My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 108


__ADS_3

"mohon maaf, atas nama siapa, kak?" tanya si pelayan.


Arini sudah membuka mulutnya. Hendak menyebut nama pemberian ibunya itu. Namun tiba tiba....


.


.


"Diego...!!"


..


.


.


deeeeegggghhhh....


Suara itu sukses membuat Arini dan si pelayan menoleh ke arah sumber suara. Seorang laki laki tampan berdiri disana.


Pria yang rupanya sejak tadi berdiri di belakang Arini itu tiba tiba bergerak maju. Menyerobot antrian lalu berdiri dengan santainya di samping gadis cantik itu.



Arini melotot..! menatap tajam kearah pria yang kini nampak tersenyum manis itu. Bukan ke arahnya, melainkan ke arah sang pelayan wanita di sana.


Diego mengubah posisi tubuhnya. Sedikit membungkuk dengan satu lengan ia letakkan di meja sebagai penyangga.


"maaf, tuan. Tapi tolong antri dulu di belakang, ini masih bagian mbak nya.." ucap si pelayan.


"jadiin satu aja. Saya duduk sebangku ama dia kok. Samain aja pesanan nya.." ucap Digo santai sambil menoleh ke arah Arini yang nampak menatapnya tidak suka. Tak lupa sebuah senyuman manis tersungging di bibirnya.


"kalau sebangku ngapain ngantrinya berdua..?! kasihan pengunjung yang lain..!" ucap salah satu pengunjung yang tadi antri di belakang Diego. Seorang gadis yang mungkin usianya dua puluh lima tahunan.


Diego tersenyum semanis mungkin ke arah wanita itu. Membuat wanita itu nampak diam dengan jantung berdebar hebat di senyumi pria tampan dengan sejuta pesona itu.


"maaf, ya" ucap Diego manis.


Arini nyengir geli.


"jadi ini gimana pesenan nya?" tanya si pelayan.


"ya udah, saya pesen sama kaya dia..!" ucap pria itu pada si pelayan.


"paket original dan French fries kan?" tanya Digo seraya menoleh ke arah Arini.


Arini nampak memasang mode garangnya.


"nggak..! saya nggak jadi original..! saya mau ayam geprek yang paling pedes...!" ucap Arini kesal. Melirik sinis ke arah pelayan lalu kembali menatap tajam dan penuh emosi ke arah Digo yang masih terlihat santai menebar senyum.


Entah mengapa Arini seolah tak mau memakan makanan yang sama dengan pria itu. Ia tahu, Diego tidak suka pedas. Laki laki itu pasti tak akan mungkin memesan makanan yang sama dengan diri nya .


"saya juga." ucap Digo yang lagi lagi membuat Arini melotot ke arahnya.


"Apapun yang dia pesen, samain aja" ucap Diego lagi masih dengan mimik wajah dan tatapan mata yang sama.


Dada Arini naik turun. Gadis itu berdecak kesal. Sang pelayan nampak menatap sepasang pria wanita itu secara bergantian. Apa mereka adalah pasutri yang lagi marahan trus main ke restoran? pikir si pelayan. Gini amat drama rumah tangga ampe dibawa ke resto...!


Arini nampak kesal. Ia lantas membuang muka. Merubah arah pandangnya menatap lurus ke depan tanpa memperdulikan Diego yang masih setia dengan posisinya di samping Arini.


Pria itu tak henti mengulum senyum. Menikmati pemandangan lucu gadis cantik dengan wajah ditekuk di hadapan nya itu.


Tak lama, pesanan datang. Dua nampan kayu siap di atas meja. Satu nampan berisi dua porsi nasi ayam geprek serta dua es teh. Sedangkan satu nampan lain berisi dua porsi kentang goreng.


"berapa, mbak?" tanya Digo seraya merogoh sakunya.


"semuanya............"


"nggak..! saya bayar sendiri...!!" ucap Arini memotong ucapan si pelayan sambil merogoh tas selempang kecilnya. Diego yang sudah mengeluarkan sejumlah uang itu kini nampak mengulum senyum.


"ya udah, mbak. Dibayarin ama dia. Sekalian ama punya saya" ucap Digo sambil memasukkan kembali uang dan dompetnya ke saku celananya.

__ADS_1


"lho?!!" ucap Arini reflek sembari menatap heran ke arah pria itu.


Diego mengulum senyum. Diraihnya nampan berisi dua porsi nasi dan es itu. Tak memperdulikan Arini yang kini nampak melotot ke arah nya.


Diego menatap Arini.


"makasih, ya, traktirannya..." ucap pria itu kemudian berlalu pergi meninggalkan sang gadis.


"gendheng(gila)..!!" umpat Arini kesal.


Dengan penuh perasaan dongkol, gadis belia itupun akhirnya membayar semua makanan yang ia dan Diego pesan. Beruntung ia sudah punya uang cukup sekarang, lantaran uang jajan dari bapaknya sangat cukup jika hanya untuk sekedar makan diluar.


Arini meraih nampan berisi dua porsi kentang goreng itu. Lalu membawanya mendekati meja tempat dimana laki laki yang dulu pernah mengaku sebagai ayah kandungnya itu duduk dengan santai sembari menekuk satu kakinya di atas kaki yang lain tersebut.


Diego mengulum senyum sembari melipat kedua lengannya di depan dada.


Arini nampak celingukan. Semua meja penuh. Tak ada tempat lain yang kosong disana.


"nggak duduk?" tanya Diego tanpa mengurangi kadar gula dalam senyuman nya.


Arini nampak mendengus kesal. Sungguh, sampai saat ini ia masih belum memiliki niat untuk berdekatan dengan pria ini. Ia sudah sangat bahagia hidup bersama dengan ayah kandungnya. Ia tak mau lagi mengingat ingat kebodohan nya yang pernah tinggal serumah dengan pria asing ini. Hanya membuatnya sakit hati dan merasa bodoh pernah ditipu habis habisan oleh laki laki gila ini.


Arini meletakkan nampan di tangannya di atas meja. Ia lantas mendudukkan tubuhnya dengan sedikit kasar di salah satu kursi disana, tepat di hadapan Diego.


Gadis itu sama sekali tak mau mendongak menatap pria itu.


Diego mengulum senyum manis, bahkan semakin manis dari sebelumnya. Kini dilihatnya gadis itu nampak merogoh tas selempang kecil miliknya. Mengeluarkan ponselnya lalu mencoba mengetikkan sesuatu di room chat nya dengan Fajar.


"Fajar, buruan, kamu dimana?!!" tulis Arini


Diego menggerak kan tangannya. Meletakkan satu porsi serta minuman dan kentang pesanan keduanya, satu di hadapan Arini dan satu lagi di hadapan Diego. Gadis itu nampak melirik tanpa bergerak.


"makan dulu, gih" ucap pria itu kemudian melipat kedua lengannya di atas meja. Lagi, Arini tak menjawab. Ia hanya membuang nafas kasar tanpa mau menoleh ke arah laki laki itu.


Gadis itu meletakkan ponselnya di atas meja. Digo melirik sekilas.


Oh, ponselnya ganti. Pantas saja nomornya yang dulu tidak bisa dihubungi.


"apa kabar, Arini?" tanya pria itu kemudian. Sorot matanya kini berubah menjadi dalam. Seolah ingin menggambarkan betapa ia sangat merindukan gadis di hadapannya itu. Namun wanita itu sama sekali tak menjawab. Ia terus melahap nasi di hadapannya dengan buru buru. Sebenarnya ia tak nafsu lagi untuk menyantap nasi itu. Rasa laparnya tiba tiba hilang begitu saja. Namun mengingat ia sudah mengeluarkan uang dua kali lipat untuk membelinya, mau tak mau ia harus menghabiskan nya. Sayang duitnya..! nyari duit sekarang susah..!


"kamu lagi sibuk apa sekarang?" tanya Digo lagi. Masih tak dijawab.


"em, udah nggak kerja di resto lagi?" tanya nya lagi.


"kamu, gimana sekarang? udah sembuh, kakinya?" masih tak dijawab.


Digo menarik nafas panjang. Lalu mengangguk. Ia paham, gadis itu tak akan semudah itu untuk memaafkan kesalahannya.


Digo meraih sedotan di dalam gelas itu, lalu menyeruput minuman dingin pesanannya.


"boleh aku ngomong sesuatu sama kamu?" tanya Digo.


Masih tak menjawab. Seolah gadis itu begitu pelit untuk sekedar mengeluarkan suaranya di hadapan pria itu.


"aku mau minta maaf. Aku mau minta maaf atas semua yang udah aku lakukan sama kamu" ucap Diego sungguh sungguh.


Arini masih tak menjawab. Makanan yang susah payah coba ia telan itu terasa makin hambar kala ia mendengar ucapan pria tersebut. Seolah ia tak sanggup lagi untuk memakannya.


Diego menunduk.


"aku tahu kamu pasti sangat kecewa. Aku menyesal, baby. Aku minta maaf" ucap Diego lagi.


Prang...!


Arini meletakkan sendok nya dengan cukup kasar. Menimbulkan bunyi yang cukup menyita perhatian. Membuat Digo dan beberapa pengunjung lain pun seketika menoleh ke arahnya. Gadis itu menunjukkan mimik wajah tidak suka. Seolah muak dengan ucapan laki laki tersebut.


Dibohongi, diperlakukan bak pembantu, di hina dina, dan direndahkan. Semua begitu menyakitkan jika di ingat ingat. Tolonglah, Tuhan..! jangan pertemukan lagi Arini dengan pria ini..! Ia tidak mau..! ia sudah cukup bahagia hidup bersama ayahnya. Ia tidak mau laki laki ini..! ia tidak mau..!!


Arini menatap tajam ke arah Diego.


"saya maafkan anda..! tapi tolong, jika suatu saat anda melihat saya, lebih baik anda tidak perlu mendekat..! Karena dengan melihat anda itu membuat saya merasa muak..! membuat saya merasa jijik, karena sudah pernah tinggal serumah dengan penipu seperti anda..!" ucap Arini menahan

__ADS_1


"saya datang ke kota ini hanya ingin bertemu ayah saya. Saya hanya anak kampung yang sejak kecil tidak pernah bertemu dengan orang tua nya..!"


"ada masalah apa anda dengan ayah saya, saya tidak tahu...!!!"


"tapi anda dengan teganya membohongi saya, anda mempermainkan perasaan saya..! anda menghina saya, memperlakukan saya seperti budak, lalu anda baik, membuat saya nyaman, berlagak seolah olah anda adalah ayah saya yang sebenarnya...! anda mikir nggak gimana perasaan saya...?! saya cuma mau ketemu ayah saya, tapi anda melibatkan saya dalam dendam anda yang sama sekali saya nggak tahu..!! mikir...!!!" ucap Arini penuh emosi.


Digo nampak mengembun. Sungguh, ia tahu, memang sejahat itu ia pada gadis yang katanya ia mau itu..!


Diego tak bisa menjawab. Matanya terlihat berair.


"jika anda memang mau minta maaf, saya maafkan. Tapi tolong, jangan pernah muncul di hadapan saya lagi..!" ucap gadis itu kemudian meraih tas nya dan berniat untuk pergi dari tempat itu. Namun tiba tiba...


.


.


.


.


gggggrrrrrrrkkkkkkk........


Arini yang sudah dalam posisi berdiri itu diam tak bergerak. Digo melotot, ikut bangkit. Keduanya mengedarkan pandangannya ke segala arah. Suasana berubah riuh. Bumi berguncang. Bangunan tinggi itu bergoyang...!


Gempa bumi...!


Arini celingukan. Riuh suara jeritan dan kepanikan terdengar. Semua bangkit, berlari berhamburan keluar dan saling berdesak desakan keluar dari resto dan menuruni anak tangga diluar resto untuk turun ke bawah. Arini terombang ambing. Bumi masih berguncang. Semua sibuk menyelamatkan diri masing masing. Gadis yang ikut panik itu pun ikut berlari, namun terdorong kesana kemari oleh para pengunjung.


Arini ikut kalut. Ia takut. Beberapa kali ia berteriak memanggil 'bapak' sambil menangis mencoba menyelamatkan diri.


buuuuuuuuuuggggghhhhh....


"aaaawwww....!!"


"Arini..!!" teriak Digo dari kejauhan sambil mencoba memecah kerumunan orang yang berdesak desakan menyelamatkan diri itu. Hendak menghampiri gadis yang kini terjatuh di samping pintu kaca resto itu. Bisa bahaya gadis itu jika sampai pintu kaca itu roboh karna goncangan hebat tersebut.


Digo bergerak cepat mencoba menghampiri Arini. Tiba tiba....


.


.


.


"Arini, awas....!!!"


..


..


buuuuuuuuuuggggghhhhh.....


pyyaaaaaaaarrrrrrrrr....


"aaakkkhh..!!


.


.


.


.


"daddyyy...!!!"


...----------------...


Selamat sore


up 17:17

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰


__ADS_2