
Pemandangan hijau di kaki gunung menyambut kedatangan dua buah mobil mewah yang tumpangi Keluarga pak Yanto dan Calvin.
Hawa yang begitu sejuk, pemandangan yang asri dengan warna hijau yang memanjakan mata, kehidupan masyarakat pedesaan yang kebanyakan melewati waktu sore mereka dengan pergi ke sawah sekedar menengok lahan tempat mereka menanam padi yang mulai menguning, atau sekedar mencari rumput untuk pakan ternak mereka.
Pohon berdaun rimbun terlihat jelas di kanan dan kiri jalan setapak berbatu yang nampak bersih, dengan beberapa sampah daun yang nampak di bakar di sisi kiri dan kanan jalan. Rumah rumah sederhana, dengan beberapa bocah yang nampak asyik bermain bersama. Lari larian, bersepeda, main bola di halaman, serta beberapa ibu ibu yang nampak asyik menggendong seorang balita dengan wajah berbedak tebal sambil menyuapinya makan.
Suasana yang begitu tenang dan damai. Tidak ada bangunan tinggi menjulang, bus bus panjang, ataupun suara bising knalpot kendaraan yang saling bersahutan.
Hanya ada satu dua motor yang lewat, lebih banyak dari warga bepergian hanya dengan berjalan kaki.
Diego mengulum senyum. Ternyata istrinya benar benar orang pedalaman, pantas saja agak kampungan...! tapi kok ya bisa seorang Diego tergila gila sama perempuan dari pelosok seperti ini? pikir Diego sambil terus memeluk Arini yang mulai terlihat kembali bersemangat setelah cukup lama berkutat dengan mual nya itu.
"kek nya happy banget kamu?" tanya Diego sembari mengusap usap pundak Arini.
"iya dong..! aku kangen banget sama kampung ini, dad.." ucap gadis itu.
"lihat deh, dad. Aku dulu pernah hampir hanyut waktu berenang di sungai itu.." ucap Arini sembari menunjuk sebuah sungai yang terlihat jernih di sisi jalan setapak menanjak yang ia lewati.
"oh iya,..?" tanya Diego menanggapi.
"iya, beneran..!" ucap wanita itu. Ia kemudian terus berceloteh, menceritakan masa kecilnya di tanah kelahirannya yang hingga saat ini pun masih terlihat asri dan tak terlalu banyak berubah.
Sementara di kursi bagian depan. Calvin nampak diam. Sorot matanya menatap lurus ke depan, entah mengapa menginjakkan kaki di tempat ini bersama sang putri justru membuat otaknya kembali berputar, mengingat sosok wanita ibu kandung sang putri yang bahkan hingga ia menghembuskan nafas terakhirnya Calvin tak pernah menikahi nya.
__ADS_1
Ya, hidup berkalung malu dengan mengandung bayi tanpa suami. Hidup di daerah terpencil minim fasilitas namun dengan adat istiadat dan nilai moral bermasyarakat yang masih sangat kental. Dikucilkan, dianggap hina, di rendahkan..! betapa beratnya kehidupan Dewi di masa lalu. Masih sangat untung bayi dalam kandungannya bisa bertahan hingga terlahir ke dunia dan tumbuh dewasa. Wanita itu pasti sangat rapuh baik fisik maupun mentalnya.
Calvin menghela nafas panjang. Matanya tiba tiba saja mengembun, mengingat derita seorang wanita desa yang malang karena perbuatan bej*tnya itu .
Tak berselang lama kemudian, saat jam menunjukkan pukul lima sore, mobil mewah berwarna hitam itu nampak memasuki sebuah pemukiman rumah warga. Rumah rumah nampak berjejer disana. Bangunan bangunan berdinding tembok yang tak terlalu padat dengan jalanan berbatu rapi nampak tersaji disana.
Mobil itu lantas sampai di depan sebuah rumah di kaki gunung itu.
Rumah tak bertingkat yang berada di tengah tengah pemukiman penduduk. Bercat putih kombinasi abu abu, sebuah teras dengan keramik coklat serta satu set kursi meja rotan dan beberapa pot bunga menghiasi bagian depan rumah itu. Sebuah halaman rumput yang terlihat rapi dengan jalan setapak kecil menuju teras berada di tengah tengah nya tanpa ada pagar besi sebagai penyekat dengan rumah warga lainnya.
Calvin, Arini, dan Diego serta Roni si supir nampak turun. Anak buah Diego itu lantas menurunkan beberapa koper milik sang bos besar.
Arini diam sejenak mengamati rumah itu. Ia kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat itu, dimana beberapa warga yang melintas nampak menengok ke arahnya. Entah menengok karena mengenali Arini, atau menengok karena kedatangan penghuni baru di kawasan yang bisa dibilang "komplek perumahannya" kampung kecil itu.
Hingga suatu ketika ia pernah terlibat asmara dengan seorang penghuni kawasan itu yang juga merupakan teman sekolahnya, namun sayang, cinta mereka di tentang orang tua si laki laki karena status Arini yang di anggap anak haram.
Arini juga masih ingat betul dimana rumah laki laki mantan pacarnya itu. Tak jauh dari rumah calon tempat tinggal sementara nya ini.
"ini rumah nya, tuan. Ini satu satunya rumah yang disewakan disini. Bisa kalau ditempati sekitar dua sampai tiga minggu. Ini yang paling dekat dengan kampung nona. Soalnya kalau cari hotel atau penginapan lain, terlalu jauh, tuan. Akan memakan banyak waktu. Kalau mau ke kampungnya nona, ini tinggal lurus saja sudah sampai..." ucap Roni.
"benar kan, non?" tanya Roni pada Arini.
Wanita itu hanya mengangguk.
__ADS_1
"semua sudah saya urus, termasuk biaya sudah saya urus dengan pemilik bangunan ini. Tuan tinggal menempati nya saja. Kalau ada apa apa, tuan bisa hubungi saya" ucap Roni lagi.
Diego menghela nafas panjang. Ia kemudian mengangguk.
"oke.." jawabnya santai.
Tak berselang lama, sebuah mobil mewah lainnya mendekat. Itu adalah mobil yang tadi mengantar keluarga Pak Yanto pulang, yang dikemudikan oleh seorang teman dari Roni.
"ini kunci mobilnya, tuan." ucap Roni sambil menyerahkan kunci mobil yang tadi di kendarai nya. Mobil itulah yang akan Diego gunakan untuk transportasi selama di kampung ini. Sedangkan Roni nanti akan kembali ke tempat kerja bersama satu temannya yang tadi mengantar pak Yanto.
Diego pun menerima kunci itu.
"lu masukin dulu nih koper semua ke dalem sebelum lo pergi" ucap Diego memerintah.
"baik, tuan.." ucap Roni.
Diego pun lantas masuk ke dalam rumah itu bersama sang istri dan mertuanya.
...----------------...
Selamat pagi,
up 10:15
__ADS_1
yuk, dukungan dulu...🥰🥰