
08:00 pagi
Dua motor beda tipe itu nampak memasuki halaman tak terlalu luas kediaman Calvin Alexander.
Dua pria berpenampilan preman itu nampak turun dari tunggangan nya masing masing.
Ya, itu Calvin dan Ivan...!
Setelah menemui Diego di bandara dan meluapkan segala kekesalan nya pagi ini, kini Calvin kembali memasuki rumah megah miliknya. Menemui sang putri yang ia tinggalkan sejak dini hari tadi hingga saat ini.
ceklek....
pintu utama rumah dua lantai itu terbuka. Calvin dan Ivan pun masuk ke dalam nya. Seorang pria bertato lainnya yang nampak merebahkan diri di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya itu nampak terbangun dari posisi rebahan nya.
Ya itu Miko...! anak buah Calvin yang ditugaskan untuk menjaga Arini pagi ini.
"bang..!" ucap Miko.
Calvin dalam mode lebih tenang sekarang.
"Arini mana?" tanya laki laki berewokan itu.
"belum keluar kamar, bang." ucap Miko.
"gua nggak berani masuk..! gue ketok ketok pintunya nggak ada jawaban. Kayaknya belum bangun sih.." tambah laki laki bertato dan bertindik itu.
Calvin terdiam. Inikan sudah siang, apa gadis itu tidak berangkat kuliah dan bekerja? pikir Calvin.
Pria berjambang lebat dengan rambut gondrong itu lantas mengayunkan kakinya menuju kamar sang putri yang berada di lantai dasar rumah itu.
ceklek....
pintu kamar terbuka. Dilihatnya disana Arini nampak tidur tengkurap di atas ranjang dengan headphone menutupi kedua belah telinganya.
Calvin tersenyum. Ia lantas berjalan mendekati ranjang ber sprei biru itu lalu mendudukkan tubuhnya di tepian sana.
Tangan kekar itu tergerak. Diusapnya pucuk kepala sang putri yang tengah menyelami mimpi mimpi indahnya itu dengan lembut.
"Rin," ucapnya lembut. Gadis itu masih tak bergerak. Calvin menyentuh pipi mulus yang nampak sedikit cubby itu. Laki laki itu nampak tersenyum menatap wajah polos nan tenang milik sang putri itu
"Arini, bangun, nak.." ucap Calvin lagi.
"sayang, kamu nggak kerja?" ucap pria berwajah sangar itu lagi.
Arini menggeliat. Ia nampak meregangkan otot-otot tubuhnya. Matanya perlahan terbuka, lalu tersenyum tipis manakala menyadari sosok sang ayah yang nampak duduk di samping tubuhnya.
Arini meringsut, menggerakkan tubuhnya mendekati sang ayah tanpa sudi untuk bangun dari tempat tidurnya. Ia mengangkat kepalanya, merebahkan kepala itu di pangkuan sang ayah lalu memeluk pinggang Calvin yang duduk di tepi ranjang itu.
"kamu nggak kuliah, nak?" tanya Calvin pada putri sembari membelai rambut panjang itu.
Arini menggelengkan kepalanya sambil membenamkan wajahnya di perut rata ayahnya.
__ADS_1
"bolos?" tanya Calvin lagi.
Arini mengangguk.
Calvin hanya bisa menghela nafas panjang sambil tersenyum. Mungkin Arini sedang terbawa suasana sedih dalam hatinya. Jadi ia malas mau melakukan apapun, termasuk berangkat kuliah.
Tak apalah sehari saja, pikir laki-laki yang memang memiliki pemikiran santai dan masa bodoh itu.
"nggak kerja?" tanya Calvin lagi.
Arini menggelengkan kepalanya.
"Aku mau keluar aja, Pak..! aku nggak mau kerja di situ lagi, males..!" ucap Arini sambil terus membenamkan wajahnya di sana.
Calvin diam.
"males kerjanya atau males ketemu Diego?" tanya Calvin lagi.
Arini berdecak kesel sembari menggerakkan satu kakinya menendang udara. Ia lantas mendongak menatap wajah ayah tersayang nya itu.
"nggak usah sebut sebut nama dia lagi, Arin nggak mau denger...!!" rengek gadis itu lalu kembali menjatuhkan kepalanya di samping paha Calvin.
Calvin mengulum senyum lagi, lalu mengusap pucuk kepala gadis itu.
"iya, iya, maaf..!" ucap Calvin.
"ya udah, kalau nggak mau kerja lagi. Fokus kuliah aja..!" lanjut Calvin.
"bapak," ucap Arini.
"apa?" tanya Calvin.
"pindah ke Jupiter, yuk" ajak gadis itu membuat Calvin reflek tergelak. Arini yang memasang mode murung itu nampak mendongak. Menatap sang ayah yang kini terlihat tertawa ngakak.
"apa sih, Rin. Kok ada ada aja kamu.." ucap Calvin.
"aku nggak mau ketemu dia, pak..! Arin benci sama dia...!" ucap Arini.
Calvin mencoba menghentikan tawanya.
"ntar kita bikin kerajaan disana. Kan tempatnya luas, pak, disana. Bapak jadi rajanya, aku putrinya. Ntar mas Ivan di ajak, pak, biar rame.." ucap Arini menghayal bebas seolah ingin menghibur dirinya sendiri.
"trus mas Ivan jadi apanya?" tanya Calvin menanggapi.
"kudanya..."
"hahahahahahaa......" laki laki gondrong itu tertawa lebar. Arini ikut terkekeh meskipun sakit di hatinya belum sepenuhnya sembuh.
"Rin, Rin, kok kamu makin hari makin ngeselin sih?" ucap Calvin sembari meraih dagu sang putri kemudian mencengkeram nya dengan gemas hingga membentuk bibir tweety.
Arini menggeliat lagi. Ia kembali menenggelamkan wajahnya di perut rata Calvin.
"sarapan dulu, yuk. Kamu belum makan, kan?" tanya Calvin.
__ADS_1
Arini menggelengkan kepalanya.
"ya udah, makanya makan dulu. Kasian mas Ivan sama Miko di luar juga belum makan. Mereka pasti juga lapar" ucap Calvin.
Arini tak menjawab.
"nanti kamu ikut bapak aja ke studio mau nggak? daripada di rumah nggak ada temennya" ucap Calvin.
"mau ngapain?" tanya Arini.
"ya ikut aja, daripada di rumah nggak ada temennya, kan...?!" ucap Calvin sambil membelai rambut sang putri dengan lembut.
"nggak mau, ah..! temen bapak serem-serem semua..! Arin takut ..!" ucap Arini sembari bangkit dari tidurnya lalu duduk bersila di samping sang ayah.
"bapak juga serem..! kok kamu nggak takut ama bapak?" tanya Calvin lagi.
"ya beda, pak..! kan bapak baik..!" ucap Arini lagi.
Calvin tersenyum.
"mereka juga baik, sayang. Cuma penampilan mereka aja yang agak lain" ucap Calvin.
"dah yuk, makan dulu" ucap pria itu lagi.
"Arin mandi dulu, pak" jawab gadis itu.
Calvin tersenyum lalu mengangguk. Laki-laki itu lantas berlalu keluar dari kamar tersebut. Sedangkan Arini bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sampai saat ini, Arini belum tahu tentang apa yang baru saja terjadi antara ayahnya dan Diego. Ia juga tak tahu bahwa rupanya Diego pernah punya niatan untuk pergi ke luar negeri.
Mungkin nanti Calvin akan bercerita pada gadis itu saat Arini mulai tenang dan tak sedih lagi.
...****************...
Sementara itu, di tempat terpisah,
Pria tampan dengan wajah babak belur itu nampak mengompres sendiri luka di ujung kanan dan kiri bibir nya. Dengan sebotol air mineral di hadapannya, laki-laki itu menatap nanar ke arah sebuah burung besi yang baru saja terbang membelah langit kota tersebut.
Ya, Diego gagal terbang. Ia sudah ketinggalan pesawat akibat keributan yang terjadi antara dia dan Calvin pagi tadi.
Sebenarnya ia masih bisa membeli tiket lagi untuk penerbangan berikutnya. Tapi entah mengapa hatinya kini berkata lain.
Sakit, sedih, kecewa, malu, bingung semua campur menjadi satu. Banyak orang yang sudah ia kecewakan. Banyak langkah yang ternyata sudah salah ia ambil selama ini.
Ucapan Calvin seperti nya berhasil menampar hati seorang Diego Calvin Hernandez. Terlebih lagi sekarang kakaknya juga kecewa padanya. Hal yang sangat jarang Giselle tunjukkan selama ini.
Kini Digo seolah tak punya siapapun yang berpihak padanya di dunia ini. Laki-laki itu kembali meng galau. Entah apa yang akan ia lakukan setelah ini. Ia tak tahu.
...----------------...
Selamat siang menjelang sore
maaf up nya telat, yuk, dukungan dulu 🥰
__ADS_1