My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 105


__ADS_3

"bapak mau nikah lagi?"


.


.


.


deeeeegggghhhh....


Calvin menghentikan pergerakan nya. Mobil itu batal untuk berjalan. Calvin menoleh ke arah sang putri dengan sorot mata yang nampak menyipit.


"apa?" tanya Calvin.


"bapak mau nikah lagi?" ucap Arini mengulangi pertanyaannya.


Calvin diam. Bola matanya bergerak gerak mengamati sang putri seolah bertanya tanya, kenapa tiba tiba anak gadisnya ini melontarkan pertanyaan yang demikian?


"kamu kenapa tiba tiba nanya kaya gitu?" tanya Calvin.


Gadis itu membungkuk, mendekat kan wajahnya pada wajah sang ayah kemudian berbisik pelan..


"kak Giselle suka tuh sama bapak. Dia lirik lirik bapak terus dari tadi" ucap gadis polos itu mengajak bapaknya yang berewokan bergibah.


Calvin mengulum senyum. Mulai tertarik dengan pergosipan yang Arini buka. Bukan pada topiknya, tapi pada penyampaian nya. Terlebih lagi kinj wajah gadis itu nampak begitu polos dan menggemaskan saat mengucapkan hal tersebut.


"masak?"


"hooh..!" ucap gadis itu dengan mimik wajah penuh keyakinan dan anggukan kepala yang mantap.


Senyuman kembali terbentuk dari bibir yang dikelilingi bulu bulu lebat itu.


"terus..?" tanya nya.


"kok terus? ya bapak gimana?!" tanya Arini.


"nggak tau..! emang kamu mau punya ibu tiri?" tanya Calvin.


Arini nampak berfikir. Bibirnya mengerucut, lalu menggelengkan kepalanya.


"nggak tauk..! emang kalau punya ibu tiri itu enak ya, pak?" tanya Arini polos.


Calvin terkekeh.


"tergantung..! tergantung seperti apa ibu tirinya. Kalau dapat yang baik ya enak. Kalau nggak ya enggak..!" ucap Calvin.


"kalau kak Giselle, pak?" tanya Arini lagi.

__ADS_1


"kamu itu kenapa sih? kok tiba tiba nanya kayak gitu? setelah istri bapak meninggal, bapak sama sekali nggak pernah berfikir untuk menikah lagi. Apalagi sekarang.." ucap Calvin.


"kenapa?" tanya Arini.


Calvin tersenyum manis. Tangan itu tergerak mengacak acak lembut pucuk kepala sang putri yang terlihat polos dan menggemaskan..


"karena sekarang bapak udah punya kamu. Kita hidup berdua aja udah cukup buat bapak" ucap Calvin.


"tapi kan nanti suatu saat Arin pasti bakal nikah. Trus bapak gimana?" tanya Arini.


Calvin mengubah posisi tubuhnya menghadap ke depan sambil mengulum senyum. Mobil pun mulai bergerak maju.


"ya berarti kamu sama suami kamu yang harus ngurusin bapak." ucapnya.


"jadi nanti kalau kamu cari suami, harus yang mau menerima bapak dan mau ikut jagain bapak. Kalau nggak, bapak nggak akan ngerestuin..! sampai kapanpun..!" ucap Calvin santai sembari membawa kendaraan roda empatnya menembus jalanan ibu kota.


Arini tersenyum.


"iya, iya ..!" jawab gadis itu.


Keduanya pun lantas kembali terlibat perbincangan hangat di dalam mobil mereka yang tengah melaju menuju kediaman keduanya.


Sementara itu di dalam restoran....


Giselle yang baru saja sampai itu nampak berjalan dengan riang mendekati sebuah meja disana. Tempat dimana seorang pria tampan tengah menunggunya.


Digo juga tahu apa yang baru saja Giselle lakukan sebelum mendekati nya yang sudah hampir kering menunggu nya di tempat itu. Wanita itu mendekati dan menyapa Arini serta bapaknya...!


"ngapain lu tadi nyamperin Arini?" tanya Diego dengan mimik wajah tidak suka pada wanita yang kini mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi di hadapannya itu.


"apasih, Go? nyapa aja..! suka aja aku sama anak itu, manis.." ucap Giselle sambil melambaikan tangannya seolah memanggil pelayan disana lalu mulai memesan makan dan minum. Hari ini sepasang saudara kandung itu memang janjian untuk makan siang. Tapi nyatanya Giselle sangatlah telat. Digo sudah hampir seperempat jam berada di sana, tapi wanita itu baru datang. Ia bahkan sama sekali tidak merasa bersalah sudah membuat Digo menunggu selama lima belas menit lamanya. Ia bahkan masih sempat menghampiri Arini dan bapaknya lalu berbasa-basi kepada mereka.


"lu pikir gue bego apa? gua lihat ya, lo tuh dari tadi lirik lirik bapaknya bukan fokus ngobrol ama anaknya..!" ucap Digo kesal. Namun wanita dihadapan nya justru tak henti mengulum senyum.


"ya abisnya bapaknya juga lucu..!" jawab Giselle santai.


"anj*r, kok lu gatel sih, kak?" tanya Digo tak habis pikir.


Giselle tak menjawab. Ia hanya terkekeh lalu senyum senyum sendiri tak jelas. Digo nampak nyengir geli melihat tingkah janda baru yang sepertinya mulai tebar pesona pada duda gondrong itu. Digo juga tahu, Giselle memang mengagumi sosok Calvin.


"udah, nggak usah berisik, deh. Buruan pesen makan..! kakak laper" ucap Giselle sembari menyerahkan buku menu di tangan nya pada sang adik.


...****************...


Malam menjelang...


Di area belakang rumah Calvin Alexander. Tepatnya di tepian kolam renang, dimana sebuah samsak besar tergantung disana, menjadi objek latihan tinju sang pemilik rumah, Calvin Alexander.

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Lantaran kini sang duda gondrong sudah jarang pesta miras, malam ini pun Calvin menyempatkan diri untuk melatih fisiknya dengan berlatih tinju.


Arini datang dari dalam rumah dengan kaki diseret. Gadis cantik itu lantas duduk di salah satu kursi disana sembari memperhatikan gerak sang ayah yang nampak begitu lincah itu.


Tak lama, sekitar sepuluh menit Arini duduk disana, Calvin pun menyudahi aktivitas olah raga malamnya. Pria yang sudah penuh dengan keringat itu lantas mendekat kearah meja kursi tempat dimana sang putri tengah duduk menunggu nya disana.


"belum tidur?" tanya Calvin sembari meraih botol minum di atas meja lalu menenggaknya.


"belum ngantuk, pak" ucap gadis itu sambil menatap pergerakan sang ayah.


Botol minum diletakkan. Pria itu kemudian meraih sebuah handuk kecil di sana lalu mengusap keringat yang keluar dari tubuhnya.


"pak.." ucap gadis itu.


"hmm..." jawab si bapak sembari mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi disana.


"Mbak Glenca minta Arin masuk kerja lagi kalau udah sembuh" ucap Arini yang rupanya baru saja mendapatkan telepon dari Glenca, mantan bosnya.


Calvin menoleh.


"kan mau kuliah" ucap Calvin.


"makanya aku nanya bapak. Kalau aku nyambi kerja, boleh nggak?" tanya gadis itu meminta izin.


"capek, nak. Kalau kamu nggak bisa bagi waktu malah kacau nanti kuliahnya" ucap Calvin.


"insya Allah bisa, pak. Dari pada nanti Arin kesepian dirumah. Kalau Arin udah sembuh kan pasti bapak juga kerja, balik lagi ke studio tato. Arin sendirian dirumah" ucap Arini pada sang ayah yang kini nampak mengusap wajahnya dengan handuk kecil itu.


"gimana, pak? cuma buat ngisi waktu aja. Daripada Arin nggak ngapa ngapain.." ucap Arini lagi.


Calvin menoleh sembari menghela nafas panjang.


"ya udah, terserah kamu. Tapi kalau kamu capek, istirahat. Nggak usah dipaksa. Dan kamu juga harus janji, harus bisa bagi waktu kamu antara kerja dan kuliah. Dan satu lagi, tunggu sampai kondisi kaki kamu benar benar pulih. Oke..?" ucap Calvin.


"oke, bos..!" ucap gadis itu riang sambil mengangkat kedua jempol tangan nya.


Calvin tersenyum lucu.


"sini peluk bapak dulu.." ucap Calvin sembari merentangkan kedua tangannya.


"nggak mau, bapak bauk..! Arin mau tidur..!" ucap Arini kemudian bangkit dari posisi duduknya kemudian berlalu menuju kamar nya. Calvin hanya terkekeh mendengar ucapan gadis cantik itu.


...----------------...


Selamat pagi,


up 05:04

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰🥰


__ADS_2