
Di depan sebuah kampus yang menjadi tempat Arini menuntut ilmu...
Gadis cantik sejak tadi nampak sibuk berkali kali berkaca pada layar ponselnya. Merapikan rambutnya, membenarkan bajunya, memastikan make up wajahnya tidak terlalu menor.
Belum sampai sepuluh menit ia duduk di tempat itu. Keringat juga belum tercipta disana. Namun gadis itu sejak tadi tak henti hentinya menarik nafas panjang lalu membuangnya, begitu terus menerus. Seolah ingin menetralkan degup jantung nya yang seolah sama sekali tak mau diajak kompromi.
Tolonglah, sebagai seorang wanita ia juga sadar, ia harus punya harga diri. Ia harus sedikit jual mahal dihadapan Digo, meskipun di belakang pria itu gadis itu sudah seperti orang gila, suka loncat loncat dan guling guling sendiri, tapi ia tak boleh menunjukkan hal yang cukup memalukan itu di jika sedang berada di samping Digo.
Terlebih ada masa lalu yang kurang mengenakan yang pernah ia alami bersama laki laki itu. Meskipun Digo seolah sudah membayar nya dengan berbagai pengorbanan dan penyelamatan untuk Arini, setidaknya Arini ingin laki laki itu harus punya perjuangan lebih lagi jika ingin mendekati dan meraih hati gadis itu. Termasuk salah satunya datang menemui ayahnya, Calvin.
Ya, Arini tak pernah tutup mata akan hal itu. Reaksi gila dan bar bar yang kini ia tunjukkan adalah reaksi yang tak bisa dibendung dari seorang ABG labil yang sedang jatuh cinta. Reaksi sekuntum bunga mekar yang tengah di goda oleh seekor kumbang tua, eh, maksud nya dewasa.ðŸ¤
Arini menatap ke arah jam ditangannya. Ia lantas kembali melongok ke arah jalan raya. Sebuah mobil hitam yang pastinya berharga milyaran nampak perlahan mendekat ke arahnya. Lalu berhenti tepat di hadapannya yang tengah berdiri di pinggir jalan.
tin...
Kaca mobil terbuka.
Seorang pria tampan dengan kacamata hitam nampak duduk di kursi kemudi, sedikit membungkuk menatap sang gadis sembari mengulum senyaman yang begitu manis khas seorang Diego Calvin Hernandez.
"hai, cantik" ucapnya.
degghhh....degghh...degghh....
Jantung Arini memang benar benar kurang aj*r..! tak bisa diajak kompromi. Tak bisa untuk tenang barang sejenak sesuai perintah majikannya.
Arini memasang mode tenang sedikit cuek dengan bumbu judes di dalamnya.
"masuk, gih" ucap Diego.
Arini hanya mengangguk. Gadis itu lantas masuk ke dalam mobil itu. Mendudukkan tubuhnya di kursi samping kemudi kemudian mulai bersikap tenang, menatap lurus ke depan.
Satu detik..
.
.
Dua detik..
.
.
Tiga detik..
__ADS_1
.
.
Sepuluh detik..
Arini menoleh. Sorot mata bulat milik anak Calvin dan mata tajam milik sang Digo bertemu. Laki laki itu nampak diam dengan posisi tubuh miring, menikmati pemandangan indah di sampingnya itu.
Senyuman khasnya yang menggoda tersungging indah. Matanya memancarkan rasa kagum pada seonggok makhluk cantik di hadapannya.
Degghhh....degghh...degghh....
Jantung gadis itu makin berdebar tak karuan. Membuat Arini makin tremor dibuatnya.
"kenapa?" tanya Arini gugup.
Digo menggelengkan kepalanya tanpa melepas senyuman mautnya.
"trus, kok.. nggak.. jalan?" tanya Arini lagi.
Digo mempertegas senyuman nya.
"cantik" puji pria itu kemudian.
Arini membuka mulutnya. Setengah mati ia menahan perasaannya, agar tak terlihat konyol di mata Diego.
"mau kemana hari ini?" tanya Digo.
Arini menoleh. Lalu mengangkat kedua bahunya bersamaan.
"kan kamu yang ngajak. Terserah kamulah.." ucap gadis itu.
Digo mengulum senyum lagi.
"ya udah, kita berangkat.." ucap Digo.
"ya..." jawab gadis itu kemudian.
Digo tersenyum. Ia pun mulai menyalakan mesin mobilnya. Arini membenarkan posisi duduknya, menyandarkan tubuh ramping itu di sandaran kursi lalu memangku tas selempang nya. Namun tiba tiba.....
seeeeetttt.....
Degghhh....degghh...degghh....
Jantung Arini makin tak bisa dikendalikan detaknya. Gadis itu mematung. Matanya terbuka lebar. Digo menggerakkan tubuhnya mendekati sang gadis belia. Sangat dekat. Bahkan teramat dekat.
__ADS_1
Tangan kekar itu meraih sabuk pengaman disamping Arini. Wajah keduanya saling berdekatan. Diego mengulum senyum. Menikmati paras ayu itu dari jarak yang hanya beberapa senti saja.
Arini membuka mulutnya. Netra bulat itu terfokus pada pria tampan berjambang tipis di hadapan nya. Batin gadis itu kembali memuji. Betapa sempurnanya pahatan wajah makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini. Begitu tampan rupawan. Membuatnya makin berdebar berdekatan dengannya.
klikk...
sabuk pengaman terpasang dengan sempurna. Melingkar di tubuh ramping gadis yang kini diam tak bergerak itu.
"biar aman." ucap pria itu lembut tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah cantik gadis itu.
Arini menarik nafas panjang mendengar kalimat itu. Lalu....
hhhmmmmhhh.....
Gadis itu menghembuskan nafas panjang dari mulut dan bibirnya. Sehingga berhasil menerpa wajah laki laki dihadapan nya.
Diego memejamkan matanya. Senyuman manis kembali ia sungging kan manakala merasakan terpaan udara dari bibir indah dan hidung Arini.
Laki laki itu kembali membuka matanya.
"makasih" ucap Arini pelan masih dengan degup jantung yang semakin tak terkontrol.
Digo mengangguk, masih dengan senyuman khasnya.
"kita berangkat sekarang?" tanya Digo.
Arini mengangguk dengan wajah merah merona dan senyuman malu malu.
"iya?" tanya Digo memastikan sembari ikut mengangguk kan kepalanya.
"heeh" jawab gadis itu sembari kembali mengangguk lagi.
Digo mengulum senyum gemas. Diacak acak nya pelan rambut panjang itu. Sesuatu yang sudah lama tak ia lakukan pada mantan anaknya itu.
Digo menarik tubuhnya. Membenarkan posisi duduknya, menatap lurus kedepan dan mulai fokus dengan kemudinya.
Arini membuang nafas panjang. Lagi, kembali menetralkan detak jantungnya yang seolah tak bisa untuk biasa saja jika sedang berhadapan dengan Digo.
Mobil pun melaju. Melesat menembus jalan raya meninggalkan tempat tersebut.
...----------------...
Selamat pagi,
up 05:33
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰🥰
semoga hari ini bisa 2x up lagi...