My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 62


__ADS_3

Diego & Arini


...



...



Malam makin larut di dalam sebuah kamar luas nan mewah milik sang Diego..


Sepasang anak manusia itu saling pandang satu sama lain. Dengan sebuah guling sebagai pemisah di antara keduanya, Diego yang berbaring dalam kondisi tubuh bertelanjang dada nampak diam menikmati pemandangan indah di hadapannya. Sedangkan Arini yang mengenakan kaos putih dan celana pendek abu abu itu kini tengah sibuk dengan pemikirannya sendiri. Sejak tadi ia tak lepas menatap wajah tampan di hadapannya. Sambil jemari tangannya sibuk bermain main di wajah berjambang sang ayah. Digo juga hanya diam saja, membiarkan Arini melakukan apapun yang wanita itu mau pada paras tampan kebanggaan nya.


"mau sampai kapan kamu ngacak ngacak muka daddy? ini udah malem..! tidur..!" ucap Digo.


Arini tersenyum.


"daddy..." ucap Arini lembut.


"apa?" tanya Digo.


"Arin pengen bilang sesuatu sama daddy.." ucap gadis belia itu.


"apa?" tanya Digo tenang. Arini tersenyum begitu manis.


"Arin seneeeng banget. Bisa ketemu sama daddy. Akhirnya setelah delapan belas tahun Arin cuma bisa pegang uang pemberian dari daddy, sekarang, selama udah hampir dua bulan ini, aku bisa pegang wajah daddy, pegang tangan daddy. Bisa lihat daddy senyum, daddy ketawa. Seneng deh..." ucap Arini begitu bersyukur.


Digo diam tak menjawab. Ucapan polos itu justru seperti menjadi cambuk bagi dirinya, yang berhasil mengenai hati kecil seorang Diego Calvin Hernandez.


"daddy tau nggak, dulu waktu di kampung, aku nggak pernah punya temen kalau di lingkungan rumah. Aku punya temen itu cuma disekolah doang. Itupun cuma beberapa. Rumahnya jauh jauh. Soalnya, kalau orang orang disekitar rumah aku, semua pada nggak suka sama aku, dad. Sama nenek, juga sama ibuk. Mereka selalu bilang, kalau Arin ini anak haram. Anak yang lahir dari perbuatan zina. Anak yang lahir dari seorang pembantu yang menggoda majikannya. Apa itu bener, dad? apa dulu ibuk emang kayak gitu sama daddy?" tanya Arini dengan mata mengembun.


Digo merasa sesak. Entah mengapa rasa bersalah begitu membuncah dalam dirinya.


"nggak usah bahas yang nggak penting..!" ucap Digo dibuat setenang mungkin. Seolah ingin menyembunyikan rasa iba nya pada gadis polos di hadapannya.


Arini tersenyum.


"Arin dulu pernah, dad, punya pacar. Orang sekampung sama Arin. Baru seminggu pacaran, Arin dilabrak sama ibunya, katanya Arin godain anaknya. Di suruh jauhin anaknya. Mana ngelabraknya pas Arin baru pulang dari masjid lagi..! kan malu, dad. Tapi ya gimana lagi, kan anak haram.." ucap Arini lagi.


Digo masih diam.

__ADS_1


"daddy...." ucap Arini.


Digo diam.


"maaf ya...." ucap gadis itu.


"maaf karena Arin udah terlahir dengan selamat" ucap gadis itu membuat Digo diam tak bergerak. Sebuah pisau bak tertancap di dadanya mendengar kata kata itu.


"andai ada musibah saat Arin terlahir dulu, mungkin Arin nggak akan menjadi beban. Buat ibuk, buat daddy, buat semuanya"


"Arin tau, Arin bukan anak yang diharapkan. Kelahiran Arin adalah aib buat kalian kan? Arin cuma beban. Maaf...." cicit Arini.


buuuuuuuuuuggggghhhhh.....


guling terlempar entah kemana. Diego meringsut. Mengikis jarak dengan putri perawan Calvin Alexander itu. Ditangkup nya wajah cantik itu, membuat Arini kini mendongak, saling berhadapan dengan sang ayah dalam posisi tubuh yang makin dekat.


"kamu ngomong apa?!! jangan bicara kayak gitu lagi, daddy nggak suka..!" ucap Digo.


Arini nampak sesenggukan.


"kamu kenapa sih? ada apa? kenapa tiba tiba kamu ngomongnya ngaco kayak gini?" tanya Digo khawatir.


Gadis itu mulai terisak isak.


"aku minta maaf kalau aku nyusahin daddy. Aku sayang sama daddy...! aku cuma punya daddy, aku takut, dad...!" ucap Arini pilu. Ada rasa ketakutan tersendiri dalam benak gadis itu. Takut kecewa. Takut takdir kembali berlaku kejam padanya.


Digo menatap sendu gadis itu.


"kamu takut apa? nggak ada yang perlu kamu takuti...! aku juga sayang sama kamu..! kamu nggak nyusahin, sayang. Nggak. Aku yang minta maaf..." ucap Digo tanpa sadar menghilangkan kata 'daddy' dalam ucapannya.


Arini menangis lagi.


"jangan nangis..! bilang sekarang, kamu mau apa?" tanya Digo.


Arini sesenggukan.


"aku mau meluk daddy..! aku pengen tau rasanya dipeluk daddy..! hiks...!!"


Arini menangis tak tertahankan. Digo menarik tubuh ramping itu. Mendekapnya dengan sangat erat. Arini menghamburkan tangisannya. Menumpahkan seluruh air matanya. Menangis sejadi jadinya dalam dekapan laki laki yang mungkin kini mulai ia ragukan namun juga sekaligus ia harapkan sebagai ayah kandungnya itu. Diego memeluk erat gadis belia itu. Dalam hatinya terus merapalkan kata maaf. Maaf untuk gadis tak berdosa ini. Maaf karena sudah membohongi nya selama ini. Maaf sudah mempermainkan perasaan nya. Maaf sudah berlaku tidak baik padanya. Maaf sudah melibatkan nya dalam dendam yang sebenarnya sama sekali tidak Arini ketahui. Diego mulai merasa menyesal. Kepolosan dan segala tingkah polah gadis ini secara perlahan berhasil melunakkan kerasnya hati sang Diego.


Kini hati pria itu sudah mulai melembut. Arini sudah mulai menemukan figur laki laki yang menyayanginya dalam diri Diego meskipun masih samar samar. Andai suatu saat semua terbongkar. Kebohongan Diego terbuka. Arini tahu semuanya. Apakah tidak hancur hati gadis ini? terlebih kini mereka sudah mulai semakin dekat.

__ADS_1


Entahlah, bagaimana nasib mereka nantinya.


...****************...


Sementara itu di tempat terpisah...


Disebuah rumah yang cukup bagus namun tak semewah milik Diego...


Pesta miras digelar....


Suara musik cukup kencang diperdengarkan. Para pria nampak berpesta alkohol disana. Itu adalah teman teman Calvin. Yang kebanyakan adalah orang orang yang suka kebebasan. Berpenampilan urakan dengan tato dan tindik di sekujur tubuhnya.


Hanya ada miras. Tak ada narkoba, pelac*r, ataupun sejenisnya. Karena Calvin memang melarangnya.


Laki laki itu hanyalah seorang pemabuk. Bukan pemuja maksiat yang dekat dengan narkoba ataupun sesuatu terlarang lainnya.


Di atas sebuah sofa, bersama seorang wanita bertindik dan bertato yang sejak tadi mencuri pandang pada dirinya, laki laki itu nampak menatap sebuah pesan yang terpampang di layar ponsel nya. Sambil sesekali menenggak alkohol dalam gelas sloki di tangannya, pria itu terlihat diam.



Wanita bertato itu, Anya, anak buah sekaligus kawan yang rupanya diam diam menaruh hati pada duda empat puluh tahun itu nampak meringsut. Menyodorkan sebatang rokok untuk ayah kandung Arini Nindya Putri itu.


"bang..." ucap Anya sambil menyodorkan rokoknya. Ale alias Calvin nampak mengangkat telapak tangannya, seolah berkata 'tidak'.


Calvin kembali menatap layar ponsel itu. Diam membisu membaca sebuah pesan singkat, SMS, yang dikirim oleh seorang laki laki di sebuah kampung kecil di luar kota besar itu.


"tuan, Arini udah ketemu belum? ini bapak saya mau jual sawah. Insya Allah aya dapat bagian. Saya punya rencana mau ke kota, bantuin tuan cari Arini. Nanti saya coba ke sekolah Arini, mintain poto Arini waktu sekolah, barangkali gurunya masih nyimpen. Soalnya kalau warga sini nggak ada yang punya. Tau sendiri kan, orang orang kampung sini banyak yang mengucilkan Arini dari kecil." tulis pesan itu.


Pesan dari Pak Yanto, tetangga Arini. Orang yang beberapa tahun lalu ia percayai untuk menjaga sang putri.


Calvin mematung. Entah bagaimana perasaan nya. Jujur saja sebenarnya ia tak begitu antusias untuk mencari anaknya itu. Namun jauh dari dalam lubuk hati terdalam nya, ada sesuatu yang berbeda.


Walau bagaimanapun ada manusia yang 'tanpa sengaja' terlahir ke dunia karena kekhilafan nya di masa lalu. Seorang manusia yang 'mungkin' sejak kecil sudah kehilangan figur orang tua. Sosok manusia yang juga berhak bertemu orang tua kandungnya.


Entah akan bagaimana laki laki itu nanti akan bersikap, jika suatu saat ia bertemu dengan sang putri kecil yang belum pernah ia jumpai sejak kecil itu. Akankah ia bahagia? atau biasa saja?!


...----------------...


Selamat pagi,


up 08:09

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰😘


__ADS_2