selesai, dad?" tanya Arini.


"bentar lagi...." jawab Diego tanpa menoleh.


Arini naik ke atas ranjang. Tak lupa ia meraih sebuah remote tv yang tergeletak di atas nakas tepat di samping Diego. Wanita yang nampak mengenakan daster satin putih dengan tali spaghetti di kedua belah pundaknya itu lantas naik ke atas ranjang. Ia mendudukkan tubuhnya di samping sang suami, menyandarkan kepalanya di pundak Diego kemudian menyalakan televisi yang berada di sana.


Diego menggerakkan kepalanya. Mengecup lembut pucuk kepala wanita cantik di sampingnya itu kemudian kembali fokus pada laptopnya.


"baby..." ucap Diego.


"di sekitar kampung kamu ada penginapan nggak?" tanya Diego.


Arini menoleh.


"untuk?" tanya Arini.


"ya kan kita perlu tempat tinggal sementara, sayang." ucap Diego sembari menutup laptopnya dan meletakkan nya di atas nakas.


Arini menegakkan tubuhnya. Diego membuka kaos hitamnya dan melemparnya asal. Ia kemudian bangkit dari ranjang dan menenggak minuman dinginnya hingga tandas.


"aku mana tau, dad. Tapi kayaknya sih ada, tapi ya, cuma rumah sederhana aja." ucap Arini.


Diego berjalan menuju lemari besar di sana, meraih sebuah koper miliknya yang berada di dalam lemari itu lalu mengambil sesuatu dari dalam sana.


Diego kembali menutup koper dan lemari itu. Ia berjalan mendekati ranjang lalu naik ke atasnya dengan membawa sebuah kotak beludru merah di tangannya.


"itu apa, dad?" tanya Arini.


Diego tersenyum. Ia lantas mendudukkan tubuhnya di samping sang istri, bersila menghadap wanita dengan beberapa bercak merah di dada dan lehernya itu.


Diego menunjukan kotak beludru merah tersebut, lalu membukanya. Sebuah kalung berlian nan indah terpampang manis disana.


Arini nampak membuka mulutnya. Diego mengeluarkan benda mahal nan gemerlapan itu dari kotaknya kemudian menunjukkan nya pada Arini.


"kamu tahu, kalung ini, adalah kalung yang dulu pernah daddy beli saat hari ulang tahun kamu" ucap Diego.


Arini diam. Di tatapnya pria di hadapannya itu dengan sorot mata dalam dan penuh cinta.


"dulu, daddy berfikir, daddy ingin menghadiahkan ini untuk kamu, sebagai kado spesial di hari ulang tahun kamu"


"daddy pengen, hari ulang tahun kamu yang ke sembilan belas, akan menjadi hari ulang tahun yang paling indah yang pernah kamu lewati. Yang akan selalu membekas dalam ingatan kamu. Makanya, daddy sengaja membelikan ini untuk kamu, daddy bahkan juga udah mendaftarkan kamu di salah satu kampus di kota ini. Daddy ingin membuat kamu bahagia di hari ulang tahun kamu dulu.." ucap Diego seolah mengenang masa masa dimana hubungan nya dan Arini mulai renggang.


"tapi ternyata daddy salah, sayang. Maaf, bukan kado terindah yang daddy bisa kasih buat kamu. Tapi daddy justru menyakiti hati kamu. Sangat sakit..." ucap Diego.


Arini menunduk.

__ADS_1


"Baby, daddy minta maaf. Daddy udah terlalu banyak salah sama kamu. Daddy terlalu sering melukai perasaan kamu." ucap Diego.


Arini mendongak menatap wajah suaminya.


"daddy udah terlalu sering minta maaf. Arin maafin daddy, kok. Kalau nggak dimaafin, Arin nggak mungkin mau nerima daddy jadi suami Arin" ucap wanita muda itu.


Diego tersenyum.


"udahlah, nggak usah diinget inget lagi yang dulu dulu. Yang penting sekarang semua udah baik baik aja. Kita udah menikah, kata bapak, itu artinya kita udah jadi satu. Harus saling melengkapi, harus saling menyayangi, harus saling menjaga, dan yang terpenting, harus saling terbuka satu sama lain"


"Dad, Arin itu cuma anak kecil. Anak kampung, anak yang banyak nggak tahu nya, banyak nggak ngerti nya. Maaf ya, kalau mungkin nanti Arin terlalu lemot buat daddy" ucap Arini begitu polos menyadari kekurangan nya.


Diego terkekeh. Ia mencondongkan tubuhnya, mendekat kan wajahnya pada sang istri yang terlihat begitu menggemaskan di mata Diego.


"tapi daddy suka sama lemotnya kamu. Lucu..! daddy suka sama kepolosan kamu, dan tingkah kamu yang apa adanya dan nggak pernah dibuat buat. Kamu itu polos. Ya, walaupun polos sama oon bedanya tipis sih..." ucapnya sembari terkekeh membuat wanita di hadapannya itu merengek sambil mencubit lengan berbulu halus miliknya.


Diego tertawa.


"ini mau di pakai nggak?" tanya Diego sembari meletakkan kotak beludru di tangannya di atas ranjang.


"mauk..." ucap Arini.


"dipakai dimana? kaki apa leher?" tanya Diego bercanda.


"puser aja, dad" jawab Arini membuat keduanya kemudian tergelak.


"ngadep sana, dong.." ucap Diego meminta Arini untuk merubah posisi tubuhnya, duduk membelakangi dirinya.


Arini pun berbalik badan. Sesuai perintah sang Diego.


Diego meringsut. Mengikis jarak dengan wanita kecilnya itu lalu memeluknya dari belakang.


"suka?" bisik pria itu tepat di telinga Arini. Arini yang kini sudah bersandar di dada bidang Diego pun tersenyum menyentuh liontin nya. Ia lantas mendongak, menatap wajah tampan yang kini sangat dekat dengan dirinya itu.


"suka, dad. Makasih, ya..." ucap Arini.


"apapun akan daddy kasih buat kamu. Sesuai janji daddy, daddy akan menjadikan kamu ratu di kehidupan daddy. Daddy akan selalu ada buat kamu, menjaga kamu, menyayangi kamu, dsn memberikan apapun yang kamu mau. Daddy akan menghapus dan menggantikan semua air mata yang dulu pernah kamu keluar kan. Semuanya..! dan daddy janji, mulai detik ini, hanya akan ada senyuman dan tawa yang terbentuk dari bibir kamu. Kalau pun ada air mata, itu adalah air mata kebahagiaan" ucap laki laki itu begitu bersungguh sungguh.


Arini nampak terharu mendengarnya.


"aku merasa jadi anak yang paling beruntung sekarang. Aku punya daddy, dan aku punya bapak. Kalian berdua adalah orang yang paling bisa aku banggakan dan aku andalkan. Ya... walaupun suami aku udah tua, tapi nggak apa apa deh..! aku jadi kayak punya dua ayah..." ucapnya.


"daddy bukan tua, sayang. Daddy dewasa...!" ucap Diego.


"terserah..! yang pasti aku seneng, aku juga menemukan sosok ayah yang selalu bisa melindungi aku dalam diri daddy. Karena biar gimanapun, daddy tetap jadi laki laki pertama yang aku temui, yang aku anggap sebagai ayah kandung ku dulu. Ayah yang walaupun sombong dan galak banget, tapi tetep baik dan perhatian sama aku. Aku sakit diurusin, di awasin, salah diomelin, diperhatiin. Pokoknya udah kayak ayah kandung beneran deh. Ya, walaupun agak agak labil dikit..! hehehe...! Makasih ya, dad..." ucap Arini lagi.


Diego tersenyum. Ia kemudian mengecup singkat bibir merah muda itu beberapa kali. Membuat Arini tersenyum bahagia dibuatnya.


Laki laki itu kemudian mendekatkan pipi berjambang nya pada wanita itu. Seolah meminta imbalan atas kecupan singkat yang ia berikan bertubi tubi tadi.


Arini pun menurut. Di raihnya wajah laki laki itu kemudian menghujani pipi kiri Diego dengan kecupan singkat bertubi tubi.


Tawa ringan tercipta dari keduanya. Diego mengeratkan pelukannya. Di benamkan nya wajah tampan berbalut jambang tipis itu di ceruk leher Arini. Kecupan lembut bertubi tubi kembali mendarat di kulit leher itu. Membuat Arini nampak tersenyum sembari memejamkan matanya.


Diego makin menggerakkan kepalanya bak vampir kehausan. Kecupan kecupan lembut itu berubah menjadi gigitan gigitan kecil di barengi dengan hisapan hisapan lembut. Menciptakan kembali beberapa tanda merah keunguan sebagai bukti kepemilikan atas tubuh wanita muda itu.


Arini milik Diego seutuhnya. Ia berhak atas wanita itu. Semua yang ada pada tubuh Arini adalah halal untuknya.

__ADS_1


Diego mulai menjadi jadi. Tangan dan kepalanya bergerak sesukanya. Menyentuh, meraba, merem*s, mencium, menggigit, dan melakukan apapun yang ia sukai pada tubuh ramping ideal milik putri Calvin Alexander itu.


Diego melepaskan pelukannya. Membimbing wanita itu untuk berubah posisi naik ke pahanya. Kini Arini nampak duduk di pangkuan laki laki itu dalam posisi saling berhadapan dengan pria matang itu.


Diego meraih kedua tangan Arini, mengarahkan nya menyentuh dada bertato milik nya dan membimbingnya untuk mengusap usap bagian tubuh yang akan sering menjadi tempat Arini membenamkan wajahnya itu.


Wanita muda itu nampak mengulum senyum. Tangannya bergerak gerak meraba raba dada bidang dengan perut sixpack milik suaminya itu. Sedangkan Diego kini kembali bekerja. Tangan kekar itu bergerak mengangkat daster satin itu hingga ke perut. Menggerakkan tangannya menyelinap ke dalam sana, mencari cari sebuah benda favoritnya yang nampak menggantung indah disana.


Tiba tiba ..


"heh...!! kok...? ini br* nya mana?" tanya Diego yang baru menyadari bahwa sang istri tak menggunakan kain pembungkus benda kembarnya itu. Laki laki itu nampak menatap lucu ke arah Arini yang tertawa malu sembari menutup mulutnya dengan menggunakan telapak tangannya.


"dari tadi kamu nggak pakai B*..?!" tanya Diego.


"pakai..! tapi di copot pas ganti baju tidur tadi..!" ucap Arini menyangkal.


"biar apa?" tanya Digo.


"Arin tuh udah biasa tau, dad. Kalau tidur tuh nggak pernah pake B* dari dulu..!" ucap Arini.


"ciiiihhh...! sejak kapan?! dulu kamu nggak kayak gini..! kita tuh udah pernah tidur berdua sebelum nikah, sayang..." ucap Diego.


"ya....itu kan... karena....itu...anu...."


"anu apa?!" tanya Diego sembari menarik tombol kecil berwarna pink kecoklatan di sana. Arini menggeliat sembari terkekeh.


"sengaja ya..! mau godain daddy ya?" tanya Diego lagi.


"idih, ngapain digodain? nggak usah digodain daddy juga udah kegoda, kok..! weeekkk" ucap Arini sembari menjulurkan lidahnya di akhir kalimat nya.


"dih, kamu ya..! centil banget sekarang...!" ucap laki laki itu kemudian dengan gemasnya menggelitiki pinggang ramping sang istri.


Arini tergelak. Diego meraih tubuh ramping itu sedikit membantingnya ke ranjang biru milik mereka. Membuat gadis itupun kini terkapar di bawah sang Diego yang mulai menatapnya nakal khas seorang Diego Calvin Hernandez.


Diego mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri. Berniat mencium bibir merah muda itu, namun tiba tiba....


seeeeetttt....


Arini menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"ngapain ditutupin, bocil?!" tanya Diego gemas.


"nggak mau..! daddy bau mulut..!" ucap Arini meledek seolah mengajak bercanda sang suami.


"nggak ada..!" ucap Diego sembari kembali menarik tombol kembar milik Arini. Membuat wanita itu reflek menurunkan kedua telapak tangannya itu dari wajahnya.


"daddy...! kebiasaan banget main tarik tarik aja..!!" rengek Arini.


"makanya nggak usah di tutupin..!" ucap Diego. Laki laki itu kemudian meraih kedua lengan wanita itu, lalu mengalungkannya di lehernya. Pria itu lantas mendekat kan kembali wajahnya pada wajah sang istri. Dengan gerakan lembut penuh cinta laki laki itu mulai menyambar bibir merah muda kesayangannya itu. Adegan panas sepasang suami istri itupun kembali terjadi. Tanpa melepaskan pautan bibir keduanya, Diego meraih remote televisi disana dan memperbesar volume kotak bergambar dan bersuara itu. Menyamarkan suara suara indah sang istri yang hanya boleh di dengar olehnya seorang.


...----------------...


Selamat malam


up 19:18


yuk, dukungan dulu 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2